
Sesuai rencana, Nurul di jemput oleh Arkha setelah makan malam bersama Sandra dan Alfian.
" Aku pamit dulu ya San, Tuan Al... Terimakasih untuk makan malamnya." Pamit Nurul.
Alfian hanya mengangguk singkat kepada Nurul. Setelah lumayan lama mengenal Alfian, kini Nurul sudah terbiasa dan paham tentang watak suami sahabatnya itu dan tak lagi berpikir jika Alfian begitu dingin atau acuh.
" Iya, thanks ya seharian sudah nemenin aku. Arkha beneran nih gak mau mampir dulu...?" Tanya Sandra.
" Iya sama-sama. Kayaknya nggak deh San, dia udah ada di depan sekarang... Katanya lain kali saja, takut kemalaman." Jawab Nurul.
" Oke deh, gak baik juga kalau kamu pulang terlalu malam ke kost. Nanti di tanya-tanya lagi sama mang Ujang ..Hehe.."Canda Sandra.
" Itu tahu....Ya udah bye..." Ulang Nurul setelah cipika-cipiki terlebih dahulu.
" Bye ... Hati-hati...." Sandra melepaskan sahabatnya lalu mengantarnya sampai ke depan.
" Yah, sepi lagi deh..." Ujar Sandra setelah mengantar kepergian Nurul.
Sandra kembali ke dapur dan membereskan sisa-sisa makan malam mereka.
" Aku bantu ya ?" Tawar Alfian kepada istrinya.
" Gak usah mas .. Mas kalau ada pekerjaan di lanjut aja. Setelah ini aku juga mau menyelesaikan desain punya ku kembali. Lagian ini cuma sedikit kok." Kata Sandra memberi tahu.
" Sayang, jangan capek-capek.. Kamu udah janji lho... Sejak tadi pagi kamu belum istirahat. Bikin desainnya besok lagi saja. Setelah selesai itu langsung istirahat." Alfian mengingatkan Sandra.
" Tapi mas, tanggung lho..."
" Gak ada tapi-tapian ya ... Atau...." Ancam Alfian.
" Iya-iya deh ... Aku istirahat setelah ini." Potong Sandra dengan cepat. Dia takut jika Alfian berubah pikiran lagi.
Setelah selesai Sandra pergi ke ruang tengah dan menyaksikan acara televisi sambil membawa cemilan dan minuman dingin. Sesekali terlihat Sandra tersenyum atau cekikikan sendiri.
" Kelihatannya asik banget...Lagi nonton apa sih ?" Tanya Alfian yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
" Acara komedi mas." Jawab Sandra sambil sekilas menoleh kepada suaminya lalu kembali fokus melihat televisi.
__ADS_1
Alfian kemudian duduk di samping Sandra dan ikut memakan cemilan yang tengah Sandra pegang.
" Mas mau ? Aku ambilkan lagi ya ?" Sandra menawari suaminya karena kebetulan cemilan yang dia pegang tinggal sedikit.
" Boleh, sama teh anget ya ?" Pinta Alfian.
Sandra mengangguk kemudian dengan sigap pergi ke dapur untuk menyiapkan apa yang di minta oleh suaminya.
Beberapa menit kemudian Sandra kembali duduk di samping Alfian lalu meletakkan teh hangat dan juga cemilan ke atas meja.
" Terimakasih..." Ucap Alfian sambil tersenyum.
" Di minum dulu, mumpung masih anget.."
Tanpa menunggu lama, Alfian kemudian menyeruput teh hangat buatan Sandra. Alfian suka sekali teh buatan Sandra. Tidak terlalu manis tapi juga tidak terasa hambar. Benar-benar pas untuk dirinya yang tidak begitu menyukai makanan dan minuman yang manis-manis.
" Tadi di butik gimana ?" Tanya Alfian kemudian.
" Seneng banget mas... Semua sesuai dengan keinginan aku. Makasih banyak ya mas ?" Kata Sandra antusias.
" Iya, aku turut senang kalau begitu."
" Mau ngomongin apa ?" Tanya Alfian sambil tersenyum menatap layar televisi.
" Ini hal serius maasss.... "Rengek Sandra agar Alfian memperhatikannya.
" Oya..." Balas Alfian kemudian berbalik menghadap ke arah Sandra agar bisa fokus dengan apa yang ingin Sandra bicarakan.
" Ini soal biaya yang mas keluarkan untuk butik. Aku ingin di hitung saja sebagai pinjaman." Ucap Sandra pelan-pelan. Dia takut suaminya marah karena salah paham.
" Kok gitu ? Aku gak setuju lah... Ada-ada saja, masa sama suami pakai pinjam segala. Gak ada ceritanya..Kan udah jadi kewajiban ku menuruti dan memenuhi semua dan segala kebutuhan mu."
Omel Alfian seperti tebakan Sandra.
" Iih ,, mas sabar dulu napa... Aku tahu kok mas. Tapi untuk yang satu ini aku ingin benar-benar mandiri mas. Aku ingin membangun butik itu dengan usaha ku sendiri. Anggap saja, mas yang meminjam kan aku modal. Nanti setelah butik ada pemasukan, aku akan mulai mencicil modal yang mas berikan." Tutur Sandra.
