
Alfian yang sudah tidak bisa kembali fokus bekerja, segera pulang ke apartemennya.
Sampai di apartemen, Alfian mencari bukti dari perkataan Bu Reisa.
Alfian masuk ke dalam kamar, mencari-cari di atas meja rias dan laci. Sayangnya dia tidak menemukan apapun di sana. Kemudian Alfian pindah ke meja belajar Sandra. Tak juga di temukan apa yang dia cari. Alfian lalu pindah ke ruang ganti. Lemari pakaian Sandra menjadi sasaran utamanya. Alfian membuka lemari itu dan mengeluarkan semua pakaian yang ada dengan asal. Matanya terbelalak ketika melihat beberapa tablet pil kontrasepsi yang terselip di antara beberapa pakaian. Segera Alfian mengambilnya dan meremas pil itu penuh dengan amarah.
Tepat saat itu ,bel apartemen berbunyi. Pas sekali, orang yang ingin dia cari ternyata sudah datang.
Sandra melihat mobil Alfian terparkir di depan, sehingga sudah tahu jika suaminya pasti ada di dalam apartemen, makanya dia menekan bel terlebih dahulu.
Alfian membukakan pintu.
" Mas kok sudah pulang ??" Tanya Sandra keheranan. Dia penasaran kenapa masih siang suaminya sudah berada di apartemen.
Alfian tidak menjawabnya lalu masuk ke dalam agar Sandra bisa segera menyusulnya.
" Kenapa mas ? Kok kaya kesel begitu." Ujar Sandra.
" Mas ada masalah di kantor ?" Tanya Sandra lagi. Dia bingung kenapa tiba-tiba suaminya bersikap dingin dan acuh seperti itu.
Setelah sampai di ruang tengah, Alfian melemparkan pil kontrasepsi yang dia temukan tadi.
" ITU APA SANDRA !!" Teriak Alfian. Kini segala emosi yang dia tahan sejak masih di dalam kantor meledak sudah.
Sandra terkejut saat melihat pil yang dia konsumsi selama ini jatuh tergeletak di bawah kakinya. Rasa dingin dan gugup mendadak menjalar di sekujur tubuhnya. Baru kali ini dia melihat Alfian murka seperti itu. Kedua matanya berwarna merah saking emosinya.
" Mas.. Itu,, "
" KENAPA !! KENAPA KAMU BERBOHONG PADAKU ! " Teriak Alfian lagi.
Sandra ketakutan. Dia tak lagi berani menatap wajah suaminya yang kini sedang mengamuk. Segala sesuatu yang ada di depan Alfian, semuanya Alfian banting dan lempar ke sembarang arah menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.
" JAWAB AKU SANDRA !! KENAPA KAMU LAKUKAN INI KEPADAKU ??!!"
Air mata Sandra mulai berjatuhan. Dia tidak berani berkutik sedikitpun. Apalagi saat ini Alfian benar-benar sangat marah. Baru sekali ini dia melihat Alfian mengamuk di depan matanya.
Alfian kemudian mendekat, salah satu tangannya berhasil mengapit kedua pipi Sandra. Sandra terkejut bukan main, apalagi Alfian mulai mencengkram kedua pipinya dengan keras.
" Sa... Sakit mas..." Rintih Sandra berusaha melepaskan tangan Alfian dari wajahnya.
" SAKIT ?? LEBIH SAKIT MANA DENGAN HATIKU !!"
Sandra memejamkan kedua matanya karena ketakutan. Dirinya lemas seketika.
" Tidak bisa menjawab ??! "
Bruk !!
Alfian mendorong Sandra ke belakang hingga jatuh tersungkur.
" Maaf mas..." Rintih Sandra.
" Maaf untuk apa ?!! Jadi ,, semalam kamu minta maaf karena hal ini ?" Tanya Alfian yang mulai merendahkan nada bicaranya.
Sandra menggeleng kemudian mengangguk.
Prangg !!
Alfian melemparkan vas bunga ke sudut ruangan. Hal itu membuat Sandra kaget dan semakin ketakutan. Dari sorot matanya Sandra melihat jelas jika saat ini Alfian penuh amarah.
__ADS_1
" Kenapa kamu melakukannya ?? Berikan alasan yang tepat agar aku tidak berbuat jahat kepada mu !!" Ancam Alfian.
