Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Bu Lastri Di Larikan ke Rumah Sakit


__ADS_3

Sandra mengajak Alfian pergi mengunjungi temanya.


" Assalamualaikum..!" Ucap Sandra setelah sampai.


Seorang perempuan tengah baya keluar menyambut kedatangannya.


" Eh Sandra..., ada apa ? Kapan pulang, Waahh mentang-mentang dah jadi istri orang kaya sekarang lupa sama kampung halaman." Kata ibu teman Sandra. Bu Dian memang terkenal bersuara pedas.


" Andin ada bu ?" Tanya Sandra yang tidak memperdulikan omongan Bu Dian.


" Ih, sombong amat sekarang. Ditanya bukanya jawab malah tanya yang lain. Andin gak ada, lagi main sama temennya." Jawab Bu Dian ketus.


" Ada apa ni ribut-ribut ?" Tanya Bu Ani tetangga depan rumah Bu Dian.


" Eh Sandra... Lama gak kelihatan, denger-denger lagi sibuk kuliah ya ?" Tanya Bu Ani sopan.


" Alhamdulillah iya bu, makanya baru sempet tengok ibuk." Balas Sandra tersenyum.


" Heleeh, kuliah pakai duit laki aja bangga. Alasan aja baru sempet nengokin ibunya, paling-paling juga udah lupa ! Maklum ... Kan jadi OKB , trus kaya kacang lupa kulitnya deh." Fitnah Bu Dian.


" Astaghfirullah Bu Dian, jangan begitu bu, nanti jadi fitnah lho." Tegur Bu Ani.


" Fitnah gimana, kenyataannya begitu." Bu Dian terlihat ngotot.


" Kalau Andin gak ada ya udah bu, aku pamit dulu." Kata Sandra yang memilih pergi dari pada melayani tetangganya yang julid itu.


" Emang ada apa nyari Andin San ?" Tanya Bu Ani yang ikut penasaran.


" Gini bu, kemarin Andin cerita katanya butuh biaya untuk kursus menjahit. Aku pikir aku bisa bantu sedikit. Berhubung Andinnya tidak ada, terus ibunya juga begitu .... Ini buat ibu Ani saja. Buat tambahan biaya sekolah Bagus." Kata Sandra sambil menyerahkan amplop putih yang agak tebal.


Alfian tersenyum puas melihatnya. Dia pikir Sandra hanya akan diam saja di hina oleh orang.


" Masya Allah, bener ini buat ibuk San ?" Tanya Bu Ani.


Bu Dian terlihat tidak suka dan menatap sinis ke arah mereka.


" Bener Bu. Ini buat anak-anak ibu, semoga bermanfaat." Lanjut Sandra sambil melirik Bu Dian yang kepanasan.


" Itu ... Itu kan tadinya buat Andin. Sini nanti aku kasihkan ke anaknya !" Bu Dian memintanya dengan angkuh.


" Maaf ya bu, mungkin belum rejekinya Andin. Ibu bilang aku ini kacang yang lupa sama kulitnya. Ibu benar, ternyata aku juga lupa jika punya tetangga julid dan tukang fitnah seperti ibu." Balas Sandra penuh kemenangan. Sebenarnya dia merasa tidak enak melawan orang tua. Tapi ini demi harga diri, dia tidak mau di injak lagi oleh orang lain.


" Bu Ani kita permisi dulu." Lanjut Sandra lalu melangkah pergi di ikuti Alfian di belakangnya.


" Iya San .. Terimakasih banyak ya ? Tuan terimakasih !" Teriak Bu Ani gembira.


Bu Dian terlihat sangat malu, mukanya merah padam menahan emosi.


" Lain kali sepertinya aku harus lihat-lihat dulu siapa orang yang akan ku bantu." Omel Sandra di perjalanan.


" Kalau bukan orang tua udah aku ajak adu jotos tuh si Bu Dian. Ngomong suka asal kaya paling tahu aja urusan semua orang." Lanjut Sandra kesal.


Alfian tersenyum kecil.

__ADS_1


" Tapi aku yakin, dia sangat menyesal sekarang." Sahut Alfian.


" Ya... pasti karena uang itu !"


" Balasan yang bagus. " Puji suaminya.


Di rumah Bu Lastri........


Setelah kepergian Sandra dan Alfian, datang seorang wanita cantik yang masih muda ke rumahnya.


" Jadi di sini gubuk si miskin itu ?" Tanya Rena sambil membuka kaca mata hitamnya.


