Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Menjenguk Fahri


__ADS_3

Pagi itu, Sandra dan keluarga Bibi Nani sudah bersiap ke kota sebelah untuk menjenguk cucu Bibi Nani. Tidak ketinggalan, Nurul juga ikut dalam kesempatan itu. Sejak pagi tadi, Nurul dan Sandra sudah asik mengobrol, saling bertukar kabar dan bercerita. Nurul terlihat sangat lega karena akhirnya Alfian dan Sandra sudah menyelesaikan masalah mereka. Tak lupa, Nurul juga sangat berterima kasih karena Sandra dan Alfian sudah membantu keluarganya.


Perjalanan pun dimulai... Alfian dan Sandra duduk di kursi depan. Sedangkan Nurul ,Bibi Nani dan Paman Joni duduk di kursi penumpang di belakang. Perjalanan mereka di penuhi dengan banyak canda dan tawa. Tidak terlihat kecanggungan samasekali di antara mereka. Bibi Nani sangat mensyukuri hal itu. Kelak ke depannya dia selalu berdoa semoga hubungan mereka selalu terjalin dengan baik seperti saat ini.


Kurang lebih empat jam di dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kota tujuan. Mereka langsung turun di rumah sakit karena kebetulan rumah Dean juga kosong karena mereka semua juga menunggui putra mereka di rumah sakit.


" Ibu..." Peluk Dean setelah mereka sampai.


Dean dan suaminya menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Sandra,Nurul dan Alfian sibuk menaruh oleh-oleh yang mereka bawa terlebih dahulu.


" Kenapa kalian repot-repot ?" Kalian sudah ke sini saja aku sangat gembira." Ucap Dean.


" Kami gak repot-repot kok kak." Timpal Sandra yang di balas anggukan oleh Nurul dan Alfian.


" Oya, bagaimana keadaan Fahri ?" Tanya Sandra.


" Sudah lebih baik, meskipun masih sering rewel. Dia minta pulang terus sebetulnya." Ucap Dean menjelaskan.


Sandra kemudian mendekat kepada Fahri. Anak laki-laki berusia tiga tahun itu menatapnya dengan tatapan bingung dan takut.


" Hei Fahri, apa kabar ?" Tanya Sandra menyapa anak itu.


" Baik." Jawab Fahri singkat.


Anak itu masih terlihat sangat menjaga jarak karena ada orang asing yang tiba-tiba saja datang dan menyapanya. Sandra memang belum pernah bertemu dengan Fahri sebelumnya. Waktu pernikahannya dulu,. Fahri masih sangat kecil dan Dean tidak mengajak serta Fahri. Mungkin alasan yang sebenarnya karena faktor kesehatan Fahri, meskipun waktu itu Dean hanya bilang jika Fahri belum terbiasa di ajak bepergian jauh.


" Mm, ini aunty Sandra dek... Salim dulu." Kata Dean memperkenalkan Sandra kepada putranya.


" Dan yang ini , Om Alfian namanya, suaminya aunty Sandra." Imbuh Dean memberi tahu.


Fahri mengangguk kemudian tersenyum.


" Fahri , aunty punya hadiah buat kamu." Kata Sandra kemudian mengambil kado yang tadi sudah dia persiapkan.


" Hadiah ? Tapi Pahli tydak ulang taun onti." Balas Fahri dengan lucunya.


" Aunty tahu, tapi hadiah ini aunty berikan karena Fahri sudah jadi anak yang hebat dan kuat." Lanjut Sandra kemudian menyerahkan kado berwarna biru kepada Fahri.


" Inih apa onti ?" Tanya Fahri penasaran.


" Aunty bantu bukain ya ?" Tawar Sandra .


Fahri mengangguk, kemudian dengan di bantu oleh Sandra keduanya membuka kado itu bersama-sama.


" Waooo, tilex...,, tilex. Lihat mommy, Onti ini kasih Pahli tilex." Ucap Fahri kegirangan setelah tahu jika kado itu berisi sebuah boneka karet berbentuk tyrannosaurus- rex.


Semua yang melihat ikut tersenyum melihat bocah berusia tiga tahun itu sangat gembira menerima hadiahnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Fahri suka ?" Tanya Sandra.


" Cuka onti... Pahli suka dengan dinocaulus. Pahli cuka sama tilex." Ucap Fahri yang belum bisa berbicara dengan jelas khas anak-anak.


