
" Tuan maafkan saya, saya bersalah atas kejadian semalam. Saya mohon , saya tidak akan mengulanginya. Dan saya mohon, jangan adukan hal tersebut kepada ibu atau papa anda. Saya mohon tuan." Ucap Sandra tergesa-gesa setelah mengikuti Alfian masuk ruangan.
Alfian diam tidak menanggapi. Namun sesaat kemudian senyum kecil tersungging di bibirnya.
" Tidak ada maaf ! " Ucapnya tegas dan ketus.
" Tapi tuan, tolong ... kali ini saja . Saya takut kesehatan ibu saya akan terganggu jika mendengar apalagi jika sampai pernikahan ini gagal. Saya sudah mengakui kesalahan saya . Tolong maafkan.." Kali ini Sandra terlihat khawatir. Dia tau ini akan terjadi. Alfian tidak akan dengan mudah memaafkannya.
" Keluar, waktumu habis." Hardik Alfian. Tentu mengingat semalam membuat emosinya kembali.
" Tolong tuan...."
" Pergi !! "
Sandra terlonjak kaget mendengar bentakan dari Alfian. Seumur-umur baru kali ini dia di bentak seperti itu oleh seseorang.
Sandra takut, keberaniannya mulai menciut. Mungkin nanti atau besok dia akan mencobanya kembali. Dengan wajah pias dan ketakutan Sandra hendak berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Tunggu..." Alfian mendongakkan kepalanya mencegah Sandra yang sudah memegang gagang pintu.
" Saya akan memaafkanmu... "
" Benarkah tuan ? " Tanya Sandra kegirangan.
" Dengan satu syarat.....!"
" Syarat ? " Tanya Sandra mengerutkan keningnya. Seketika kelegaan yang baru saja hadir kembali sirna .
" Tanda tangani surat pranikah kemarin dan saya tidak akan mengadukan hal semalam kepada siapapun !"
" Su...su rat pranikah ? Ohh, yang itu .... itu,tapi tuan ?" Sandra tergagap ragu.
" Tidak ada tawar menawar jika tidak mau saya tidak akan memaksa silakan pergi !" Bentak Alfian lagi.
" Ba.... baik tuan. Saya akan menandatanganinya. "
Alfian tersenyum kecil. Meski tidak rela dan marah, ternyata ada manfaatnya juga kejadian tadi malam. Batinnya.
" Tidak rela ?? "Ulangnya dalam hati.
" Bukan , aku hanya kesal saja karena apa yang harusnya jadi milikku di dahulu orang lain !" Tegasnya meyakinkan diri.
" Nanti Dias akan memberikan kertas itu padamu. Pergilah sekarang ! "
" Baik tuan , saya permisi. "
Alfian tak menjawab dia acuh tak memperdulikan kepergian Sandra.
Setelah dari ruangan Alfian, Sandra kembali ke tempatnya bekerja. Di sana sudah banyak pekerjaan yang menunggunya hingga dia pun hanya bisa fokus bekerja.
Jam gilir istirahat tiba. Kini saatnya Sandra sejenak melepaskan lelahnya dengan dua orang teman yang lainya sedang yang lain tetap bekerja.
" San , kamu kemana aja tadi. Aku minta maaf ya soal tadi pagi. Kamu ngambek ya sama aku ? " Cecar Syefa.
__ADS_1
" Oh itu, aku ke toilet sebentar. Aku gak ngambek kok, kenapa juga harus ngambek orang kamu gak salah apa-apa." Jelasnya sambil mengunyah jatah makan siangnya.
" Habis pagi tadi kamu cemberut begitu kirain aku ada salah kata atau apa gitu...."
" Enggak kok,santai aja... aku cuma kebelet aja ke belakang. Udah gak tahan." Jawab Sandra terus berbohong.
" Hmm baguslah kalau gak ngambek. Eh ini enak banget ya ? Denger-denger karena koki baru yang belum lama ini di pekerjakan sangat hebat. Koki yang baru itu lulusan dari luar negeri lho. Tuan sendiri yang langsung merekomendasikannya pada chef kita. Tuan Alfian hebat ya, belum lama bergabung tapi restauran ini sudah berkembang pesat."
" Ohh ... " Sandra tidak berniat menanggapi omongan Syefa.
" San ada yang nyari Lo tu ! " Ucap Bima memotong obrolan mereka.
" Siapa ? " Tanya Sandra yang tetap asik melahap makanannya.
"Gilang. Gue balik ke depan dulu. Buruan di tunggu tuh sama pangeran Lo ! " Lanjutnya.
" Eh tunggu tunggu... " Cegah Sandra gusar.
Mulai hari ini dia harus menjauh dari Gilang. Bukan hanya belum siap bertemu setelah kejadian semalam,tapi dia juga harus menjauh agar tidak ada masalah baru lagi.
" Tolong bilangin ke dia aku sibuk, sampein juga kalau mulai sekarang gak perlu nyariin aku lagi. " Ucap Sandra tegas. Ada nyeri tertahan di hatinya saat mengucapkan semua itu.
" Harus tahan Sandra, harus tahan, kamu harus bisa. Demi ibu, demi semua. " Batinnya.
" Emang kenapa? Lagi berantem ya !" Sahut Bima.
" Enggak.. Udah sampaikan saja yang tadi aku ucapkan. Tolong ya ?" Pinta Sandra.
" Oke. " Jawab pemuda itu yang lebih tua dua tahun dari Sandra .Lalu pergi.
" Eh San, kalian bertengkar?? " Tanya Syefa penasaran. Terlebih dia melihat ekspresi gugup di wajah teman kerjanya.
