Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Semakin Runyam


__ADS_3

Bu Reisa segera mencetak foto-foto yang tadi dia ambil lalu menyuruh abang gojek untuk mengantarkan foto-foto itu ke kantor Alfian. Senyum kemenangan semakin terpancar di wajah yang mulai menua itu. Dengan tidak sabar, Bu Reisa segera menuju ke rutan tempat Rena di tahan untuk memberi tahu rencana yang telah dia lakukan untuk menghancurkan rumah tangga Alfian.


Di kantor, Alfian sedang tidak berselera untuk makan siang. Dia masih menyibukkan diri dengan pekerjaan yang ada. Dias sudah beberapa kali mengingatkannya untuk makan siang terlebih dahulu namun Alfian terus mengabaikannya.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Dengan gesit Dias segera membukakan pintu tersebut.


" Maaf menganggu Tuan, ini ada kiriman untuk Tuan Alfian." Kata karyawan itu.


" Dari siapa?" Tanya Dias menerima sebuah amplop coklat yang lumayan tebal itu.


" Kurang tahu Tuan, tadi tukang ojek yang mengantarnya ke sini. Tidak ada alamat maupun nama pengirimnya juga. Yang pasti orang itu hanya berpesan jika amplop ini untuk Tuan Al, dan katanya isinya sangat penting." Kata Karyawan itu menjelaskan.


Dias mengernyitkan keningnya.


" Apa lagi sekarang ? Kenapa begitu mencurigakan ? " Tanya Dias dalam hati.


" Baiklah, kamu boleh kembali bekerja." Perintah Dias.


" Baik Tuan." Karyawan itu kemudian segera pergi ke ruang kerjanya lagi.


" Ada apa ?" Tanya Alfian yang sejak tadi ikut mendengarkan.


" Ada kiriman buat kamu, tapi sepertinya ini tidak penting karena tidak ada nama dan juga alamat pengirimnya." Kata Dias memberi tahu.


" Sini biar ku lihat apa isinya." Kata Alfian meminta amplop itu.


" Gak usah deh Al.. Aku takutnya ini kerjaan orang iseng saja." Cegah Dias yang sebetulnya mulai curiga dengan isi yang ada di dalam amplop tersebut.


" Makanya biar ku lihat dulu. Kalaupun gak penting bisa langsung di buang." Bantah Alfian yang mulai penasaran. Sebenarnya apa yang ada di dalam amplop itu.


Dengan ragu-ragu Dias menyerahkan amplop itu kepada Alfian.


Alfian segera membuka amplop itu dan mengambil isi di dalamnya.


Alfian tercengang untuk kedua kalinya melihat apa yang kini dia pegang.


Banyak foto-foto Sandra dan Gilang yang sedang menikmati makan bersama, saling menatap, tertawa dan juga ada foto Gilang yang tengah menyentuh ujung kepala Sandra dengan manis serta ada foto mereka yang sedang berpelukan juga.Tentu hal itu membuat emosi Alfian yang belum reda kembali memanas.


Dias yang penasaran dengan raut wajah Alfian yang tidak bersahabat setelah melihat foto-foto di tangannya ikut melihat foto-foto itu. Sesaat kemudian Dias tahu apa yang membuat Alfian terlihat kebakaran jenggot seperti itu.


" Tenang dulu Al... Jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Mungkin ini ulah saingan bisnis kita yang iri dan tidak suka dengan mu. Apa yang ada di dalam foto-foto itu, bisa jadi tidak seperti yang kamu duga. Kita tahu sendiri, mereka sudah seperti kakak adik sekarang. Bahkan Gilang juga mau bertunangan dengan Moza sebentar lagi." Ucap Dias menenangkan.


Alfian tersenyum miring dengan sinis.


" Buruk sangka katamu ?? Sudah jelas foto-foto ini membuktikan kebusukan keduanya. Oh... aku tahu sekarang, jadi inikah alasan Sandra yang sebenarnya ? Dia tidak ingin punya anak denganku karena ada orang lain di hatinya ! Aku tahu Dias, aku masih bisa melihat dengan jelas jika Gilang sebenarnya masih ada rasa dengan Sandra. Kurang ajar ... Selama ini mereka berdua telah mempermainkan ku ! "


" Al, jangan mudah terpancing seperti itu. Aku juga tahu jika Gilang masih menyayangi Sandra... Tapi rasa sayang sebagai kakak untuk adik, bukan yang lain."


" Hahaha..., mana ada hubungan murni sebagai kakak dan adik di antara laki-laki dan perempuan ? Semua itu bullshit !"Tawa Alfian geram.


" Akan ku beri pelajaran keduanya ! Sudah tidak ada yang bisa ku percaya lagi sekarang. Bahkan istriku sendiri ! " Imbuh Alfian penuh penekanan.


Setelah mengatakan itu, Alfian kemudian pergi begitu saja.


