Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Hinaan Dari Alfian


__ADS_3

Akhirnya, Dua puluh menit kemudian, sampai juga mereka di kampus.


" Sayang, nggak usah pikirin masalah tadi. Aku yang akan mengurusnya.. Bersikaplah seperti biasanya. Tetap semangat !!" Ucap Alfian sebelum Sandra turun dari mobil.


" Iya mas .. Ya sudah aku turun ya mas, dah di tungguin sama mereka." Kata Sandra menunjuk kedua temannya yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang kampus.


" Oke, hati-hati. Jika ada sesuatu, langsung saja kabari aku !" Pinta Alfian setelah Sandra berpamitan dan mengecup telapak tangannya.


" Siapp boss !" Sahut Sandra memaksakan senyumnya kemudian turun dari mobil.


" Sandra !! Lo lama at sih ?" Tegur Intan yang ceplas-ceplos.


" Sorry, tadi ada masalah sedikit." Kata Sandra memberi tahu.


" Masalah apa ? Lo gak kenapa-napa kan ?" Kini giliran Salsa si peka yang menyahut.


" Nggak kok. Nanti aja deh aku ceritain. Lemes nih belum sarapan... Ke kantin atau ke kafe dulu yuk ?" Ajak Sandra.


" Tumben belum sarapan.. emangnya lo belum masak ? Biasanya juga si paling rajin masak.."Imbuh Intan.


" Tadi belum selera, sekarang malah laper. Dah jangan bawel... Mau ikut nggak ?" Tanya Sandra lagi.


" Oke deh, ayuk..!"Jawab keduanya serempak.


Mereka bertiga kemudian pergi ke kafe yang tidak jauh dari kampus mereka menggunakan taksi.


" Mau makan apa ya ?" Tanya Sandra pada dirinya sendiri.


" Ya lo maunya mau makan apa ? Biasanya lo suka nasi goreng atau mie goreng..."


" Lagi nggak pingin ... pesen nasi bakar, iga bakar sama jeruk panas aja deh, kayaknya enak..." Ujar Sandra setelah melihat-lihat daftar menu makanan.


" Kalian mau makan apa ? aku yang traktir.. Kebetulan bulan ini penjualan baju di butik meningkat pesat..." Kata Sandra memberi tahu.


" Wah, selamat ya San... Tambah sukses aja lo.. Ikut seneng dengernya." Ucap Intan.


" Iya, lo emang berbakat deh San.." Tambah Salsa.


" Makasih... btw , ini berkat doa dari kalian juga."Sambut Sandra dengan ceria.


Mereka kemudian memilih menu makanan bersama.


Setelah makanan di sajikan, mereka kemudian menikmati makanannya masing-masing.


Dengan lahap dan cepat, Sandra sudah menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Membuat kedua temannya menatapnya tanpa berkedip.


" Pelan-pelan San, nanti tersedak lho...?" Kata Salsa yang keheranan melihat cara makan Sandra yang seperti orang yang tidak pernah di kasih makan.


" Iya... kita-kita gak ada yang mau minta kok..." Imbuh Intan bercanda.


" Hehe, maaf... habis enak banget sih..." Ucap Sandra sambil nyengir.


" Mm....Kak,nasi bakar dan iga bakarnya tambah satu porsi lagi dong ?!" Panggil Sandra kepada waiters yang ada.


Salsa dan Intan hanya bisa melongo melihat tingkah Sandra yang aneh pagi ini.


" San, tumben sarapannya banyak banget... Yakin bisa ngabisinnya ?" Tanya Intan yang penasaran.


" Iya, nanti sakit perut lho San.. Kita kan juga ada kelas nanti... Kalau terlalu kenyang takutnya nanti malah ngantuk.." Imbuh Salsa yang di angguki kepala oleh Intan.


" Habis kok.. Kalian tenang saja.. Akhir-akhir ini memang nafsu makanku lagi bagus." Balas Sandra dengan santai.


Setelah satu piring iga bakar dan nasi bakar di sajikan, Sandra kembali menyantapnya dengan lahap. Bahkan Intan dan Salsa sampai di buat kenyang hanya dengan melihat Sandra makan.


