Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Perkara Cupang !


__ADS_3

Sandra bangun lebih pagi dari biasanya. Hatinya sangat senang karena sebentar lagi akan pulang ke rumahnya. Dia sudah sangat merindukan ibu dan tempat dimana dia tumbuh dan di besarkan. Berbeda dengan Sandra yang bangun lebih awal, Alfian masih tertidur pulas. Sandra memakluminya karena dia tahu betul jika Alfian kurang tidur.


Sandra selesai mandi dan berganti pakaian. Namun saat bercermin di depan kaca, dia terkejut karena lehernya terdapat bintik-bintik kemerahan yang agak besar.


" Aaa.... ini apaan ? " Tanya Sandra kesal sambil menggosok noda-noda tersebut. Lalu dia mengingat kembali apa yang telah Alfian lakukan semalam.


" Aaa.... dasar nyamuk berkepala besar ! " Omel Sandra setelah ingat jika Alfian lah yang membuat noda kemerahan itu di lehernya.


" Ada apa ? Kenapa pagi-pagi sudah berisik ?" Tanya Alfian yang terbangun karena mendengar omelan Sandra.


" Ini apa mas.... Kenapa gak bisa ilang ?" Tanya Sandra dengan polosnya. Dia memperlihatkannya kepada Alfian.


Alfian justru tersenyum puas melihatnya.


" Kok malah senyum-senyum sih mas ? Ini apaan ? Kok gak ilang. Sampai perih aku gosok-gosok." Kata Sandra mengulang.


" Itu tanda kepemilikan. Biarkan saja, dua tiga hari juga hilang dengan sendirinya." Jawab Alfian santai.


" Apa ?? Tiga hari ?? Jangan bercanda dong .... Trus ini aku tutupin pakai apa ?" Tanya Sandra khawatir.


" Ngapain ditutupin. Itulah gunanya tanda kepemilikan, biar orang-orang tahu jika kamu sudah ada yang punya." Jawab Alfian dengan entengnya.


" Ya gak bisa gitu mas.... Aku kan malu. " Sandra berdecih kesal lalu mengambil bedak di atas meja. Sandra memakai bedak itu untuk mencoba menutupi tanda kepemilikan seperti yang Alfian bilang.


Alfian terkekeh melihatnya kemudian melangkah ke kamar mandi. Terdengar siul bahagia dari dalam kamar mandi, tidak sinkron dengan Sandra yang justru terlihat panik.


" Aaa... kenapa jadi tebal belang-belang begini ?" Keluh Sandra yang kemudian mengambil tissue basah lalu menghapus bedak yang baru saja dia gunakan.


Sandra memutar otak kembali. Lalu dia mengambil slayer dan syal dari dalam laci pakaian. Dia mencoba menutupi tanda merah itu dengan syal.


" Ini terlalu mencolok." Gumamnya lalu ganti mencoba slayer.


" Iniii.... ahh kenapa jadi terlihat aneh ? Tapi.... dari pada kelihatan, slayer ini lebih mendingan." Ucap Sandra mematut-matutkan slayer itu dengan kemeja kotak-kotak yang dia kenakan.


" Kau yakin mau keluar dengan pakaian seperti itu ?" Tanya Alfian yang sudah selesai mandi. Aroma cool dari tubuh pria itu membuat indera penciuman Sandra lebih segar, apa lagi dengan roti sobek yang hanya tertutup separo dengan handuk, membuat pikiran Sandra traveling.


" Ck... kenapa malah ngelamun ?" Tanya Alfian sambil melipat kedua tangannya kedepan.


" Ehh.... siapa yang melamun ?" Sandra yang tidak konek malah justru balik bertanya. Alfian menyentil kening Sandra lagi.


" Auuuch... sakit mas !" Teriak Sandra kesal.


" Tidak melamun tapi tidak fokus. Ya sudahlah terserah kamu mau pakai baju apa." Ucap Alfian lalu meninggal Sandra ke ruang ganti.


