Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Makan malam


__ADS_3

Alfian masuk ke dalam rumah , meninggalkan Sandra yang masih terbengong dan ragu di depan pintu. Untung saja saat itu ada Neta yang melihatnya dari dalam rumah.


" Kak Sandra... , sini masuk ." Neta terlihat bahagia menghampiri Sandra.


" Kakak sudah lama ? Mana kak Alfian ?" Tanya Neta sambil celingukan.


" Sudah masuk." Jawab Sandra malu-malu.


Neta menggelengkan kepalanya . Tidak habis pikir dengan sikap kakaknya.


" Jangan di ambil hati ya kak. Ayo masuk, papa sudah menunggu kita semua. Hari ini papa ingin kita makan malam bersama." Ungkap Neta menjelaskan. Dia tau dari raut muka Sandra yang terlihat bingung. Pasti kakaknya itu belum memberi tahu kenapa Sandra di ajak ke sini.


" Ohh , em baik. " Timpal Sandra ragu-ragu.


Setelah masuk ke dalam. Pak Wijaya menyambutnya di ruang tamu. Sandra tak henti-hentinya menatap takjub isi rumah itu. Jauh dan sangat tidak patut dibandingkan sama sekali dengan rumahnya. Semuanya menunjukkan betapa kayanya mereka. Pantas saja Alfian berpikir yang tidak-tidak tentang keluarganya dan sangat membenci Sandra.


Dalam pikiran Alfian pasti perempuan cantik,dari keluarga terpandang dan berpendidikan tinggi yang pantas menjadi pendamping hidupnya yang sempurna. Bukan malah terjebak dalam perjodohan orang tua mereka dengan seorang gadis biasa yang jauh dari kriterianya. Seketika Sandra langsung tidak percaya diri.Merasa tidak pantas akan menjadi bagian dari keluarga Wijaya.


" Sandra , kita langsung makan malam saja ya." Ajak Pak Wijaya.


" Baik Pak. " Jawab Sandra.


" Jangan sungkan-sungkan, sebentar lagi kamu akan jadi bagian keluarga ini. Anggap seperti rumah sendiri." Tutur beliau.


Sandra hanya diam saja , bingung mau menjawab apa.


Neta menggandengnya masuk ke ruang makan menyusul papanya. Lagi-lagi Sandra di buat melongo dengan semua hidangan yang sudah tertata rapi di meja makan. Berbagai macam hidangan lezat dari makanan ringan hingga berat lengkap dengan sayur,buah dan hidangan pencuci mulut tersedia di meja panjang itu . Baru kali ini Sandra melihat hidangan selengkap dan sebanyak itu.


" Kakak ayo duduk. " Ajak Neta yang melihat Sandra terbengong lagi.


" Eh iya .. " Sandra terlihat sangat kikuk sekali.


" Panggilkan kakak-kakak mu nak. " Perintah Pak Wijaya pada Neta.


" Baik pa. "


Neta segera pergi dan naik tangga. Itu berarti kamar mereka ada di lantai atas . Tebak Sandra dalam hati.


Krucuk .... krucuk ...krucuk


Terdengar suara perut Sandra berbunyi lagi.


" Aduh ini perut, seneng banget bikin aku malu. " Batin Sandra yang tertunduk.


Pak Wijaya hanya tersenyum melihatnya. Ternyata calon menantunya itu sudah sangat lapar.


Tak lama kemudian Alfian, Arkha dan Neta sudah datang bersama.


Neta duduk di samping meja dekat kakaknya Arkha. Mau tidak mau Alfian duduk di samping Sandra di sisi meja yang satunya.


" Kalau begitu , mari kita mulai makannya. Papa sudah sangat lapar " Kata Pak Wijaya.

__ADS_1


Sandra yang duduk paling dekat dengan Pak Wijaya segera sigap mengambilkan nasi ke piring Pak Wijaya. Hal yang tidak pernah di lakukan anak-anaknya.


" Pak Wijaya ingin lauk apa ? " Tanya Sandra.


" Maaf Pak, sudah kebiasaan saya ketika di rumah melayani bapak dan ibu dulu yang lebih tua dari saya." Lanjut Sandra yang tidak enak karena semua orang memandangnya.


Pak Wijaya tersenyum kemudian.


" Gak apa nak, sudah lama sekali tidak ada yang melayani bapak seperti ini, bapak justru senang. Tolong ambilkan ayam goreng dan sayur sup itu. " Pinta Pak Wijaya.


