Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Malam Pertunangan Gilang


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertunangan Gilang dengan Moza. Sandra merasa lega sekaligus senang karena Alfian mengizinkannya datang meskipun dengan seabrek syarat yang diberikan oleh Alfian kepadanya.


" Kau masih ingat dengan syarat yang ku berikan kan yank ?" Tanya Alfian saat baru duduk di dalam mobil.


" Iya mas,,, aku masih ingat semuanya kok. Gak boleh jauh-jauh dari mas, gak boleh lirik-lirik pria lain, gak boleh banyak senyum, gak boleh ngobrol ataupun bertegur sapa dengan lawan jenis." Ucap Sandra tersenyum penuh arti.


" Bagus ..." Sahut Alfian menyeringai sambil menepuk lembut pucuk kepala Sandra sekilas.


Sandra memutar bola matanya dengan malas saat Alfian sedang fokus mengeluarkan mobil mereka dari parkiran.


Kadang Sandra merasa sangat beruntung dengan sifat Alfian yang sangat posesif padanya. Sandra merasa sangat berarti bagi suaminya itu. Tapi di sisi lain, Sandra terkadang malu dengan sikap posesif suaminya itu. Apalagi saat akan keluar dari rumah dan akan bertemu dengan banyak orang seperti sekarang ini. Terlalu banyak aturan yang harus Sandra patuhi agar bisa ikut.


Setengah jam kemudian, Alfian dan Sandra telah sampai di hotel tempat pertunangan Gilang dan Moza akan di gelar. Sudah banyak tamu undangan yang hadir di sana. Acaranya terlihat sangat mewah dan meriah sekali. Bahkan Gilang secara khusus mengundang MC ternama di negeri ini untuk memandu acara bahagia tersebut.


" Wahh, baru pertunangan saja sudah semeriah dan semewah ini." Gumam Sandra tanpa sadar.


Alfian yang mendengarnya merasa tersentil hatinya karena dulu acara pertunangan mereka berlangsung sangat sederhana,, mengingat waktu itu masih dalam suasana berkabung setelah kepergian bapak Sandra.


" Ayo,, gandeng lenganku ." Ucap Alfian mengajak Sandra masuk ke dalam ruangan itu. Sandra kemudian mengikuti kemauan suaminya itu.


Petugas keamanan mengecek dan memeriksa undangan mereka terlebih dahulu. Moza adalah anak dari seorang pengusaha sekaligus pejabat di negeri ini, sehingga tidak heran jika keamanan di sana terlihat sangat ketat.


Baru masuk beberapa langkah, Arkha dan Nurul menghampiri mereka.


" Ah Sandra... Syukurlah kamu sampai juga.." Ucap Nurul yang terlihat kurang percaya diri.


" Memangnya kenapa Rul ?" Tanya Sandra keheranan.


" Aku gugup banget nih ? Tau sendiri aku gak pernah datang ke pesta-pesta seperti ini. Mana acaranya mewah banget lagi." Kata Nurul sedikit berbisik.


" Ck, sejak tadi dia merasa kurang nyaman. Bahkan malah ngajakin pulang kalau kalian gak keburu datang !" Imbuh Arkha.


" Gak apa-apa Rul, sebenarnya aku juga jarang datang ke pesta-pesta begini. Alfian hampir gak pernah sama sekali ngajakin aku kalau benar-benar gak penting." Ucap Sandra mencoba menenangkan Nurul.


" Kita cari tempat duduk terlebih dahulu." Ajak Alfian.


Ke empat orang itu kemudian duduk melingkar di meja bundar yang tidak jauh dari sana.


Baru saja hendak duduk, seorang teman kolega Alfian datang menghampiri dan mengajak berbincang-bincang.


" Lama tidak berjumpa Tuan Alfian, senang sekali kita bisa bertemu di sini. Oh ya... Perkenalkan ini putri saya,, Jasmin namanya. Selain cantik,dia ini merupakan lulusan terbaik dari universitas terkemuka di Inggris. Jasmin ini sudah saling mengenal dengan Moza karena mereka satu kampus dulunya.Dan sekarang dia kembali ke Indonesia untuk bergabung dan menjadi penerus perusahaan Dante Group." Kata Tuan Dante.


Alfian menanggapi dengan senyum miring.