Sandra tidak bisa menjawab, dia ketakutan melihat amarah suaminya kali ini.
" Kenapa kamu tidak ingin punya anak dariku ?! KENAPA Sandra ! Apa karena kamu terpaksa menerima cinta ku ? Sehingga kamu menjadikan kuliah dan perkejaan sebagai alasannya?? " Tanya Alfian dengan mata melotot tajam.
" Ternyata kamu tak sepolos yang aku bayangkan... haha.." Imbuh Alfian tertawa getir .
" Katakan, kenapa kamu berbohong padaku... Dan merahasiakan hal sebesar ini padaku !!" Alfian merasa belum puas sebelum mendengar jawaban dari Sandra.
Sandra menangis tersedu mendengar ada rasa sakit saat melihat suaminya mengatakan hal itu. Namun apa boleh buat , semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan Sandra akui,dia memang bersalah. Tapi dia tidak menyangka jika Alfian bisa semurka ini jika marah.
" Maafkan aku mas..." Ucap Sandra tersedu.
Alfian duduk di sofa.. Menghempaskan tubuhnya dengan kasar,lalu memegang dan mengacak rambutnya dengan frustasi.
" Sejak kapan... Sejak kapan kamu meminumnya dan berbohong padaku ?! Cepat katakan !! Aku butuh jawaban Sandra , bukan tangisan mu !" Bentak Alfian lagi.
Sandra berlari lalu bersimpuh di kaki Alfian. Tangisannya semakin menjadi karena merasa sangat bersalah sekaligus ketakutan.
Alfian meraih dagunya, menatap sayu ke arahnya. Sakit... Itulah yang dia rasakan saat ini.
" Katakan, sejak kapan kamu meminumnya...?" Ucap Alfian mengulang. Kali ini sedikit lebih tenang.
" Se...sejak...Kita... Kita me...nikah..." Isak Sandra.
Alfian semakin terkejut mendengarnya. Bukan main, Sandra sudah mengantisipasi sejak awal pernikahan mereka, bahkan di saat dia belum menyentuhnya sekalipun.
Alfian tertawa menakutkan. Lalu melepaskan cengkeramannya pada dagu Sandra.
" Hahah.. Haha... Jadi selama ini kamu sudah mengantisipasinya ? Bahkan sejak awal kita menikah... Hebat Sandra... Hebat ...." Alfian bertepuk tangan dengan keras, menyembunyikan semua rasa sakit dan kecewanya di hadapan Sandra.
Darr !
Alfian menendang meja di depannya. Untungnya tidak mengenai Sandra yang juga berada tepat di hadapannya.
Sandra hanya bisa menggeleng karena takut. Sungguh dia tidak ingin membuat Alfian sampai semurka dan sekasar itu.
" Sudah jelas sekarang.. Selama ini kamu hanya bersandiwara di depanku. Kenapa? Karena aku sudah merenggut kesucianmu malam itu ? Sehingga kamu terpaksa menerima perasaan ku ? Jawab Sandra.... !!! Dari tadi aku banyak bertanya tapi kamu hanya menangis !" Tak ada cela bagi Alfian. Dia terus mencecar Sandra dengan begitu banyak pertanyaan yang menyudutkannya.
" Enggak mas... Semua itu nggak bener... Aku , perasaanku tulus .. Aku memang mencintaimu..." Jawab Sandra memberanikan diri.
" Hahaha.... Tulus mencintaiku ?!! Kamu bilang mencintaiku,, tapi pada kenyataannya kamu berbohong padaku ! Kamu tidak ingin punya anak dengan ku kan? Lalu apa maksudnya cinta ?? Lucu !! " Alfian menggelengkan kepalanya sambil terus tertawa getir.
" Apakah... Kamu tidak ingin punya anak dariku karena ada rencana untuk pergi meninggalkanku ?? Iya ??" Alfian semakin menerka-nerka alasan Sandra meminum pil kontrasepsi sejak awal pernikahan mereka.
" Kamu berhasil mempermainkan ku Sandra.. Puas ? Inikah yang ingin kamu lakukan? Balas dendam padaku ?? Inikah balasan yang ingin kamu berikan karena aku dulu selalu bersikap buruk padamu ??" Tanya Alfian semakin memojokkan Sandra.
" Stop mas... semuanya tidak benar...!" Sela Sandra.
