Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Bertemu Dengan Dokter Tian Lagi !


__ADS_3

Sekitar pukul dua siang, Sandra selesai kuliah hari itu. Namun dia enggan untuk memberi kabar ke Alfian. Sandra masih ingin menikmati udara di luar.


" Makan yuk di kantin. " Ajak Sandra kepada Salsa dan Intan.


" Pingin siih, tapi gue gak bisa San... Harus langsung kerja." Ucap Intan.


" Duh, gue juga gak bisa San.... Adek gue masih belum pulih benar sejak kecelakaan waktu itu. Jadi gue harus bantuin jaga dia. " Salsa juga ikutan menolak ajakan Sandra.


" Yah... ya udah deh, aku sendiri aja." Timpal Sandra sedikit kecewa.


" Sorry ya San.." Ucap Intan dan Salsa hampir bersamaan.


" Iya... Aku ngerti kok." Balas Sandra yang memahami keadaan kedua temannya.


" Emang kamu belum mau pulang ?" Tanya Intan.


" Belum. Aku males pulang..." Jawab Sandra.


" Emang kenapa ?" Sahut Salsa.


" Mm.. Males aja, di rumah juga mau ngapain ? Sekarang aku tinggal berdua saja di apartemen suamiku." Ucap Sandra memberi tahu.


" Waahh , enak ya San jadi elo. Punya suami muda, tampan tajir lagi. Tinggalnya aja pasti di apartemen mewah." Kata Intan yang ceplas-ceplos.


" Hmm... Gak enak nikah muda, banyak aturan." Balas Sandra.


" Meskipun begitu gue juga mau nikah muda kalau suaminya sekaya dan setampan suami lo." Sahut Intan lagi.


" Iya San. Loe beruntung banget deh. Kapan-kapan ajakin kita main ke apartemen lo ya ?" Tanya Salsa.


"Hm...Kalian gak tahu aja gimana rasanya menikah dengan orang yang menyebalkan seperti itu." Batin Sandra teringat wajah suaminya.


" San....Salsa nanya tuh ?" Ucap Intan menyadarkan Sandra yang bengong.


" Eh .. Iya... boleh dong. Kapan-kapan aku ajak deh. "


" Oke .. kalau begitu kita duluan ya ?" Pamit Salsa.


" Iya... Hati-hati ?!" Balas Sandra sambil melambaikan tangan kepada teman-temannya.


" Yah... Mau ngapain sekarang ? Mau makan males gak ada temennya. Mau wa minta di jemput ? Ah males ketemu dia sekarang. Lagian mumpung di luar rumah juga...., kalau sudah ketemu dia pasti sulit minta izin keluar. Terus ...., mau pergi seperti biasanya....tapi gak ada motornya. Masa jalan kaki ? Ya udah deh gak apa-apa, itung-itung sambil olahraga dan jalan-jalan." Gumam Sandra sendirian.


Sandra lalu keluar dari kampus. Dia berjalan menyusuri jalan raya tanpa tujuan yang jelas.


Setelah agak lama berjalan, Sandra kemudian melihat penjual es cendol langganannya di pinggir jalan.


" Bang es cendolnya satu." Pinta Sandra yang kehausan.


Berjalan di bawah teriknya matahari membuatnya cepat merasa haus.


Sandra menerima segelas besar es cendol kemudian menikmatinya sambil melihat sekelilingnya.


" Kok beberapa hari ini gak kelihatan neng ?" Tanya si pedagang es cendol. Bukan hal aneh jika Abang itu mengenal Sandra karena Sandra sering membantunya dan beberapa pedagang kecil lainnya di sana. Apalagi daerah itu juga belum terlalu jauh dari kampusnya, jadi Sandra memang sering ke sana untuk berbagai atau sekedar menikmati jajanan di pinggir jalan.


" Iya bang... Kemarin pulang kampung." Balas Sandra sambil mengaduk es cendol miliknya.


" Sandra ? Tidak menyangka kita bertemu lagi." Sapa Dokter Tian yang baru saja turun dari mobil yang terparkir tidak begitu jauh dari mereka.


" Eh, dokter Tian." Balas Sandra ramah.


" Senang bertemu dengan mu lagi. Bagaimana kabarmu ?" Tanya Dokter Tian tersenyum.


" Alhamdulillah... Baik dok. Dokter juga mau beli es cendol ?" Tanya Sandra keheranan. Jarang sekali ada dokter yang mau jajan atau makan di pinggir jalan seperti itu.


