Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Ketahuan


__ADS_3

"Sudah malam... Sebaiknya kita pulang dulu dan biarkan Sandra istirahat dengan tenang." Ucap Pak Wijaya.


" Neta mau tidur di sini nemenin kak Sandra pa..." Balas Neta.


" Besok kamu harus sekolah Neta.. Pulang sekolah kamu bisa ke sini lagi." Pak Wijaya mengingatkan.


Neta cemberut mendengar penuturan papanya,namun tidak lagi membantah.


" Papamu benar Neta.. Sebaiknya kalian pulang dan istirahat. Kalian pasti lelah sudah sejak siang tadi berada di rumah sakit." Kata Bibi Nani ikut menyela.


" Tidak bi, kalian semua harus pulang beristirahat. Aku yang akan menjaga dan menunggu Sandra di sini karena dia adalah istriku. Paman dan bibi pasti juga lelah setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh ke sini. Untuk sementara, kalian bisa tinggal di rumah saya.. Biar Dias yang mengantar kalian." Kata Alfian.


" Siap tuan !" Sahut Dias yang sedari tadi diam saja.


" Alfian benar... Kalian pasti juga lelah.. "


" Tapi tuan, kami tidak lelah sama sekali." Tolak Bibi Nani.


" Tidak ada tapi-tapian bi.. Besok bibi bisa ke sini lagi di antar sopir." Lanjut Alfian.


" Iya bi,, biar malam ini Kak Alfian dan saya yang tidur di sini. Lain kali kita bisa bergantian." Ucap Arkha menengahi.


Dengan berat hati, akhirnya Bibi Nani dan Paman Joni pun setuju untuk pulang ke rumah Alfian. Mereka keluar dari ruangan Sandra bersama dengan Pak Wijaya dan Neta yang terus cemberut karena tidak di izinkan menginap di rumah sakit.


Setelah mereka pulang, tinggal Arkha yang tengah duduk di sofa dan Alfian yang senantiasa selalu berada di samping Sandra.


Kini saatnya Sandra mencari tahu tentang sesuatu. Ada sesuatu yang harus dia bicarakan kepada Arkha. Tapi, dia masih bingung, haruskah dia bicara di depan suaminya ? Atau hanya dengan Arkha saja ? Kan dia sudah berjanji mulai saat akan lebih terbuka tentang apapun yang ada di dalam unek-uneknya ?


" Kamu ingin makan sesuatu sayang ? Buah ? Kue ?" Tawar Alfian yang melihat Sandra tampak berpikir sesuatu.


Sandra menggeleng.


" Atau masih ada yang kamu rasakan ?"


" Kepala ku masih pusing mas... Dan jahitan di tangan ku juga mulai terasa perih." Ucap Sandra jujur.


" Mungkin obat biusnya sudah habis sayang.. Jadinya mulai terasa perihnya. Aku panggilkan dokter ya ?"


" Tidak,, tidak perlu mas... Aku hanya perlu istirahat. Apalagi aku habis minum obat, mungkin obatnya belum bereaksi sehingga kepalaku masih pusing."


" Baiklah.. Kalau begitu, istirahatlah.. Tidurlah lagi."


" Mas nggak tidur ? Mas mau tidur di mana ?" Tanya Sandra.


" Mas tidur di sini saja .. Mas nggak mau jauh dari kamu."


" Tapi mas, di samping kan juga ada ranjang. Mas bisa tidur di sana. Kalau mas tidur sambil duduk , badan mas bakalan sakit." Kata Sandra yang memang tahu jika ada ranjang yang sengaja di sediakan bagi penunggu pasien.


" Gak apa-apa sayang... Mas takut jika nanti kamu butuh sesuatu,mas nggak bisa denger.. "


" Ya sudah, aku nggak mau tidur kalau mas nggak mau tidur di ranjang."


" Jangan begitu sayang... "


" Biarin..."


" Ck... Kalian kan bisa tidur seranjang ?? Gitu aja di bikin ribet." Komen Arkha mendekat.


" Oh iya..." Sandra tersenyum mendengar ide dari Arkha. Entah kenapa sejak tadi dia tidak terpikirkan begitu.


" Nggak bisa.. Jika aku tidur seranjang dengan mu, aku takutnya kamu nggak akan tidur dengan nyaman."

__ADS_1


" Siapa bilang mas... Ranjang ini cukup untuk kita berdua. Justru aku merasa tidak nyaman jika mas tidur di sebelah ku sambil duduk."


" Tapi..."


" Ayolah... Lagi pula kasian Arkha jika harus tidur di sofa. Dia sudah berbaik hati ikut menungguku di sini. " Ucap Sandra terus merayu suaminya.


" Baiklah, nanti mas akan tidur dengan mu. Tapi sekarang mas belum mengantuk." Kata Alfian akhirnya mengalah.