" San , lo yakin gak ada yang salah gitu ? Maksudnya, salah minum obat,atau barang kali minum obat penambah nafsu makan gitu ? " Tanya Intan lagi.


" Enggak, aku nggak minum obat lain selain vitamin dan obat penyubur kandungan dari dokter." Jawab Sandra lalu meminum minumannya sampai tandas.


" Haah kenyang..." Ucap Sandra sambil mengelus perutnya.


" Gue iri deh, lo sekarang makannya banyak tapi nggak gemuk-gemuk." Ucap Salsa.


" Hehe..." Sandra justru terkekeh mendengar ucapan Salsa. Dia sendiri tidak tahu mengapa tubuhnya tetap segitu saja meski akhir-akhir ini porsi makannya selalu bertambah banyak.


" Oya San, lo tadi kok kelihatan lesu terus pucet begitu... lo sakit ? Tapi kalau sakit nggak mungkin kan lo bisa ngabisin dua porsi makanan berat seperti itu ? Sampai nambah lagi ." Tanya Intan.


Sandra jadi teringat kembali kejadian tadi pagi kemudian menceritakan kepada kedua temannya.


" Wahhh cari mati tu orang ! Berani banget neror lo !" Ucap Intan selesai mendengar cerita dari Sandra.


" Nggak tahu deh, mungkin cuma orang iseng." Jawab Sandra.


" Seiseng-isengnya orang kalau udah begitu nggak iseng lagi namanya San, itu mah udah di sengaja buat neror lo biar ketakutan ! Lo lagi nggak punya masalah sama orang kan ?" Tanya Salsa.


" Ya ealah, mana ada aku punya masalah sama orang.. Orang yang aku kenal dan aku temuin setiap hari kan cuma kalian, sama orang butik..Aku jarang sekali bertemu langsung dengan pelanggan karena tahu sendiri, suami ku posesif banget. Yang ada nanti Pak Bagus di pecat kalau aku sampai nemuin orang tanpa izin dulu." Sahut Sandra.

__ADS_1


" Terus siapa dong kalau gitu ? Anjir malah jadi penasaran gue !" Ucap Intan.


Sandra mengangkat kedua bahunya dengan malas.


" Ada yang lo curigai nggak ?" Lanjut Intan.


Sandra kembali menggelengkan kepalanya.


" Ya udah kalau gitu, gue yakin suami lo bakal nemuin siapa tuh orang secepatnya. Nggak usah di ambil pusing."


" Iya San,, nggak usah di pikirin.. yang ada nanti lo malah stres."


" Iya, suamiku juga udah bilang begitu. Mmm, Ntar dulu deh..." Kata Sandra tiba-tiba wajahnya berubah merah.


" Kenapa ?" Tanya Salsa.


" Nggak tahu nih, kok tiba-tiba rasanya mual ya ?" Ucap Sandra yang berubah panik.


" Tuh kan, lo kekenyangan pasti..."Ucap Intan.


" Enggak, aku dah biasa kok makan porsi banyak. Nggak cuma pagi ini saj...."


" San, lo ke..."


Belum selesai Salsa ingin bertanya, Sandra keburu berlari ke toilet. Karena khawatir, Salsa dan Intan segera mengikutinya.


" Huueekk...."


" Hueeekkk"


Sandra memuntahkan semua isi perutnya. Semua makanan yang baru saja masuk kembali keluar dari mulutnya.


" San , Lo nggak kenapa-kenapa kan ?" Tanya Intan dan Salsa khawatir.


" Nggak kok, aku nggak kenapa-kenapa." Jawab Sandra dari dalam toilet.


" Buka aja pintunya, kita bantuin." Bujuk Salsa.


" Nggak ush.."


" Hoekkk..."


" Hoeeek.."


Sandra kembali memuntahkan isi perutnya. Membuat kedua temannya bertambah khawatir.


" Minum ini." Pinta Salsa.


Sandra menerimanya kemudian meminumnya sedikit.


" Gimana ? Masih mual ? Perlu ke dokter nggak ?" Tanya Intan yang terlihat cemas.


" Nggak usah ... Aku nggak kenapa-kenapa. Sekarang sudah mendingan kok. Thanks ya..?"


" Lo yakin ?"