" Gak, ngapain bertengkar. Lagi capek aja, gak mau diganggu. " Kilah Sandra.
" Selesain makannya yuk, dah kenyang aku. " Sandra bergegas membereskan makanannya yang belum habis dia makan.
" Kan belum habis Sandra.." Syefa merengek karena dia baru saja memakan beberapa sendok.
" Ya udah punya kamu habisin dulu. Aku balik kerja sekarang. "
" San, San ... ih kok ninggalin sih.. ! Panggil Syefa. Namun temannya itu justru semakin cepat jalannya.
Sandra kembali masuk ke ruangan. Hendak bersembunyi di ruang ganti. Dia takut Gilang akan nekat menemuinya dan dia takut Alfian melihatnya. Namun saat hendak masuk terdengar suara ribut-ribut di luar. Tepatnya di depan restauran. Sandra yang hendak masuk pun di larang oleh temannya.
" Gilang ngamuk nyari lo tu San, keluar sana. Tuan Alfian sudah marah besar jangan sampai berdampak pada kita semua !" Lagi-lagi teman Sandra mengeluh mencarinya.
" Apa ? Gilang ? Ngamuk ! " Tanya Sandra tertegun.
" San ayok. " Tarik Syefa.
" Gawat nih, Tuan Al sama Gilang berantem. " Tiba-tiba Syefa ikut muncul dan menyeretnya.
" Hah !? " Sandra semakin terkejut, namun pasrah saat Syefa menariknya menemui Gilang yang tengah bersitegang dengan Alfian. Sayup-sayup Sandra mulai bisa mendengar perkataan mereka berdua.
__ADS_1
" Kamu yang mengancamnya kan !! " Bentak Gilang kepada Alfian.
" Tentu saja . Sekarang jam kerja . Semua yang bekerja di sini harus bekerja sesuai jam dan peraturan yang berlaku." Balas Alfian.
" Bullshit ! Berengsek kamu !! " Teriak Gilang mendekati Alfian dan hendak memukulnya.
" Mas Gilang jangan !! " Teriak Sandra yang langsung berlari dan berdiri di hadapan keduanya.
" Cepat pergi mas ! " Teriak Sandra tak kalah keras.
" Sandra ... kamu belain dia ? " Tanya Gilang tidak percaya.
" Aku gak belain siapapun , tapi di sini Mas Gilang yang salah. Aku lagi kerja mas. Tolong ngertiin itu ! " Ucap Sandra memohon.
" Tolong mas pergi sekarang ... Dan jangan temui atau mencari ku lagi ! " Ucap Sandra sesak. Sekuat hati dia menahan perih dihatinya saat mengusir orang yang belum lama dan mungkin saja masih ada di hatinya itu .
" Tidak San, kenapa kamu berubah ? Baru semalam..... "
" Please tolong mas .." Potong Sandra memelas. Sandra ketakutan, dia takut rahasianya dengan Alfian akan terbongkar sekarang. Dia juga takut Gilang membeberkan kejadian semalam .Dia takut masalah yang hendak dia selesaikan justru gagal begitu saja. Kasian ibu, kasian Gilang juga jika ternyata Sandra hanya bisa memberi harapan palsu kepada laki-laki itu.
" Kenapa Sandra... ?? Dia mengancam mu kan !? Katakan Sandra !! Lalu kenapa nomormu juga belum aktif ?" Tanya Gilang frustasi, tak perduli dengan sorot kebencian dari Alfian
.
"Sial ! Aku bahkan lupa jika handphone Sandra yang ku belikan kemarin sudah Alfian kembalikan semalam." Batin Gilang semakin kesal.
" Sudah dengar sendiri kan ? Dia tidak mau menemui mu ! " Ucap Alfian tersenyum sinis.
" Kamu yang mengancamnya berengsek !"
" Aku tidak mengancamnya, kamu bisa menanyakan sendiri kepadanya."
" Mana ada maling mau mengaku maling." Ketus Gilang tak kalah sinis.
Sedangkan Sandra mulai gemetar ketakutan di antara mereka.
" Aku tidak di ancam oleh siapapun mas. Tolong pergi. Pergi dari sini .. aku mohon..." Suara Sandra terdengar lirih dan bergetar ketakutan.
" Oke aku pergi." Ucap Gilang yang akhirnya mengalah. Dia tidak tega melihat Sandra yang memohon dengan memelas seperti itu. Lagi pula jika dia tetap memaksa, Dia takut Alfian akan membuat Sandra dalam masalah.
" Aku akan tetap menemui kamu di tempat lain. Aku tau kenapa kamu tidak mau menemui ku . Aku janji, aku akan mencari cara agar kita bisa bersama ! " Tegas Gilang menatap Sandra dengan sedih.
" Pergi !! Di sini bukan tempat berdrama untuk sepasang kekasih seperti kalian. " Usir Alfian lagi.
" Security !! Teriak Alfian.
Dengan sigap kedua security yang sejak tadi sudah siap diantara mereka segera menarik Gilang dan menyeretnya pergi dari sana
" Lepas berengsek ! Aku bisa pergi sendiri!! " Bentak Gilang.
Dengan sigap Gilang melepaskan diri dari genggaman dua security tersebut.
" Akan ku balas Al ! Akan ku balas !!" Teriaknya lalu pergi meninggalkan mereka semua yang memandangnya penuh tanda tanya.
__ADS_1
Telinga Alfian memerah mendengarnya. Sepertinya Gilang tetap akan berbuat nekat.