" Eeuhh..., bagaimana bisa papanya menjodohkan anaknya yang sempurna dengan gadis kampung semiskin ini ? OMG..." Kata Rena di depan pintu.


" Eh, siapa ?" Sapa Bu Lastri dari dalam rumah.


" Anda siapa ?" Tanya Rena yang balas bertanya.


" Saya ..., saya Bu Lastri ibunya Sandra. Silakan masuk dulu." Tawar Bu Lastri tetap ramah. Dalam hati beliau bertanya-tanya siapakah gadis itu. Dari penampilannya dia tahu pasti dia gadis kota dan orang yang punya. Terlihat dari caranya berpakaian dan memandang semua barang-barang yang ada di rumahnya dengan jijik.


" Oh, baguslah.... Kebetulan saya ingin bertemu dengan ibunya Sandra." Jelas Rena angkuh.


Rena masuk ke dalam rumah dengan hati-hati. Dirinya melihat sekeliling ruang tamu dengan pandangan yang merendahkan.


" Silakan duduk."


Rena pun duduk di salah satu kursi. Sebelum duduk dia memastikan dulu jika kursi itu bersih dari debu.


" Nona ada perlu apa mencari saya ?" Tanya Bu Lastri to the poin. Firasatnya sudah tidak enak melihat gelagat perempuan cantik di depannya.


" Perkenalkan, saya Rena kekasih Al. " Ucap Rena berbohong.


" Kekasih Al ? Alfian kah maksud nona ?" Tanya Bu Lastri syok.


" Betul, saya kekasih Alfian menantu ibu. Kami saling mencintai satu sama lain. Saya kesini untuk meminta tolong kepada ibu supaya menasehati Sandra agar mau menceraikan Alfian." Kata Rena percaya diri.


Bu Lastri terlihat pucat seketika. Beliau menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya mendadak terasa pusing.


" Alfian punya kekasih ? Bercerai ? Jangan bergurau nona. Saya tahu menantu saya. Pak Wijaya bilang Al tidak punya kekasih saat akan menikah dengan Sandra." Bu Lastri berusaha bertahan dan menyangga kepalanya dengan satu tangan.


" Pak Wijaya bohong. Kami adalah sepasang kekasih sejak di bangku SMA. Karena desakan oleh papanya akhirnya Alfian terpaksa menikahi Sandra. Tapi kini kita sudah tidak ingin terpisah lagi, jadi mohon untuk ibu memberi tahu Sandra secepatnya agar menceraikan Alfian atau kami terpaksa akan menikah siri." Ancam Rena tak habis akal.


Rena tersenyum senang melihat ibu Sandra semakin terkejut. Ini adalah bagian rencana terakhirnya. Berulang kali dia memohon kepada Alfian agar memaafkan dan mau kembali kepadanya tapi Alfian selalu menolaknya dengan alasan sudah menikah. Sehingga muncullah ide ini, yaitu membuat Sandra menceraikan Alfian. Dengan memberi sedikit informasi palsu tentang hubungannya dengan Alfian, Rena berharap ibu Sandra akan meminta Sandra untuk menceraikan Alfian. Dengan begitu Rena bisa bebas mendekati Alfian lagi.


Bu Lastri terlihat semakin tidak baik-baik saja. Nafasnya semakin sesak. Pandangannya kunang-kunang. Tak lama kemudian Bu Lastri pingsan di kursi. Rena yang tadinya tersenyum senang kini di buat panik karenanya. Karena takut ketahuan oleh Alfian dan Sandra, Rena meninggalkan Bu Lastri seorang diri dan kabur dari sana.


Sepuluh menit kemudian, Sandra dan Alfian sampai di rumah. Tadi mereka mampir membeli es cendol terlebih dahulu.


Sandra terkejut saat melihat ibunya tidur di kursi ruang tamu.


" Ibu, ibu kenapa tidur di kursi ?" Tanya Sandra setelah masuk rumah.


Bu Lastri tidak menjawab. Sandra segera memegang tangan Bu Lastri. Dingin, kedua tangan Bu Lastri terasa dingin. Sandra segera menggoyang-goyangkan tubuh ibunya.

__ADS_1


" Ibu ..! Ibu kenapa ?! Bangun bu !" Teriak Sandra panik.


Alfian yang mendengarnya langsung mendekati Sandra dan Bu Lastri.


Alfian memeriksa nadi Bu Lastri.


" Ibu pingsan. Ayo kita bawa ke rumah sakit. " Kata Alfian cepat. Dia segera membopong ibu mertuanya ke dalam mobil. Sandra mengikuti di belakangnya sambil menangis tersedu.