Sandra segera meraih ayam goreng yang ada di depan Alfian. Alfian melengos saat Sandra mengambilnya.


" Selain licik juga pintar mencari muka ! " Batin Alfian kesal.


Setelah melayani Pak Wijaya semua mulai mengambil makanan di piring mereka masing-masing.


Sandra mengambil nasi secukupnya. Dia bingung ingin pakai lauk apa hingga akhirnya ingin mengambil ayam goreng juga. Saat hendak mengambil, tangannya tidak sengaja menyentuh tangan Alfian yang juga ingin mengambil ayam goreng. Segera Sandra menarik kembali tangannya saat Alfian memelototi dirinya.


" Maaf." Ucap Sandra lirih.


Alfian mengurungkan niatnya mengambil ayam goreng dan mengambil tumis cumi di sebelahnya.


Sandra merasa tidak enak saat mengambil ayam goreng kembali.


Pak Wijaya dan yang lain tengah sibuk makan dan mengambil lauk kesukaan masing-masing sehingga tidak memperhatikan mereka berdua.


Setelah itu mereka melanjutkan makan malam kembali. Di selingi obrolan ringan seputar pekerjaan Sandra dan sekolah Neta. Tentu saja hanya Alfian yang diam tidak ikut mengobrol seperti yang lain. Sedangkan Sandra dan Neta terlihat langsung akrab karena memang mereka terlihat seumuran hanya selisih dua tahun saja. Ternyata banyak hal sama yang mereka sukai.


" Kak , besok sering-sering kesini ya . Kita jalan-jalan bareng kalau kakak tidak sibuk." Ajak Neta di sela-sela makan.


Akhirnya makan malam selesai. Saat ini mereka semua di suruh menunggu papa di ruang keluarga.


Sandra terlihat asik mengobrol dengan Neta. Alfian menatapnya dengan sengit. Sedangkan Arkha hanya diam saja memperhatikan tingkah mereka. Sesekali ikut tersenyum jika ada hal yang lucu. Menurut Arkha Sandra tak seburuk yang dia bayangkan. Sederhana , apa adanya dan masih polos jauh dari kata matre yang sempat dia pikirkan.


Pak Wijaya masuk dan duduk dekat Alfian.


" Langsung saja. Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian. Terlebih Alfian dan Sandra." Kata beliau.


"Begini , Papa sudah membuat surat undangan pernikahan kalian. Mengingat acaranya tinggal satu bulanan, papa berencana membuat acara pesta yang meriah karena Alfian adalah anak pertama papa. Akan banyak kolega , kerabat dan teman-teman penting yang diundang. Maksud papa sekarang, papa ingin Sandra membuat daftar siapa saja orang yang akan di undang dari keluarga Sandra. Kamu bebas ingin mengundang siapa saja di hari pernikahan mu. Karena Bu Lastri hanya mengundang sedikit kerabat . Dia ingin kamu yang menambah sisanya. Kamu boleh mengundang teman-teman kerjamu juga." Jelas Pak Wijaya.


" Ehm gak usah Pak, saya mengikuti ibu saja. Kalau memang hanya sedikit yang ibu undang saya sama sekali tidak keberatan." Ucap Sandra. Dia terlihat gugup karena takut jika Pak Wijaya menyuruh teman-teman kerjanya di undang. Jika sampai mengundang mereka, itu berarti semua temannya akan tau hubungan dirinya dengan Alfian.


" Kalau itu mau mu papa bisa apa. Dan kamu Al, kamu juga boleh mengundang teman-teman kamu karena ini hari bahagia kamu."


" Terserah papa saja." Al berkomentar.


" Baik kalau begitu jadi semua undangan sudah deal, selanjutnya baju pengantin kalian. Besok kalian datang ke butik yang sudah papa pesan. Kalian bisa mencoba dan menentukan baju pengantin kalian." Lanjut Pak Wijaya.


" Neta ikut gak pa. Neta kan juga mau nyobain gaun Neta. "


" Semua ikut , Bu Lastri besok juga sudah ada yang menjemput. Kita bertemu di butik setelah jam makan siang. " Ungkap Pak Wilayah.

__ADS_1


Sandra tersenyum sumringah. Dia senang besok akan bertemu dengan ibunya.


" Kalau masalah baju pengantin sudah beres. Kamu ajak Sandra untuk membeli cincin pernikahan kalian. Biarkan Sandra memilih sendiri cincin yang dia inginkan. " Kata Pak Wijaya melanjutkan.