" Al tunggu, kamu mau kemana ?" Tanya Dias lalu mengejar Alfian di belakangnya. Dia takut Alfian akan berbuat nekat.


" Jangan ikuti aku. Ini masalah rumah tangga ku sendiri, sebaiknya jangan ikut campur jika kamu tidak ingin kena akibatnya !" Ancam Alfian kemudian turun ke bawah menggunakan lift dan pergi ke parkiran mengambil mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Dias segera menghubungi Sandra ingin memberi tahu jika saat ini mungkin saja Alfian tengah mencarinya. Tapi sialnya ponsel Sandra tidak bisa di hubungi. Tidak menyerah, Dias kemudian mencoba menghubungi Gilang dengan panik.


" Ayo angkat....Atau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi." Kata Dias cemas.

__ADS_1


Ponsel Gilang berdering, namun sayangnya si empunya tidak juga mengangkat telepon darinya.


" Sebenarnya kalian sedang apa sekarang ? Gawat... Aku harus mengikuti Alfian !"


Karena tidak ada yang bisa di hubungi Dias terpaksa mengikuti Alfian.


" Ah sial ! Kenapa masalah mereka semakin runyam begini ??? " Teriak Dias di dalam mobil.


***


Alfian mengarahkan mobilnya ke butik Sandra, dia tahu taman yang ada di foto itu adalah taman yang ada di dekat butik milik Sandra.


Dengan amarah yang semakin menjadi, Alfian bertekad memberi pelajaran untuk sahabat dan istrinya itu.


Perasaan panas yang bergelora di dalam dadanya serta pikiran-pikiran buruk yang kini memenuhi pikirannya, membuat Alfian tidak bisa berpikir dengan jernih. Hatinya semakin terluka setelah melihat foto-foto mesra istrinya bersama sahabatnya sendiri.


Alfian sengaja berjalan kaki setelah sampai di butik Sandra. Benar dugaannya, Sandra dan Gilang masih asik mengobrol di taman tanpa menyadari kedatangannya dari samping. Hingga akhirnya...


BUUKK !!


Alfian melayangkan tinjunya kepada Gilang. Gilang yang terkejut jatuh tersungkur dan tidak bisa menghindar. Pukulan bertubi-tubi dia terima dari Alfian.


" Apa maumu ?! Ku terima maaf mu waktu itu tapi nyatanya kamu masih saja mengganggu istriku !" Teriak Alfian semakin membabi buta.


Sandra berteriak histeris melihat aksi brutal suaminya.


" Mas, sabar dulu...,, jangan sakiti mas Gilang... Tolong... tolong...." Teriak Sandra.


Namun percuma Sandra berteriak di taman karena saat itu masih jam istirahat. Di taman, mana ada pengunjung di siang bolong seperti sekarang ini. Orang-orang pasti sedang sibuk menikmati makan siangnya.


" Akan ku bunuh kau ! " Pukul Alfian.


" Aaaa... Jangan mas ....!!" Teriak Sandra menjatuhkan dirinya sambil menutupi tubuh Gilang yang kini terkulai lemah. Untung saja Alfian masih bisa mengontrol pukulannya sehingga dia tidak jadi memukul Gilang atau yang terjadi Sandra lah yang akan terkena pukulan darinya.


" Kamu membelanya ? Sejak kapan kalian selingkuh di belakang ku ?!!" Tanya Alfian dengan garang.


" Kita gak selingkuh mas ... "


" Oya ?! Kamu pikir aku masih bisa percaya pada mu ? Minggir, biar ku habisi dia !" Tunjuk Alfian murka.


" Minggir Sandra... Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan." Ucap Gilang lemah, dirinya mendorong tubuh Sandra agar menjauh. Dia takut jika Sandra akan terluka.


" Gak mas... Mas gak salah sedikitpun." Tangis Sandra semakin menjadi melihat wajah Gilang yang penuh dengan darah dan luka lebam.


" MINGGIR !!" Teriak Alfian.


Sandra menggelengkan kepalanya lalu menjatuhkan dirinya di atas tubuh Gilang lagi.


" Jika mas mau pukul mas Gilang lagi, pukul saja aku mas !" Teriak Sandra.


Bukanya kasihan, Alfian justru semakin marah mendengar Sandra lebih memilih melindungi Gilang.


" Jangan uji kesabaran ku lagi Sandra ! Aku bisa memukul mu ! "


" Jangan Gila Al !!! " Teriak Dias yang tiba-tiba muncul dan menjagal kedua lengan Alfian.


" Lepas ! Jangan ikut campur!!" Alfian memberontak tidak terima.


" Sandra... Bawa Gilang pergi.." Pinta Dias yang mulai kewalahan mengimbangi tenaga Alfian yang sangat besar.


Namun belum dia selesai berbicara, Alfian sudah bisa lepas darinya. Alfian kemudian menyeret Sandra dengan paksa.


" Aa, sakit mas ! " Teriak Sandra kesakitan. Bagaimana tidak? Alfian mencengkram pergelangan tangannya dengan erat lalu menyeretnya dengan paksa.

