Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Di Jemput Gilang


__ADS_3

Sandra menjadi tidak bersemangat setelah makan siang. Dirinya terus kepikiran mengapa Alfian tidak menghubunginya atau membalas pesan darinya.


" Mungkinkah dia sangat sibuk sampai-sampai tidak bisa menghubungiku ?" Tanya Sandra sedih.


Beberapa hari ini Sandra baru menyadari kepedulian dan perhatian Alfian kepadanya. Mengingat hal itu membuatnya menjadi merasa bersalah ketika kemarin-kemarin dia menyalahkannya atas perbuatan Rena dan kepergian ibunya. Apalagi dengan sikapnya yang keras kepala dan mengacuhkannya. Beruntungnya Alfian bisa memahaminya waktu itu. Bahkan dia rela pulang pergi kerja dari kampung ke kota setiap harinya hanya agar bisa menemuinya.


" Sebenarnya apa alasan mu berubah seperti itu ? Mengapa kamu tiba-tiba menjadi sangat baik kepadaku ? Mungkinkah kamu hanya merasa kasian kepadaku karena sekarang aku yatim piatu ? Atau papa yang menyuruhmu tetap bertahan denganku ?" Sandra terus berpikir hingga tidak bisa fokus mengikuti mata kuliah yang sedang berlangsung.


Sedikit banyak Sandra juga menjadi kepikiran dengan perkataan kedua temannya. Dia khawatir jika Alfian tergoda oleh perempuan lain. Apalagi dia pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Rena berusaha merayu suaminya. Dia takut Rena yang lain bermunculan untuk merebut suaminya. Di tambah banyak sekali wanita cantik dan anggun yang bekerja dengan Alfian.


Sandra sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak terasa jika jam kuliah telah berakhir. Sandra keluar dari kelas lalu melihat ponselnya, berharap sudah ada balasan dari Alfian. Tapi ternyata tidak ada pesan darinya. Wajah Sandra berubah jadi murung.


Drt....Drt...


Ada pesan masuk di ponselnya. Sandra tersenyum senang berharap jika itu dari Alfian. Tetapi justru Gilang yang mengirim pesan kepadanya.


" Sudah pulang kuliah ? Aku menunggumu di depan." Pesan dari Gilang.


Ternyata Gilang yang mengiriminya pesan. Raut wajah Sandra terlihat tampak kecewa saat membacanya. Namun Sandra tetap membalas pesan itu lalu bergegas menemui Gilang.


" Teman-teman,aku duluan." Pamit Sandra kepada Intan dan Salsa.


Dari kejauhan dia sudah bisa melihat Gilang yang menunggunya sambil bersandar pada mobil mewahnya. Laki-laki itu tersenyum setelah melihatnya menghampirinya.


" Mas Gilang ngapain ke sini ?" Tanya Sandra setelah sampai.


" Hm.. Tidak suka melihatku ?" Ucap Gilang balik bertanya.


" Mm .. Bukan, bukan begitu maksudku mas... maaf.." Kata Sandra yang menyadari jika Gilang tersinggung dengan ucapannya.


" Tidak perlu minta maaf. Aku di sini karena suamimu. Dia seenaknya saja main perintah untuk menjemputmu. " Ucap Gilang menjelaskan kedatangannya ke kampus.


" Jadi... Mas Al yang menyuruh mas ke sini ?" Tanya Sandra tidak percaya.


" Mengirim pesan kepada orang lain saja bisa ! Mengapa tidak membalas pesan ku ?! Atau bisa kan memberiku kabar jika Mas Gilang yang akan menjemput ku. Apa Mas Alfian marah kepadaku ?" Batin Sandra sedikit kesal.


" Iya... Ayo masuk, jangan bengong saja. " Tegur Gilang lalu membukakan pintu mobil untuk Sandra.


Setelah keduanya masuk, Gilang melajukan mobilnya dengan santai.


Tidak seperti biasanya saat bertemu. Sandra menjadi lebih pendiam sejak tadi.


" Kamu kecewa karena aku yang menjemput mu ?" Tanya Gilang yang melihat wajah murung Sandra.


" Tidak mas, siapa yang kecewa ? Aku hanya sedikit bingung saja, kenapa Mas Al memintamu untuk menjemput ku. Bahkan dia tidak memberitahuku sebelumnya.Mengirim pesan pun tidak !" Kata Sandra kecewa.


" Dia sangat sibuk hari ini. Bahkan dia langsung menutup telfonnya setelah memberikan perintah tanpa mendengar jawabanku terlebih dahulu."

__ADS_1


" Mm .. Maafkan dia ya mas, dia memang suka seenaknya. Maaf juga jadi merepotkan Mas Gilang." Ucap Sandra serius.


