Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Jangan Bandingkan Aku


__ADS_3

Sampai di kosan Sandra lalu membersihkan diri dan langsung istirahat di teras sambil mencoba handphone pemberian Gilang.


" Lagi ngapain San ." Tanya Nurul menyusul Sandra dan duduk di sampingnya.


" Ini .. lagi utak atik handphone . "


" Wah kamu sudah beli hp baru ya ? "


" Gak ... ini pemberian Gilang. "


" Gilang ? " Tanya Sandra heran.


" He'em . Tadi siang dia nemuin aku di restoran. Sorenya dia datang lagi ngasih ini, sudah aku tolak tapi dia memohon ." Jelas Sandra.


" Mm . Aku pikir-pikir Gilang beneran suka deh San sama kamu."


" Aku tahu . "


" Terus kamu gimana ? "


" Aku sendiri bingung. Tadi aku sudah berusaha menghindar, tapi kamu tau. Dia selalu tau apa yang akan aku lakukan." Cerita Sandra.


" Rumit juga ya, di satu sisi kamu sudah tunangan bentar lagi nikah . Bukan maksud aku gak suka. Ini sekedar masukan aja . Lebih baik kamu memang mulai menjaga jarak dengannya jika memang ingin melanjutkan perjodohan kamu dengan Alfian. Sebenarnya kasihan juga dengan Gilang. Tapi mau gimana lagi ,jika kalian semakin dekat ,aku takutnya akan jadi masalah di kemudian hari." Tutur Nurul.


" Maka dari itu , aku juga berpikir begitu. Tapi dia bilang semua ini hanya untuk pertemanan, dia menyuruhku mengabaikan perasaannya. " Kata Sandra semakin bingung.


" Aaaa.. Pusing sekali memikirkan semua ini . Aku harus gimana sekarang.? " Tanya Sandra frustasi.


" Menurutmu , aku harus gimana . Masih bolehkah aku berteman dengan Gilang ? Dia terlalu baik untuk aku abaikan . Gak tega rasanya, apa lagi setelah semua kebaikan yang dia lakukan untukku. " Lanjut Sandra meminta pendapat dari Nurul.


" Em, kamu yakin kalau Gilang hanya ingin berteman dan menganggapmu sebatas teman saja ? " Nurul balik bertanya.


" Tadi dia bilang begitu." Ujar Sandra.


" Kalau niatnya memang begitu ya aku rasa gak masalah kalau cuma berteman. Mau nikah atau belum aku rasa kita semua berhak berteman dengan siapapun. Asal tau saja batasannya. " Kata Nurul, walaupun sebenarnya dia ragu kalau Gilang hanya ingin berteman dan merelakan Sandra begitu saja.


" Benarkah ? Tapi iya juga Rul. Jangan sampai perjodohan ini mengekang kebebasan ku juga. Aku yakin Tuan Alfian juga punya banyak teman ,dan gak mungkin semuanya laki-laki. Lagi pula berteman dengan siapapun, aku yakin dia tidak akan perduli." Timpal Sandra yakin.


Mereka pun lanjut mengobrol.


" Aku sudah memasukan kartu sim hp yg kemarin. Sekarang aku mau nelpon ibu dulu. Kangen rasanya, kita telpon bareng yuk . " Ajak Sandra.


" Oke, buruan telpon."


Sandra pun menelpon ibunya. Setelah dua kali menghubungkan panggilan akhirnya Bu Lastri mengangkat telponnya.


" Halo Nak .. Wa'alaikumsalam ." Jawab Bu Lastri.


" Gimana kabar ibu ? Ibu sudah makan belum ? " Tanya Sandra.


" Alhamdulillah, ibu baru saja selesai makan bersama bibimu . "


" Wah , bi Nani juga disitu. Ini Sandra juga bersama Nurul Bu. "


Mereka berempat akhirnya asik berbincang bergantian. Mereka mengeraskan suara telponnya agar bisa sama-sama mendengar.


Masih asik mengobrol , mang Ujang satpam di pintu gerbang kos menghampiri mereka.


" Maaf neng, ada tamu buat neng Sandra. " Kata mang Ujang.


" Oya , siapa mang , suruh masuk saja." Timpal Sandra penasaran.

__ADS_1


" Maaf neng laki-laki, jadi tidak boleh masuk." Ujar mang Ujang .


" Gilang kah ?" Batin Sandra dan Nurul.


" Oke deh mang aku ke depan , suruh tunggu sebentar. " Kata Sandra akhirnya.


" Siapa nak ? " Tanya Bu Lastri di seberang sana.


" Gak tau Bu , ini Sandra mau cek dulu. Nanti Sandra telpon lagi ya bu . ? "


" Baiklah kalau begitu . Tapi ingat pesan ibu ya nak. Sekarang kamu sudah punya calon suami. Jangan macam-macam. "


" Iya ibu .. Assalamualaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Sambungan telepon terputus.


" Siapa ya San ? " Tanya Nurul.


Sandra mengangkat kedua bahunya.


" Aku lihat dulu deh. " Katanya sambil berdiri dan meninggalkan Nurul .


Sampai di depan pintu gerbang Sandra celingak-celinguk mencari mang Ujang. Namun yang di cari tidak ada . Mungkin sedang ke toilet atau makan malam. Pikir Sandra.


" Hei udik ! " Teriak Alfian.


" Astagfirullah .. " Sandra kaget melihat Alfian di seberang jalan bersandar pada mobilnya. Segera Sandra mendekat.


" Ada apa tuan ! " Tanya Sandra ketus. Disini bukan di tempat kerja jadi dia bisa berbicara lebih berani.


" Kemana ?"


