Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Berkeluh Kesah Kepada Nurul


__ADS_3

Sandra izin sakit dan pulang lebih dulu siang itu. Dia sudah menghubungi Nurul, kebetulan sekali sahabatnya itu ada di kos setelah pulang dari kuliah pagi. Sandra memutuskan untuk ke sana.


Nurul menyambut gembira kedatangannya. Dia juga sudah menyiapkan banyak cemilan dan minuman instan untuk teman mengobrol mereka. Tak lupa, tadi Sandra menyempatkan membeli oleh-oleh untuk induk semang, mang Udin penjaga pintu gerbang dan tentunya untuk Nurul terlebih dahulu.


Sandra merebahkan tubuhnya dengan lesu, rasanya sangat aneh. Tak ada yang tahu hidup seseorang akan bagaimana kedepannya. Belum lama ini, tempat ini juga menjadi tempat tinggalnya. Sekarang dia hanya bisa main atau sekedar mampir saja.


" Kamu kenapa San ? " Tanya Nurul kemudian. Sejak tadi dia hanya mengamati dan memberi waktu untuk sahabatnya menenangkan diri. Dilihat dari matanya yang bengkak dan dirinya yang tidak bersemangat pasti telah terjadi sesuatu.


Sandra mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan panjang. Kemudian duduk di samping Nurul.


" Habis bertengkar dengan suamimu ?" Lanjut Nurul menebak.


" Tidak, bertengkar dengannya sudah hal yang biasa." Jawab Sandra kemudian kembali diam.


" Cerita sama aku, jangan di pendam sendiri... " Kata Nurul.


Kedua mata Sandra kembali berembun.


" Tuh kan bener, pasti ada sesuatu. Cepat cerita kalau kamu masih nganggep kalau aku ini sahabat mu !" Desak Nurul yang tidak tega melihatnya.


" Tadi Gilang nyamperin aku di kampus.... " Ucap Sandra mulai bercerita. Dia mencoba menahan air mata agar tidak menangis lagi.


" Di kampus ? " Tanya Nurul yang dibalas anggukan kecil oleh Sandra.


" Trus ? Dia ngapain kamu sampai kamu kayak gini ?!"


" Dia gak ngapa-ngapain. Dia hanya bilang kalau dia merindukan aku. " Balas Sandra sedih. Dia masih teringat bagaimana laki-laki itu menangis tersedu di depannya.


" Kau tahu, dia menangis tersedu setelah aku memintanya melupakanku. " Suara Sandra bergetar menahan tangis.


Kini Nurul tahu apa yang membuat sahabatnya bersedih sampai seperti itu.


" Ka...mu .... masih menyukainya ?" Tanya Nurul hati-hati.


" Entahlah...... Aku sudah berusaha untuk melupakan dirinya...Tapi.... melihatnya rapuh seperti tadi membuat hatiku ikut sakit. " Ucap Sandra menjelaskan.


Nurul menepuk pundak Sandra dengan lembut.


" Aku mengerti, tidak mudah melepaskan orang yang kita cintai. Kalian sama-sama menderita akan hal ini. Namun keputusanmu sudah sangat benar. Itu yang terbaik untuk kalian berdua. Bersabarlah..... Aku percaya kamu bisa melalui semua ini. " Tutur Nurul menenangkan dan memberikan semangat untuk Sandra.


Sandra menghambur ke pelukan Nurul dan menangis sepuasnya. Barulah setelah Sandra mulai tenang Nurul kembali mengajaknya berbicara.


" Lalu .... hubunganmu dengan Al bagaimana sekarang ? " Tanya Nurul mengalihkan pembicaraan.


Sandra lalu menceritakan tentang hidupnya setelah menikah dan tinggal di rumah mertuanya.


" Begitulah.... Kurasa pernikahan ini hanya ajang balas dendam untuk membuatku menderita. Dia sangat membenciku. Sepatuh atau sebenar apapun diriku tidak pernah dia hargai. Dia selalu mencari cara untuk membuat ku menangis." Imbuh Sandra.

__ADS_1


" Keterlaluan Alfian. Dia tidak bisa memperlakukan seorang wanita seperti itu. Biar bagaimanapun kamu ini istrinya bukan budaknya !" Nurul yang mendengarkan cerita Sandra menjadi kesal kepada Alfian.


" Lalu ? Apa yang akan kamu lakukan ke depannya ? Terus mengalah dan menerima semua perlakuan buruknya ?" Tanya Nurul emosi.