" Yakin... Mungkin kalian bner, aku terlalu kekenyangan, kalau nggak cuma masuk angin saja ..." Ucap Sandra.


" Oke deh, kalau gitu balik ke kampus aja yuk ?" Ajak Intan.


" Oke.."


Setelah membayar tagihan makanan, mereka bertiga kembali naik taksi menuju kampus.


Meski Sandra bilang baik-baik saja, tapi kedua temannya masih meragukannya karena wajah Sandra masih terlihat pucat. Saat mengikuti mata kuliah pun Sandra terlihat lemas dan lesu tidak seperti biasanya, hal itu membuat kedua temannya semakin khawatir.


" San, lo yakin mau langsung ke butik ?" Tanya Salsa selesai kuliah.


" Iya... "


" Tapi San, lo mending nggak usah ke butik deh hari ini. Mending lo pulang aja istirahat. Lo kelihatan pucet begitu." Imbuh Intan.


" Kalian nggak usah khawatir, aku nggak sakit kok.. Emang bawaannya sekarang sering lemes aja. Mungkin kecapean." Jawab Sandra tetap ngeyel.


Kedua temannya saling menatap curiga namun belum bisa memastikannya.


" Ya sudah, kalau gitu hati-hati ya ? Gue kerja dulu..." Ucap Intan pamit.


" Gue juga San, gue balik ke restoran ya ? Takut di pecat sama suami lo... Oya, kemarin Bu Henny nitip salam .. Katanya udah kangen." Kata Salsa.


" Hehe, kirim balik salamnya ya ... ? Bilangin aku juga kangen . In syaa Allah kalau sudah nggak terlalu sibuk aku main ke sana lagi." Jawab Sandra.


" Oke, nanti aku sampaikan. Bye ?!" Pamit Salsa.


" Bye..." Balas Sandra.

__ADS_1


Setelah berpisah dengan kedua temannya Sandra kemudian mencegat taksi dan pergi ke butiknya.


Sampai di butik, seperti biasa... Para karyawan menyapanya dengan ramah. Sandra membalasnya dengan senyum ceria dan langsung menuju ke ruang kerjanya.


Di ruang kerja, Sandra merebahkan tubuhnya di sofa. Entah mengapa beberapa hari terakhir ini, badan Sandra rasanya lemas dan loyo seperti orang yang tidak punya tenaga. Sandra berharap setelah berbaring beberapa saat, tenaganya kembali pulih, karena ada banyak desain yang harus dia selesaikan.


******


Di Hotel ALSAN


Rena berjalan menunduk sambil menyembunyikan wajahnya di balik kerudung hitam yang biasa dia pakai.


" Ada yang bisa saya bantu Bu ?" Tanya resepsionis.


" Saya mau bertemu dengan Alfian."Kata Rena.


" Maaf Bu, apakah ibu sudah membuat janji sebelumnya ?" Tanya resepsionis itu dengan ramah.


" Eh... Belum, tapi bilang saja ... Saya ini ... Saya..." Rena bingung harus bilang apa, mungkinkah dia harus bilang jika dia mantan kekasihnya ? Yang ada mereka pasti tidak akan percaya dan langsung mengusir nya, karena yang mereka tahu mantan kekasih bosnya adalah seorang artis yang kini tengah menjalani hukuman di penjara karena skandal memalukan. Lagi pula mana mungkin Alfian mau menemuinya jika tahu jika dirinyalah yang ingin bertemu.


" Ya Bu ??"


" Ehh, bilang saja kalau saya temannya Sandra.. Istri dari bos kalian. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan." Ucap Rena yang langsung mendapatkan ide.


" Oh, baiklah. Silakan tunggu sebentar ya Bu ? Saya coba tanyakan terlebih dahulu." Resepsionis itu kemudian menelpon ke ruang kerjanya Dias dan memberi tahu jika ada seorang perempuan yang mengaku sebagai temannya istri Tuan Alfian dan ingin bertemu. Setelah menunggu beberapa saat, resepsionis itu kemudian mengangguk paham.


" Silakan ke atas Bu. Tuan Alfian kebetulan sedang senggang." Ucap Resepsionis itu.


