Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Mencari tahu perasaan Sandra


__ADS_3

Hari-hari selanjutnya terasa lebih menyenangkan bagi Alfian maupun Sandra. Keduanya saling kompak dalam mengurus rumah bersama. Mereka sama-sama saling membantu. Setiap pagi Sandra bangun lebih awal untuk membuat sarapan dan menyiapkan keperluan Alfian. Barulah setelah itu dia beberes rumah dan bersiap ke kampus di antar Alfian.


Alfian sendiri semakin senang dengan perubahan sikap Sandra yang kembali seperti semula. Kini dia bekerja lebih keras dan lebih cepat agar bisa segera pulang ke rumah dan bertemu dengan istrinya.


Setiap ada kesempatan dia juga meluangkan waktu untuk menjemput Sandra di kampus , jika tidak bisa dia akan menyuruh orang kepercayaannya untuk menjemput istrinya.


Tingkah Alfian semakin lama juga semakin mengkhawatirkan. Kadang saat tengah rapat, Alfian sering mencari celah untuk sekedar mengirim pesan kepada Sandra dan tersenyum-senyum sendiri melihat ponsel. Terlihat lebay memang, tapi begitulah cinta, membuat orang yang tengah merasakannya terbuai di dalam dunianya sendiri.


Sedangkan Dias justru merasakan hal yang sebaliknya, dia sering di buat pusing oleh tingkah Alfian yang tengah kasmaran karena pekerjaan menjadi lebih banyak yang di limpahkan kepadanya. Belum lagi topik yang mereka bicarakan saat sedang bersama, selalu Sandra dan Sandra yang Alfian bahas. Dias sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat sekaligus bosnya itu yang kadang-kadang bersikap kembali seperti anak ABG yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Untung hanya dia saja yang menyadari dan mengetahuinya.


" Sandra juga pintar memasak. Semua masakan yang dia buatkan untukku sangat enak." Puji Alfian di depan Dias.


Dias mendengarkannya dengan bosan. Sudah lebih dari sepuluh kali di pagi itu Alfian memuji istrinya. Bukan hanya soal memasak saja, tapi juga wajahnya yang menurut Alfian imut saat sedang tidur, kebiasaan Sandra yang suka berbagi hingga bakat Sandra di bidang seni lukis yang tidak banyak orang ketahui.


" Yayaya.... Aku sudah mendengarnya puluhan kali dalam tiga hari ini Al ! Tolong waras sebentar saja ! " Batin Dias kesal sambil tetap pura-pura mendengarkannya.


" Kenapa kamu seperti tidak suka begitu aku bercerita tentang Sandra ?" Tanya Alfian yang menyadari sikap Dias yang sedikit acuh.


" Ralat , bukan tidak suka Al, tapi bosan ... Sudah puluhan kali kamu menceritakan hal yang sama tentang Sandra. Aku rasa kamu sungguh tergila-gila kepadanya !" Jawab Dias jujur.


" Aku memang tergila-gila pada istriku...." Sahut Alfian sewot.


" Iya...iya... maaf .." Ucap Dias yang merasa lebih baik mengalah. Tidak ada gunanya juga berdebat dengan orang yang tengah kasmaran.


" Apa dia juga sudah mulai menyukaimu ? Atau di sini hanya kamu saja yang menyukainya ?" Tanya Dias kepada sahabatnya itu. Saat ini mereka tengah berdua saja di ruang kerja Alfian sehingga Dias bisa bebas mengobrol dengan Alfian tanpa menggunakan bahasa formal.


Alfian terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah menjadi tidak enak.


" Entahlah.... Aku sendiri belum tahu bagaimana perasaannya kepadaku. Tapi beberapa hari ini hubungan kami jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Kami jarang bertengkar, kami juga sering mengobrol atau menghabiskan waktu untuk menonton film atau televisi bersama. Dan bagiku semua itu sudah cukup. " Balas Alfian.


" Tidak bisa begitu Al. Dalam sebuah hubungan harus ada kejelasan. Jika kamu membiarkan hubungan kalian seperti itu terus, tidak akan pernah ada kemajuan. Menyatakan perasaan itu perlu, agar dia tahu jika kamu menyukainya dan dia bisa menjawab atau membalas perasaanmu juga. Sebuah hubungan harus ada pondasinya, dan itu adalah cinta dari kedua belah pihak. Jika hanya satu belah pihak saja bagaimana bisa hubungan itu akan bertahan ? Aku takutnya akan ada orang lain yang menyatakan cinta terlebih dahulu kepadanya, seperti yang Gilang lakukan dulu. Ku harap kamu tidak akan menyesal lagi." Dias mencoba menasehati Alfian lagi.