" Mau kopi ? Biar aku pesankan.." Ucap Arkha.


" Boleh juga.. Tapi dengan sedikit gula saja.. " Pinta Alfian.


Arkha kemudian memesankan kopi lewat sebuah aplikasi di ponsel pintarnya.


" Arkha... Aku ingin bertanya sesuatu..." Kata Sandra tiba-tiba.


" Apa ? " Tanya Arkha yang sedang sibuk dengan ponselnya mendongak menatap Sandra.


" Kemarin, bukankah kamu yang mengantar Nurul pulang. Apakah dia sudah benar-benar sembuh ?"


" Iya, dia sudah sembuh, tidak perlu kau cemaskan." Jawab Arkha.


" Bagaimana kamu bisa seyakin itu ? Kamu hanya mengantarnya kan ?" Tanya Sandra penuh selidik.


Arkha terlihat mulai gusar. Dia mulai sadar jika Sandra pasti mulai mencurigai sesuatu. Jika tidak, untuk apa kakak iparnya itu tiba-tiba bertanya soal Nurul.


" Ah... Itu karena selama di perjalanan dia benar-benar sudah sembuh dan tidak mengeluh sama sekali..." Balas Arkha yang sepenuhnya tidak berbohong karena memang Nurul tidak mengeluh sakit sama sekali.


" Kau yakin ?"


Arkha mengangkat bahunya bersamaan.


" Mas, pinjam ponsel kamu dong... ? Seingat ku, ponselku tertinggal di dalam taksi yang aku tumpangi. Aku harus memastikan sesuatu sekarang. Aku hampir mati di sini,, dan Nurul dengan entengnya bilang jika dia sedang mengerjakan tugas kuliah. Sepenting apapun tugas itu, dia pasti akan meninggalkannya dan pergi ke sini menengokku. Pasti sesuatu terjadi kepadanya." Ucap Sandra sambil melirik ke arah Arkha yang mulai terlihat gelisah.


" Mungkin tugasnya benar-benar mendesak... " Kata Arkha.


" Tidak mungkin, aku tahu itu hanyalah alasan. Aku kenal betul bagaimana Nurul. Tidak mungkin dia lebih mementingkan tugasnya di saat tau nyawaku hampir saja melayang." Kata Sandra penuh penekanan.


" Sudahlah sayang, jangan memikirkan orang lain. Dia pasti punya alasan kenapa tidak ke sini." Kali ini Alfian memberikan pendapatnya.


" Ke sini kan ponsel mu... Aku akan tetap memastikannya sendiri." Ucap Sandra sambil melirik Arkha yang mulai terlihat tidak tenang.


" Ck... dia ada di apartemen ku...." Ucap Arkha mengaku.


Sontak hal itu membuat Alfian dan juga Sandra melotot terkejut.


" Apa ? Maksud mu sekarang Nurul ada di apartemen mu ? Kamu nggak apa-apain dia kan ?" Tanya Sandra bertubi-tubi.


" Arkha ! Jelaskan ini !" Kata Alfian tegas.


"Aku nggak apa-apain dia kak. Suer... Aku hanya ingin memastikan dia benar-benar sembuh, jadinya aku berinisiatif membawanya ke apartemen ku agar bisa merawat dan memastikannya sendiri. Sebenarnya tadi dia memaksa ingin datang ke sini sejak mendengar kabar tentang Sandra. Tapi aku mencegahnya dan... dan mengancamnya akan memberi tahu paman dan bibi kalau dia bermalam di apartemen ku kalau tidak menurut. Tapi itu semua aku lakukan karena aku ingin dia beristirahat dengan benar. Jika sudah sembuh, aku akan mengantarnya kembali ke kost." Tutur Arkha yang akhirnya tidak bisa berkutik.


" Astaga Arkha !!! Tindakan kamu itu sudah termasuk tindakan kriminal !! Kamu memaksa seorang gadis tinggal di apartemen mu dan melarangnya keluar. Itu sama saja dengan kamu menyekapnya !!" Bentak Alfian marah.


Sedangkan Sandra hanya bisa menepuk jidatnya.


" Ahh ..." Sandra meringis ketika selang infusnya justru membentur jidatnya.


" Sayang hati-hati..." Ucap Alfian.


" Aku tidak menyekapnya kak ! Aku memperlakukannya dengan baik. Aku juga tidak berbuat macam-macam kepadanya."

__ADS_1


" Ar... Arkha... Apakah kamu masih mencintainya ?" Tanya Sandra ragu-ragu.


" Sangat...." Jawab Arkha mengangguk.


Hening sesaat.


" Astaga Arkha !!! Tapi bukan begitu caranya !" Ucap Alfian geram kepada adiknya.


" Tenang mas... Yang terpenting Nurul tidak kenapa-kenapa." Sela Sandra.