" Sandra ... Ada apa ?" Tanya Bibi Nani yang baru pulang dari mengajar.


" Gak tahu bik, ibu sudah pingsan saat Sandra pulang dari beli cendol." Kata Sandra sambil tersedu.


" Ya udah kamu tenang dulu. Bibi ikut ke rumah sakit." Ucap Bibi Nani.


Akhirnya mereka berempat segera menuju ke rumah sakit terdekat. Setelah melalui beberapa pemeriksaan dokter di rumah sakit itu menyarankan agar ibu Sandra di bawa ke rumah sakit kota yang lebih lengkap peralatan medisnya. Alfian pun segera mengurus pemindahan ibu mertuanya ke rumah sakit kota setelah dokter memberikan surat rujukan.


Hari sudah mulai malam saat mereka sampai di rumah sakit kota. Bu Lastri langsung menjalani pemeriksaan di ruang IGD. Sandra , Bibi Nani dan Alfian menunggu dengan cemas.


Sandra tak bisa berhenti menangis. Dia menelungkupkan wajahnya di atas lutut.


" Maaf bu.... maafin Sandra.... Harusnya Sandra tidak pergi kemana-mana tadi." Isak Sandra menyalahkan diri sendiri.


" Sudahlah, jangan menyalahkan diri sendiri. Ibu pasti sembuh." Ucap Alfian merangkul Sandra. Namun gadis itu tak kunjung berhenti menangis.


Pak Wijaya dan keluarga tiba di rumah sakit sekitar pukul sepuluh malam. Tidak lupa Arkha membawa makanan dan beberapa pakaian ganti untuk Alfian dan Sandra. Neta yang penakut di larang ikut oleh papanya. Hal itu hanya akan mengingatkan kejadian lampau saat mama mereka berjuang di ruang ICU.


" Al... Kenapa dengan ibumu ? Apa yang terjadi ?" Tanya beliau setelah sampai.


Alfian menjelaskan apa yang dia ketahui. Pak Wijaya mendengarkan dengan seksama. Wajah tua itu terlihat sedih saat mendengarkan.


" Makan dulu. " Bujuk Arkha mendekati Sandra.


" Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Lanjut Arkha kemudian mengambil roti dari dalam tas , membukanya lalu menyodorkannya ke depan Sandra.


Sandra menggeleng, namun Arkha tetap memaksanya.


" Di saat seperti ini, kamu jangan keras kepala. Ibumu sedang berjuang di dalam sana, jika dia tahu anaknya seperti ini dia akan sedih." Bujuk Arkha.


Akhirnya Sandra menerima roti itu dan memakannya perlahan meski roti itu terasa sulit di telan oleh Sandra. Alfian terlihat tidak suka melihat pemandangan di depannya. Namun, demi kebaikan Sandra dia enggan mempermasalahkannya meski dalam hati dia merasa kesal melihat kedekatan istrinya dengan adiknya sendiri.


Pukul dua belas tepat. Tiga orang dokter keluar dari ruang IGD tempat ibu Sandra mendapatkan perawatan.


" Di sini siapa yang bernama Alfian ?" Tanya salah seorang dokter.


" Saya dok." Sahut Alfian cepat.


" Maaf , kondisi pasien saat ini masih belum stabil. Namun beliau bersikeras ingin bertemu dengan orang yang bernama Alfian. Jika anda orang yang beliau maksud, silahkan melihatnya." Kata dokter itu.


" Tapi saya anaknya dok. Saya ingin melihat ibu saya." Potong Sandra dengan cepat. Kenapa ibunya justru ingin bertemu dengan Alfian dan bukannya dirinya yang adalah anaknya ? Pikir Sandra.


" Maaf nona, tapi Bu Lastri sendiri yang memintanya. Silakan masuk tuan. Tapi jangan lama-lama karena pasien masih dalam keadaan yang mengkhawatirkan." Jelas dokter itu lagi.


Alfian yang bingung lalu masuk ke ruangan di mana Bu Lastri terbaring lemah. Berbagai alat bantu medis menempel di tubuh perempuan itu.

__ADS_1


" Ibu...." Sapa Alfian lirih.


Bu Lastri menatap Alfian dengan sayu. Kedua mata perempuan setengah baya itu mengembun saat menatap laki-laki yang menjadi suami anaknya itu. Lalu Bu Lastri memberi isyarat agar Alfian mendekat.


__ADS_2