" Lalu yang benar yang mana Sandra ?? Kamu penuh kebohongan... Cintamu, janjimu, aku harus percaya yang mana ??!!" Teriak Alfian frustasi.
" Al ! " Ucap Dias yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Tadi setelah selesai meeting dengan klien, Dias kembali ke kantor. Akan tetapi dia bingung mendapati Alfian tidak berada di ruangannya. Beberapa pegawai yang sempat melihatnya berkata jika Alfian meninggalkan kantor dengan wajah yang menakutkan setelah kepergian Bu Reisa dari sana. Bahkan mereka bilang jika Bu Reisa di seret oleh dua orang security dari ruangan Alfian. Dari situ Dias berpikir jika pasti terjadi sesuatu. Dias segera pergi menyusul mencari Alfian. Seperti dugaannya, Alfian berada di apartemennya. Hal yang semakin membuatnya berpikir buruk, dia sudah berkali-kali menekan bel apartemen, tetapi tak ada tanggapan dari dalam, sedangkan dia melihat dengan jelas jika mobil Alfian terparkir di luar . Untuk itu dia membuka kata sandi apartemen Alfian dan masuk ke dalam karena takut terjadi sesuatu. Untung kata Sandi nya belum di ubah meskipun Alfian sudah menikah.
Hal yang mengejutkan segera terlihat di depan matanya begitu dirinya masuk. Ruang tengah atau ruang keluarga di dalam apartemen itu terlihat seperti kapal pecah atau terlihat seperti habis terguncang badai yang membuat tempat itu porak poranda.
" Sorry, aku masuk tanpa izin... Tapi ada apa dengan kalian ?" Tanya Dias hati-hati.
__ADS_1
Sandra yang masih ketakutan tidak berani menjawab siapapun. Dia terus menangis sambil menunduk.
" Ayo kita pergi..!" Ajak Alfian kepada Dias. Dia tidak ingin orang lain mengetahui masalah rumah tangganya.
" Tunggu Al .. Katakan dulu sebenarnya apa yang terjadi ? Tidak baik keluar rumah di saat kamu marah. Lebih baik kamu tenangkan diri terlebih dahulu." Bujuk Dias yang paham dengan kondisi Alfian.
" Tidak ada yang perlu aku katakan karena itu hanya akan membuatku terlihat bodoh ! " Ucap Alfian lalu menatap Sandra dengan sinis.
" Baiklah, tidak perlu berkata atau menjelaskan apapun..Ayo kita ke ruang kerja mu saja." Ajak Dias.
Alfian sebenarnya terlihat enggan, dia belum mendengarkan penjelasan maupun jawaban dari Sandra sedikitpun.
" Kau ! Tidak ada yang ingin kamu jelaskan?! " Bentak Alfian kepada Sandra lagi.
" Sudahlah Al, beri waktu dulu. Kita bisa selesaikan baik-baik . Sekarang redakan dulu amarah mu." Bujuk Dias tak menyerah.
Tanpa berkata apapun, Alfian kemudian bangkit dan berlalu ke ruang kerjanya.
Dias menghampiri Sandra dan duduk berjongkok di depannya.
" Stt,diam lah... Semuanya akan baik-baik saja. Tenangkan dirimu terlebih dahulu di dalam kamar. Biar aku yang menenangkan Alfian. Dia sangat menyayangi mu. Aku yakin saat ini dia hanya kalut dan emosi untuk sesaat." Kata Dias menenangkan Sandra meskipun dia sendiri belum tahu duduk permasalahannya seperti apa. Tapi yang pasti dia berpikir jika ini ada kaitannya dengan kedatangan Bu Reisa di kantor tadi.
Sandra tak bergeming dan tetap menangis tersedu si bawah sofa. Dias yang bingung akhirnya memilih menghubungi Nurul agar segera datang dan menenangkan Sandra.
Selesai menghubungi Nurul, Dias masuk ke ruang kerja Alfian.
" Sebenarnya ada apa Al ? " Tanya Dias setelah duduk di sofa.
Alfian yang kini tengah berdiri menatap pemandangan di luar jendela sambil mengantongi kedua tangannya di saku celana, tersenyum sinis menatap Dias.
" Kau tahu, Sandra berani berbohong di belakang ku." Ucap Alfian yang merasa miris.
" Jangan langsung kemakan omongan ibunya Rena Al..." Kata Dias langsung.