" Tenang saja aku juga sudah hafal bagaimana wataknya. Lagi pula aku sedang tidak sibuk, jadi bisa menjemputmu." Ujar Gilang.


Kembali hening sejenak.


" Kelihatannya kamu sedang kesal. Kenapa ?" Tanya Gilang.


" Nggak kenapa-kenapa mas. " Balas Sandra yang tidak ingin orang lain tahu tentang apa yang tengah dia rasakan.


" Kamu masih sama saja seperti dulu. Masih sungkan kepadaku." Tutur Gilang.


" Mm... gak kok mas, aku memang tidak kenapa-kenapa. Oya .. Jadi sekarang hubungan kalian sudah baik ?" Tanya Sandra mengalihkan pembicaraan.


Gilang tersenyum kecil melihat Sandra yang menyembunyikan kekesalannya. Tentu saja Alfian sudah memberi tahu apa yang dia rencanakan. Dan sepertinya itu berhasil. Sandra terlihat tidak baik-baik saja hanya karena Alfian tidak menghubunginya hari ini.


" Sudah, kami kembali berteman seperti sebelumnya. Maaf jika waktu itu Alfian memperlakukan mu tidak baik karena diriku. Tapi, kami sudah meluruskan kesalahpahaman kami. Sekarang aku turut bahagia dengan hubungan kalian." Ucap Gilang tulus.


Memang berat awalnya melepaskan Sandra, tapi sekeras apapun dia berusaha dia tau jika dia tidak akan mampu meraihnya. Maka dari itu dia berusaha mengikhlaskannya. Sekarang bisa bertemu dengan Sandra dengan bebas, bisa mengobrol tanpa rasa takut membuatnya lebih nyaman dan lega. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi saat bersama Sandra.


" Ooh .. Aku ikut senang mendengarnya." Ucap Sandra menanggapi.


Sandra sendiri mulai memahami pilihan Gilang. Laki-laki itu pasti sudah memikirkannya matang-matang sebelum mengambil keputusan. Dia juga senang jika hubungan persahabatan mereka kembali seperti dulu. Dia tidak ingin menjadi penyebab hancurnya sebuah persahabatan.


" Bagaimana perasaan mu kepadanya sekarang ? " Tanya Gilang kemudian.


" Tapi sepertinya kamu mulai menyukainya." Ucap Gilang lagi.


" Tidak mungkin mas, mana bisa aku menyukai orang sombong yang suka seenaknya seperti dia." Bantah Sandra.


Gilang tersenyum kecil melihat Sandra berbohong.


" Kau yakin bisa berbohong kepadaku ? Jangan lupakan kakakmu ini... Aku sudah hafal betul tentang dirimu. Ayo ngaku .. Kamu kecewa kan karena bukan Alfian yang menjemput mu ?" Tanya Gilang mencoba membuat Sandra terus terang tentang perasaannya.


Entah kenapa Sandra tidak bisa berbohong kepada Gilang. Bersamanya membuatnya merasa nyaman. Lagi pula Gilang sudah menganggapnya seperti seorang adik. Jadi dia bisa leluasa mengeluarkan unek-uneknya.


Sandra kemudian mengangguk mengiyakan pernyataan Gilang.


Gilang senang akhirnya Sandra mau mengatakannya.


" Mengapa kamu kecewa ? " Tanya Gilang memancing lagi.


" Nggak tau mas, kesal aja. Seharian ini dia tidak menghubungiku. Kupikir dia sangat sibuk seperti kata Mas Gilang tadi. Tetapi kenapa dia malah menyempatkan diri untuk meminta tolong kepada mu ? Bukanya memberi kabar kepada ku ! Pesanku juga tidak ada yang di balas. Jika dia terlalu sibuk kenapa bisa membaca pesan di ponselnya ?" Ucap Sandra menuangkan kekesalannya.


" Kamu marah atau khawatir ?" Gilang kembali bertanya.


" Dua-duanya !" Aku Sandra.

__ADS_1


" Itu namanya kamu sudah sudah jatuh cinta padanya." Kata Gilang.


" Benarkah ?" Ucap Sandra tidak yakin jika dia telah jatuh cinta kepada suaminya.


" Mau mengelak bagaimana lagi ? Kamu memang menyukainya." Ucap Gilang menegaskan.


" Tapi aku bingung mas, aku takut."


" Kenapa ?" Tanya Gilang.


