
" Mas, kok duluan sih ? Kan gak enak sama yang lain ?" Tanya Sandra setelah masuk ke dalam mobil.
" Gak enak sama siapa ? Sama yang lain atau sama Gilang ? Sepertinya kamu sangat menikmati makan malam ini." Balas Alfian dingin.
" Lagi dan lagi... Taulah mas.. Aku lagi gak pengen debat sama kamu." Ucap Sandra jujur.
" Jadi kamu mengakuinya ? Kamu seneng kan bernostalgia sama dia ?" Cecar Alfian belum puas.
" Mas ... Stop ! Mau kamu apa sih mas ? Dari tadi sore mas mengungkit masa lalu terus." Ucap Sandra yang mulai gerah dengan tuduhan Alfian.
Alfian terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan dari Sandra. Ya ... Dia yang mengungkit hal itu. Dia yang sejak sore tadi bersikap kekanakan dengan membahas masa lalu.
Tanpa menjawab... Alfian segera melajukan mobilnya.
Hening lagi... Keduanya saling membisu. Sandra merasa seperti kembali ke masa awal-awal pernikahan mereka. Canggung dan tidak nyaman. Itulah yang Sandra rasakan sekarang ini. Dia tahu Alfian berubah semenjak pembahasan soal anak waktu itu, mungkin Alfian kecewa dengan jawabannya. Tapi apa boleh buat, dirinya memang belum siap jika harus memiliki anak sekarang, meski pada kenyataannya dia tidak akan langsung hamil dalam waktu dekat dan menyembunyikan hal itu dari Alfian.
" Kenapa diam saja ?" Tanya Alfian Setelah bungkam beberapa saat.
" Ngantuk mas, capek." Jawab Sandra asal.
" Kamu marah ?" Tanya Alfian lagi.
" Enggak..."
Alfian menghela nafas dengan kasar. Bukan seperti ini yang dia harapkan. Semakin hari, hubungannya dengan Sandra semakin memburuk semenjak pembahasan soal anak. Dia kesal dia kecewa,, tapi bingung harus bagaimana menyampaikannya sehingga apapun yang sedang Sandra lakukan selalu salah di matanya.
" Mas... Mas kecewa padaku ?" Tanya Sandra.
" Maksudnya ?"
" Aku tahu mas kecewa karena pembahasan terakhir kita soal anak waktu itu." Tutur Sandra kemudian.
Alfian tak langsung menjawab. Masih mendengarkan apa yang ingin Sandra katakan.
" Aku sudah menjawab sedikasihnya Tuhan saja mas. Belum cukupkah ?" Tanya Sandra.
" Tapi aku yakin itu bukan dari hatimu... Kamu terpaksa mengatakannya.. Ya kan ?! Aku tahu kamu hanya menenangkan ku agar tidak membahas hal itu lagi. Aku pikir kita sama-sama menginginkannya." Sahut Alfian. Terlihat jelas ada rasa kecewa pada nada bicaranya.
" Aku juga menginginkannya mas ... Siapa yang tidak ingin punya anak setelah menikah ? Hanya saja jika boleh memilih, aku belum siap jika harus dalam waktu dekat ini. Ada banyak hal yang harus aku siapkan... Termasuk mental. Tidak mudah menjadi seorang ibu, sedangkan aku ingin menjadi sosok ibu yang baik dan sempurna untuk anakku nanti. Tapi untuk saat ini, aku merasa belum siap dan belum mampu." Ucap Sandra mendalami perasaannya.
" Yah, aku mengerti. Di usiamu sekarang ini, pasti berat jika harus memilih menjadi seorang ibu."
" Bukan masalah usia mas.. Usia muda pun jika sudah di pikirkan dengan matang, sudah siap secara lahir dan batin maka tidak ada masalah menjadi seorang ibu. Tapi ini menyangkut kesanggupan dan tanggung jawab..."
" Jadi maksud mu , kamu belum sanggup mempunyai anak dari ku ?"
" Bukan begitu mas .."
" Sandra... Jika akan menunggu sampai kamu siap , harus sampai kapan ?" Alfian balik bertanya kepada Sandra.
__ADS_1
Giliran Sandra yang kini tak mampu menjawabnya. Alfian ada benarnya. Setahun, dua tahun, setelah lulus kuliah, atau setelah sukses ? Apa mungkin dia siap hamil setelah itu ? Sandra bingung...
" Atau... Kamu tidak benar-benar mencintai ku ?" Tanya Alfian sambil menelan ludahnya dengan berat.
" Mas,, jangan seret masalah ini sampai kemana-mana.. Semua itu tidak ada hubungannya."
" Tapi bagiku ada San...! Kita menikah karena sebuah perjodohan, lalu kamu terpisah dari orang yang kamu sukai,, semuanya berawal dari sebuah rasa keterpaksaan. Atau jangan-jangan kamu menerima perasaan cintaku karena kejadian yang tidak kita rencanakan malam itu ??"
" Bisa ya mas kamu berpikir sampai sejauh itu ! Mas bukan hanya tidak percaya padaku, tapi juga meragukan cintaku ! Oke mas...Aku turuti mau mas... Mau punya anak kan ? Aku siap ... ! Itu kan jawaban yang mas mau !!"
