Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Masuk Angin


__ADS_3

Rena pergi dari hotel dan pulang ke rumah dengan perasaan yang kesal dan marah. Setelah mendapatkan penolakan dan hinaan dari Alfian, dia bertekad akan menghancurkan hidup Alfian dan Sandra. Kini kebencian dan sakit hati yang mendalam atas hinaan Alfian seperti mendarah daging di hatinya.


Setelah sampai di rumah, Rena langsung masuk ke dalam kamar, membanting pintu dan mulai melemparkan barang-barang yang ada di kamarnya. Hal itu tentu saja membuat Bu Reisa yang tengah sibuk di dapur dengan adonan kuenya terkejut mendengar putrinya berteriak-teriak seperti orang kesurupan.


" Ren .. Buka pintunya.... Buka pintunya sayang .." Kata Bu Reisa.


Namun percuma saja ... Rena tidak memperdulikan panggilan dari ibunya.


" Kamu kenapa Ren ? Dari mana saja kamu ? Kenapa semalam kamu nggak pulang ? Kamu tidur di mana ?" Tanya Bu Reisa bertubi-tubi.


" Diam ma !! Mama berisik !! Alfian bangsat ! Lihat saja, aku bakal balas hinaan kamu !!" Teriak Rena.


" Istighfar Ren, nyebut... Jangan bilang kamu habis nemuin Alfian ! Mama kan sudah bilangin kamu, jangan usik Alfian lagi Ren !" Kata Bu Reisa terus menggedor pintu putrinya.


" Stop ma ! Jangan berisik !! Rena tahu apa yang harus Rena lakukan ! Jika mama nggak mau bantuin Rena lagi, lebih baik mama diam dan jangan ganggu Rena !" Teriak Rena.


Bu Reisa kemudian mengalah, memberi waktu kepada Rena untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Jika sedang emosi, Rena mirip sekali dengannya yang suka melempar-lempar barang dan susah di beritahu. Bu Reisa menghela nafas panjang kemudian kembali ke dapur.


" Apa yang telah dia lakukan ? Rena.. Kenapa sulit sekali membuatmu sadar nak, Alfian sudah tidak mencintai mu lagi.. Dia sudah hidup bahagia dengan istrinya. Apapun yang akan kamu lakukan hanya akan membuatmu semakin hancur. Apa yang harus mama lakukan untuk membuatmu bisa menerima kenyataan ini?? " Gumam Bu Reisa sedih.


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, sudah tidak terdengar suara barang-barang yang di lempar atau di banting lagi. Bu Reisa terlihat lega, mungkin Rena sudah lelah kemudian tidur. Pikir beliau.


******


Sore itu di apartemen, Sandra terlihat lemas dan tidak bersemangat. Selesai membersihkan diri, Sandra langsung bergelung di bawah selimut. Selain karena masih takut dengan kejadian pagi tadi, Sandra enggan melakukan hal apapun. Dia tidak demam juga tidak flu maupun batuk, tapi tubuhnya seperti tidak bisa di ajak bekerja sama.


Sekitar pukul tujuh malam, Alfian datang dan masuk ke dalam kamar. Alfian terheran-heran karena melihat istrinya sudah tertidur padahal waktu masih begitu sore.


Selesai mandi, Alfian mendekati Sandra yang masih pulas tertidur. Nyenyak sekali tidurnya, namun Alfian harus membangunkannya. Dia belum akan tenang sebelum mengetahui istrinya itu sudah makan malam atau belum.


Dengan sengaja Alfian mengecup seluruh wajah Sandra, Sandra yang merasa ada sesuatu yang mengganggu pun akhirnya terbangun.


" Mas... sudah pulang ?" Tanya Sandra sambil mengucek kedua matanya dengan perlahan.


" Kalau sudah ada di sini ya namanya sudah pulang lah sayang..." Jawab Alfian terkekeh.


" Oh iyaa... Maaf mas.."


" Iya nggak apa-apa...Tumben masih sore sudah tidur, sudah makan malam belum ?" Tanya Alfian sambil mengelus-elus rambut Sandra.


Sandra menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


" Kenapa ? Nungguin aku ya ?" Lanjut Alfian.


Sandra menggeleng lagi , tapi kali ini sambil merasa bersalah.


" Aku belum masak mas ..." Jawab Sandra lirih.


Alfian mengerutkan keningnya.


" Terus ? Kenapa takut begitu jawabnya..? Kalau kamu nggak masak ya nggak masalah sayang.. Nggak perlu merasa bersalah begitu. Kita bisa makan di luar atau pesan makanan lewat aplikasi." Sahut Alfian santai.


" Makasih ya mas, maaf ..." Lagi-lagi Sandra tetap merasa tidak enak belum memasak untuk suaminya karena memang sudah menjadi kebiasaan baginya menyiapkan sarapan dan makan malam untuk suaminya.


