Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Tian Ingin Bertemu


__ADS_3

" Eh... Kak Arkha ..." Kata Neta yang kepergok tengah membicarakan kakaknya sendiri.


Sedangkan Sandra dan Nurul saling pandang dan menggaruk kepala mereka yang tidak gatal karena gugup.


" Makanannya sudah siap." Ucap Arkha sedingin es kemudian berlalu pergi.


" Yah... kembali ke mode dingin deh tuh orang." Kata Neta lagi.


" Ya udah mau gimana lagi, nanti kita minta maaf aja bareng-bareng." Usul Sandra.


Mereka bertiga akhirnya keluar dari kamar Sandra lalu ke meja makan.


" Hms , harum sekali mas.. Mas masak apa ?" Tanya Sandra setelah sampai.


" Mas masak semua makanan kesukaan kamu. " Jawab Alfian sambil tersenyum.


" Sini duduk di sebelah ku." Imbuh Alfian lalu menuntun Sandra mendekat ke kursi.


" Ya ealah mas, gak perlu di bantu jalan juga kali... Malu sama yang lain." Ucap Sandra.


" Kenapa malu ? Apa salahnya membantu istri berjalan."Kekeh Alfian.


" Kak Al sekarang perhatian banget ya .... Seneng lihatnya." Sahut Neta.


Sedangkan Nurul dan Arkha dari tadi saling menatap dengan canggung. Nurul malu kepada Arkha karena terpergok sedang membicarakan kekasihnya itu, sedangkan Arkha sedikit kesal sekaligus malu karena di bicarakan oleh adiknya sendiri di depan kekasihnya.


" Ehem... yang lain kok bengong ? Kita mulai makan yuk." Ajak Sandra yang juga sedikit tidak enak melihat Arkha.


" Mas mau makan pakai apa ?" Tanya Sandra hendak berdiri dan mengambilkan makanan untuk Alfian.


" Stt, jangan berdiri... Biar aku saja yang ambil sendiri. Kamu mau makan apa ?" Tanya Alfian malah balik bertanya.


" Eh... tapi kan...."


" Gak ada tapi-tapian sayang... Hari ini aku kan sudah bilang,, jika aku yang akan melayanimu. Jadi jangan sungkan-sungkan dan turuti saja kata-kata ku." Potong Alfian cepat.


Semua orang yang ada di sana terbengong mendengar Alfian yang begitu perhatian. Tidak seperti Alfian yang mereka kenal dulu... Kini Alfian berubah menjadi sosok yang perhatian dan penyayang.


" Kenapa pada ngeliatin aku ?" Tanya Alfian yang sadar jika semua mata mengarah kepadanya.


"Ee....enggak kenapa-kenapa.. Mm.., kak Al sekarang sudah banyak berubah ya ?" Jawab Neta tergagap.


Alfian menanggapinya dengan senyum.


" Tidak suka ?" Tanya Alfian lagi.


" Bu...bukan begitu, kita hanya terkejut dan belum terbiasa saja." Jawab Neta lagi.


"Dasar bucin..." Ucap Arkha lirih.


" Apa kamu bilang ??? " Teriak Alfian...


" Kok tahu ??" Imbuhnya cepat.


Semua yang tadinya menjadi sedikit tegang karena takut Alfian akan marah, kemudian tersenyum lega dan tertawa melihat tingkah Alfian sekarang yang juga sudah mulai bisa bercanda.


" Mas nakut-nakutin aja, aku pikir mas bakal marah di katain bucin." Ucap Sandra malu-malu.


" Kenapa marah ? Kenyataannya begitu. Aku sendiri tidak tahu... Rasanya aku sangat-sangat mencintaimu..." Ucap Alfian dengan gamblang. Ditatapnya Sandra dengan penuh cinta sambil menggenggam salah satu telapak tangannya.


" Ish, apaan sih mas.. Banyak orang bilang begitu..." Kata Sandra tersipu malu tapi senang.


" So sweet banget sih kakak sekarang. Jadi iri deh sama kak Sandra."


Keduanya menjadi salah tingkah karena ucapan Neta.


" Ayo makan. Keburu dingin." Ucap Arkha sedikit ketus.