" Tapi bukan karena terpaksa juga San...."
" Ah terserah lah mas. Aku bilang belum siap marah, sedikasihnya saja kecewa, giliran aku bilang siap bilangnya terpaksa... Aku bingung mas sama kamu !"
Alfian tak menjawab. Hanya tarikan nafas panjang yang kini terdengar.
" Maaf...." Ucap Alfian setelah sampai di apartemen.
" Sudah aku maafkan !" Balas Sandra lalu hendak berlalu, namun Alfian buru-buru menarik tangan Sandra agar tidak menjauh darinya.
" Apa lagi mas ? Aku lelah... "
" Aku tahu aku terlalu menuntut... Maafkan aku..."
Sandra tak menjawab.
" Ya..." Balas Sandra singkat.
" Aku gak mau kita bertengkar terus San..."
" Sama mas, aku juga lelah..."
" Baiklah, sekarang bersihkan dirimu terlebih dahulu lalu istirahat." Ucap Alfian lembut.
Alfian kemudian berjalan ke balkon kamar, menikmati angin malam yang sejuk.
Alfian menatap jauh ke depan, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sedangkan di dalam kamar mandi Sandra pun melakukan hal yang sama.
" Bukankah aku sama egoisnya ? Aku bahkan menyembunyikan sesuatu dari suami ku sendiri." Gumam Sandra.
Ada sesal dan rasa bersalah ketika terbayang wajah kecewa Alfian. Sebenarnya Alfian juga tidak salah sepenuhnya. Suami mana yang tidak ingin istrinya mengandung darah dagingnya ?? Apalagi Alfian sudah cukup matang dan mapan untuk menjadi seorang ayah. Tidak ada yang salah dengan keinginannya.
" Mungkinkah aku yang terlalu egois ? Di sini akulah yang sangat bersalah. Seharusnya aku menuruti semua keinginan suami ku.. Tapi aku justru merahasiakan hal besar darinya. Aku harus bagaimana Tuhan ? Haruskah di sini aku yang mengalah ??" Ucap Sandra dalam hati.
Sepuluh menit kemudian, Sandra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar sudah berganti pakaian menggunakan baju tidur.
" Mas, sudah bisa gantian kamar mandinya." Panggil Sandra .
__ADS_1
" Oke, aku bersihkan diri dulu." Kata Alfian kemudian masuk dan berlalu ke kamar mandi.
Sandra yang merasa lelah kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. Tidak lupa dia memeriksa ponselnya sebelum tidur.
" Apakah dia marah padamu ?" Pesan dari Gilang.
" Tidak, kami baik-baik saja.." Sandra segera membalas pesan itu.
"Syukurlah." Balas Gilang.
Sandra tak lagi membalasnya lalu menaruh ponselnya ke atas nakas di samping tempat tidurnya.
Tidak berselang lama,Alfian sudah selesai membersihkan diri kemudian menyusulnya naik ke atas ranjang.
Tanpa basa-basi Alfian segera memeluk tubuh Sandra.
Sandra lalu menatap wajah tampan suaminya.
" Kenapa menatap ku seperti itu ? " Tanya Alfian.
" Hanya ingin menatap saja..." Balas Sandra.
" Aku tahu jika aku ini sangat tampan." Goda Alfian.
" Ya, mas memang sangat tampan.."Ucap Sandra sambil tergelak mengakui hal itu.
" Pastinya..." Alfian semakin besar kepala mendengar pujian dari Sandra. Jarang sekali Sandra mau mengakui ketampanannya.
Sandra kembali menatap wajah Alfian. Kali ini Sandra menatap lekat ke dalam manik matanya yang indah, membuat Alfian menjadi salah tingkah di tatap seperti itu.
" Maaf.. " Imbuh Sandra cepat.
" Maaf untuk apa ?" Tanya Alfian keheranan karena tiba-tiba saja Sandra meminta maaf kepada nya.
" Untuk semuanya... Maaf jika aku ada salah , dan maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu mas ..." Kata Sandra.
Alfian tersenyum mendengar Sandra berbicara seperti itu meskipun menurutnya sedikit aneh.
" Mas juga minta maaf jika mas punya banyak salah dan sering egois..." Timpal Alfian.
Sandra mengangguk kemudian membalas pelukan suaminya dengan erat. Sandra suka sekali menghirup aroma tubuh Alfian yang segar dan wangi, sehingga membuatnya sangat nyaman berada di pelukannya.
Alfian tak mau membuang kesempatan, dirinya kemudian membenamkan wajahnya di ceruk leher Sandra. Sama halnya dengan istrinya, Alfian suka sekali mencium aroma lembut dari rambut Sandra..
Hembusan nafas yang begitu hangat membuat bulu kuduk Sandra meremang. Dia sudah hafal,, apa yang di inginkan suaminya jika sudah begitu.
" Aku mencintaimu..." Bisik Alfian sambil tetap melanjutkan kegiatan panasnya.
Malam semakin larut, udara semakin dingin, tapi tidak dengan Alfian dan Sandra... Keduanya justru semakin hanyut dalam kenikmatan dunia.
__ADS_1