" Stt... Kamu ini istri ku sayang.. Bukan asisten rumah tangga. Jika lelah ya istirahat saja.. Kamu tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak ingin kamu lakukan. Kalau cuma makan, kita bisa beli atau makan di luar seperti biasanya." Ucap Alfian menenangkan.


" Makasih banyak ya mas, sudah ngertiin aku. Muach." Sandra merasa terharu mendengar suaminya begitu pengertian terhadapnya.


" Tidak masalah, Oya.. Besok kita akan pindah.." Kata Alfian berubah serius.

__ADS_1


" Pindah.... ? Pindah ke mana mas ?" Tanya Sandra kebingungan.


" Kita akan pindah ke rumah baru kita sayang.. Rumah yang aku bikin untuk kamu dan anak-anak kita nanti..." Lanjut Alfian.


" Rumah kita ? Emang kapan mas bikin rumah ? Kok nggak pernah ngasih tahu.. Terus kok pindahnya mendadak.. Kita kan belum berkemas juga mas ?" Sandra mendadak berubah menjadi cerewet seperti biasanya. Membuat Alfian tidak bisa tidak tersenyum jika sudah melihat Sandra seantusias itu.


" Sebenarnya bukan rumah baru yang dibikin dari nol sayang... Tapi rumah itu memang sudah aku buat sejak aku kembali dari luar negeri. Rencananya, dulu aku bikin rumah itu karena tidak mau satu rumah dengan papa lagi. Makanya aku dulu lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen. Berhubung sekarang aku sudah menikah,aku meminta orang untuk merenovasi rumah itu supaya lebih bagus dan nyaman sebelum aku mengajak kamu tinggal di sana." Aku Alfian.


Sandra terharu mendengar penjelasan suaminya. Dia tidak menyangka jika diam-diam suaminya sudah menyiapkan rumah untuk mereka.


" Tinggal di apartemen juga tidak buruk mas. Aku juga sudah betah tinggal di sini." Kata Sandra kemudian. Padahal dalam hati Sandra merasa tengah berbunga-bunga karena Alfian telah menyiapkan rumah untuknya dan untuk calon anak-anak mereka nanti. " Memangnya berapa anak yang ingin dia miliki ?" Batin Sandra gembira.


" Iya sayang.. Kamu benar, aku pun juga begitu. Apartemen ini sudah seperti rumah untuk kita. Banyak sekali kenangan kita di sini. Tapi apartemen ini kurang luas, dan kurang besar. Sedangkan aku menginginkan tempat tinggal yang besar ,ada kolam renangnya dan juga ada tamannya,, agar kelak aku bisa bermain bersama dengan anak-anak kita nanti di sana." Ucap Alfian sambil menatap wajah Sandra penuh kasih sayang.


Sandra semakin terharu mendengar penuturan suaminya.


" Makasih banyak ya mas..." Ucap Sandra tidak bisa berkata-kata.


" Tidak perlu berterima kasih sayang, sudah seharusnya aku melakukannya. Lagi pula di sini sudah tidak aman lagi. Ada orang yang jelas-jelas berani bermain-main dengan ku ! Jadi, sebelum aku menemukan siapa orang itu, secepatnya kita harus segera pindah dari sini." Kata Alfian dengan wajah yang sedikit menegang karena kembali mengingat kejadian pagi tadi.


" Tapi kan kita belum berkemas mas.. Mendadak sekali kalau harus pindah besok." Ucap Sandra.


" Kita kemasi saja barang-barang yang sekiranya penting, dan bawa pakaian secukupnya saja karena sebenarnya kita bawa badan saja tidak ada masalah. Di sana semua sudah siap dan tersedia sayang..."


" Ohh.. Baiklah kalau begitu. Tapi harusnya mas nggak perlu buang-buang duit untuk membeli pakaian baru.. Yang di sini saja masih banyak yang belum ke pakai."Gumam Sandra yang lupa jika suaminya adalah orang yang sangat kaya.


" Hehe, sudah terlanjur sayang... Lagi pula bukan aku yang berbelanja. Salahkan saja Dias jika mau marah. Dia yang mengurus semuanya.." Tutur Alfian dengan santainya.


" Ck... Ya sudah deh... Kalau gitu nanti setelah makan bantuin aku berkemas ya mas ?"


" Oke sayang... Ingat , bawa yang penting-penting saja." Jawab Alfian.


" Iya-iya mas ... Mmm, sekarang kita mau makan malam apa mas ?" Tanya Sandra kemudian.


" Mm... pesan saja ya mas... Aku lagi nggak enak badan kayaknya.." Ucap Sandra terus terang.


" Kamu sakit ?" Tanya Alfian berubah cemas.


" Enggak mas, cuma masih sama sama seperti kemarin.. Rasanya lemes aja. Kayaknya masuk angin deh mas.. Kalau di kerokin pasti enteng.." Jawab Sandra.


