
Sudah satu Minggu Sandra masuk kuliah. Sedikit demi sedikit dia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan dan mahasiswa yang ada di sana. Sandra juga sudah mempunyai beberapa orang teman yang selalu membantunya. Menurutnya, saat berada di kampus adalah saat-saat yang menyenangkan baginya. Di sana dia bisa merasakan kebebasan yang sangat dia rindukan. Kalau bukan karena Neta, Sandra malas pulang ke rumah Pak Wijaya. Sandra capek harus terus berpura - pura mesra dengan Alfian di depan seluruh keluarga itu. Tapi begitu mereka hanya berdua, Alfian selalu memperlakukannya dengan buruk. Bukan hanya menghina, Alfian juga hobi sekali memerintah Sandra sesuka hati dan mencari-cari kesalahannya. Pernah suatu hari, Sandra bolak balik delapan kali dari dapur di lantai bawah hingga ke kamar mereka yang ada di lantai dua hanya karena Alfian yang merasa tidak puas dengan kopi yang Sandra buatkan. Kata Alfian kopinya terlalu manis, terlalu pahit, terlalu panas , dan terlalu hambar. Padahal menurut Sandra, dia sudah membuat kopi yang enak dan pas. Bahkan bik Ida dan mbak Nur asisten rumah tangga di sana, justru memuji kopi buatannya itu saat dia menyuruh mereka mencicipinya. Di lain hari, Alfian membuatnya takut dan malu bukan main. Dia meminta Sandra menggosok tubuh Alfian yang tengah mandi di dalam bathtub. Sandra selalu kesal dan bergidik ngeri jika mengingatnya.
Ada kalanya juga Sandra menangis karena Alfian yang terlalu keras dan suka membentaknya. Alfian sering menyentil kening dan menjewer telinganya dengan kasar saat Sandra melakukan kesalahan meskipun itu hanya hal sepele. Untung saja, Neta membuat hari-harinya di sana menjadi lebih baik. Sandra sering menghabiskan waktu dengan adik iparnya itu. Kedekatan diantara mereka semakin terlihat jelas. Saat Alfian belum pulang dari kantor, Sandra dan Neta memanfaatkan waktu itu untuk bermain bersama. Kadang mereka berdua suka bergosip, melihat drakor, main game atau belajar bersama. Sandra juga suka mengajak Neta ke dapur dan mengajarinya memasak apa yang dia bisa. Begitulah hari-hari Sandra setelah menikah dengan Alfian.
Kembali ke kampus. Siang itu, di kantin Sandra sedang menikmati bakso bersama Intan dan Salsa teman kuliahnya. Tiba-tiba seorang perempuan cantik menghampiri mereka.
" Siapa di sini anak baru yang bernama Sandra ?" Tanya perempuan itu.
Kedua mata temannya menatap Sandra keheranan.
" Apa ?" Tanya Sandra yang belum sadar jika dia di panggil.
" Tuh ada yang nyariin. " Kata Intan memberi tahu.
" Ya ? " Ucap Sandra lalu menoleh ke arah pandangan mata temannya.
" Kamu Sandra ?" Tanyanya lagi.
Sandra mengangguk.
" Ada yang mencarimu . Dia bertanya kepada ku !" Ucap gadis itu lagi.
" Siapa ? " Tanya Sandra mengerutkan keningnya. Dia baru satu Minggu di kampus itu dan belum mengenal banyak orang. Lalu siapa yang mencarinya ?
" Aku !" Sahut laki-laki di belakangnya.
Betapa terkejutnya Sandra melihat Gilang melangkah melewati gadis cantik itu dan melangkah menghampirinya. Gilang terlihat lebih baik dari saat terakhir bertemu. Pria itu lalu duduk menghadap Sandra di depannya.
" Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu ?" Sapa Gilang.
" Ba....baik.. " Balas Sandra kikuk. "
" Aku merindukanmu." Ucap Gilang tanpa basa-basi.
" A...? " Sandra terlihat gelisah. Dia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Apa lagi kedua temannya melihatnya dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Gilang tersenyum kecut.
" Aku masih tidak percaya,semua barakhir secepat ini."
" Ah ... itu.... Kita bicara di tempat lain saja ! " Ajak Sandra kemudian. Dia tidak ingin teman-temannya tahu tentang kehidupan pribadinya.
" Tidak ada tempat lain !" Potong Arkha yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
" Ar...Arkha ? " Sandra bertanya terkejut. Bisa gawat jika dia memberi tahu kakaknya jika Gilang datang menemuinya. Sedangkan kini bisik-bisik mulai terdengar di sekitarnya. Banyak yang bertanya-tanya apakah Arkha mengenal Sandra dan apa hubungannya. Tidak biasanya Arkha yang terkenal pendiam tapi sulit di dekati itu ikut campur urusan orang lain.
Arkha merupakan mahasiswa yang populer di kampus itu. Selain karena tampan dan kaya, Arkha juga terkenal sangat pintar dan berbakat meski sangat pendiam dan sedikit angkuh. Selama ini Arkha menjadi incaran bagi kaum hawa di kampus itu.
" Pergi dari sini ! " Ucap Arkha kepada Gilang.