Rena tersenyum lebar di balik kerudung yang dia pakai untuk menutupi wajahnya. Dia memang sengaja tidak memakai masker agar Alfian tidak curiga, karena tentu akan mengingatkan Alfian dengan orang bermasker yang merusak CCTV di apartemennya.


Setelah sampai di ruangan Alfian, Rena terlihat begitu gugup. Apapun yang akan terjadi dia harus bersiap.


" Masuk.." Pinta Alfian setelah mendengar suara ketukan pintu.


Rena masuk dengan perlahan. Alfian kemudian menatap siapa yang datang.


" Rena ! " Ucap Alfian setelah mengenali perempuan yang melepaskan kerudungnya itu.


" Iya Al... Ini aku..." Ucap Rena sambil memasang muka sedihnya.


" Ngapain kamu ke sini dan ngaku-ngaku sebagai teman istriku ? Bukanya kamu masih di penjara ??" Tanya Alfian ketus.


Rena terlihat sangat sedih mendengar Alfian berbicara dengan nada ketus seperti itu.


" Aku sudah bebas Al... Mama menjual rumahnya untuk menebusku...Aku....aku kesini karena aku merindukan mu. Aku ingin sekali melihat mu.." Kata Rena tidak tahu malu.


" Berani sekali kamu berbicara seperti itu dan menunjukkan wajah mu di depan ku !" Hardik Alfian.


" Kenapa Al ? Mengapa kamu sebenci ini padaku ? Bukankah dulu akulah orang yang sangat kamu cintai ? Mengapa kamu belum bisa memaafkan ku Al ? Aku sudah minta maaf kepadamu."


" Kesalahan mu begitu banyak Ren...!"


" Tapi Al... Aku masih mencintaimu... "


" Hahahaha....Jangan ngelantur... Dan aku juga tidak perduli ! Lebih baik kamu segera pergi dari sini !"


" Nggak Al.. Aku nggak mau pergi sebelum kamu memaafkan ku. Aku tahu semua kesalahan ku, dan aku mau berubah Al ... "Kata Rena mulai menangis.


" Rena .... Rena... Kamu pikir aku bakalan percaya sama kamu lagi ? Nggak akan ! Dulu kamu, kemarin ibumu , sekarang kamu lagi ! Kenapa kalian tidak ada kapok-kaponya datang kemari ?!" Kata Alfian tidak senang.


" Al... Aku mohon... Jika kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi, setidaknya kita bisa berteman."


" Aku tidak sudi punya teman seperti mu !"


" Karena Sandra ?!" Tanya Rena menahan emosinya.


" Jangan bawa-bawa nama istri ku ! Seharusnya kamu tahu diri Rena ! Cepatlah pergi... Sebelum aku menyuruh orang untuk mengusir mu !" Kata Alfian muak.


" Aku butuh bantuan mu Al !" Teriak Rena.


" Aku butuh biayanya untuk operasi plastik..." Rena terisak.


" Operasi plastik ? Untuk apa ? Wajahmu yang sekarang justru sangat cocok untuk mencerminkan seperti apa isi hati mu !"


" Cukup Al !! Jangan hina aku lagi !! Aku tidak akan pernah memaafkan mu jika kamu menghinaku sekali lagi !" Ancam Rena.


" Jika kamu tidak ingin di hina , maka cepatlah pergi dari hadapan ku !"


" Aku akan pergi sekarang juga ! Hinaan mu ini tidak akan pernah aku lupakan Al !" Ucap Rena lalu kembali memakai kerudung nya untuk menutupi sebagian wajahnya lagi.


" Kau yang memaksaku untuk berbuat nekat Al !" Batin Rena menahan tangisnya lalu pergi.


Setelah Rena pergi, Alfian segera menghubungi Dias dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.


" ****, Rena benar-benar tidak tahu malu. Setelah semua yang dia lakukan, masih berani juga dia menemui mu. Sorry bro, tadi aku tidak memeriksanya terlebih dahulu sebelum dia menemui mu." Kata Dias ikut marah.

__ADS_1


" Ya sudah, lain kali jangan sampai ceroboh lagi. Cari tahu juga , apakah Rena ada kaitannya dengan kejadian teror tadi pagi." Titah Alfian.


" Baik Al... Aku akan segera mencari tahu..." Jawab Dias di telepon.


__ADS_2