
Ke esokan harinya Sandra sudah siap berangkat ke kampus.
" Ayo aku antar..." Ajak Alfian setelah selesai sarapan.
" Aku bareng Arkha saja." Tolak Sandra enggan.
Alfian melirik Arkha dengan memberikan kode peringatan.
" Sorry San. Aku udah janji mau jemput cewek ku dulu. Lagi pula aku juga harus nganterin Neta ke sekolah..." Ucap Arkha yang tidak mau bermasalah dengan kakaknya.
" Sejak kapan kamu punya cewek ? Bukanya di kampus kamu terkenal dengan julukan laki-laki tak tersentuh ?" Ejek Sandra.
" Sial, tak tersentuh bukan berarti aku tidak punya pacar. Itu cara ku melindungi kekasihku dari cewek-cewek. Terutama yang barbar seperti kamu dan kedua temanmu itu !" Balas Arkha sengit.
" Iya deh, aku minta maaf, gak perlu bawa teman-teman ku juga kali.... Terus sepeda motorku ke mana ?" Tanya Sandra yang kemarin sempat melihat ke garasi namun tidak menemukan sepeda motor miliknya.
" Sudah ku bilang. Motormu ada di bengkel." Sahut Alfian.
" Kenapa bisa sampai di bengkel ? Awas aja ya kalau rusak. Itu sepeda motor kenang-kenangan dari almarhum dan almarhumah orangtuaku !" Kata Sandra.
" Iya.... Kemarin Arkha yang memakainya, dia bilang sepeda motormu sudah perlu service jadi di bawa sekalian ke bengkel. Iya kan Arkha ?" Tanya Alfian sambil melotot kepada adiknya.
" Benar begitu ? " Tanya Sandra kepada Arkha.
" Aa....ii....iyaa. Maaf kemarin aku pinjem buat nongkrong sama teman gak taunya rada ngadat begitu.. Ya udah aku bawa aja service ke bengkel langganan ku." Jawab Arkha tergagap. Tidak biasanya dia berbohong.
Benar-benar abangnya satu itu... Bisa-bisanya melemparkan kesalahan kepadanya. Padahal dia tahu jika sepeda motor Sandra sengaja di sembunyikan oleh Alfian supaya bisa antar jemput Sandra kuliah.
" Udah... Bareng Kak Al saja kak, kapan lagi di antar jemput suami setampan kakak. Pasti temen-temen kakak banyak yang iri kalau tahu." Sambung Neta semaksud dengan kakak-kakaknya.
" Aduuh Neta....Aku justru gak mau jika banyak yang tahu aku sudah menikah !" Batin Sandra.
" Ya sudah deh.... Tapi awas ya mas, jangan macem-macem kaya yang kemarin. " Ucap Sandra mengingatkan.
" Emang kemarin aku salahnya di mana ? Emang gak boleh memberitahu teman-temanmu jika aku suamimu ? Harusnya kan aku yang marah karena seolah-olah kamu mau menyembunyikan status mu dari orang-orang." Balas Alfian yang jadi ikutan dongkol dengan sikap Sandra.
" Ehm...Ehm...! Tuan ,nona... Keburu siang." Lerai Dias sambil berdeham.
" Huh !" Ucap Sandra lalu pergi terlebih dahulu ke mobil.
Neta dan Arkha menggelengkan kepala melihat pasutri itu bertengkar lalu menyusul Sandra keluar.
" Sabar tuan, jangan terpancing emosi." Bisik Dias setelah semuanya pergi menuju mobil masing-masing.
" Shhh.... Dasar gadis keras kepala !" Ucap Alfian lalu menyusul mereka.
Mereka semua akhirnya berangkat ke tempat tujuan masing-masing.
" Mas Dias , aku boleh bertanya ?" Kata Sandra membuka suara.
" Silakan nona..." Balas Dias.
" Mas Dias sudah punya pacar ?" Tanya Sandra kepo.
Dia penasaran dengan kehidupan Dias. Apalagi di usianya yang sekarang. Pernah terbesit dalam pikiran Sandra, apakah Dias punya kekasih ? Apakah dia punya cukup waktu untuk pergi berkencan ?Sandra sangat penasaran karena dimana pun ada Alfian pasti selalu ada Dias. Setahu Sandra mereka berpisah hanya saat tidur saja.
