Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Reisa Memanfaatkan Keadaan


__ADS_3

Tanpa terasa hari semakin sore. Rintik hujan membuat Sandra tersadar dari lamunannya. Sudah begitu lama dia duduk di sana, karena hari sudah mulai gelap. Dengan tergopoh-gopoh Sandra berlari mencari tempat untuk berteduh. Dan di sinilah Sandra sekarang. Dia berdiri sambil memeluk kedua lengannya di sebuah emperan toko kecil. Sandra menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari tahu dimanakah dia sekarang.


" Sial, aku gak hafal tempat ini lagi. " Umpat Sandra dengan kesal. Untung saja suara hujan membuat umpatan dari mulutnya itu tidak terdengar oleh orang lain.


Krucuk Krucukk Krucukkk


Sandra menoleh ke bawah pada perutnya yang tiba-tiba protes . Dia baru ingat jika dia belum makan. Makanan yang tadi dia minta belikan ada di dalam mobil bersama suaminya.


Sandra segera mendekati warung di samping toko tempat dia berteduh dan membeli beberapa buah roti dan air mineral.


Karena sangat lapar, Sandra segera melahap roti selai itu dan melupakan rasa dingin yang sejak tadi dia rasakan.


Sedangkan Reisa, setelah pulang dari mengunjungi putrinya di penjara, dirinya bergegas pulang dengan taksi online yang sudah dia pesan. Saat melewati sebuah gang, dia melihat jika istri Alfian tengah duduk sendirian sambil mengunyah sesuatu di emperan toko kecil.


" Kenapa gadis itu di sana ? Itu beneran istrinya Al kan ?" Tanya Reisa pada dirinya sendiri.


" Pak berhenti sebentar. " Pinta Ibunya Rena ingin memastikan.


" Benar, itu memang istrinya Al. Wah kesempatan yang bagus nih, sepertinya dia sedang sendirian. Waktunya aku mencuci otak gadis kampungan itu mumpung ada kesempatan. " Gumam Ibu Rena sambil tersenyum mengamati Sandra.


" Turun di sini saja pak. Ini ongkosnya." Kata Reisa sambil menyerahkan uang seratus ribuan.


Reisa berlari kecil menyusul Sandra yang sedang menyuapkan sisa roti ke mulutnya. Kedua tangannya memegang tas ke atas kepalanya agar tidak terkena air hujan.


" Nak Sandra ?" Sapa Reisa ramah.


" Eh ibunya Kak Rena .." Jawab Sandra sopan.


" Nak Sandra ngapain di sini sendirian ?" Tanya Bu Reisa pura-pura perhatian.

__ADS_1


" Oh, tadi sedang jalan-jalan di taman sana bu, tapi tiba-tiba hujan ,jadi numpang berteduh di sini." Jelas Sandra.


" Wah, jalan-jalan ya... Suami kamu mana ? Kok sendirian." Tanya Bu Reisa penasaran. "Sepertinya mereka sedang tidak baik-baik saja." Tebak Bu Reisa dalam hati.


" Mmm, mas Al sibuk bu, tadi bilangnya mau lembur.. Ada pekerjaan mendadak yang harus segera di selesaikan." Sahut Sandra sedikit gugup. Tidak biasanya dia berbohong, apalagi kepada orang tua.


" Bagus, dari wajahnya yang terlihat gugup, aku semakin yakin jika gadis ini tengah berbohong untuk menutupi sesuatu.Ku harap setelah kepergian ku tadi mereka berdua bertengkar hebat. Hahaha..." Batin Bu Reisa senang.


" Oh gitu, ibu maklum sih nak. Suamimu itu orang sibuk, sudah pasti tidak punya banyak waktu. Tapi dulu ketika dia masih menjadi kekasih Rena anakku, sesibuk apapun dirinya... Dia pasti akan meluangkan waktu jika Rena memintanya. Cinta Al begitu besar untuk Rena waktu itu. Aah,, maaf ya nak, ibuk jadi melantur ke masa lalu.." Ucap Bu Reisa sengaja memancing Sandra.


Sandra sedikit mengernyitkan dahi karena tiba-tiba Ibu Reisa membahas masa lalu suaminya. Tapi sedetik kemudian Sandra tersenyum memaklumi karena mungkin yang di katakan ibu Reisa benar adanya. Lagi pula itukan hanya masa lalu.


" Gak apa-apa Bu. Oya ibu sendiri dari mana ? " Tanya Sandra mengalihkan pembicaraan.


Tiba-tiba Bu Reisa memasang wajah sedih mendengar Sandra bertanya seperti itu.


" Ibu habis jenguk Rena nak." Ucapnya memasang wajah yang mengiba.


" Ibu sedih sekali nak, sekarang hanya Rena satu-satunya harapan ibu untuk bisa membangkitkan lagi usaha keluarga kami. Tapi kenyataannya dia harus berada di balik jeruji besi. Ibu tahu dia salah, tapi dia sudah bersimpuh kepada ibu dan mengakui semua kesalahannya. Dia sudah minta maaf dan sadar atas apa yang dia perbuat jika itu tidak baik. Tapi percuma saja... Sekarang semua orang, semua teman, kerabat dan bahkan saudara justru menjauhi dan mengucilkan keluarga kami. Bahkan Alfian yang ibu pikir masih punya rasa belas kasih sudah menolak mentah-mentah memberikan bantuan kepada kami. Ibu bingung harus bagaimana lagi, harus kepada siapa ibu meminta tolong sedangkan papanya sekarang pergi entah kemana tanpa kabar. Mungkin papanya begitu malu dengan kejadian ini sehingga memilih pergi meninggalkan kami yang sedang membutuhkannya.Huhuhu...." Bu Reisa terlihat lancar sekali bersandiwara.


