Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Alfian terjaga terlebih dahulu di pagi harinya. Badannya terasa pegal dan letih karena tidur sambil duduk di samping Sandra. Segera Alfian meletakkan telapak tangannya pada kening Sandra untuk mengecek apakah istrinya masih demam atau tidak. Alfian tersenyum senang karena Sandra sudah tidak demam lagi. Dengan hati-hati, Alfian beranjak dari sana lalu membersihkan diri ke kamar mandi.


Di luar Alfian bertemu dengan Bibi Nani yang ternyata sudah berada di sana.


" Sudah bangun tuan ?" Tanya Bibi Nani.


" Sudah bi.. Ini mau mandi.. Panggil biasanya aja bi,jangan tuan" Balas Alfian yang tidak enak di panggil tuan karena Bibi Nani bukanlah pegawainya.


" Oh, baiklah... Bibi suka lupa, Mau bibi siapkan air hangatnya ?" Tawar Bibi Nani.


" Boleh bi, maaf ya bi merepotkan ?"


" Iya gak apa-apa nak." Timpal Bibi Nani.


" Sini tunggu di dapur dulu. Sambil bibi buatkan kopi. Tadi bibi juga sudah bikin nasi goreng. Maaf ya nak, seadanya menunya."Tutur Bibi Nani.


" Kenapa maaf bi, justru aku dan Sandra yang minta maaf karena sudah banyak merepotkan bibi. Setiap kali kita di sini bibi selalu mengurus kami seperti keluarga sendiri." Ucap Alfian.


Bibi Nani tersenyum menanggapi.


" Kan memang kita ini keluarga. Sandra sudah seperti anak bibi sendiri. Sejak kecil, Sandra dan Nurul tumbuh bersama. Saat masih kecil, Sandra sering di tinggal Mbak Lastri keliling berdagang sayur, sedangkan Mas Imam dari pagi sudah pergi mencari nafkah. Jadilah Sandra sering bibi ajak ke rumah bibi atau Nurul yang gantian menemani Sandra di rumahnya." Cerita Bibi Nani.


" Mm..." Alfian manggut-manggut mendengar cerita dari Bibi Nani lalu menerima gelas kopi yang di ulurkan padanya.


" Di minum mumpung masih panas. " Imbuh Bibi Nani.


Alfian mengangguk kemudian menyeruput kopi hitam tersebut. Sebenarnya rasanya terlalu manis untuk selera Alfian. Tapi untuk menghargainya, Alfian tersenyum dan juga bersyukur.


" Terus Sandra dulu orangnya seperti apa bi ?" Tanya Alfian yang masih ingin mendengar cerita tentang istrinya saat masih kecil.


" Ya , sama seperti anak-anak pada umumnya. Tapi Sandra memang sudah terbiasa mandiri sejak kecil. Sandra sudah bisa masak dan mencuci pakaiannya sendiri sejak masuk sekolah dasar. Sandra juga tidak suka merepotkan orang lain. Bahkan sekalipun bibi paksa ,, biasanya Sandra tetap menolak. Mas Imam dan Mbak Lastri benar-benar bisa mendidiknya dengan baik meskipun mereka hanyalah keluarga yang sederhana, yang bahkan terkadang untuk makan pun seadanya." Cerita Bibi Nani memberi jeda.

__ADS_1


Alfian merasa sesak di hatinya. Sejak kecil dia sudah hidup enak tanpa kekurangan suatu apapun. Tapi tetap saja kurang bersyukur dan selalu menuntut lebih kepada papa dan almarhumah mamanya.


" Sandra juga lebih suka membantu ibunya berdagang saat hari libur ketimbang bermain dan berkumpul dengan teman-temannya di kampung ini. Teman dekat Sandra ya hanya Nurul. Bahkan mereka sering di kira kakak beradik karena selalu berdua terus. Apalagi semenjak kakak Nurul bekerja dan menikah. Mereka semakin lengket karena di rumah Nurul tidak punya teman bertengkar...Hehehe..." Lanjut Bibi Nani.


" Oya, apakah mereka juga bisa bertengkar bi ?" Tanya Alfian penasaran.


" Hm, bukan hanya bisa tapi dulu sering malahan... Berdebat,, saling mengejek , saling usil,, sudah hal biasa bibi lihat dan dengar. Jika sudah begitu biasanya mereka bakal diem-dieman untuk sementara waktu. Tapi lucunya,, mereka tetap akan saling mencari jika sehari saja tidak bertemu. Anehkan ? Benar-benar seperti anak kecil." Bibi Nani terkekeh mengingatnya.