" Tapi dia sudah keterlaluan sayang..."


" Iya mas, aku ngerti. Tapi coba deh kita pikirkan. Apa yang di lakukan Arkha tidak sepenuhnya buruk. Dia hanya terlalu mengkhawatirkan Nurul dan tidak bermaksud jahat sedikitpun. Bayangkan jika Nurul jadi pulang ke kost. Di sana dia sendirian. Tidak ada yang mengurusnya dan memastikan dia sudah makan dan meminum obatnya dengan baik.." Kata Sandra akhirnya.


" Kamu membelanya ? Apa yang kamu pikirkan sayang... Nurul seorang gadis, dan dia seorang pria normal. Tinggal di bawah satu atap yang sama . Apa yang akan di katakan orang jika sampai mengetahuinya ?" Tanya Alfian kesal.


" Aku tidak membela Arkha mas, aku tahu tindakannya sudah kelewatan.. Apalagi mengancam Nurul agar tetap berdiam diri di apartemennya. Tapi masalah tidak akan selesai jika kita terus menyalahkannya. Setidaknya kita lihat dari sudut pandangnya. Aku percaya Arkha bukan laki-laki jahat. Niatnya tulus hanya untuk memastikan kesembuhan Nurul.."


" Aku mencintainya...." Ucap Arkha menyela perdebatan di antara suami-istri tersebut.


" Cinta ? Kamu bilang cinta ? Bagaimana dengan gadis itu... Apa dia juga mencintai mu ? " Tanya Alfian yang masih belum terima dengan tindakan adiknya.


" Aku yakin dia juga masih mencintai ku kak !"


" Dengan kamu membawanya secara paksa,, aku tidak yakin jika dia masih akan mencintai mu !"


" Jika dia sudah tidak mencintai ku...Akan ku buat dia mencintai ku kembali !" Balas Arkha.


" Apa yang sebenarnya ada di otak kamu Kha ! Kamu bikin malu keluarga kita ! Bagaimana jika paman dan bibi sampai tahu tentang hal ini ? Coba bayangkan,, bagaimana perasaan mereka saat mereka tahu anak gadis mereka tinggal satu atap berdua dengan laki-laki yang bukan muhrimnya ?! Mereka pasti kecewa, sangat kecewa..., Lalu bagaimana jika paman dan bibi marah ? Bisakah kamu menolongnya jika orangtuanya marah kepadanya ?"


Arkha membisu ,tidak bisa menjawab semua pertanyaan Alfian.


" Kenapa diam ? Baru sadar jika tindakan mu itu bisa merugikan orang lain ?"


" Sudah mas, tenang... Aku yakin Arkha tidak bermaksud seperti itu."


" Aku tidak percaya ini. Bagaimana jika hal seperti ini terjadi kepada Neta ? Kepada adik kita ? Apa kamu bisa menerima alasan konyol seperti yang kamu katakan ?"


" Aku mencintainya !" Jawab Arkha kekeh.


" **** !! " Alfian terlihat begitu marah mendengar jawaban adiknya yang keras kepala.


" Cepat pulang... Untuk apa kamu di sini ? Anak orang kamu biarkan sendirian di apartemen mu ? Bagaimana jika dia butuh sesuatu ? Bereskan kekacauan ini. Minta maaflah kepadanya dan antarkan dia pulang !" Perintah Alfian marah.


" Jangan kembali ke sini sebelum Nurul memberikan maaf kepadamu !" Imbuh Arkha.


Arkha yang tidak mampu berkata-kata lagi, melangkah gontai meninggalkan mereka dengan perasaan campur aduk.


" Jangan terlalu keras kepada adikmu mas.." Kata Sandra setelah Arkha pergi.


" Aku tidak keras sayang... Aku hanya tidak ingin adikku terjerumus dalam kesalahan. Meski dia tidak berbuat macam-macam,tapi jika ada yang tahu hal ini bisa menimbulkan kesalahpahaman dan masalah baru. Aku tidak suka dengan caranya.. Jika memang dia mencintai Nurul dia bisa memperjuangkannya dengan cara yang lebih baik. Benar-benar tidak ada logika !" Kata Alfian masih kesal.


" Tapi cinta memang tidak memakai logika yank..." Sahut Sandra dengan entengnya.


Alfian yang seolah tidak mendapatkan dukungan dari istrinya, menatap tajam kearah Sandra. Sandra kemudian menunduk takut melihat suaminya sudah dalam mode seperti itu.


" Aku mau keluar dulu merokok.. Kamu tidurlah.." Pinta Alfian kemudian.


Sandra mengangguk patuh.


Setelah Alfian keluar,, kesempatan itu Sandra gunakan untuk menghubungi Nurul dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Beruntung ponsel Alfian masih tertinggal di ranjangnya.

__ADS_1


__ADS_2