
Sandra dan dokter itu sampai di rumah sakit. Karena terburu-buru dokter itu tidak sadar jika dompetnya terjatuh.
" Terimakasih. Saya duluan ! " Pamit dokter itu setelah sampai.
" Dok.... dompet anda ! " Teriak Sandra yang melihat dompet dokter itu terjatuh dari saku jasnya. Mungkin karena berlari dengan cepat dokter itu tidak menyadarinya.
Sandra mengambil dompet itu.
"Dokter Astaguna Tian Fadillah. Jadi itu namanya ? " Gumam Sandra yang membaca kartu identitasnya.
" Aku harus mengembalikannya. Tapi aku mencari di mana ? Rumah sakit ini besar sekali. Aku coba saja lah ..." Batin Sandra.
Sandra bertanya kepada petugas yang berjaga di loket pendaftaran pengunjung. Dari informasi yang dia dapat, Dokter Tian adalah seorang dokter kandungan dan sekarang sedang melakukan operasi caesar. Sandra memutuskan untuk menunggunya hingga selesai bertugas. Dia sudah memberi tahu kepada petugas yang ada untuk menyampaikan maksudnya.
Sandra kembali ke tempat parkir dahulu. Di sepanjang perjalanan, dia melihat banyak sekali pengunjung yang menunggu di luar. Ada yang sampai tertidur di lobi rumah sakit. Ada yang duduk di bawah pohon, ada yang mengobrol di depan ruang tunggu dan ada juga yang mondar-mandir kebingungan. Setelah di parkiran Sandra mengambil semua barang bawaannya tadi. Kemudian dia membagikannya kepada orang yang menurutnya kurang beruntung. Benar saja, mereka menerimanya dengan senang hati. Kemudian Sandra mengobrol dengan mereka. Banyak dari mereka yang bercerita dan berkeluh kesah. Ada beberapa dari mereka yang berasal dari jauh, karena di rujuk ke rumah sakit itu mereka harus berhemat untuk biaya ongkos dan makan. Ada juga yang bilang sudah lama menunggui anak atau orang tuanya sehingga kehilangan mata pencaharian karena tidak bisa bekerja atau cuti terlalu lama.
Sandra mendengarkan cerita mereka dengan serius. Dia bisa merasakan betapa sulitnya keadaan mereka saat ini. Bersyukur sekali tadi dia bisa sampai ke rumah sakit itu dan berbagai sedikit rejeki kepada mereka.
Tanpa terasa dua jam lebih sudah berlalu. Dokter Tian muncul mencarinya.
" Sore..." Sapa Dokter Tian.
" Sore dok." Balas Sandra kemudian.
Dokter itu tersenyum ramah. Mereka kemudian mengobrol di ruang tunggu pengunjung yang lebih sepi.
" Ini dompet dokter. " Sandra menyerahkan dompet yang tadi dia temukan.
" Terimakasih. Maaf merepotkan, tadi saya terburu-buru." Jelas dokter Tian.
" Gak merepotkan kok dok. Oya, dokter cek dulu dompetnya." Ujar Sandra.
" Tidak perlu, saya percaya sama kamu."
" Mmm ... mobilnya..... sekali lagi saya minta maaf. Tadi saya tidak sengaja menabraknya. Barang bawaan saya terlalu banyak. Saat hendak membetulkan posisinya eh malah oleng dan menabrak mobil dokter. Saya yang kurang hati-hati." Sandra menjelaskan kronologisnya.
" Tidak masalah, kebetulan saya punya teman seorang montir bengkel jadi mobilnya sudah di bengkel sekarang." Balas Dokter Tian memberi tahu.
" Itu ... biayanya kira-kira berapa ? Saya yang akan membayar tagihannya. " Tanya Sandra. Dalam hati dia berdoa semoga tidak mahal biayanya. Uang enam juta yang di berikan Alfian minggu ini sudah habis. Dan dia tidak enak jika harus memakai kartu kredit lagi. Kalau dia bertanya untuk apa , pasti dia akan marah kalau tahu dia sangat ceroboh dan tidak berhati-hati.
" Tidak usah kamu pikirkan. Anggap saja kita impas..., itung-itung sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah mengantarkan saya ke sini dan juga untuk dompet ini." Balas dokter itu mengacungkan dompetnya.
" Dokter tidak perlu begitu. Saya sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab." Tolak Sandra. Dia tidak ingin begitu. Dia salah dan harus menanggung resikonya. Lagi pula dia iklhas dan tidak ingin imbalan apapun dari dokter itu.