" Iya... Bang es cendolnya enam tapi yang lima di bungkus." Ucap Dokter Tian.


" Baik dok, eh tuan." Jawab si pedagang es cendol.


" Tu kan... Abangnya jadi bingung. Sandra jangan panggil aku dokter saat di luar, panggil biasa saja." Pinta Dokter Tian.


" Hehehe... kan emang kenyataannya dokter dok.." Kata Sandra.


" Tu kan dok lagi.... Panggil saja kakak atau mas."


" Emang boleh ?" Tanya Sandra.


" Tentu saja boleh..."


" Oke baik dok ... Ups.." Sandra menutup mulutnya karena keceplosan memanggil dokter lagi.


" Hehe... Ternyata kamu lucu ya orangnya." Ucap Dokter Tian.


" Hehe... Gak kok dok... eh kak ..." Kata Sandra meralat ucapannya.


" Ini tuan es cendolnya. Sebentar saya bungkuskan yang lainnya." Sela Abang cendol.


Dokter Tian mengangguk ramah sambil tersenyum.


" Aaa... kenapa manis sekali ?" Batin Sandra yang terkesima oleh sikap Dokter Tian yang ramah. Karena sering Sandra mendengar, jika kebanyakan dokter itu acuh dan sombong. Tapi berbeda dengan Dokter Tian di depannya ini.

__ADS_1


" Sadar Sandra.....Kamu sudah punya suami !!" Batin Sandra yang masih terbengong.


" Neng, kenapa kemarin pulang kampung ?" Tanya Abang cendol melanjutkan obrolan mereka tadi.


" Ah... apa bang ?" Tanya Sandra yang terkejut.


Dokter Tian terkekeh kecil. Gadis di depannya itu benar-benar lucu menurutnya. Bagaimana bisa dia melamun di tempat umum seperti ini ? Pikir Dokter Tian.


" Aduh neng, cakep-cakep kerjanya melamun. Abang tadi tanya kenapa neng pulang kampung ?" Sahut Abang cendol.


" Ahh . Itu, mm... Ibuku meninggal bang." Ucap Sandra mendadak sedih.


" Innalilahi wa innailaihi roji'un.... Abang turut berdukacita ya neng.. Semoga ibunya neng husnul khatimah. Diterima seluruh amal dan ibadahnya di sisi Allah SWT." Ucap Abang cendol.


" Iya bang... Aamiin.." Ucap Sandra memaksakan diri untuk tersenyum.


" Turut berdukacita ya San." Ucap Dokter Tian kemudian.


" Iya dok... eh kak... terimakasih." Balas Sandra.


" Oya... kamu udah pulang kuliah ?" Tanya Dokter Tian mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membahas ibunya Sandra karena sepertinya Sandra menjadi sedih setelah mengingat ibunya.


" Sudah kak. " Balas Sandra sambil meneguk es cendolnya.


" Oh, lalu kenapa gak langsung pulang ? Kok malah di sini ? Kamu kenal dengan Abang ini ?" Tanya Dokter Tian yang penasaran karena Sandra terlihat begitu akrab dengan penjual es cendol itu.


" Mm... Pingin jalan-jalan saja kak." Kata Sandra membalas pertanyaan Dokter Tian.


" Neng ini tidak mengenal kami, tapi kami mengenalnya. Neng ini sering berbagi kepada pedagang-pedagang kecil di sekitar sini." Imbuh abang cendol.


" Oya ?" Ucap Dokter Tian kagum. Ternyata gadis kecil ini suka berbagi di mana pun.


" Apaan sih bang.. Jangan dengerin deh...dok...!" Kata Sandra malu. Lagi pula dia berbagai bukan untuk di pamerkan.


Dokter Tian terus tersenyum menatap Sandra.


" Emang kamu mau jalan-jalan ke mana ? Oya ... Sepertinya waktu itu aku pernah melihatmu bersama seseorang yang ku kenal..." Tanya Dokter Tian yang mengingat Sandra bersama Alfian.


" Oya ... Siapa ?" Tanya Sandra.


" Kamu mengenal Alfian ?" Tanya Dokter Tian kemudian.


" Sii siapa ? Mmm... Alfian..?? Eeh, iya ... Aku mengenalnya." Jawab Sandra terkejut.


" Sempit sekali bumi ini. Perasaan aku selalu bertemu dengan orang-orang yang mengenal Alfian !" Batin Sandra.