Alfian juga ikut terkekeh mendengar cerita dari Bibi Nani. Dia tidak menyangka bisa sampai sekocak dan sedekat itu persahabatan Sandra dengan Nurul.


" Airnya sudah panas, bibi siapkan dulu untuk mandi." Ujar Bibi Nani lalu berlalu ke kamar mandi membawa ember berisi air panas.


" Sudah bibi siapkan, sekarang mandilah. Sarapan juga sudah siap. Selesai mandi ajaklah Sandra sarapan bersama. Jangan lupa Sandra harus meminum obatnya. Bibi mau pulang dulu, menyiapkan bekal buat pamanmu dan pergi mengajar. In Syaa Allah nanti siang bibi ke sini lagi." Kata Bibi Nani pamit.


" Baik bi, sekali lagi maaf sudah ngerepotin bibi dan juga paman." Ujar Alfian sungguh-sungguh.


" Sttt,jangan bahas yang begituan. Gak ada istilah merepotkan. Sudah ,bibi pulang dulu." Ucap Bibi Nani kemudian berlalu.


Alfian menatap kepergian Bibi Nani dengan pandangan penuh arti. Bagi Sandra Bibi Nani dan keluarganya sekarang seperti keluarga yang dia miliki satu-satunya. Untuk itu dia harus bisa membalas semua kebaikan yang keluarga Bibi Nani berikan kepada Sandra dan juga kepadanya. Apalagi, Bibi Nani dan juga keluarganya sangat tulus. Tidak seperti tetangga-tetangga yang lain yang kadang baik di depan tapi ngegosip di belakang.


Selesai menelpon, Alfian memanaskan air untuk Sandra mandi terlebih dahulu.


Setelah itu dia kembali ke kamar dan membangunkan Sandra. Sandra menggeliat karena ada tangan usil yang memainkan hidungnya.


" Mas, apaan sih ?" Tanya Sandra setengah sadar.


" Bangun sayang,, sudah hampir pukul tujuh. Mandi terus sarapan yuk.... Kamu juga harus minum obat setelah itu." Bujuk Alfian.


Sandra kemudian membuka matanya lebar-lebar. Sandra baru ingat jika dirinya sedang sakit dan ada di rumahnya.


" Kok baru bangunin sih mas... Mas kan harus bekerja, mana dari sini lagi.. Aku siapin sarapan dulu ya ?" Kata Sandra lalu hendak berdiri, untung Alfian segera mencegahnya.

__ADS_1


" Stt, Jangan banyak bergerak dulu. Kamu masih sakit. Emang siapa yang mau bekerja ?? Mas libur untuk beberapa hari ke depan. Kamu lupa jika mas bakalan rawat kamu sampai sembuh dulu ?? Untuk sarapan ,,tadi pagi-pagi sekali Bibi Nani sudah membuatkan nasi goreng untuk kita. Bibi tadi juga berpesan agar kamu jangan sampai lupa minum obatnya." Balas Alfian.


" Bibi Nani ? Yah, pasti bibi repot sekali. Selesai ngurus paman gantian kesini ngurusin aku. Semakin gak enak rasanya mas ngrepotin bibi terus." Ujar Sandra.


" Ya, makanya kamu nurut,jangan bandel biar cepat sembuh. Kasian bibi ... Tapi tenang saja sayang.. Aku sudah mikirin sesuatu,, kita harus membalas kebaikan bibi dan keluarganya." Kata Alfian.


Sandra mengangguk pasrah,, kemudian dengan di bantu Alfian, Sandra membersihkan diri ke kamar mandi lalu sarapan bersama di dapur. Sebenarnya Alfian meminta Sandra menunggu di kamar saja, tapi Sandra bersikeras untuk sarapan di dapur.


" Nasi goreng bibi masih juara.... Gak kalah enak dari masakan ibu." Ucap Sandra memuji.


" Jadi kangen sama ibu..." Lanjut Sandra sendu.


" Sandra, habiskan sarapan mu.." Ucap Alfian lalu menghela nafas panjang. Dia bingung harus menanggapi bagaimana. Karena dia sendiri tahu bagaimana rasanya rindu kepada seseorang yang sudah tiada. Dan hal itu tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


" Biarkan ibu tenang di sana. Fokus dulu sama kesehatan kamu , kalau kamu sehat, kamu senang, pasti ibu juga ikut bahagia di sana." imbuh Alfian.