__ADS_1


" Jangan lukai Sandra !" Teriak Gilang cemas. Dia hendak berdiri dan menyusul Alfian dan Sandra tapi Dias mencegahnya.


" Jangan pergi menyusulnya atau Sandra benar-benar akan ada dalam bahaya !" Kata Dias mengingatkan.


" Tapi Sandra ..." Ucap Gilang sedih.


" Kau tahu betul bagaimana sifat Alfian, dia bisa berubah seperti monster jika terluka. Sebaiknya kita ke rumah sakit saja."


" Tidak bisa, aku harus menolong Sandra..."


" Jangan keras kepala sepertinya Lang. Masalahnya sudah semakin rumit sekarang. Alfian baru saja menerima foto-foto yang menunjukkan kemesraan kalian di sini. Amarahnya yang kemarin kepada Sandra belum hilang sekarang di tambah kejadian ini. Alfian pasti kembali murka."


" Uhuk,, uhuk... lalu gaimana jika Sandra terluka ?" Tanya Gilang yang masih mencemaskan keadaan Sandra.


" Aku akan mengikuti mereka. Akan ku suruh orang untuk mengantar mu ke rumah sakit. Tunggulah di sini." Kata Dias kemudian berlari meninggalkan Gilang sendirian.


Gilang meringis kesakitan. Pukulan Alfian kali ini benar-benar menyakitkan.


***


Alfian tidak menghiraukan teriakan Gilang yang memintanya untuk tidak menyakiti Sandra. "Punya hak apa dia sampai mengatur diriku ?!" Kata Alfian emosi.


Alfian juga tidak menghiraukan tangisan Sandra yang meminta di lepaskan. Baru setelah sampai di mobil, Alfian mendorong Sandra dan menghempaskannya di kursi mobil.


Alfian segera pergi dari sana dengan kecepatan tinggi, tidak perduli dengan jeritan Sandra yang ketakutan.


Alfian membawa Sandra pulang ke apartemen. Setelah sampai, Alfian mengubah kata sandi pintunya agar siapapun tidak bisa masuk ke dalam tanpa seizinnya.


Sandra yang takut melihat Alfian yang kesetanan, berlari menjauh darinya. Namun dengan mudah Alfian bisa meraihnya dan menyeretnya kembali ke dalam kamar.


" Aku pikir beberapa hari ini kamu bakal merenungi kesalahan yang kamu lakukan. Tapi ternyata aku salah besar! Kamu justru mencari perhatian laki-laki lain untuk merasa kasian kepada mu ! " Tuduh Alfian.


" Itukah alasanmu tidak ingin punya anak dariku ? Selama ini kamu belum bisa melupakan cinta pertamamu dan masih berharap bersamanya ?! Jawab Sandra, jangan hanya bisa menangis saat aku bertanya !! " Bentak Alfian.


" Kamu salah paham mas. Aku dan mas Gilang tidak ada hubungan apapun. Semua yang mas Gilang lakukan hanyalah bentuk perhatiannya kepada seorang adik." Sandra mencoba membela diri.


" Cih, bahkan sampai saat ini kamu masih juga membelanya !"


" Kamu bukan seperti Mas Al yang ku kenal ... Kamu jahat mas... Kamu jahat!!" Teriak Sandra sambil menangis.


" Oya? Aku jahat? Hahaha... Akan aku tunjukkan kepada mu , jahat itu seperti apa !"


Alfian kemudian meraih kembali tangan Sandra dan membawanya ke dalam pelukannya.


" Apakah pelukan ku masih kurang hangat untuk mu sampai dirimu berpelukan dengannya !? "


Sandra terperanjat mendengar tuduhan suaminya.


" Apa ? Kenapa melotot seperti itu ? Tidak terima? Ayo, memang bisa apa dirimu ! " Kata Alfian lalu mencengkram kedua lengan Sandra dengan kuat.


Alfian kemudian mencium Sandra secara paksa. Sandra berusaha menolaknya.


" Sudah berani menolak ku ?! " Ancam Alfian.


Alfian kemudian menyeret Sandra dan menghempaskannya ke atas ranjang lalu mengungkung Sandra di bawahnya. Tanpa menunggu lama, Alfian segera mengunci bibir Sandra dengan bibirnya sambil mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.


Kali ini, Sandra berusaha lepas dari cengkraman Alfian.Dia tidak ingin melakukannya dengan paksa meski dengan suaminya sendiri.


Sayangnya, Sandra kalah tenaga dengan Alfian yang kini berhasil melucuti semua pakaiannya.


Siang itu, Alfian melakukan penyatuan berkali-kali dengan paksa dan kasar tanpa memperdulikan rintihan dan tangisan Sandra yang merasa kesakitan di bawahnya.


" Kamu harus segera hamil Sandra !" Kata Alfian setelah puas dengan tubuh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2