__ADS_1


" Senang juga bertemu dengan anda... Mm....,, entah apa tujuan anda mengenalkan putri anda kepada saya. Tapi yang pasti,, saya tidak tertarik dan tidak perduli tuan Dante. Dan perkenalkan juga, Ini Arkha adik saya, dan yang berdiri di sampingnya adalah kekasihnya yang bernama Nurul. Sedangkan yang paling spesial di samping saya ini adalah Sandra, istri tercinta saya." Sindir Alfian yang tahu maksud busuk dari Tuan Dante.


Tuan Dante tersenyum terpaksa karena malu mendengar Alfian mengenalkan istrinya seperti itu. Beliau tidak menyangka jika yang ada di samping Alfian ternyata adalah istri Alfian. " Dia memang terlihat sangat manis dan anggun, tapi tidak terlalu cantik jika di bandingkan dengan putriku. Aku pikir selera Alfian sangat tinggi." Pikir Tuan Dante.


Tuan Dante sebenarnya sudah tahu jika Alfian sudah menikah, namun melihat Alfian lebih sering datang ke acara-acara resmi bersama Dias sekretarisnya , membuatnya yakin jika istrinya tidak lebih dari sekedar menyandang status sebagai Nyonya Alfian. Apalagi desas-desus jika pernikahan mereka berlandaskan karena perjodohan, membuat Tuan Dante berpikir jika pernikahan mereka pasti hanya sebuah pernikahan status tanpa cinta. Dengan begitu, ada harapan bagi Tuan Dante untuk berusaha mengenalkan putrinya yang mungkin bisa menarik perhatian Alfian. Masalah istrinya itu belakangan,, jika Alfian tertarik dengan Jasmin, sudah pasti Alfian akan bersedia meninggalkan istrinya, dan hal itu akan sangat menguntungkan perusahaan jika mereka berhasil membangun sebuah hubungan yang lebih serius.


Raut wajah Tuan Dante yang tadi terlihat sangat ramah dan penuh penghormatan. Kini terlihat malu dan salah tingkah. Apalagi saat mendengar penolakan langsung dari Alfian kepada putrinya. Jika saja bukan karena kerjasama dengan perusahaan Wijaya yang menguntungkan perusahaan. Tuan Dante pasti akan tersinggung dengan penolakan yang di berikan oleh Alfian.


" Oh, jadi ini istri Tuan Alfian ? Maaf jika saya tidak mengenali anda.. Ini pertama kalinya kita berjumpa. Wah, anda manis sekali nyonya. Anda sangat beruntung mempunyai suami seperti Tuan Alfian.." Kata Tuan Dante berusaha mencairkan suasana.


" Ralat, bukan istri saya yang beruntung mempunyai seorang suami seperti saya Tuan, tapi sayalah yang beruntung mempunyai seorang istri sepertinya." Potong Alfian dengan tatapan membunuh.


Tuan Dante yang tahu jika telah membangunkan singa yang sedang tidur, segera mengoreksi kembali kata-katanya. Jangan sampai Alfian marah kepadanya dan berimbas pada kerjasama yang sudah mereka sepakati belum lama ini.


" Ahaha... Ternyata Tuan Al bisa romantis juga. Maaf jika kata-kata saya banyak yang kurang berkenan. Tolong jangan di masukkan ke hati. Oh ya, saya harus ke sana dulu tuan, ada kolega lain yang harus saya temui. Jasmin, ayo !!" Ucap Tuan Dante yang mulai gugup dan salah tingkah. Jasmin terlihat tidak suka ayahnya di perlakukan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak punya kuasa untuk membalasnya.


Setelah Tuan Dante pergi, Alfian mengajak semuanya agar duduk. Mereka kemudian duduk dengan pikiran masing-masing. Bagi Arkha yang sedikit banyak sudah tahu dengan dunia para pebisnis, sudah bukan hal baru lagi bertemu dengan penjilat seperti Tuan Dante. Sedangkan Nurul yang merasa bukan siapa-siapa, semakin minder dengan dirinya sendiri, dan merasa jika dirinya tidak pantas berada di sana. Dan untuk Sandra, jangan di tanya.... Dia sangat marah mendengar bapak tua tadi yang sengaja memperkenalkan putrinya untuk menarik perhatian suaminya, tapi dia juga senang, Alfian membelanya di depan orang banyak.