Gilang berdecak kesal. Usahanya untuk menemui Sandra selalu gagal karena orang-orang yang menjaga Sandra di sekitarnya.
" Jangan ikut campur. Ini bukan urusanmu." Balas Gilang.
" Oya.... tapi sayangnya ini juga menjadi urusan ku !"
" Kau dan kakakmu itu sama saja ! Kalian sama angkuh dan merasa paling berkuasa !" Kata Gilang terlihat mulai emosi.
" Aku tegaskan ! Jangan ganggu Sandra lagi. Kamu hanya akan terlihat seperti pecundang yang tidak tahu diri !"
" Kau ... beraninya kamu berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua dari mu !" Balas Gilang sengit. Dia tidak terima Arkha mengatainya.
" Terserah, aku hanya ingin memperingatkan mu saja ! Di luar sana masih banyak gadis yang ingin menjadi kekasih mu. Jangan mengganggu seseorang yang sudah menjadi milik orang lain apapun itu alasannya ! Jika kamu tetap keras kepala, bukan hanya kamu saja yang akan menerima akibatnya !" Ancam Arkha. Kemudian dia menarik kerah baju Sandra dari belakang dan menyeretnya keluar dari kantin . Dia tidak mempedulikan suara bisik-bisik yang semakin jelas terdengar.
" Aaa.... Arkha lepasin ... !" Pinta Sandra.
" Arkha, kamu membuat ku malu ! Hentikan ! " Lanjut Sandra berteriak.
Arkha sama sekali tidak menggubrisnya. Dia terus menyeret Sandra, entah mau di ajak ke mana.
"' Akan aku laporkan ke Al jika kamu menyakiti ku ! " Ancam Sandra.
__ADS_1
" Laporkan saja. Aku yakin justru kamu yang akan mendapatkan masalah ! " Arkha tersenyum mengejek.
" Dasar kakak adik sama-sama kejam ! Aku bisa mati tercekik. Lapaskan bodoh !" Umpat Sandra yang tidak bisa melihat wajah Arkha karena Arkha menyeret kerah bajunya dari belakang.
Arkha melepaskannya setelah sampai di tempat sepi.
" Uhuk uhuk... Uhuk.... " Sandra terbatuk-batuk setelah Arkha melepaskan kerahnya. Sandra sedikit terhuyung karenanya. Untung saja dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
" Kamu gila ya ! Aku gak nyangka ... ! Ternyata kamu sama saja dengan kakakmu ! " Ucap Sandra marah.
" Apa kamu lupa jika papa memberiku tugas untuk menjagamu ? Aku juga tidak mau ikut campur urusan mu ! Aku tidak perduli sama sekali. Tapi aku juga tidak mau di salahkan jika terjadi sesuatu kepada mu ! Sial ! Kau sungguh merepotkan ku !" Balas Arkha tak kalah sengit.
Sandra terdiam mendengar kekesalan Arkha.
" Kamu tidak harus melakukannya." Kata Sandra melunak.
" Begini saja. Kita bikin kesepakatan bersama. " Tawar Sandra.
Arkha mengerutkan keningnya.
" Anggap saja kamu sudah menjalankan tugas dari papa. Tapi kamu tidak perlu menjagaku. Aku bisa menjaga diri ku sendiri. Kamu juga bukan mata-mata yang bisa mengawasiku terus-terusan. Aku berjanji padamu , aku tidak akan membuat masalah ataupun terkena masalah. Aku hanya ingin kuliah. Aku ingin belajar dengan tenang." Jelas Sandra.
" Bahkan tidak akan ada yang mendengarkan janji seperti itu ! Memang sudah seharusnya kamu tahu diri dan jangan membuatku terkena masalah karena mu. Kamu tahu sendiri bagaimana watak suamimu. Aku tidak mau mencari masalah dengannya !"
" Kamu takut dengan Alfian ?" Tanya Sandra kemudian.
" Siapa yang takut. Aku hanya tidak ingin terlalu berurusan dengan dia !"
Sandra manggut-manggut saja. Bodo amat dengan mereka berdua. Sandra hanya perduli dengan satu hal....
" Arkha... Jangan adukan ke papa atau kakakmu jika Gilang menemui ku. " Bujuk Sandra.
" Kenapa ? Sekarang kamu yang takut ?" Sindir Arkha.
" Bukan begitu. Mas Gilang juga tidak berbuat sesuatu. Dia..... "
__ADS_1
" Terserah, mau dia berbuat sesuatu atau tidak,dia tidak berhak menemui mu. Itu perintah dan tidak boleh di langgar." Setelah mengatakan itu Arkha pergi meninggalkan Sandra.
" Aah ...dasar .... !!! Kurasa ketenangan ku di kampus sudah tidak ada lagi. Aduuuh... Bagaimana juga aku menjelaskan kepada teman-temanku tentang hubunganku dengan Arkha . Pasti mereka penasaran sekarang. Mereka tidak boleh tahu jika Arkha adalah adik ipar ku. Mereka juga tidak boleh tahu jika aku sudah menikah." Batin Sandra lesu. Dia heran sekali, sejak bertemu dengan Alfian hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia merasa tidak bisa lagi merasakan kebebasan dan kedamaian.