" Itu tidak mungkin !" Balas Alfian murka.


" Apanya yang tidak mungkin Al. Setiap perempuan pasti ingin pengakuan. Jika kamu hanya diam saja hanya akan membuatnya bingung dan bertanya-tanya." Dias tetap mencoba memberi pengertian kepada sahabatnya.


" Tapi aku sudah berusaha keras, aku sudah memperlakukannya dengan baik, aku juga sudah perhatian kepadanya. Seharusnya dia bisa merasakan perasaanku padanya." Ucap Alfian keras kepala.


" Kamu pikir Sandra itu cenayang yang bisa tahu tanpa kamu memberi tahunya ? Dia gadis yang sangat polos Al. Dia bisa saja menyalah artikan sikapmu itu sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami saja."


" Lalu aku harus gimana ?" Tanya Alfian kemudian sambil memijat pelipisnya." Benar juga yang dikatakan oleh Dias " Pikir Alfian.


" Nyatakan perasaanmu sebelum terlambat dan cari tahu juga apakah dia mempunyai perasaan yang sama kepada mu." Kata Dias optimis.


" Caranya ?"


" Bukankah setiap hari kamu selalu menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan kepadanya ? Cobalah sehari saja tidak mengirim pesan kepadanya. Kita lihat reaksinya bagaimana." Kata Dias menyarankan sebuah ide.

__ADS_1


Alfian menimbang-nimbang ide itu. Dia juga sangat penasaran apakah Sandra juga mempunyai perasaan kepadanya. Selama ini hanya dia yang mengirim pesan terlebih dahulu kepada Sandra.


" Oke hari ini aku tidak akan mengiriminya pesan terlebih dahulu." Ucap Alfian kemudian.


Hari itu Alfian mencoba lebih fokus bekerja. Sejenak dia harus bisa menyingkirkan pikirannya tentang Sandra meskipun itu sangat sulit dia lakukan. Untung ada Dias yang selalu memperingatkannya, jika semua demi dirinya dan juga Sandra.


Sedangkan di kampus, hari itu Sandra tengah makan siang bersama Salsa dan Intan di kantin. Dia merasa heran kenapa sampai sesiang itu belum ada pesan yang masuk dari Alfian. Biasanya jam segitu Alfian sudah mengirim pesan dan bertanya sedang apa dirinya, sudah makan atau belum, dengan siapa saja dirinya dan pertanyaan lainnya yang menunjukkan kepeduliannya.


" Kok mienya cuma di aduk aja San ?" Tanya Salsa sambil mengunyah kerupuk. Dia sudah selesai menghabiskan satu porsi bakso di depannya.


" Gak tau nih, gak selera makan. " Jawab Sandra sambil menaruh garpu di atas mie goreng pesanannya.


" Emang kenapa ? Lagi berantem sama suami ?" Tanya Intan menebak.


Sandra menggelengkan kepalanya.


" Terus kenapa gak semangat makan ? Tadii....aja ! Lo sendiri yang heboh pingin cepet-cepet makan di kantin. Eh sekarang malah cuma di aduk-aduk " Protes Salsa.


" Lagi kepikiran sesuatu aja." Kata Sandra memberi tahu.


" Kepikiran apa ?" Tanya Salsa lagi.


" Mm.... Sudah jam segini, tapi tumben suamiku kok belum ngirim pesan ya..? Biasanya dia sudah bawel banget di jam-jam segini." Ucap Sandra murung.


" Ya elah San.... Mungkin saja lagi sibuk...?" Kata Intan.


"Mm... gengsi ah...!" Ucap Sandra.


" Hm. Sama suami ngapain pakai gengsi segala. Dari pada kepikiran terus kebanyakan ngelamun kaya lo gini !" Kata Intan lagi.


" Iya San , ngapain pakai gengsi segala. Selain harus jaga penampilan, sekali-kali kita sebagai perempuan juga harus kasih perhatian ke pasangan. Biar gak tergoda sama pelakor !" Imbuh Salsa.