__ADS_1


" Kayaknya ada yang lagi kesel nih ?" Timpal Neta.


Arkha tidak menyahut.


" Mmm... Arkha... Ka...kami minta maaf atas kejadian di kamar tadi. Kita tidak sengaja ngebahas kamu." Ucap Sandra kemudian.


" Iya...Arkha . Aku juga minta maaf. Tidak seharusnya aku bertanya tentang masa lalu kamu. Aku yang bersalah, bukan mereka." Kini Nurul yang memberanikan diri untuk berbicara.


" Tidak masalah. Tapi jangan di ulangi lain kali." Sahut Arkha.


Setelah itu semua kembali fokus pada makanan masing-masing. Sandra dan Neta tidak henti-hentinya memuji kelezatan masakan Alfian.


Sedangkan Nurul dan Arkha saling mencuri pandang satu sama lain.


" Hms... kenyang banget." Ucap Neta sambil mengusap-usap perutnya.


" Iya... aku juga, terimakasih tuan. Masakan anda enak sekali." Sambung Nurul.


Alfian tersenyum senang mendengar pujian lagi karena masakannya.


" Not bad " Timbrung Arkha sambil mengusap mulutnya dengan tisu.


" Kaya bisa masak aja bilang begitu !" Protes Alfian pada adiknya.


" Hehehehe..." Kekeh Arkha.


" Aku langsung pamit ya San. Masih punya banyak tugas kuliah nih ?" Ucap Nurul.


" Lhoh kok buru-buru... Kita sudah siapin cemilan yang banyak buat nonton film di sini."


" Iya nih... Kak Nurul gak asik." Neta ikutan protes seperti Sandra.


" Hehehe... Lain kali lagi deh. Sekarang beneran gak bisa ... Udah mau deadline nih tugas dari dosen. Yang penting aku sudah lega lihat kondisi Sandra yang baik-baik saja."


" Hm... Makasih ya kalau begitu, sudah di sempetin jenguk ke sini." Ucap Sandra lalu berpelukan dengan sahabatnya.


" Alesan ! Bilang aja mau berduaan dengan kak Nurul." Celoteh Neta.


" Biarin aja, yang penting kan laku ,gak kayak kamu.. Jomblo terus. Week..." Arkha membalas ledekan adiknya tadi.


" Kak Alll... Kak Arkha jahat !" Teriak Neta kemudian.


Sedangkan semua orang yang ada di sana justru tertawa melihat kedua tingkah kakak beradik itu.


Setelah kepergian Arkha dan Nurul, kini mereka duduk santai di ruang tamu.


" Mau sesuatu ?" Tawar Alfian kepada kedua wanita di depannya.


" Masih kenyang mas, aku nanti saja." Jawab Sandra.


" Aku minuman dingin kak. Mendadak menjadi panas gara-gara dengerin ledekan Kak Arkha."


" Oke, kakak ambilkan."


Tidak begitu lama Alfian datang kembali sambil membawa tiga gelas sirup dingin dan beberapa cemilan.


" Asli, aku masih gak percaya dengan apa yang ku lihat. Bisa-bisanya Kak Alfian jadi super baik begini. Sebelum mengenal kakak, mana mau dia ngelayanin orang lain. Benar kata pepatah, jika cinta bisa mengubah segalanya. Bahkan dengan Kak Al yang super dingin ,kaku dan tidak banyak bicara sekalipun." Bisik Neta kepada Sandra.


Sandra tersenyum kecil mendengar bisikan dari Neta.


" Ngapain bisik-bisik ?" Tanya Alfian penuh selidik.


" Gak ngapa-ngapain kok kak." Jawab Neta.


Ketiganya kemudian asik melihat film action kesukaan Alfian. Tanpa dia sadari, Neta dan Sandra sudah tertidur di tempat duduk masing-masing.


Dengan pelan-pelan Alfian memindahkan istrinya ke kamar. Setelah itu dia juga memindahkan Neta ke kamar tamu yang tidak jauh dari ruang santai.

__ADS_1


Setelah memindahkan keduanya, Alfian pergi ke ruang kerjanya dan mulai mengecek hasil kerja para karyawannya hari itu.