" Di..di kerokin ? " Tanya Alfian. Alfian jadi teringat kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia sedang masuk angin dan Sandra bilang akan membuatnya sembuh dengan kerokan. Alfian kemudian bergidik ngeri ketika mengingat tubuhnya yang merasa geli sekaligus sakit karena uang logam yang bergerak ke kanan dan ke kiri seperti setrika di tubuhnya itu.


" Jangan kerokan deh yank ... Mending kita langsung ke dokter saja, biar jelas apa sakitnya.." Kata Alfian kemudian.


" Nggak perlu ke dokter mas.. Aku cuma masuk angin aja,, karena kadang rasanya mual dan kembung. Toh nggak demam nggak pusing nggak batuk pilek juga. Mas bisa kan kerokin aku ?" Pinta Sandra.


" Tapi sakit lho nanti yank."


" Nggak apa-apa mas... Aku dulu sudah biasa kerokan."


" Terus yang biasanya ngerokin kamu dulu siapa ?" Tanya Alfian mulai cemburu.


" Ya ibuk lah mas . Kalau nggak ada ya biasanya Nurul..Emang mas pikir siapa ?" Balas Sandra.


" Oh kirain... Ya sudah mas kerokin tapi ajarin mas ya... Mas belum pernah ngerokin orang."


" Iya mas "


" Ya sudah, tunggu bentar, mas ambilkan minyak kayu putih sama uang logam dulu. Kamu punya nggak ? Mas nggak punya uang receh begitu."

__ADS_1


" Itu di laci meja belajar ku sepertinya ada mas..."


Setelah mencari sebentar, Alfian kembali mendekati Sandra. Sandra sudah melepas pakaian atasnya kemudian tidur menelungkup. Sebelum di kerok, Sandra memberikan arahan terlebih dahulu.


" Begini ?" Tanya Alfian.


" Iya mas, tapi lebih kuat sedikit... nggak kerasa rasanya.." Jawab Sandra.


" Kalau sekarang ?" Tanya Alfian lagi.


" Lebih kuat lagi mas.. Coba di tekan sedikit..." Jawab Sandra.


" Aduhh, nanti punggung kamu lecet yank..."


" Nggak akan mas... Kalau mas ngikutin apa yang aku bilang nggak akan lecet."


" Tapi ini sudah mulai merah yank... Apa nggak sakit ?"


" Enggak mas... Buruan lebih kuat sedikit."


" Auh.. Pelan sedikit mas...!" Teriak Sandra.


" Sorry yank... Habis tadi katanya kurang kuat terus..."


" Iya, tapi ya nggak pakai tenaga dalam juga kali mas .. Perih nih kena uang koinnya."Keluh Sandra.


" Susah banget sih yank... Terus kalau begini gimana ?" Tanya Alfian mulai tidak sabaran.


" Iya segitu pas mas... Turunin sedikit.." Pinta Sandra.


Setelah setengah jam, akhirnya Alfian selesai melakukan tugasnya meski Sandra beberapa kali berteriak karena kadang Alfian terlalu kuat atau masih terlalu pelan mengeroknya.


Sandra kemudian membalikkan tubuhnya. Merasa lega dan enteng setelah kerokan meski di beberapa titik masih menyisakan rasa perih di punggungnya.


Alfian menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka hal sepele seperti kerokan saja ternyata tidak mudah melakukanya. Alfian kemudian merebahkan diri di samping Sandra.


" Yank ?" Gumam Alfian lirih.


" Apa mas ? Ambilin bajuku tadi dong mas ?" Ucap Sandra sambil berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.


" Mm.. Sudah enakan ?"


" Sudah, rasanya sudah enteng mas. Makasih ya ?" Ucap Sandra.


" Kalau begitu.. Mas minta upah boleh ?"


" Upah ?" Tanya Sandra kebingungan. Untuk apa Alfian minta upah. Dia kan sudah punya banyak uang.


" Tapikan..." Kata Sandra ingin protes.


" Ayolah... Kita lakukan sekali saja...." Potong Alfian.


" Astaga... Bodohnya diriku.." Gerutu Sandra yang baru paham dengan upah yang Alfian maksud. Dia pikir Alfian minta upah uang darinya.


" Boleh ya, boleh ya ??? " Ucap Alfian merengek.


" Tapi kan kita belum makan malam mas..."


" Nanti saja makannya... Cuma sebentar kok.."

__ADS_1


"Ya sudah, ayo... Tapi janji ya cuma sekali saja.." Kata Sandra yang tidak tega melihat wajah suaminya yang merengek seperti itu.


Alfian tersenyum senang mendengarnya. Tanpa membuang waktu, Alfian menyibak selimut yang baru saja Sandra pakai untuk menutupi tubuhnya.


__ADS_2