" Jangan cerewet."


Huh .. Ditanya bukanya jawab malah ngatain. Batin Sandra.


" Sebentar, aku ganti baju dulu." Akhirnya Sandra mengalah.


Alfian diam saja.


Sandra berlari masuk ke dalam .


" Siapa ? " Tanya Nurul.


" Si sableng ! " Jawab Sandra.


" Mau apa ? " Tanya Nurul lagi yang sudah tau siapa yang di maksud Sandra.


" Gak tau, gak di kasih tau . Cuma suruh ganti baju terus ikut dia. "


" Ya udah deh buruan ganti, siapa tau di ajak dinner berdua. " Goda Sandra.


" Gak mungkin . " Balas Sandra.


" Aku tinggal dulu ya. " Pamit Sandra setelah berganti pakaian.


"Oke, jangan lupa oleh-olehnya." Pesan Nurul.


" Mau kemana saja belum tahu dah pesen oleh-oleh. Emang mau batu nisan kalau aku di ajak ke kuburan ." Seloroh Sandra

__ADS_1


" Ya gak mungkinlah ke kuburan." Bantah Nurul.


" Gak ada yang gak mungkin, diakan serem siapa tau tempat nongkrongnya di kuburan . Serem kaya mukanya. " Debat Sandra.!


" Hush .. gak boleh gitu sama orang, apa lagi calon suami. Hati-hati nanti jatuh cinta lho. " Goda Nurul.


" Hm , gak akan ! " Balas Sandra sambil lari menjauh. Nurul hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya.


" Hati-hati."Teriak Nurul. Sandra menoleh sebentar dan menganggukkan kepalanya.


Sandra kembali berlari menghampiri Alfian.


" Masuk." Kata Alfian begitu Sandra sampai.


Tanpa banyak bertanya Sandra masuk ke dalam mobil.


Percuma juga bertanya atau berbicara apapun. Sandra yakin Alfian tidak akan menanggapi.


Mobil mulai melaju . Seperti biasa , Sandra lebih suka menikmati pemandangan di luar dari pada di dalam mobil.


Sesekali Sandra tersenyum ketika melewati sesuatu yang menurutnya menarik.


Sesekali juga Alfian meliriknya. Dia berpikir apa yang membuat Gilang menyukai gadis di sebelahnya ini sampai-sampai dia rela hubungan persahabatan dengannya yang sudah lama terjalin menjadi buruk seperti sekarang.


" Tuan, aku lapar. Tadi aku belum sempat makan. Sebenarnya kita mau kemana ? " Tanya Sandra yang sudah tidak tahan berdiam diri. Apa lagi perutnya sudah menunjukkan protes ingin di isi.


Tapi Alfian tetap saja diam . Melihat Alfian yang tetap acuh Sandra menjadi kesal sendiri .


" Tuan ... aku lapar. L.A.P.A.R . La par ! " Teriak Sandra.


" Berisik ! "


" Tuan , kau benar-benar ya ! Hah .. kau berbeda sekali dengan Gilang." Bisik Sandra selirih mungkin. Namun ternyata Alfian bisa mendengarnya.


Cittt. Mobil berdecit tiba-tiba karena Al mendadak mengerem mobilnya. Banyak mobil di belakangnya mengklakson marah dengan tindakan Alfian yang membahayakan pengendara lainnya.


" Tuan hati-hati. " Ucap Sandra panik.


" Kau, jangan pernah membandingkan aku dengan siapapun. Terlebih dengannya ! " Bentak Alfian marah.


Giliran Sandra yang kini terdiam. Takut, dia takut jika sudah melihat sorot mata tajam yang siap mencabik siapa saja yang ada di hadapannya itu.


" Maksud kamu, Gilang lebih baik dariku ? Heh , Jangan terlalu berbesar hati dulu jika kamu belum mengenalnya. Harusnya kamu ngaca dulu, minimal sadar diri lah. Jangan bangga dulu hanya karena dia menyukaimu. Di bandingkan dengan kamu , mantan-mantan Gilang jauh lebih cantik dan lebih segalanya dari kamu . Aku sendiri heran apa yang membuatnya menyukaimu. Cantik tidak, tinggi tidak, putih tidak,kaya tidak , berpendidikan tinggi pun tidak. Mungkin saat ini Gilang sedang sakit mata sehingga rabun tidak bisa membedakan mana yang udik dan mana yang cantik ! " Ucap Alfian sesuka hati.


Sandra membisu , kedua matanya mulai berembun. Kata-kata Alfian begitu menyakitkan dan menampar dirinya.


Alfian ada benarnya , ada begitu banyak kekurangan pada dirinya . Kenapa Gilang menyukainya bahkan tetap baik kepada dirinya meski dia tau sekarang dia sudah bertunangan dan akan menikah ? Tidak ada yang bisa di harapkan sama sekali. Ada berbagai pertanyaan yang berseliwer di kepalanya.


Alfian kembali melajukan mobilnya, tidak perduli dengan Sandra yang menangis di sampingnya. Dia puas bisa membalas gadis udik itu.


" Ini belum seberapa, kamu lihat nanti setelah kita menikah. Aku pastikan kamu tidak hanya sekedar menangis, tapi juga akan menangis darah." Batin Alfian.


Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka sampai di rumah Alfian. Lebih tepatnya rumah Pak Wijaya.


Ada satpam yang menyambut mereka membukakan pintu pagar.


Alfian menghentikan mobil tepat di depan rumah yang sangat mewah. Sandra sangat kagum melihatnya sampai terbengong.


Ini kali pertama Sandra datang ke rumah Pak Wijaya ,calon mertuanya.


.

__ADS_1


__ADS_2