Setelah dua jam berkutat dengan pekerjaannya, ponsel Alfian berdering. Ada telepon masuk dari Dias. Segera Alfian mengangkatnya.


" *Ada apa?" Tanya Alfian.


" Maaf Tuan menganggu waktunya sebentar."


" Langsung intinya saja." Ucap Alfian tidak sabar.


" Baik tuan, saya hanya ingin melaporkan jika Tian meminta tolong kepada anak buah kita agar menyampaikan pesannya kepada anda. Dia ingin bertemu dengan anda dan Nona Sandra." Ucap Dias.


" Untuk apa dia ingin bertemu kami ?" Tanya Alfian tidak suka.


" Kurang tahu tuan. Dan juga kata anak buah kita sejak kemarin dokter cabul itu menolak makan. Aku khawatir jika kita tidak segera bertindak, kita akan akan mendapatkan masalah karena nya."


" Baiklah, nanti aku bicarakan dulu kepada Sandra."


" Siap tuan."


Tut Tut* .... Segera Alfian menutup sambungan teleponnya.


" Kenapa dia berulah ?" Tanya Alfian pada dirinya sendiri.


" Tidak mungkin aku bawa Sandra menemuinya." Imbuh Alfian.


" Menemui siapa mas ? " Tanya Sandra yang ternyata sudah ada di ruangan kerja Alfian.


" Loh, sejak kapan kamu di situ ? " Tanya Alfian kaget.


" Sejak mas menerima telepon." Ucap Sandra.


" Kemari, ada yang ingin ku bicarakan." Perintah Alfian.


Sandra menurut dan duduk di kursi depan meja Alfian.


" Ada apa mas ?" Tanya Sandra penasaran.


" Mm... Ini soal Tian.. Dia mogok makan sejak kemarin. Dan dia, ingin bertemu dengan kita." Ucap Alfian hati-hati.


" Tapi jika kamu tidak mau itu tidak masalah. Lagi pula untuk apa juga kita menemuinya." Imbuh Alfian cepat-cepat.


" Emang Dokter Tian di mana ? "


" Adalah, yang pasti dia di bawah pengawasan anak buahku." Ucap Alfian menegang .


Dirinya masih marah saat mengucapkan nama dokter itu. Sebenarnya dia tidak ingin perduli. Bahkan jika mati sekalipun. Tapi jika sampai dokter itu tewas ,maka dirinya dan juga anak buahnya bisa berurusan dengan polisi.


" Kenapa gak di bawa ke kantor polisi saja mas ? " Tanya Sandra.


" Karena aku belum puas menyiksanya." Ucap Alfian sambil meremas kertas putih yang ada di depannya dengan kuat.


" Jangan begitu mas. Aku tidak ingin suamiku jadi pendendam. Lebih baik, mas serahkan saja kepada yang berwajib."


" Kamu tidak marah kepadanya ? Bahkan dia hampir saja..."


" Iya mas, aku tahu. Aku juga marah dan tidak menyangka. Tapi setiap orang mempunyai kesempatan kedua untuk menjadi orang yang lebih baik. Lagi pula, sedikit banyak aku mengenal Dokter Tian. Sebenarnya dia orang yang baik, dan dia melakukan semua itu karena sikap pedulinya kepada orang-orang yang dia sayangi. Dia tidak terima dengan apa yang terjadi kepada keluarga dan saudara nya sehingga membuatnya dendam seperti itu." Tutur Sandra.


" Kau yakin ? Aku saja masih ingin menghajar pria itu lagi."


" Mas, perbuatan buruk di balas dengan perbuatan buruk tidak akan ada habisnya. Hanya akan semakin memperkeruh dan memperburuk keadaan. Ajak aku menemuinya. Pasti ada sesuatu yang penting sampai dia ingin sekali menemui kita." Ujar Sandra.


Alfian menatap lekat wajah istrinya. Dirinya tidak menyangka jika perempuan yang jauh lebih muda darinya bisa bersikap lebih bijaksana daripada dirinya. Akhirnya Alfian menyunggingkan seulas senyum dan mengangguk menyetujui perkataan Sandra.


" Baiklah, ini demi kamu." Ucap Alfian.


Sandra ikut tersenyum mendengar perkataan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2