Alfian melirik Sandra dengan tanda tanya yang besar . Untuk apa istrinya menanyakan hal tidak penting seperti itu ?
" Maaf nona .. Itu privasi saya. Saya tidak bisa menjawabnya."Jawab Dias.
__ADS_1
" Kenapa tidak bisa ? Bukankah kita semua sudah seperti saudara ?" Desak Sandra.
" Sayang..., kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu ?" Ucap Alfian tidak senang karena Sandra justru fokus kepada orang lain.
" Penasaran saja. " Jawab Sandra.
" Jangan terlalu penasaran dengan kehidupan pribadi seseorang. Itu tidak baik." Ucap Alfian menasehati.
Dias tersenyum kecil. Tidak menyangka Alfian kini bisa lebih bijaksana dalam berbicara. Perasaannya terhadap Sandra bisa membuat laki-laki itu berubah sedikit demi sedikit.
Sandra mengangkat kedua bahunya bersamaan sebagai jawaban.
" Oya... Nanti sore kita sudah pindah ke apartemen.Hari ini semua barang-barang milikmu akan di pindah ke sana. Ya tidak semuanya sih, karena kita juga akan sering pulang ke rumah papa." Kata Alfian memberi tahu.
" Kenapa harus secepat ini ?" Tanya Sandra.
" Bukankah lebih cepat lebih baik ? Kita harus belajar hidup mandiri dan membangun rumah tangga kita sendiri Sandra..."
" Kenapa begitu mendadak ?" Tanya Sandra lagi yang tidak puas dengan jawaban Alfian.
" Sebenarnya bukan mendadak. Aku sudah merencanakannya jauh-jauh hari, tapi papa dan Neta yang senang dengan kehadiranmu di rumah membuatku mengulur waktunya." Alfian menjelaskan.
" Tidak bisakah Minggu depan ?"
Alfian menggelengkan kepalanya.
" Dua hari lagi ?" Bujuk Sandra lagi.
Alfian menggelengkan kepalanya lagi.
" Huuh... Dasar tukang paksa !" Ucap Sandra kesal.
Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan kampus. Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang masih asik mengobrol di luar gerbang.
" Kenapa ?"
" Aku bukan anak TK mas..... Aku bisa masuk sendiri. OK ?!"
" Tapi aku mau nganterin sampai ke dalam..."Alfian bersikeras.
" Maaasss......." Ucap Sandra memelas.
" Baiklah.., tapi pamit dulu yang benar." Kata Alfian akhirnya.
" Maksudnya ?" Sandra kebingungan.
Alfian lalu mengulurkan tangannya lalu menggoyangkannya ke atas dan kebawah sambil menaikturunkan alisnya.
" Salaman ? Oohh... iya maaf lupa." Kata Sandra paham. Sandra kemudian menjabat tangan Alfian. Tapi saat akan di lepas Alfian justru menggenggamnya dengan erat.
" Lepas mas ? " Kata Sandra memohon.
Alfian tidak menjawabnya dan hanya memberikan isyarat lewat kedua matanya ke tangannya.
" Apa ?" Tanya Sandra yang tidak mengerti.
" Mungkin maksudnya, tuan ingin nona mencium tangannya." Sahut Dias yang lebih peka.
Sandra memutar bola matanya dengan kesal lalu mencium kilat tangan Alfian.
__ADS_1
" Sudah ?! " Tanya Sandra ketus.
" Masih kurang...." Jawab Alfian tersenyum.
" Apa lagi ?" Sandra bertanya dengan emosi." Benar-benar ya ?? Huh !" Batin Sandra.
Cup !
Alfian mengecup kening Sandra dengan lembut. Sesaat Sandra tertegun dibuatnya.
" Mulai besok jangan lupakan itu. Harus berpamitan yang benar seperti dulu." Ucap Alfian.
" Hm !" Jawab Sandra singkat lalu turun dari mobil mewah milik suaminya.
Alfian menurunkan kaca mobilnya lalu melambaikan tangan ke arah Sandra.