" Kalau begitu, adek harus bilang apa sama aunty ?" Tanya Dean kepada putranya.


" Maacih onti." Ucap Fahri dengan lucunya.


Fahri kemudian sibuk memainkan mainan barunya. Semua yang menatapnya sangat terharu. Bagaimana tidak, Fahri yang terlihat lucu dan menggemaskan, sama sekali tidak terlihat seperti anak yang sedang sakit. Padahal sebentar lagi akan menjalani operasi besar yang sangat beresiko.


Setelah puas melihat kondisi Fahri. Sandra dan Alfian duduk di sofa ruang tamu yang ada di kamar itu. Alfian memang meminta ruangan VVIP khusus untuk buah hati Dean dan suaminya.


" Terimakasih banyak tuan, nyonya.. Saya dan istri saya tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian." Kata Farhan suami Dean.


" Jangan sungkan, tidak perlu berterima kasih seperti itu. Kalian adalah orang-orang penting bagi istri saya. Untuk itu,semua ini sudah sewajarnya saya lakukan." Ucap Alfian.


Dean menatap Sandra dengan haru. Dia tidak menyangka Sandra sekarang telah menjadi seorang istri dari anak atasannya dulu. Dia ikut bahagia dengan apa yang terjadi kepadanya, karena Dean juga tahu, sepahit apa kehidupan yang Sandra lalui dulu.


" Makasih ya San. Bahkan suami kamu juga banyak membantu di perusahan suamiku." Balas Dean sungguh-sungguh.


" Tidak masalah kak. Kalian sudah Sandra anggap sebagai keluarga Sandra sendiri. Selama ini baik kakak, paman , bibi maupun Nurul sudah berperan penting dalam hidup Sandra. Sandra yang harus banyak berterima kasih karena paman bibi terus merawat Sandra dan memperlakukan Sandra sama seperti memperlakukan kakak dan Nurul." Balas Sandra menggenggam tangan Dean.


Keduanya kemudian berpelukan untuk saling menguatkan.


" Kakak yang sabar, yang kuat dan terus bersemangat,supaya Fahri juga ikut bersemangat. Aku akan selalu berdoa untuk kesembuhan Fahri." Lanjut Sandra.


Bibi Nani hanya bisa terisak haru melihat kesedihan di mata Dean yang tidak bisa di sembunyikan, meski dirinya selalu tersenyum di hadapan mereka semua.


" Kalian berdua juga jangan lupa jaga diri baik-baik. Utamakan kesehatan kalian." Imbuh Bibi Nani setelah menghapus air matanya.


" Iya Bu, kami akan selalu ingat dengan nasehat ibu dan kalian semua." Timpal Farhan.


Paman Joni menepuk pundak menantunya untuk memberikan dukungannya.


Kemudian, mereka semua melanjutkan mengobrol. Kebetulan Fahri sudah tidur setelah asik bermain dengan mainan barunya. Alfian dan Farhan terlibat obrolan serius tentang masalah pekerjaan. Sedangkan Paman Joni yang tidak pandai berbisnis hanya menyimaknya sambil sesekali ikut mengangguk mendengar masalah yang tengah menantunya hadapi.


Sedangkan para perempuan sibuk bergosip dan bercanda. Kapan lagi mereka bisa berkumpul seperti itu.


" Udah iso belum San ?" Tanya Dean penasaran. Apalagi kan usia pernikahan Sandra sudah lumayan lama.


" Belom kak,asih usaha ." Jawab Sandra.


" Oh, gak masalah... Kamu masih muda... Nikmati saja dulu masa-masa berdua dengan suami kamu. Nanti kalau sudah ada buntut, susah mau quality time bareng suami." Kata Dean memberi tahu.


" Iya sih kak. Tapi doain Sandra ya, semoga segera dapat momongan." Tukas Sandra.


" Aamiin....Iya sayangku....Semoga apapun yang kamu inginkan bisa terwujud tidak lama lagi." Balas Dean menanggapi.

__ADS_1


" Kalau kamu kapan nyusul Rul ?" Lanjut Dean yang kali ini bertanya kepada adik semata wayangnya.


" Aku gak buru-buru kok kak.au selesaikan kuliah dulu." Ucap Nurul.


" Tapi kalau pacaran sudah ada kan ? Jangan bilang masih jadi jomblo abadi." Ledek Dean.