" Aku bingung dengan sikap Alfian. Dia memang banyak berubah sekarang, dia baik dan perhatian kepadaku. Tapi dia berubah karena apa aku tidak mengetahuinya. Aku takut jika dia berubah baik karena kasihan kepada ku. Dan aku takut, dia hanya berbohong tentang keinginannya hidup bersama dengan ku. Untuk apa semua itu dia lakukan ? Dia tidak pernah menjelaskan kepada ku. Entah karena suka, atau karena sebatas melakukan kewajibannya sebagai seorang suami yang baik. Bahkan aku juga takut jika sikap baik dan perhatiannya ini adalah perintah dari papa." Ucap Sandra menuangkan semua yang dia pikirkan.


" Percayalah padaku. Dia bukan laki-laki yang suka mempermainkan perempuan. Dia laki-laki yang setia Sandra. Dia memang keras dan suka berbuat semaunya. Tapi untuk masalah ini aku berani menjamin jika Alfian tulus melakukannya. Dia menyukaimu Sandra... Aku bisa merasakannya sejak lama." Ucap Gilang meyakinkan Sandra.


" Tapi.... Mengapa dia tidak mengatakannya jika memang dia menyukaiku ? Bahkan dulu hubungan kami sangat tidak baik... Dia selalu marah-marah dan banyak mengaturku."


" Itu karena dia menyukaimu tapi belum menyadarinya waktu itu. Makanya dia hanya bisa mengekangmu sebagai bentuk kepeduliannya terhadap mu. Bisa jadi pertengkaran yang sering terjadi adalah cara dia agar bisa berkomunikasi dengan mu. Terdengar aneh memang, tapi seperti itulah Alfian. Kau tahu kan sikapnya terhadap papanya ? Dia suka memberontak dan acuh...., tapi dia sangat menyayangi beliau. Sandra ...., kita tidak pernah tahu bagaimana cara seseorang mencintai pasangannya dan orang-orang yang di sayanginya. Mungkin saat ini Alfian masih gengsi untuk menyatakan perasaannya kepada mu. Atau butuh waktu lagi baginya untuk mengumpulkan keberanianya agar bisa menyatakannya. Tapi sesungguhnya kamu sudah bisa merasakan perasaannya tanpa perlu pengakuan dari dirinya.Aku saja tahu jika cinta itu tumbuh di hatinya untuk mu." Ucap Gilang memberikan pemahaman kepada Sandra.


Sandra tertegun mendengarnya. Benarkah yang semua di katakan oleh Gilang ? Gilang bukanlah orang yang suka berbohong atau berbasa-basi. Sandra tahu itu.


" Lalu... Aku harus gimana mas ?" Tanya Sandra selanjutnya.


" Membuka hatimu sedikit demi sedikit untuknya.... Hilangkan keraguan itu. Berikanlah dia kepercayaan di hatimu agar kamu bisa melihat ketulusannya. Percayalah padanya.... Dia suamimu. Aku yakin kalian bisa bertahan sampai sekarang karena adanya cinta di antara kalian. Hanya saja kalian masih sama-sama gengsi dan keras kepala untuk mengakuinya." Imbuh Gilang.


Diam sejenak. Sandra meresapi kata demi kata yang Gilang ucapkan.


" Sudahlah jangan terlalu di jadikan beban. Jalani saja dengan baik. Ubah pemikiran mu tentangnya. Ingatlah janji suci yang mengikat kalian berdua. Semua itu tidak akan pernah terjadi tanpa campur tangan Tuhan." Lanjut Gilang yang melihat wajah Sandra yang tertekan.


" Baik mas... Akan aku pikirkan nasehat darimu." Balas Sandra pelan.


" Bagus... Perlahan-lahan saja.. Aku doakan kalian bahagia selamanya. Aku bahagia jika kamu bahagia... " Ucap Gilang tulus.


Tanpa di sadari mereka telah sampai di apartemen Sandra dan Alfian.


" Terimakasih mas. Ayo masuk dulu. " Ajak Sandra yang sudah keluar dari mobil. Dia mengobrol dengan Gilang lewat kaca jendela mobil yang di turunkan.


" Mas langsung pulang saja. Masih ada urusan. Tidak enak juga jika hanya kita berdua. Aku takut kena tinju oleh Alfian lagi." Ucap Gilang sambil terkekeh.


Sandra ikut terkekeh mendengarnya. Gilang memang paling pandai mengubah suasana hatinya.


" Ya sudah hati-hati di jalan..." Ucap Sandra.


" Baik.. Sampai jumpa."


" Sampai jumpa."


Sandra melambaikan tangan kepada Gilang , Gilang membalasnya kemudian menaikkan kaca mobil dan melaju meninggalkan Sandra yang berdiri mematung menatap kepergiannya.

__ADS_1


__ADS_2