Sandra membalas melambaikan tangannya dengan cepat lalu berlari masuk ke dalam. Dia takut menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Alfian tersenyum kemudian menurunkan kembali kaca mobilnya. Tidak lama kemudian mobil itu kembali melaju dengan cepat.
" Ku rasa Sandra sudah tidak begitu marah kepada mu." Kata Dias setelah berdua saja dengan Alfian.
" Kau benar. Dia gadis yang baik.. Tidak mungkin dia akan menyalahkan orang lain atas sesuatu yang tidak orang itu lakukan. Sedikit demi sedikit dia mulai bisa menerima kenyataan." Balas Alfian.
" Ya baguslah. Oya, sekedar memberitahumu saja. Masalah video panas Rena kemarin sudah sampai ke jalur hukum. Aku lihat beberapa stasiun televisi juga sudah memblacklistnya. Aku pastikan karir Rena benar-benar hancur." Ucap Dias.
" Biarkan saja. Aku tidak mau ikut campur tentangnya lagi. Yang penting tidak ada yang tahu kan jika video itu, orang kita yang menyebarkannya ?" Tanya Alfian.
" Sampai saat ini masih aman Al. Hanya saja aku khawatir jika Rena mengetahuinya. Dia gadis yang cerdas, pasti dia berpikir jika yang menimpa dirinya saat ini ada hubungannya dengan mu dan Sandra, karena video itu muncul setelah dia mengancam ibunya Sandra. Apa lagi setelah adanya kabar meninggalnya ibu Sandra. Lebih baik kamu dan Sandra berhati-hati, dia sangat pendendam. Apapun bisa dia lakukan karena di belakangnya ada nama besar yang mendukungnya." Ucap Dia menasehati.
" Baiklah, perketat saja penjagaan terhadap Sandra. Aku takut jika Rena mengincarnya." Balas Alfian.
" Tapi Sandra tidak mau di kawal atau di awasi Al. Jika kamu melakukannya dan ketahuan olehnya itu akan menjadi masalah lagi buat kalian." Ucap Dias ragu-ragu.
" Lalu aku harus membiarkannya dalam bahaya ? Lakukan secara diam-diam dan berhati-hati. Suruh bodyguard terbaik untuk mengawasinya dari jauh. Aku juga hafal betul dengan sifat Rena. Dia tidak akan menerima begitu saja saat seseorang telah menyakitinya." Timpal Alfian gusar.
" Baik Al. Nanti akan segera aku utus bodyguard untuk mengawasi Sandra."
" Bagus, suruh dia memberikan kabar sesegera mungkin jika ada sesuatu yang mencurigakan." Lanjut Alfian memberikan perintah.
" Oke !"
Mobil semakin melaju dengan cepat.
Di kampus Sandra sudah di sambut oleh kedua temannya yang langsung menghampiri dirinya.
" Sandra....! Gue turut berduka cita atas kepergian ibu loe." Ucap Intan memeluk Sandra.
" Gue juga San... Semoga almarhumah ibu loe husnul khatimah." Sahut Salsa. Kini gantian dia yang memeluk Sandra.
" Maafkan kami yang tidak datang ke sana. Kami mencoba mencari tahu alamat rumah lo lewat Arkha. Tapi pria itu tidak mau memberi tahu kami. Katanya elo sedang dalam kondisi yang tidak baik dan tidak bisa menerima tamu terlebih dahulu." Imbuh Intan.
" Terimakasih teman-teman. Tidak apa-apa, sekarang aku sudah baik-baik saja." Balas Sandra tersenyum. Mereka lalu berpelukan lagi.
" Ah .. Kangen....!" Ucap Salsa.
" Aku juga merindukan kalian." Balas Sandra sungguh-sungguh.
" Oya .. Ini untuk loe. Gue dan Intan sudah menyalinkan buku catatan selama elo absen kuliah. Di sini sudah ada catatan berbagai pelajaran yang perlu lo pelajari." Ucap Salsa menyerahkan buku catatan yang dia ambil dari dalam tas.
" Wahh, makasih ya teman-teman. Kalian baik sekali..." Ucap Sandra terharu.
__ADS_1
" Santai aja San..." Balas Intan.
Ketiganya kemudian masuk ke dalam kelas karena kelas akan segera di mulai.