" Aku bisa apa. Lagi pula , entah baik atau buruk sekarang dia adalah suamiku. Meski sering membantahnya aku tetap harus menghormatinya. Sekarang aku bisa kuliah saja aku sangat bersyukur. Setidaknya ada angin segar yang bisa ku hirup. Kau tahu, setelah dia pulang aku tidak bisa berkutik sedikitpun. Aku harus melayani semua kebutuhan dan keinginannya." Ujar Sandra melanjutkan ceritanya.


Nurul manggut-manggut mendengarnya. Dia tidak menyangka sahabatnya bernasib seperti itu. Meski dari segi ekonomi berubah sangat drastis tapi semua itu tidak menjamin kebahagiaannya.


" Termasuk urusan...... suami istri ? Kamu tahu kan yang aku maksud ?" Tanya Nurul penasaran.


" No, tidak untuk yang satu itu. " Bantah Sandra.


" Jadi........ sampai sekarang....... kamu masih ........."


" Yap... ! " Balas Sandra cepat.


" OMG Sandra..... !! Aku pikir selama ini kalian sudah melakukannya.... Lalu yang di hotel waktu itu, aku hanya salah paham ?" Tanya Nurul tidak percaya.


Sandra mengangkat bahunya. " Kamu terlalu berpikir jauh." Ucap Sandra.


" Uhmm... tadinya aku juga ragu dan tidak yakin. Tidak mungkin kamu menyerahkan dirimu begitu saja. Tapi setelah aku pikir berulang kali. Hal itu adalah kewajiban bagi seorang istri untuk memberikan haknya seorang suami. Dari situlah aku berfikir kalian......"


" Ah sudah-sudah, jangan bahas masalah itu. " Potong Sandra malu.


" Kamu yakin tidak ada niat memberikan haknya sebagai suamimu ?" Tanya Nurul penasaran.


" Aku takut. Aku belum siap. Lagi pula dia sendiri yang pernah bilang kepadaku jika dia tidak tertarik sama sekali dengan diriku." Ucap Sandra.


" Aku juga tahu itu, tapi gimana mau dosa.... Dia juga tidak memintanya kok.. " Kata Sandra membantah.


" Kamu gak ada inisiatif gitu ? Oya ! Lingerie yang aku beri waktu itu ! Kamu sudah memakainya ?" Tanya Nurul bersemangat.


" Aaa.... Nurul kamu apaan sih ! Jangan bahas hal itu napa ! Lagian kamu ini plin-plan banget sih jadi orang ! Barusan saja kesal sama Al, sekarang malah mendukungnya dengan hal yang begituan ! " Ucap Sandra kesal lalu menepuk bahu Nurul dengan keras.


" Aau... sakit Sandra ! " Teriaknya.


Kemudian kedua sahabat itu saling berkejaran dan saling melempar bantal dan guling di kamar yang kecil itu.


" Hah.... sudah... Aku capek !." Kata Nurul terengah-engah.


" Tau rasa kan sekarang ? " Tanya Sandra yang kemudian mengikuti Nurul yang berbaring di atas ranjang.


" Masih mau lagi ? " Ancam Sandra yang siap memukul Nurul memakai guling yang ada ditangannya.


" Stop... ! Tidak, sudah.... aku capek beneran. Ma....af...hah...hah... " Ucap Nurul sambil ngos-ngosan.


" Ck... Gitu aja capek. Nih minum dulu." Sandra mengambilkan sebotol air mineral dan memberikannya kepada Nurul.

__ADS_1


Nurul menerimanya kemudian menengguknya hingga tinggal setengah. Sandra sendiri mengambil air mineral lagi lalu meminumnya.


" Emang kamu gak tertarik gitu sama suamimu ? Diakan tak kalah ganteng juga dari Gilang. Kalian bahkan sudah tinggal satu atap dan satu kamar. Masa sih tidak ada getaran getaran apa gitu...? " Nurul kembali bertanya jahil.


" Emm..... " Sandra tak langsung menjawab. Dia mengingat kembali hari-hari yang di lalui bersama Alfian. Selain benci dan kesal, tidak ada lagi yang Sandra rasakan. Tapi.... Sandra tiba-tiba teringat beberapa peristiwa yang menurutnya memalukan saat bersama Alfian. Anehnya justru hal itu membuatnya tersenyum dan tersipu malu karena mengingatnya. Dia sadar saat itu jantungnya berdegup kencang.


" Yaaahh, ditanya bukanya jawab malah senyum sendiri."