Alfian dan Sandra turun dari kamar bersama. Alfian menggeret satu buah koper kecil berisi perlengkapan mereka selama menginap di di rumah Ibu Lastri.


" Kalian sudah mau berangkat ?" Tanya Pak Wijaya.


" Iya pa..." Jawab Sandra.


" Ayo sarapan bersama dulu kalau begitu." Ajak mertua Sandra .


Pak Wijaya sekeluarga sarapan bersama di tambah dengan kehadiran Dias , lengkap sudah keluarga itu.

__ADS_1


" Kak Sandra.... kok ada yang aneh ?" Tanya Neta di sela-sela makan.


" Apa ?" Tanya Sandra yang terlihat gugup dan malu. Dia takut ketahuan oleh semua orang yang ada di sana.


" Itu apa kak ? Kok pakai slayer segala. Kaya koboy aja... Kan cuaca gak dingin juga." Kata Neta yang baru menyadari keanehan dari penampilan kakak iparnya.


" Ohh...ini, ini....." Sandra bingung mau menjawab apa.


Arkha yang suka iseng lalu berdiri dan menarik slayer itu dari leher Sandra.


" Arkha !" Teriak Sandra.


" Hehehe.... sudah gak jaman kali San ditutupin pakai beginian." Arkha menertawakan kekonyolan Sandra.


Semua orang yang ada lalu menatap apa yang Sandra tutupi dengan slayer itu.


" Uhuk uhuk..." Dias tersedak melihatnya. Bukan karena tanda merah itu, tapi dia terkejut dengan Alfian yang langsung bergerak lebih cepat dari dugaannya.


Alfian melirik Dias sambil menarik turunkan kedua alisnya. Senyum kemenangan dia pamerkan kepada sahabatnya itu.


" Ya ampun kak... leher kakak kenapa ? Kakak sakit ? Kenapa banyak yang merah-merah begitu ?" Tanya Neta yang belum paham.


" Ngg... nggak, gapapa kok, ini ..... aduh...ini susah jelasinnya." Kata Sandra sambil menutupi lehernya dengan tangan kanannya. Malu sekali rasanya. Bahkan dia merasa jika bukan hanya lehernya saja yang kemerahan tapi juga seluruh wajahnya karena menahan malu.


" Itu digigit nyamuk Neta.... Nyamuknya nyamuk kebun yang gedhe-gedhe." Sahut Arkha terkekeh.


" Nyamuk ? Gimana bisa di rumah kita ada nyamuk. Kan bibi selalu menyemprotkan cairan obat khusus mengusir nyamuk setiap pagi dan sore." Ucap Neta dengan polosnya.


" Enak aja.... ! Kamu nyamain aku sama nyamuk ?! Dasar bocah tengil !" Ucap Alfian sinis. Dia tidak terima disamakan dengan nyamuk oleh adiknya itu.


" Aduuh , kenapa jadi gini sih.... Perkara ****** doang !" Batin Dias kesal.


Sandra menunduk karena malu. Semua gara-gara Alfian.


" Pa.... Sandra pamit dulu. " Kata Sandra kemudian. Dia sudah tidak tahan lagi di sana. Dia berlari sambil menyeret kopernya. Terdengar suara Alfian memanggilnya namun dia tidak memperdulikannya.


" Aaa.... lupa kunci mobilnya lagi. Kan Mas Al yang bawa kuncinya ! " Keluh Sandra setelah sampai di garasi mobil.


" Kok ninggalin." Kata Alfian yang ternyata menyusul di belakangnya.


Sandra tidak perduli. Dia mengacuhkannya suaminya lagi karena masih kesal.


" Sini kopernya." Pinta Alfian. Sandra menyerahkannya begitu saja.


Setelah selesai menyimpan koper ke bagasi, Alfian membukakan pintu mobil untuk Sandra terlebih dahulu. Barulah dia berputar dan duduk di belakang kemudi.


Alfian menyalakan mobilnya lalu mulai melajukannya pelan-pelan.