" Tenang Bu, jangan terlalu bersedih. Mintalah pertolongan kepada Tuhan. Saya percaya jika Tuhan tidak akan pernah menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambaNya itu sendiri. Saya berharap setelah kejadian ini Kak Rena bisa menjadi pribadi yang lebih baik." Ucap Sandra tulus.


" Terimakasih nak.... Beruntung sekali Alfian mempunyai seorang istri yang baik seperti mu."


" Ciiih, baik dari mananya.... Dasar gadis kampung sok bijak. Lihat saja nanti... Tunggu saja kehancuranmu. Mudah saja bagimu berbicara seperti itu !!" Imbuh Bu Reisa dalam hati sambil pura-pura menghapus air matanya.


" Nak Sandra... Maaf jika ibu terkesan mendesak... Tapi sudahkah nak Sandra bujuk Al supaya mau membantu Rena ?" Tanya Bu Reisa memasang wajah memelas.


" Mm, maaf ya Bu.. Sebenarnya tadi saya sudah berusaha.. Tapi mas Al masih bersikeras tetap tidak mau membantu. Sekali lagi saya minta maaf." Kata Sandra yang sebenarnya merasa tidak enak.

__ADS_1


" Baiklah nak, tidak apa-apa. Padahal ibu sangat berharap sekali. Tapi tak apa, mungkin sudah sebenci itu Al kepada kami. Ibu bisa memakluminya." Balas Bu Reisa. Kali ini raut kecewa terlihat jelas di wajah perempuan setengah baya itu.


" Padahal dulu sebelum dia bekerja dan belum sukses, keluarga ibu begitu senang hati menerimanya apa adanya. Rena juga sangat pengertian dan menyayanginya sepenuh hati. Bahkan ibu sudah menganggap Al seperti anak sendiri." Lanjut Bu Reisa mencari simpati.


" Maaf ya Bu.. Tapi coba nanti saya usahakan lagi." Kata Sandra lagi-lagi mencoba menenangkan ibu Rena meski sedikit banyak pikiran Sandra menjadi terganggu karenanya.


" Ah, anakku yang malang.... Huhuhuhu..."


Sandra yang bingung harus bagaimana, hanya bisa mengelus punggung ibu Reisa untuk menenangkannya. Dia tidak tahu jika sebenarnya, perempuan itu hanya berakting untuk mendapatkan simpatinya.


Setelah memastikan ibunya Rena pulang hingga masuk ke dalam taksi. Sandra juga segera memesan taksi online untuk pulang ke apartemen. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia takut Alfian cemas memikirkannya. Biar bagaimanapun, dia tidak boleh seenaknya sendiri, karena Alfian tetaplah suaminya yang harus dia hormati. Semua nasehat mendiang almarhum dan almarhumah bapak ibunya akan selalu dia ingat baik-baik.


" Bapak, ibu... Sandra merindukan kalian..." Batin Sandra didalam taksi yang membawanya pulang.


Sandra membuka pintu apartemen sendiri. Dia tidak ingin mengganggu Alfian.


Setelah masuk, betapa terkejutnya Sandra... Karena ruang tamu kini berubah menjadi ruang makan. Alfian tersenyum menyambutnya dan telah menyiapkan makan malam yang spesial.


Entah di mana nasi Padang dan ayam bakar yang tadi dia pesan. Yang ada kini berbagai menu makanan lezat tersaji di meja makan yang kini di lapisi dengan kain putih, di hias dengan vas bunga mawar merah di tengahnya dan tak lupa lilin-lilin yang menyala indah di sekitarnya.


" Maaf...." Satu kata itu yang keluar dari mulut suaminya terlebih dahulu.


Sandra justru menjadi merasa bersalah sekarang. Tak seharusnya tadi mengabaikan suaminya dan pergi begitu saja setelah keluar dari mobil. Seharusnya saat ini suaminya sudah makan dan istirahat setelah lelah bekerja. Ini justru dia menyiapkan kejutan manis untuk menyambutnya. Sungguh, Sandra merasa sangat terharu dan bahagia. Kini dia sadar, jika Alfian juga tidak sepenuhnya bersalah.


Tanpa aba-aba, Sandra berlari dan memeluk suaminya dengan erat. Alfian pun menyambutnya dengan senang hati. Dia membalas pelukan istrinya sambil menciumi pucuk kepala Sandra dengan sayang.


" Maafkan aku, kau benar... Aku begitu egois. Tidak seharusnya aku terlalu mengekangmu. Aku janji, apapun yang kau inginkan pasti akan aku kabulkan. Termasuk yang kau inginkan tadi." Bisik Alfian.


Sandra tak kuasa lagi menahan air mata bahagianya. Dia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami.

__ADS_1


" Terimakasih ya mas, maafkan aku juga. Aku begitu emosi tadi. Tidak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Maaf..." Ucap Sandra juga meminta maaf.


Keduanya akhirnya tersenyum bersama. Malam ini mereka dinner romantis bersama dan di lanjutkan dengan malam panas seperti biasanya.


__ADS_2