" Iya mas, maaf .. Tiba-tiba saja kangen ibu .."


" Gak perlu minta maaf. Aku sendiri juga begitu. Kadang juga rindu sekali kepada mama."


" Oh iya... Maaf." Sahut Sandra yang sesaat lupa jika Alfian juga sudah tidak mempunyai seorang ibu.


" Ceritain tentang mama dong mas... Mama itu seperti apa ?" Tanya Sandra kemudian, dirinya penasaran karena dia hanya tahu jika mama mertuanya sangat cantik dari foto-foto yang di pajang di rumah mertuanya saja.


" Mm, mama itu .. Sangat penyayang dan lembut. Mama pintar dan juga baik hati. Mama jarang sekali marah .. Sejak kecil aku sering berebut dan bertengkar dengan Arkha... Dan hanya mama yang bisa melerai kami dengan adil tanpa merasa ada yang kalah, di bela atau lebih di sayang oleh mama. " Kenang Alfian.


Sandra terlihat serius menyimak.


" Mama dan papa tidak pernah bertengkar. Sebelum mama meninggal papa tidak sesibuk sekarang. Papa selalu menyempatkan diri pulang ke rumah untuk sekedar lunch atau bermain dengan kami. Papa tetap memberikan kasih sayang,perhatian dan waktu di sela-sela kesibukannya. Tapi setelah mama meninggal, semuanya berubah. Papa merasa sangat bersalah atas kepergian mama. Papa sangat yakin jika kecelakaan mama ada sangkut-pautnya dengan musuh bisnis papa waktu itu tapi tidak bisa membuktikannya. Sejak itu, papa jarang pulang dengan alasan banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan, dan kami hanya di asuh oleh simbok ibunya bibi Ida. Papa juga berubah menjadi lebih tegas dan cenderung pemaksa setelah itu. Jika papa ingin kami begini ya kita harus menurut. Seperti saat papa memaksaku sekolah ke luar negeri dahulu. Keputusan sepihak itu sempat membuatku jadi membenci papa. Hubungan kami juga memburuk sejak saat itu. Aku berpikir jika waktu itu papa sengaja memisahkan aku dengan Rena dan lebih sayang dengan adik-adikku. Karena dari kami bertiga, hanya aku yang di didik lebih keras. Awalnya aku beranggapan jika hal itu papa lakukan karena aku anak pertama sehingga harus bisa melindungi adik-adik ku yang lain. Tapi semakin ke sini aku semakin sadar jika bukan hanya itu tujuan papa. Sebagai anak pertama,tanggung jawab ku lebih besar dari itu. Aku harus bisa menjadi pewaris hebat yang kompeten agar bisa melanjutkan bisnis yang sudah susah payah papa bangun bersama mama serta bisa melindungi dan menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku. Makanya papa sangat berhati-hati tentang jodoh yang aku pilih, pasti saat itu papa sudah tahu tentang niat buruk Rena dan keluarganya. Tapi karena waktu itu diriku di butakan oleh cinta, aku tidak percaya dengan semua kata-kata dan nasehat papa. Bahkan aku sering melawan papa. Sampai akhirnya papa memutuskan perjodohan kita karena aku masih belum bisa melupakan Rena. Awalnya aku sangat marah, apalagi setelah tahu jika jodoh yang di pilihkan papa untukku adalah anak kampung yang baru lulus SMA dan waktu itu ,,kamu juga adalah karyawan ku. Tapi sekarang,aku sangat bersyukur dan berterimakasih kepada papa karena telah memilihkan jodoh terbaik untuk ku dan membuka mataku lebar-lebar tentang pilihan ku yang salah dahulu." Kata Alfian lalu memegang jari jemari Sandra dengan erat.


Sandra terharu mendengarnya. Banyak sekali yang di lalui oleh suaminya. Kaya bukan jaminan membuatnya selalu bahagia. Namun,, dia salut karena sekeras kepalanya Alfian, dia tetap menurut dan patuh kepada orangtuanya.

__ADS_1


" Ceritanya lanjut nanti lagi, sekarang habiskan nasi di piringmu terus minum obat." Kata Alfian kemudian.


" Baik mas. " Balas Sandra patuh. Dia ingin segera sembuh agar tidak merepotkan suami dan orang-orang di sekelilingnya.


__ADS_2