Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Mengobrol Dari Hati ke Hati Dengan Papa.


__ADS_3

" Semua sudah beres tuan. " Ucap seseorang di seberang telepon.


" Baik, kerja bagus. Besok serahkan berkasnya kepada Dias. Kamu boleh istirahat untuk beberapa hari ke depan." Perintah Alfian.


" Siap tuan. Terimakasih."


Sambungan telepon pun terputus. Alfian kemudian berbalik dan masuk ke kamar lagi. Sandra sudah tidak terlihat di sana.Karena kunci kamar masih dia pegang, tidak mungkin gadis itu pergi dari kamar. Mungkin saja sedang mandi.


Alfian merebahkan diri di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Kedua tangannya menekuk di belakang kepala.


" Kenapa aku begitu emosi ? Benarkah aku menyukainya ? Lalu Rena.... semudah itukah hatiku berpaling ?" Alfian bergumam dalam hati.


Sandra muncul dari kamar mandi. Dia hanya melirik Alfian sekilas lalu duduk di meja belajarnya. Sandra mengeluarkan buku-buku kemudian mulai belajar tanpa memperdulikan Alfian yang sedari tadi menatapnya.


" Bisakah lebih sopan kepada suami ?" Tegur Alfian.


Sandra diam saja.


" Sial ! Bukankah mengacuhkan suami itu berdosa ?" Lanjut Alfian.


Sandra tetap sibuk dengan bukunya.


" Kamu mengabaikan ku ?!"


Alfian menggeram kesal. Dia bangkit kemudian menghampiri Sandra.


BRAKK !!!


Alfian memukul meja belajar Sandra .


" Mas apa-apaan ? Jangan ganggu aku belajar." Kata Sandra marah.


" Kenapa semakin ke sini kamu semakin berani ? Sebenarnya apa maumu , HA... !" Teriak Alfian kembali.


Sandra terdiam dan sedikit ketakutan. Kali ini Alfian terlihat emosi sekali sampai kedua matanya melotot dan memerah.


" Akuu..., aku....!"


" Aku apa ?! Sekarang jawab aku ! Aku ini siapa ? Apa perlu aku tegaskan lagi ?! Aku suamimu !! Su a mi mu !! Pantaskah kamu bertingkah seperti ini kepada suamimu ? Apa ini yang di ajarkan oleh orang tua mu ?!" Ucap Alfian kesal.


" Jangan bawa-bawa orang tua mas. Aku, aku yang salah." Ucap Sandra ketakutan.


" Sudah mau mengaku ? Kalau begitu apa kesalanmu ! Beri tahu padaku sekarang !!"


" Jangan bentak-bentak mas." Pinta Sandra.


" Sial ! " Alfian mengumpat sambil berusaha meredakan emosinya.

__ADS_1


" Jelaskan padaku. Apa kesalahanmu !" Ucap Alfian lebih lembut meski terdengar sangat ketus.


" Mmm..., aku ... mmm... sudah berbohong." Jawab Sandra.


" Aku sudah tahu kalau kamu berbohong Sandra !!! Jelaskan lebih detailnya !" Bentak Alfian yang geregetan dengan tingkah istrinya.


" Aku bohong kalau aku dari tempat Nurul. Sebenarnya aku dari rumah sakit." Aku Sandra kemudian.


" Hadap sini ! Tatap wajah ku Sandra !! Untuk apa kamu ke rumah sakit ? Sejak kapan kamu mengenal dokter itu ?" Tanya Alfian sambil memutar kursi yang Sandra duduki menghadap ke dirinya.


" Aku tidak mengenalnya, tadi aku tidak sengaja menabrak mobilnya. Terus mengantarnya ke rumah sakit karena dokter itu terburu-buru. Tiba di rumah sakit dompetnya jatuh. Aku menunggunya selesai operasi dan mengembalikan dompetnya. Lalu aku pulang." Jawab Sandra sejujur jujurnya.


Alfian menatap Sandra dengan lekat. Kedua mata Sandra berkaca-kaca karena takut. Tidak ada tanda-tanda jika Sandra berbohong lagi.


" Hanya itu ? Benar begitu ??" Tanya Alfian belum percaya sepenuhnya.


Sandra mengangguk.


" Lalu kenapa kamu bisa sampai memeluknya ! Aku melihatnya sendiri Sandra !"


" Aku tidak memeluknya... itu tidak seperti yang kamu lihat mas ! Jangan marah-marah terus..., jangan teriak-teriak begitu. Aku tidak suka di bentak. Aku takut..." Tiba-tiba Sandra menangis. Alfian yang melihatnya menjadi merasa bersalah dan tidak tega.


" Diamlah..." Ucap Alfian menenangkan.


Namun Sandra belum bisa berhenti menangis.


Alfian tercengang... Anehnya dia tidak marah, tapi hatinya justru terasa sakit mendengar perkataan Sandra.


" Sebenci itukah kamu kepadaku ?" Batin Alfian. Kedua matanya ikut memanas menahan cairan bening yang berusaha keras dia sembunyikan.


" Lalu apa maumu sekarang ? Berpisah ? Aku tidak bisa melakukannya. Setidaknya jika kamu tidak bisa bertahan karena ku, maka bertahanlah untuk ibumu." Ucap Alfian. Tenggorokannya tercekat, mulutnya terasa begitu sulit di gerakkan. Kemudian pergi meninggalkan Sandra yang kini menelungkupkan kepalanya ke atas meja dan kembali menangis tersedu.