" Iya saya tahu kamu orang yang bertanggung jawab. Tapi saya tidak memerlukannya.Oya barang-barang kamu tadi ....kamu berikan kepada orang-orang tadi ?" Tanya Dokter Tian mengalihkan pembicaraan.
" Mmm...." Sandra mengangguk ragu. Sebenarnya dia tidak ingin ada yang tahu tapi mau gimana lagi, sudah ketahuan.
Dokter Tian tersenyum.
" Jarang sekali ada anak muda yang peduli dengan orang sekitar. Kamu masih sekolah ? " Tanya dokter itu lagi.
" Iya.. Saya kuliah di Universitas Nusantara." Jawab Sandra.
" Oya .. Saya alumni dari kampus itu. Ambil jurusan apa ? "
Kemudian mengalirlah obrolan di antara mereka. Sandra cepat sekali terlihat akrab. Dokter Tian ternyata juga sangat ramah dan murah senyum.
" Wah, sudah sore ... Saya pamit pulang dulu dok." Kata Sandra yang lupa waktu.
" Oke. Hati-hati di jalan, sekali lagi terimakasih. " Ucap dokter tersebut. Setelah berbasa-basi sebentar Sandra lalu meninggalkan rumah sakit itu.
Sandra sampai di rumah setelah maghrib. Ternyata Alfian menunggunya di teras rumah. Suaminya itu ternyata sudah kembali pulang. Dari jauh raut mukanya sudah terlihat tidak enak. Sandra menghela nafas panjang.
" Apa lagi sekarang ? " Batin Sandra.
__ADS_1
" Baru pulang ?" Tanya Alfian dingin.
" Iya." Jawab Sandra singkat.
" Dari mana ?" Tanya Alfian lagi.
" Ada apa dengannya ? Kenapa sekarang dia lebih bawel dari ibuk ? Untuk apa dia peduli dengan urusan ku ??" Sandra bertanya-tanya dalam hati.
" Dari kosan Nurul." Jawab Sandra berbohong. Biasanya Alfian tidak akan banyak komentar jika tahu dirinya dari tempat Nurul.
Alfian menautkan kedua alisnya. Kedua tangannya terkepal erat.
" Berani sekali dia berbohong padaku ?" Batin Alfian marah.
" Oya.....? " Tanya Alfian kemudian.
" Mas tidak percaya? " Sandra balik bertanya.
" Iya . " Balas Alfian dingin.
" Terserah mas saja..." Ucap Sandra kemudian masuk ke dalam rumah.
" Tunggu ! " Panggil Alfian.
" Ada apa mas ? Aku capek mau mandi terus istirahat."
" Kamu gak ngerasa bersalah ?"
" Maksudnya ?"
" Ohh... jadi kamu tetap tidak ingin mengaku ?!"
" Mas ngomong apa sih ?" Tanya Sandra bersikeras.
" Ada apa Al ? Kenapa membentak Sandra ?" Tanya Pak Wijaya yang muncul di belakang mereka.
" Ada apa San ? Kenapa baru pulang ?" Tanya Pak Wijaya beralih ke Sandra.
" Tidak ada apa-apa pa. Sandra yang salah, pulang terlambat tanpa mengabari Mas Al terlebih dahulu. Makanya mas marah." Ucap Sandra berbohong.
Alfian semakin muak mendengarnya. Lagi-lagi Sandra berkilah dan tidak mau mengakui kesalahannya.
" Ooo begitu. Alfian benar nak. Sebagai seorang istri kamu wajib memberi tahu atau meminta izin suami dulu sebelum pergi atau melakukan sesuatu. Lain kali jangan di ulangi lagi." Pak Wijaya menasehati menantunya itu.
" Baik pa.."
" Sandra memang bersalah Al, tapi kamu tidak boleh membentaknya seperti itu. Bicarakan dengan baik-baik jika ada masalah." Pak Wijaya kini beralih menasehati Alfian.
" Papa tidak tahu saja bagaimana dia !" Bantah Alfian.
Pak Wijaya menggelengkan kepalanya. Begitulah anak muda, merasa paling benar dan tidak mau mengalah.
"Ayo ..!!" Lanjut Alfian kemudian menarik lengan Sandra pergi dari sana.
" Kak....ada apa ?" Tanya Neta saat mereka melewatinya.
Alfian diam saja tidak menanggapi sedangkan Sandra berontak ingin melepaskan diri.
" Mas lepas. Sakit mas ... jangan kencang-kencang nariknya. Mas..." Ucap Sandra memohon.
Alfian terus menyeret Sandra hingga masuk ke dalam kamar. Alfian lalu mengunci pintu.
" Mas kenapa sih kerjanya marah terus ?" Tanya Sandra yang meringis kesakitan.