" Tidak perlu pa, papa saja yang mengurusnya. Dia tidak akan keberatan . Alfian serahkan semuanya sama papa." Tolak Alfian.


" Tidak, tidak , tidak. Cincin pernikahan kan kalian yang akan pakai . Itu simbol pernikahan dan cinta kalian . Harus kamu sendiri yang membelikannya untuk Sandra. Selain itu papa setuju , serahkan semuanya sama papa." Tegas Pak Wijaya.


Alfian cemberut mendengarnya. Sedangkan Sandra bingung juga mau bilang apa. Jika anaknya saja ditolak permintaannya .Apa lagi jika dirinya yang meminta. Lebih baik mengikuti saja. Pikir Sandra.


" Sudah malam , aku antar dia pulang dulu." Kata Alfian.


Pak Wijaya melihat jam tangannya. Benar saja tidak terasa sudah hampir jam sepuluh malam .


" Ya sudah kamu antar Sandra pulang. " Ucap pak Wijaya.


" Kakak , jangan lupa , sering-sering kesini. " Ujar Neta mengingatkan.


" Iya, kalau begitu saya pamit pulang dulu ." Balas Sandra.


Lalu dia mencium tangan Pak Wijaya dan menyalami Neta dan Arkha. Alfian memutar kedua bola matanya dengan malas . Muak dengan apa yang di lakukan Sandra. Menurutnya Sandra ingin sekali mencari muka kepada keluarganya.


Alfian dan Sandra sudah di tengah perjalanan pulang ke kosan Sandra saat ini.


" Aku muak sekali melihat mu." Kata Alfian tiba-tiba.


" Kamu pandai sekali mencari muka. " Lanjutnya.


" Kamu pikir jika keluarga ku bisa menerima mu aku juga akan menerima mu ? Saat ini kamu pasti tengah berbunga-bunga mendengar kata papa tadi. " Alfian terus menghina Sandra.


" Maaf Tuan , aku tidak mengerti apa maksud anda." Ujar Sandra berusaha menahan emosinya agar tidak terpancing dengan perkataan Alfian.


" Jangan pura-pura bodoh di depan ku. Gadis miskin kaya kamu pasti bahagia bisa menikah dengan ku. Tapi kamu lihat saja nanti. Kehidupan seperti apa yang akan menunggumu. Orang seperti kamu dan ibumu hanya akan merepotkan hidupku seperti benalu ! "


" Stop Tuan, jangan bicara lagi ! " Teriak Sandra, sia-sia saja dia mencoba menahan emosinya.


" Kamu boleh menghinaku semau mu, tapi jangan pernah menghina dan membawa-bawa ibuku. Jangan pernah berbicara yang tidak baik tentang ibuku. Aku tidak tau kehidupan apa yang akan kamu siapkan untuk ku. Tapi aku tidak takut. Apapun yang akan terjadi semua akan aku lakukan demi bapak dan ibuku. Jika tuan tidak suka dan tidak mau menikah dengan ku masih belum terlambat untuk membatalkan semuanya. Asal kamu tau , aku juga tidak suka akan menikah dengan mu. Sekaya dan sesempurna apapun dirimu tidak ada satu hal pun yang membuat ku ingin menjadi istrimu. Aku akan sangat senang dan berterima kasih jika kamu bisa membatalkan pernikahan ini . Aku sama sekali tidak menginginkannya. ! " Teriak Sandra semakin keras.


" Kau !! " Balas Al kehabisan kata-kata.


" Apa , mau hina aku lagi ? Silahkan . Aku tidak perduli sedikit pun !" Tantang Sandra.


Al menghentikan mobil nya .


" Kamu menantang ku ? Berani sekali kamu, apa kamu tau kamu berhadapan dengan siapa hah ! " Bentak Alfian.


" Turun... cepat turun dari mobilku. Sana pulang sendiri ! "


Setelah berkata seperti itu, Alfian turun dari mobil dan memaksa Sandra turun dari mobil.


" Lepas ! " Sandra menghempaskan tangan Alfian yang menariknya keluar dengan kasar .

__ADS_1


" Aku tidak takut pulang sendiri ! " Balas Sandra.


Alfian tidak perduli dengan ucapan Sandra. Dia segera kembali masuk ke mobil dan benar-benar meninggalkan Sandra sendirian di pinggir jalan.


__ADS_2