Alfian merokok di teras rumah untuk menghilangkan emosinya.


" Apa yang harus ku lakukan sekarang ? Dia sama sekali tidak menyukaiku. Haruskah aku melepaskannya ? Tapi aku tidak bisa merelakannya. Sial ! Tidak ku sangka aku justru terjatuh di lubang yang ku buat sendiri." Batin Alfian.


" Kalian bertengkar Al ?" Tidak tahu kapan datangnya tiba-tiba Pak Wijaya sudah duduk di kursi sebelahnya.


Alfian diam saja. Namun terlihat jelas jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya yang murung di tambah melamun seorang diri memperlihatkan betapa sedihnya hati pria kaku itu.


" Boleh papa tahu apa yang membuatmu sedih ?" Tanya beliau.


" Siapa yang sedih pa. " Bantah Alfian.


" Al....Al.... kamu mau bohongi papa atau dirimu sendiri ?"


Alfian tidak bisa mengelak lagi. Insting orang tua memang tidak pernah keliru. Dia tahu dan bisa merasakan apa yang di rasakan putra-putrinya.

__ADS_1


" Al cuma sedikit pusing." Ucap Alfian memulai ceritanya.


" Pusing karena memikirkan Sandra ?" Tebak Pak Wijaya.


Alfian menghela nafas panjang.


" Sandra ingin berpisah pa. Dia tidak pernah menyukai Al."


Pak Wijaya diam sejenak.


" Apa yang membuatnya ingin berpisah ? Jika karena tidak menyukaimu, sudah sejak awal kalian tidak saling menyukai. Papa sadar hubungan kalian di mulai karena keterpaksaan. Tapi papa harap seiring berjalannya waktu, cinta itu tumbuh di antara kalian berdua."Tutur beliau sungguh-sungguh.


Alfian menggelengkan kepalanya.


" Cinta itu hadir hanya sepihak pa..." Ucapnya lirih. Dia tidak bisa menutupi perasaannya lagi.


" Kamu menyukainya ?" Tanya Pak Wijaya senang.


" Apa gunanya pa... dia tidak menyukaiku tapi justru sangat membenciku." Alfian memberi tahu ayahnya.


Setelah sekian lama akhirnya momen itu kembali hadir. Momen di mana seorang ayah bisa berbicara dari hati ke hati kepada putranya.


Pak Wijaya tersenyum melihat putranya frustasi.


" Papa senang akhirnya kamu bisa membuka hati untuk perempuan lain. Dan perempuan itu adalah Sandra. Papa tahu Sandra anak yang baik, papa yakin suatu saat dia bisa menjadi istri yang baik juga untukmu." Lanjut beliau.


" Mungkinkah itu terjadi ? Bahkan sekarang aku bingung harus bagaimana. Aku...., aku malu mau mengakui perasaanku padanya sedangkan aku tahu justru hal sebaliknya yang dia rasakan padaku."


" Apa kamu akan menyerah begitu saja ? Jika kamu menyukainya ...., tidak perduli dia suka atau tidak...., kamu harus mengungkapkan padanya. Tunjukkan padanya kasih sayang mu, kepedulian dan juga perhatian padanya. Papa yakin lambat laun Sandra akan menyadari cintamu. Cinta memang tidak bisa di paksakan, maka bersabarlah... Berjuanglah dan jangan menyerah untuk mendapatkan hatinya." Ucap Pak Wijaya panjang lebar.


" Kalau dia tidak juga menyukaiku ?" Tanya Alfian putus asa.


" Maka kamu tidak akan pernah menyesal, karena kamu telah berjuang untuk mendapatkannya." Jawab Pak Wijaya lembut.


" Perempuan itu pada dasarnya makhluk yang lembut. Keadaan dan lingkungan sekitar terkadang membuat mereka keras dan tidak tersentuh. Tinggal usahamu bagaimana caranya kamu meluluhkan kerasnya hati dan egonya."


" Papa bisa memberikan contoh ? "


" Hmmm.... dulu sewaktu almarhumah ibumu masih ada. Ibumu paling suka di perhatikan dan diajak jalan-jalan. Dia akan tersentuh oleh sikap papa yang begitu perhatian. Bisa kamu coba pada Sandra. Cobalah kurangi pekerjaan mu. Luangkan sedikit untuk menghabiskan waktu dengannya. Ajak dia jalan-jalan ke tempat yang dia sukai. Buat dia terkesan dengan dirimu. Jika dia keras dan kamu keras. Maka kalian tidak akan pernah bisa bersatu. Saat dia keras maka kamu yang harus mengalah. Mengalah bukan berarti kamu pengecut tapi mengalah adalah cara terbaik menghindari pertengkaran." Ucap Pak Wijaya menasehati.


Alfian manggut-manggut mendengarnya. Nasehat yang ayahnya berikan ada benarnya juga. Jika Sandra keras kepala dan dia juga keras kepala maka pertengkaran seperti ini terus yang selama ini terjadi.


" Baiklah pa .. Akan ku coba." Balas Alfian.


" Bagus. Papa doakan yang terbaik untuk kalian."


Dari kejauhan Arkha menyunggingkan sedikit senyumnya saat melihat kedekatan kembali di antara kakak dan ayahnya.

__ADS_1


" Sudah lama sekali.. Tidak ku sangka gadis itu bisa membawa perubahan yang lebih baik." Gumam Arkha kemudian masuk ke dalam rumah.


__ADS_2