" Ck, Hana pengganggu !" Omel Alfian.


" Mm, apakah mas terbiasa bertemu dengan orang-orang seperti itu ?" Tanya Sandra penasaran.


"Tidak juga ... Tapi ada juga beberapa. Memangnya kenapa ?" Tanya Alfian yang tidak peka.


" Oh, nggak kok .. cuma penasaran aja." Balas Sandra datar.


" Apaan sih ?" Bantah Sandra gengsi.


" Hm. Tenang saja sayang... Aku gak akan tergoda oleh perempuan manapun. Hanya ada kamu seorang di hati ini. " Kata Alfian dengan PD nya sambil menunjuk dadanya.


" Ehem .. Uhukk...Uhukk..." Arkha terbatuk-batuk untuk mengalihkan tawanya yang hampir saja pecah. Baru kali ini dia mendengar kakaknya menggombal seperti itu.


" Kenapa, keselek lo !" Tatap Alfian tajam.


" Sialan, batuk beneran kali." Omel Arkha tidak terima.


" Udah-udah jangan mulai lagi." Lerai Sandra yang sudah bad mood sejak kepergian Tuan Dante tadi.


" Jadi ini alasannya kenapa aku gak boleh ikut setiap kamu menghadiri acara kantor atau acara-acara resmi seperti ini ? Kamu sebenernya juga seneng kan bertemu dan di kenalin sama cewek-cewek cantik, pinter, berbakat, berpendidikan tinggi, kaya pula !" Ucap Sandra dalam hati. Ingin sekali dia mencecar suaminya sekarang juga. Tapi dia harus bisa menjaga sikap karena ini di tempat umum.


" Kalian sudah sampai dari tadi ?" Tanya Dias yang tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka.


Melihat wajah tegang di antara mereka membuat Dias merasa jika dia datang di waktu yang kurang tepat. " Ah, sial !" Batinnya ikut mengumpat.

__ADS_1


" Mm, Aku ambilkan kalian makanan dulu. Tadi di sana aku melihat cake yang enak." Ucap Dias menawarkan diri kemudian kembali meninggalkan mereka.


" Mas Dias pasti kesulitan membawa banyak makanan untuk kita semua. Biar aku bantu " Ucap Sandra yang hendak berdiri, namun di cegah oleh Alfian dengan tatapannya yang tajam.


" Ya .. Aku ingat !" Ucap Sandra lalu mendudukkan kembali pantatnya di atas kursi dengan kesal.


" Biar aku saja. Kalian tunggulah, jangan kemana-mana." Ucap Alfian kemudian melangkah pergi.


" Aku rasa kakak ku sudah sangat berlebihan." Ucap Arkha yang mengerti jika Alfian tidak mengizinkan Sandra beranjak sedikitpun.


" Entahlah. Kadang aku bersyukur dengan sikapnya yang posesif seperti itu, tapi terkadang juga terasa sangat menjengkelkan. Seperti saat ini !" Aku Sandra.


" Hehehe, bisa ku bayangkan betapa menyedihkannya kamu tinggal bersama orang seperti itu." Ucap Arkha .


" Kau salah, sebenarnya tidak seburuk itu,, aku cukup bahagia sekarang." Kata Sandra membela suami yang baru saja dia bilang sangat menjengkelkan.


" Ah, sudahlah... Kalian sama saja." Ucap Arkha yang tidak paham dengan cara pikir kakak iparnya yang labil.


" Rul , kenapa diem aja ?" Tanya Sandra kemudian.


" Mmm... Gak kenapa-napa." Sangkal Nurul yang sebenarnya mempunyai banyak pertanyaan dan pemikiran sendiri setelah melihat seperti apa cara orang-orang kaya berinteraksi.


" Apakah acaranya akan segera di mulai ?" Tanya Nurul yang melihat Gilang sudah muncul dan berdiri di atas panggung kecil yang sudah disediakan.


" Mungkin.." Balas Arkha kemudian meraih dan menggenggam telapak tangan Nurul yang ada di pangkuan gadis itu. Arkha tahu, jika Nurul tidak nyaman berada di sana. Dia mencoba memberikan ketenangan untuk gadis yang di cintainya itu.