" Tapi......ya deh, coba aku kirim pesan ke dia." Ucap Sandra sambil merogoh ponsel di dalam tasnya.


" Nah ..gitu dong .." Ucap Salsa senang.


" Mas.... sudah makan siang ?" Ketik Sandra namun di hapus lagi. Dia masih bingung harus bertanya bagaimana.


" Mas kenapa gak wa aku ?" Ketik Sandra, tapi lagi-lagi dia menghapus dan mengurungkan niatnya. Dia masih terlihat ragu dan bimbang.


" Kenapa ? Masih gengsi ?" Tanya Intan.


" Hati-hati lho San, jangan sampai pelakor lebih perhatian kepada suami lo. Secara suami lo kan tajir, masih muda, ganteng lagi.Wanita manapun pasti terpesona olehnya." Ucap Intan menasehati.


" Benarkah ? " Batin Sandra. Bayang-bayang Rena kembali hadir di pikirannya. Namun cepat-cepat Sandra segera menepisnya.


" Bodo amat. Mau tergoda dengan siapapun apa peduliku ? Tapi ...Tidak, dia kan suamiku ! Tidak boleh ada yang lebih perhatian kepadanya selain aku. Bahkan dia juga sudah berjanji ingin memulai hidup baru bersamaku. Tapi jika dia beneran tergoda wanita lain gimana ? Diakan bos besar, pasti banyak sekali perempuan cantik yang berpendidikan di sekelilingnya. Ah tidak bisa... Aku tidak rela jika sampai itu terjadi !" Batin Sandra berperang. Akhirnya dia lebih memilih untuk mengirim pesan untuk suaminya terlebih dahulu.

__ADS_1


" Mas sedang apa ?" Ketik Sandra pada akhirnya lalu mengirimkannya sambil memejamkan kedua matanya. Sungguh mengirim pesan untuk suaminya saja harus dengan keberanian empat lima.


Alfian yang baru saja selesai rapat, masuk ke ruang kerjanya bersama Dias. Dirinya langsung tersenyum girang begitu melihat pesan masuk dari Sandra.


" Yes.... Dia mengirimiku pesan ! Dias coba ini lihat, dia menanyakan sedang apa aku sekarang !"Ucap Alfian antusias sambil menunjukkan ponselnya.


" Jangan langsung di balas." Ucap Dias.


" Kenapa ?" Tanya Alfian keheranan.


" Buat dia menunggu dan semakin penasaran." Balas Dias.


" Oke baiklah...." Ucap Alfian lalu menaruh ponselnya di atas meja.


Sedangkan di kantin Sandra terlihat gusar melihat tidak ada balasan dari Alfian.


" Gimana ? Suamimu sudah membalas ? " Tanya Intan.


" Belum di balas." Ucap Sandra mulai khawatir.


" Mungkin lagi makan siang juga San ?" Kata Salsa menenangkan.


" Kalau nggak ditanya lagi aja, sapa tahu kelupaan balas karena sedang sibuk." Imbuh Intan menanggapi lagi.


Sandra mengangguk setuju. Lalu mengetik pesan lagi.


" Mas sudah makan siang ?" Ketik Sandra lalu mengirim pesan itu.


Drt...Drt..


Ponsel Alfian bergetar lagi. Dia kembali melihat siapa yang mengirim pesan.


" Sandra lagi." Ucap Alfian berbinar.


" Aku rasa dia juga mengkhawatirkan ku." Lanjutnya senang.


" Bisa jadi. Senang kan setelah mengetahuinya ?" Tanya Dias yang masih sibuk membereskan beberapa berkas hasil rapat hari itu.


Alfian mengangguk gembira.


" Thanks bro. Semua berkat kamu." Ucap Alfian tulus.


" Sama-sama. Tapi tetap jangan balas dulu. Biarkan saja, buat dia semakin penasaran dan memikirkan mu." Jawab Dias.


" Kau yakin ? Aku kasihan padanya." Ucap Alfian tidak tega.


" Kamu harus sedikit tega jika ingin mengetahui perasaannya dan ingin memilikinya seutuhnya." Timpal Dias mengingatkan.

__ADS_1


" Baiklah. Aku ikuti saran mu." Sahut Alfian meskipun sebenarnya tidak rela karena mengabaikan pesan pertama dari Sandra.


__ADS_2