Alfian mengeluarkan kedua tangannya kemudian mencari rokok di laci meja kerjanya lalu menyulutnya. Asap rokok yang menyengat segera memenuhi ruangan yang ber AC itu. Sebenarnya Alfian bukanlah pecandu rokok. Dia hanya merokok di saat suasana hatinya sedang buruk.
" Aku bukan orang bodoh yang langsung memakan mentah-mentah omongan orang lain." Ujarnya.
" Lalu sebenarnya kalian kenapa ? Sandra sampai gemetar ketakutan seperti itu." Dias semakin bingung.
Alfian menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya bercerita tentang masalah yang terjadi.
" Beberapa waktu lalu, aku dan Sandra membahas masalah anak. Aku pikir sudah waktunya aku mempunyai seorang anak dari orang yang aku cintai. Tapi Sandra seolah tidak setuju denganku, banyak alasan yang dia berikan padaku meski akhirnya dia bersedia sedikasihNya Tuhan saja. Tapi aku merasa hal itu hanya untuk menenangkan diri ku. Aku sampai berpikir jika aku yang mungkin terlalu menekan dan memaksanya. Tapi siapa sangka.. Ternyata dia minum pil kontrasepsi secara diam-diam di belakang ku. Begitu Reisa pergi, aku langsung pulang dan mencari bukti itu sendiri. Dan kenyataannya aku menemukan begitu banyak pil itu. Aku bertanya kepadanya sejak kapan dia mengkonsumsi pil itu, yang mengejutkan adalah.. Sandra sudah meminum pil itu sejak awal kita menikah. Hah...Se takut itukah dia hamil anakku hingga sudah mengantisipasinya sejak lama ? Aku merasa di tipu mentah-mentah olehnya. Apakah dia balas dendam? Atau dia tidak benar-benar mencintaiku? Apakah dia terpaksa menerima perasaan cintaku karena sudah tidur denganku ?Ah sudahlah, intinya aku sangat kecewa di bohongi. Apalagi ini terkait masalah anak. Jujur aku tersinggung karena ulahnya." Kata Alfian sambil menyesap lagi rokoknya.
Dias yang mendengarkan dengan seksama, diam sesaat untuk meresapi cerita dari Alfian.
" Aku tahu, wajar jika kamu marah. Tapi... Sandra pasti punya alasan kenapa dia rela meminum pil kontrasepsi sejak kalian resmi menikah. Jangan marah dulu.... Dengarkan penjelasan ku sebentar.." Ucap Dias setelah mendapatkan tatapan tajam dari Alfian sebelum menyelesaikan kalimatnya.
" Sandra menikah dengan mu di saat usianya belum genap sembilan belas tahun. Sebagai gadis belia, dia pasti punya ketakutan jika hamil di usia muda. Apalagi kalian menikah bukan di landasi karena cinta. Selanjutnya, mengingat perlakuan mu saat itu kepadanya, mungkin dia berpikir jika hamil anaknya juga akan di perlakukan sama sepertinya. Bisa jadi dia terpaksa memilih jalan itu demi kebaikan semua." Tutur Dias.
" Tapi aku tidak menyentuhnya saat itu.."
" Ya, tapi sebagai seorang gadis dia pasti takut kamu khilaf atau memaksanya karena itu sudah kewajibannya." Jelas Dias lagi.
" Bukan berarti dia harus berbohong sampai sejauh ini." Alfian masih bersikeras menyalahkan Sandra.
" Setiap berkeluarga pasti ada jalan terjalnya Al. Selama ini kalian sudah berhasil melewati berbagai rintangan bersama, kali ini aku juga yakin kalian bisa melewatinya lagi. Tanyakanlah dan bicarakan dari hati ke hati. Kesampingkan ego kalian juga. Jangan terlalu keras kepadanya." Ujar Dias kemudian.
Dias menghela nafas panjang ketika Alfian hanya diam saja dan tidak menanggapinya. Keduanya kemudian sama-sama diam bergelut dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
" Ck... Lagian ini bukan masalah yang besar. Jika memang ingin punya anak, bawa saja Sandra ke dokter kandungan dan rajin update setiap malam. Lama-lama juga hamil ! " Gumam Dias selirih mungkin. Sayangnya Alfian bisa mendengarnya sehingga melotot tajam ke arahnya.