" Kalau pacar Alhamdulillah sudah ada kak." Jawab Sandra sambil cengar-cengir.


Melihat wajahnya, Nurul komat-kamit memohon kepada Sandra agar tidak memberi tahu Dean tentang pacarnya.


" Oya ? Jadi, kamu mengenalnya ?" Tanya Dean yang kini menjadi penasaran.


" Tentu saja. Tak hanya sekedar kenal. Bahkan aku sangat dekat dengan pacarnya Nurul."


" Sttt, Sandra diem deh..." Cegah Nurul langsung.


" Kenapa nyuruh Sandra diem... Kakak kan cuma ingin tahu aja , siapa kekasih dari adik kakak ini." Potong Dean.


" Belum waktunya kakak tahu, nanti kalau sudah tepat waktunya... Aku bakal cerita dan kenalin ke kakak kok." Ucap Nurul.


" Jika sekarang aja bisa ngapain nunggu-nunggu nanti. Sandra emang siapa sih cowoknya ? Bikin penasaran aja !" Paksa Dean.


Nurul melotot ke arah Sandra dan berharap agar Sandra tidak membocorkan semuanya.


" Mm, Maaf ya kak Dean.. Aku rasa orang yang paling tepat memberi tahu adalah Nurul." Ucap Sandra akhirnya.


Dean menghela nafas dengan malas. Nurul dan Sandra memang dari dulu terkenal saling melindungi satu sama lain. Makanya banyak orang yang salah kaprah menganggap jika Sandra dan Nurul adalah adik kakak kandung. Bukan malah Dean dan Nurul yang jarang sekali terlihat bersama saat berada di luar rumah. Tapi maklum saja, sejak kecil Deandra yang akrab di sapa Dean itu adalah tipe cewek yang tomboy sehingga Dean seringnya bermain di luar rumah bersama teman-temannya yang kebanyakan adalah lelaki.


" Hm, ya sudah deh.." Timpal Dean sedikit kecewa.


" Tapi jangan macem-macem ya, kalau emang maunya nunggu lulus !" Imbuhnya.


" Siap kak. Aku gak bakal macem-macem kok." Jawab Nurul senang karena kakaknya tidak memaksa untuk di beri tahu, karena Nurul merasa belum saatnya mengenalkan Arkha kepada kakak apalagi kepada ayah dan ibunya.


Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Alfian,Sandra, Bibi Nani dan keluarganya pamit pulang kepada Dean dan suaminya. Mereka menitipkan salam untuk kedua mertua Dean. Sayang sekali mereka tidak bisa bertemu di rumah sakit karena mertua Dean kebetulan juga tinggal di kota yang berbeda, dan baru besok rencananya mereka akan datang menjenguk Fahri. Kalau saja waktunya longgar, ingin sekali mereka mampir sekalian. Tapi sayangnya Nurul besok sudah harus balik kuliah,, apalagi nanti setelah sampai di kampung, Nurul masih harus langsung pulang ke tempat kost. Sandra juga berpikiran sama, dirinya sudah beberapa kali izin karena sakit. Jadi kemungkinan besok atau lusa dia juga harus segera berangkat kuliah. Untung saja Dean dan Farhan bisa memahami mereka. Akhirnya mereka langsung pulang tanpa mampir terlebih dahulu ke tempat mertua Dean.


" Besok jika ada kesempatan lagi, aku pasti akan main ke sana kak." Kata Sandra.


" Beneran ya ? Kakak tagih lho kalau bohong."


" Iya, In Syaa Allah kak." Balas Sandra lagi.


" Ayo sayang..." Ucap Alfian kemudian menggandeng jari-jemari Sandra lalu melangkah pergi dari sana.


Sandra tersenyum senang diperlakukan manis begitu oleh Alfian. Bahkan Paman dan Bibi Nani juga ikut tersenyum melihatnya.


" Iya deh yang lagi bucin. Mesraa terus... Dunia mah serasa milik berdua.. !" Ejek Nurul yang dibalas dengan tatapan tajam dari Alfian yang membuatnya langsung terdiam tak berkutik.

__ADS_1


Sandra terkekeh melihat sahabatnya masih tetap saja takut dengan suaminya. Tapi memang Sandra akui. Terkadang sorot mata Alfian saja sudah bisa membuatnya takut juga.


__ADS_2