" Kamu tidak tahu aku marah karena apa ?!" Tanya Alfian tidak sabar.
__ADS_1
Sandra menggeleng tidak tahu. Menurutnya Alfian memang selalu marah-marah tanpa alasan yang jelas.
" Kamu dari mana ?" Tanya Alfian mengulangi pertanyaannya.
" Kan aku sudah jawab mas, aku dari tempat Nurul."
" Masih tidak mengaku ? Oke, sini ponsel kamu. Kita telpon Nurul sekarang !" Perintah Alfian.
" Enggak.... Ngapain telpon dia ? Kenapa mas tidak percaya ?"
" Karena kamu berbohong Sandra !! Bukankah kamu dari rumah sakit ?" Teriak Alfian yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.
" Apa ?!! Bagaimana dia bisa tahu ? Dia tidak melihatnya kan ? Atau dia menyuruh orang untuk mengawasi ku ?" Batin Sandra yang melotot tidak percaya.
" Dari mana mas tahu. Mas nyuruh orang buat ngawasin aku ?" Tanya Sandra tidak suka.
" Tidak penting aku tahu dari mana. Yang pasti kamu berbohong padaku !"
" Itu penting mas ! Aku tidak suka di awasi. Aku tidak suka di ikuti. Aku ingin punya privasi sendiri."
" Untuk apa ? Agar tidak ketahuan selingkuh ?"
" Siapa yang selingkuh mas ! Yang namanya privasi itu pribadi. Aku juga ingin punya kebebasan. Jangan kekang aku seperti itu." Ucap Sandra tidak bisa terima.
" Tidak selingkuh ? Dasar gadis murahan ! Kemarin Gilang sekarang dokter gadungan ! Namanya Tian kan ?!
Plakk !
Sandra menampar Alfian dengan keras. Dia tidak terima dengan kata yang baru saja Alfian ucapkan untuknya.
" Kalau aku murahan, sudah dari kemarin aku kembali menerima Mas Gilang. Kalau pun iya aku murahan, apa urusannya dengan mu ? Terserah aku mau punya hubungan dengan siapapun ! Kamu urus saja kekasihmu yang telah kembali ! Aku akan pulang malam ini juga. Biar kamu bebas menikah dengannya !" Ucap Sandra gemetar saking emosinya.
" Pergi saja kalau bisa. " Kata Alfian menyeringai. Dia tidak akan membiarkan Sandra pergi begitu saja.
" Berikan kunci pintunya." Pinta Sandra.
" Ambil jika mau." Alfian kemudian mengantongi kunci itu di saku depan celananya.
" Ambilin ...."
" Ambil sendiri."
" Aku tidak sedang bercanda !"
" Kamu pikir aku bercanda ?"
" Tidak lucu. Cepat berikan kepadaku !"
Alfian tidak menggubris permintaan Sandra. Dia kemudian berjalan dengan santai dan merebahkan dirinya di ranjang.
Sandra mengikutinya kesal.
" Mas pikir aku tidak berani mengambilnya ? Akan aku ambil jika itu maumu !"
Sandra mendekati Alfian kemudian merogoh kantong celana yang berisi kunci pintu. Tapi Alfian tidak membiarkan Sandra lepas dengan mudah. Begitu tangan Sandra masuk ke saku celananya dia menariknya sehingga Sandra jatuh tepat di atas tubuhnya. Sandra berusaha berontak. Namun Alfian segera berbalik dan mengunci Sandra di bawah tubuhnya.
" Apa aku harus melakukannya sekarang ?" Batin Alfian sambil mengamati Sandra yang berusaha berkelit.
" Mas lepas ! " Teriak Sandra berontak.
" Jika aku tidak mau ? Kamu harus menerima hukuman mu !" Kata Alfian. Kemudian dia kembali berpikir.
" Tidak, aku tidak bisa memaksanya jika dia juga tidak menginginkannya." Lanjut Alfian berperang dalam hati.
Alfian kemudian hanya mencium Sandra dengan paksa. Sandra yang tidak suka Alfian berbuat sesukanya berusaha menggigit bibir Alfian seperti yang pernah dia lakukan dulu. Tapi Alfian lebih pintar dari Sandra sehingga Sandra kesulitan untuk melakukannya. Belum puas Alfian melakukannya tiba-tiba ponselnya berdering. Alfian bangkit kemudian memeriksa ponselnya.
__ADS_1
" Ck ! Mengganggu saja ! " Gumam Alfian jengkel.
"Ingat.... Jika kamu berani berbohong lagi. Aku tidak hanya akan menciummu ! " Ancam Alfian sebelum pergi. Kemudian dia melangkah ke balkon dan menerima telepon di sana.