" Sandra... "
__ADS_1
" Please mas.... Bagaimana aku bisa maju jika mas selalu ngebantu aku. Aku hanya butuh support dan doa saat ini. Apa yang mas berikan dan lakukan untuk ku sudah terlalu banyak dan besar.. Aku tidak mau terus-terusan merepotkan mas. Lagian,, biar aku tahu cara membangun usaha yang benar-benar dari nol mas. Jika aku tinggal enaknya saja,, sama saja bukan aku yang bikin usaha itu mas, tapi hanya sekedar menjalankan saja." Sanggah Sandra dengan raut wajah yang serius.
Sejenak Alfian menatap wajah istrinya dengan kesal. Namun setelah dia cerna kata-kata dari istrinya itu , akhirnya dia memilih mengalah. Apalagi jika sudah bertekad, Sandra bisa berubah menjadi gadis yang sangat keras kepala. Jadi apapun yang dia katakan takutnya hanya akan membuat keributan di antara mereka berdua.
" Oke, tapi ada yang perlu di ralat. Di sini kamu gak pernah sama sekali merepotkan aku, dan aku sama sekali tidak pernah merasa di repot kan oleh mu." Kata Alfian sungguh-sungguh.
" Iya, maaf mas..." Ucap Sandra mengaku bersalah. Mungkin kata-katanya ada menyinggung suaminya.
" Kalau begitu,aku minta rincian biaya semuanya ya mas ?" Tanya Sandra lagi.
" Iya... Nanti aku kasih... Tapi jangan kaget ya ? Dan jangan terlalu di pikirkan juga. Aku sebenarnya tidak mau kamu mengganti sepeserpun. Tapi karena kamu bertekad ingin menggantinya ya terserah." Imbuh Alfian yang kurang srek.
" Tapi maaf ya mas... Aku gantinya nyicil... "
" Iyalah gak apa-apa... Namanya juga baru bikin usaha. Jangan pikirkan bagaimana caranya agar untung dan bisa ganti uang modal dulu. Kamu harus fokus dulu untuk pemasaran agar apa yang kamu jual bisa di terima di pasaran. Asalkan berusaha sungguh-sungguh dan terus konsisten, aku yakin kamu pasti bisa. Jangankan cuma balik modal. Jika kamu berhasil, keuntungan di dunia fashion lumayan menguntungkan. Yang penting kamu harus selalu semangat dan jangan pantang menyerah." Kata Alfian panjang lebar.
Sandra mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
" Makasih banyak ya mas... Makasih banget udah mau ngizinin dan ngedukung aku. Aku janji aku gak bakal ngecewain kamu mas. Makasih atas support, saran, dan bantuannya... Aku gak nyangka, setelah kepergian bapak dan ibu... Aku pikir aku sudah tidak ingin punya mimpi lagi. Untuk siapa aku berjuang jika orang yang ingin aku bahagiakan sudah tiada. Tapi kini, aku mulai berani bermimpi lagi. Dan itu semua karena kamu mas...." Ucap Sandra dengan mata mengembun.
" Sttt... Jangan bicara seperti itu.... Raihlah mimpimu setinggi langit meski bapak ibu sudah tiada. Aku yakin mereka pun menginginkan hal yang sama dengan ku, dan mereka juga akan bahagia jika melihat mu sukses. Jangan khawatirkan apapun, akan ada aku yang selalu mendukung mu, menuntun mu dan mengajarkan kan kepada mu agar semua mimpi-mimpi mu itu bisa tercapai. " Kata Alfian lalu memeluk Sandra dalam dekapannya.
Sandra tak kuasa lagi membendung air matanya. Dia sangat terharu dan sangat bahagia mendengar perkataan suaminya. Sandra tidak menyangka jika Alfian yang dulu dia anggap sebagai penghancur mimpi dan juga cita-citanya karena harus menikah dengannya, kini justru dialah yang memberinya begitu banyak dukungan,baik moril maupun materi untuk mewujudkan mimpinya.
" Terimakasih Ya Allah... Telah Kau hadirkan laki-laki sepertinya untuk diriku. Terimakasih bapak, karena jodoh yang bapak pilihkan untukku adalah orang yang tepat. " Batin Sandra di sela-sela tangisnya.
" Sudah berhenti menangis. Sudah malam, kita istirahat di kamar ya ? Besok kita harus bangun pagi." Ajak Alfian meraih wajah Sandra dan menghapus semua jejak air mata di pipinya.
Sandra mengangguk setuju, lalu mematikan televisi terlebih dahulu menggunakan remote di atas meja.
Kemudian tanpa ada aba-aba sedikit pun, Alfian membopongnya masuk ke dalam kamar.
" Aaa... Mas bikin kaget aja !" Protes Sandra yang kaget sambil mengalungkan tangannya di leher Alfian agar tidak terjatuh.
Sayangnya, aksi protesnya itu hanya di tanggapi dengan tawa jahil dari suaminya.
Malam itu, Sandra dan Alfian tidur sambil berpelukan.
__ADS_1
Untuk ke sekian kalinya, keduanya merasakan kedamaian dan kenyamanan bersama.