" Kamu marah ?" Tanya Alfian setelah beberapa saat.


Sandra diam saja.


" Hedeeh.... Selalu begini ! Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah, dikit-dikit diemin orang." Batin Alfian.

__ADS_1


" Maaf soal tadi. " Kata Alfian mengalah. Dia tidak mau sepanjang perjalanan di cuekin oleh istrinya.


" Lain kali jangan begitu. Aku malu banget sama mereka semua." Balas Sandra ketus.


" Kan aku juga gak sengaja sayang.... Kan khilaf. "Ucap Alfian cengengesan.


Sandra cemberut mendengarnya.


" Udah dong, jangan cemberut gitu. Kita kan mau ke rumah ibuk... Jadi harus happy." Alfian terus membujuk Sandra agar tidak ngambek lagi.


" Aah , ribet ya ... begitu saja jadi masalah besar. Dulu Rena malah tak pernah ambil pusing saat hal seperti itu terjadi padanya. Huh, dasar anak kecil." Lanjut Alfian dalam hati.


" Janji deh, lain kali aku bikin di tempat yang tidak bisa orang lain lihat." Kata Alfian melanjutkan karena Sandra tetap mendiamkannya.


Sandra melotot mendengarnya. Bukanya berhenti ngambek dia justru semakin kesal pada suaminya itu.


Plaak ! Sandra menepuk pundak Alfian dengan keras . Karena dia sambil mengemudi jadi Alfian tidak bisa mengelaknya.


" Gak ada lain kali !" Ucap Sandra ketus.


" Aaah sakit sayang.... Mana mungkin gak ada lain kali. Kamu kan istri ku !" Balas Alfian sambil meringis kesakitan.


" Iiih .. " Ucap Sandra yang kesal karena kalah telak.


Alfian tersenyum gembira. Tidak ada bantahan dari Sandra , itu artinya sedikit demi sedikit gadis itu mulai menerimanya sebagai suami.


" Lakuin aja sama Rena." Ucap Sandra mendengus.


" Lhoh kok Rena... ? Kan istriku kamu bukan dia."


" Tapi dia kekasihmu kan ?"


" Jangan konyol Sandra. Dulu kami memang pernah menjalin hubungan, tapi itu dulu." Bantah Alfian.


" Tapi kamu masih menyukainya kan ? Lalu buat apa dia masih sering ke kantor mu kalau sudah tidak ada hubungan lagi ? Main peluk-pelukan lagi. " Sandra mengeluarkan semua unek-uneknya beberapa hari ini.


Alfian terkekeh mendengar perkataan Sandra. Bukannya marah dia malah semakin gembira.


" Kamu salah paham, aku tidak balikan sama dia. Sudahlah, jangan bahas Rena. Aku tidak ingin membicarakannya."


Sandra tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Alfian.


" Kenapa tidak ingin membahas Rena ? Untuk melindunginya ?" Cecar Sandra.


" Kamu cemburu ?" Tanya Alfian.


" Siapa juga yang cemburu." Balas Sandra sewot.


" Ya sudah kalau tidak cemburu ngapain bahas dia. Gak ada urusannya dengan mu !" Kata Alfian, dia kecewa mendengarnya. Dari tadi dia sudah berusaha bersabar menghadapi sikap Sandra yang emosi.


" Tentu saja ada urusannya dengan ku mas. Kalau kalian masih punya hubungan aku siap mengalah. Aku tidak ingin menjadi penghalang di antara kalian." Jelas Sandra.


" Kamu ingin berpisah lagi ? Sudah ku katakan aku tidak akan pernah melepaskan mu. Aku tidak pernah main-main dengan janjiku kepada Tuhan. Itu hanya alasan mu saja agar bisa pergi dari sisiku kan ?" Alfian tak bisa membendung lagi emosinya.

__ADS_1


" Itu karena Mas masih punya hubungan sama Rena !" Bela Sandra.


" Halah... banyak alasan !" Alfian pun tak mau mengalah.


__ADS_2