" Jangan khawatirkan banyak hal.. Nikmati saja pestanya." Bisik Arkha kepada Nurul.


Sandra yang mendengarnya pura-pura saja tak mendengar dan fokus kepada Gilang yang berdiri di depan sana dengan senyum yang mengembang. Hidungnya sudah tak berbalut perban lagi, hanya tinggal plester kecil yang menghiasi hidungnya yang tambah mancung oleh ciptaan dokter.


Tanpa sengaja, pandangan mata mereka saling bertemu. Gilang tersenyum senang karena ternyata Sandra hadir di acara pentingnya. Sedangkan Sandra juga senang, akhirnya dia bisa melihat Gilang yang baik-baik saja dan akan segera memulai kehidupannya yang baru. Meski baru bertemu satu kali, tapi Sandra yakin Moza adalah wanita yang tepat untuk Gilang. Perempuan itu cantik, to the point,, tidak manja dan terlihat dewasa. Bisa mengimbangi sifat Gilang yang humoris dan sedikit slengean. Yang terpenting mereka sama-sama bahagia.


Setelah menunggu beberapa saat, Dias dan Alfian datang membawa beberapa cake dan buah-buahan yang sudah di potong-potong menjadi kecil. Kemudian seorang pelayan mengikuti di belakangnya dan membawa minuman non alkohol untuk mereka semua.


Setelah semua tersaji di di atas meja, mereka kemudian menikmatinya bersama-sama. Para laki-laki mulai sibuk membahas pekerjaan sedangkan bagi Sandra dan Nurul ini kesempatan untuk mereka untuk berbincang-bincang dan mengobrol tanpa di ganggu para lelaki.


Acara pertunangan pun di mulai tak lama setelah itu. Sambutan demi sambutan sudah di bawakan oleh perwakilan dari orang tua Gilang dan oleh papa dari Moza. Hingga tibalah acara inti, yaitu pertukaran cincin antara Gilang dengan Moza. Namun sebelum itu, MC memberi tahu jika Gilang ingin menyampaikan sepatah dua patah kata terlebih dahulu.


" Selamat malam semuanya.. Terimakasih kalian semua sudah hadir di acara yang spesial bagi saya. Sebelum saya menyematkan cincin yang indah ini untuk pasangan saya. Saya ingin berterima kasih kepada sahabat dan juga perempuan yang sudah saya anggap seperti adik sendiri. Perempuan yang sangat berarti bagi saya karena pernah menyelamatkan hidup saya. Tanpa dirinya, malam ini tidak akan pernah terjadi. Perempuan itu, istri dari sahabat saya. Ya, mungkin sebagian dari kalian sudah mendengar desas-desus tentang hal itu. Di sini saya mau menegaskan dan meluruskan, jika di antara kami berdua, tidak ada hubungan spesial melebihi hubungan kekerabatan. Akibat dari kabar yang tidak bertanggung jawab itu, bahkan saya sampai harus merelakan hidung mancung saya ini di tangan sahabat saya sendiri. Hehe..."


Semua hadirin yang datang ikut tertawa mendengar perkataan Gilang. Sedikit banyak, kabar cinta segitiga antara Gilang dengan penerus perusahaan Wijaya Group itu berseliweran di perusahaan.


Alfian menatap Gilang dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca. Sedangkan Sandra yang tahu jika dirinya yang di bicarakan oleh Gilang, merasa jantungnya berdegup dengan kencang. Bukan karena gugup, tapi justru karena takut jika Gilang salah berucap dan membuat Alfian murka kembali di acara bahagia ini.

__ADS_1


" Saya lanjut,, seperti yang kalian tahu. Dulu aku adalah seorang pemuda yang tidak bertanggung jawab, banyak di kelilingi wanita cantik, dan hanya suka berfoya-foya dan hampir saja meninggal karena kecerobohan saya sendiri. Tapi setelah mengenal perempuan itu, saya bisa berubah drastis. Menjadi pria sejati seperti yang kalian lihat sekarang. Di sini saya ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk perempuan itu yang pasti malu jika saya sebutkan namanya, lebih tepatnya saya takut dengan tatapan membunuh dari suaminya sekarang..."


Para hadirin kembali tertawa di buatnya.


__ADS_2