" Ha... tentu saja tidak ! Siapa yang senyum ?" Bantah Sandra tidak terima.


" Mau kamu bantah kek gimana, muka kamu yang begitu tidak bisa nipu aku ! "


Sandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mana mungkin dia bisa membohongi Nurul. Gadis berambut ikal itu sudah hafal di luar kepala tentang dirinya.


" Mmm... begini saja. Sebagai sahabat mu, tentu aku ingin melihatmu bahagia dan tidak larut dalam kesedihan terus seperti ini. Gimana kalau kamu mulai membuka hati untuk suamimu ?? Dengan begitu mungkin saja penilaianmu tentang dirinya bisa berubah. Kalian sering bertengkar karena sejak awal kalian menilai satu dengan yang lain sebagai orang yang buruk. Kalian tidak pernah mencoba untuk saling mengenal lebih dekat lagi." Usul Nurul.


" Ide yang buruk. Itu tidak mungkin terjadi. Mana mungkin aku membuka hati untuk pria kejam seperti itu !" Balas Sandra cepat.


" Jangan begitu, di coba saja dulu . Emang kamu mau selamanya bertengkar dengan suamimu terus ?" Ucap Nurul tidak menyerah.


Sandra berfikir sejenak. Benar juga yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Masa iya dia akan hidup seperti ini terus dengan Alfian ?


" Tapi Rul, aku takut.. Banyak hal yang aku takutkan jika aku memikirkannya." Ucap Sandra ragu.


" Apa yang kamu takutkan ?"


" Aku takut menyukainya jika membuka hatiku... Aku takut perasaan ku tak terbalas. Karena aku tahu, dia tidak menyukai gadis seperti ku. Kau tahu artis Rena Dania ? Dia mantan kekasih Al. Perempuan itu sangat sempurna, aku sendiri mengakuinya. Belum lama ini kami bertemu di mall. Dan terlihat jelas jika Rena mencoba mengejar Al kembali."


" Jadi kamu insekyur dengan dirimu sendiri ?" Tanya Nurul terkejut.


Sandra menunduk sedih.


" Bahkan aku berfikir untuk menyatukan mereka lagi agar bisa terlepas dari pernikahan ini. Lalu.... bagaimana aku bisa membuka hati dan memberikan semua haknya sebagai suami ? Aku takut pernikahan ini tidak bertahan lama. Aku takut jika aku memberikan haknya, suatu saat dia justru kembali kepada mantannya. Terus bagaimana kalau aku hamil ? Aku belum siap menjadi seorang ibu di usia dini. Aku masih mempunyai banyak impian. Aku juga takut... jika anakku menjadi korban ke egoisan kedua orangtuanya. Aku takut belum mampu menjadi orang tua yang baik untuk anak itu." Ucap Sandra lalu terdiam sangat lama.


" Maaf....., aku tidak berfikir sampai ke situ... Are you okay ?" Tanya Nurul lirih.


" I'm fine... Jangan cemaskan aku. " Jawab Sandra lalu tersenyum. Dia tidak ingin Nurul ikut bersedih.


" Tapi... Jika Al tidak mau kembali kepada mantannya gimana ? Aku rasa papa mertuamu juga tidak akan tinggal diam jika ada yang mencoba mengganggu hubungan kalian." Ucap Nurul tetap berusaha.


" Entahlah... Tapi hal itulah yang aku takutkan sekarang."


" Sandra , dengarkan aku, kita tahu hati manusia bisa berubah sewaktu-waktu. Bukan tidak mungkin kalian bisa saling mencintai. Apalagi sudah ada ikatan suci di antara kalian. Jika kamu bisa merelakan Gilang, bisa saja Alfian merelakan masa lalunya karena kamu. Jadi jangan berbuat hal bodoh dengan menyatukan mereka lagi. Pikirkan dirimu sendiri. Kamu berhak bahagia. Dan bahagia itu kita sendiri yang harus menciptakannya. Coba saja dulu. Buka hatimu untuk Al. Jika memang hatimu tidak tergerak karenanya, baru kamu boleh menyerah."Ucap Nurul menasehati.


" Baiklah, akan kupikirkan kembali."


" Nah gitu dong,,, aku akan selalu support kamu dengan doa. Semoga kalian berdua bisa hidup bahagia bersama."

__ADS_1


"Aamiin. " Balas Sandra meski tidak yakin.


" Makan yuk. " Ajak Nurul kemudian.


__ADS_2