" Tukan beneran kenal... Aku pikir salah lihat waktu itu. Oya bagaimana kamu bisa mengenal Alfian ?" Tanya Dokter Tian penasaran.


" Sorry... Lupakan saja. Tidak seharusnya aku bertanya seperti itu." Lanjut Dokter Tian yang merasa terlalu banyak bertanya.


"Tidak apa-apa dok..... Aduh salah lagi." Ucap Sandra.


Dokter Dias pura-pura mendelik kesal menatapnya namun tak lama kemudian kembali tersenyum.


" Kakak sendiri kenapa belum ke rumah sakit jam segini ?" Tanya Sandra keheranan.


" Aku baru mau ke sana.... Kebetulan aku bertugas sore minggu ini." Jawab Dokter Tian menjelaskan.


" Mmm...."


" Kamu mau jalan-jalan ke mana ?" Tanya Dokter Tian lagi.


" Gak kemana-mana, sebentar lagi juga mau pulang kok." Jawab Sandra.


" Ini tuan es cendolnya. Totalnya tiga puluh ribu." Sela Abang cendol memberikan sekantong plastik es cendol kepada Dokter Tian.


" Oke... oya sekalian sama punya Sandra .." Ucap Dokter Tian lalu menyodorkan uang berwarna biru.


" Sisanya ambil saja bang." Lanjut Dokter Tian.


" Alhamdulillah... Terimakasih tuan." Balas Abang cendol. Seperti itulah pedagang kecil. Mereka sangat bersyukur atas rejeki yang mereka terima sekecil apapun itu.


" Mau ikut bareng ? " Dokter Tian menawari.


" Tidak kak, terimakasih. Sudah ada yang menjemput." Balas Sandra menolak.


" Ya sudah... Lain kali kita mengobrol lagi ya... Maaf aku harus segera ke rumah sakit."


" Iya tidak apa-apa... " Balas Sandra.


Setelah kepergian Dokter Tian tiba-tiba handphone Sandra bergetar. Ada pesan masuk dari Alfian.


" Kamu dimana ?" Pesan dari Alfian.


" Kampus." Sandra mengirimkan balasannya.


" Pulang jam berapa ?" Alfian.


" Sudah pulang." Sandra.

__ADS_1


" Kirim lokasi kamu sekarang. Aku jemput."


Sandra tidak langsung membalasnya. Dia ragu sejenak.


" P"


" P"


" P"


" Mana ? Cepat kirim Sherlock !" Pinta Alfian dalam pesan.


" Iiih tidak sabaran banget sih." Akhirnya Sandra mengirimkan alamat lokasinya sekarang.


" Jangan kemana-mana, disitu saja !" Balas Alfian memerintah.


Sandra menggeram pelan. Namun tetap patuh dan menunggu di sana.


" Kok Bete amat neng mukanya. Ada apa ?" Tanya Abang cendol.


" Gak ada apa-apa bang." Jawab Sandra.


Lima belas menit kemudian mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan Sandra. Abang pedagang cendol sampai tertegun melihat seorang pemuda tampan turun dari mobil mewah itu kemudian berjalan mendekat ke arah mereka.


" Ayo pulang. " Ajak Alfian.


" Ya.." Balas Sandra singkat sambil cemberut.


" Siapa neng ?" Tanya abang cendol penasaran.


Alfian kemudian mengalihkan pandangannya ke penjual cendol lalu mengenalkan diri sambil mengeluarkan uang ratusan ribu beberapa lembar lalu memberikannya kepada abang cendol itu.


" Saya suaminya. Ini untuk mu karena telah menjaganya di sini !" Ucap Alfian.


" Jadi neng sudah menikah ? Te... terimakasih tuan...., tapi saya tidak menjaga siapapun." Ucap abang cendol kaget dan kebingungan.


" Tidak apa-apa... Itu untuk mu." Balas Alfian lalu menggandeng Sandra pergi dari sana.


" Terimakasih tuan , nona ! Semoga sehat selalu." Teriaknya.


" Alhamdulillah.... Rejeki kalian nak.... " Sandra masih mendengar pedagang es cendol itu bersyukur sebelum masuk ke dalam mobil. Sandra terharu melihatnya, seperti itulah orang tua, selalu anak yang menjadi prioritas utama.


" Andai saja aku masih mempunyai orang tua...." Batin Sandra sedih, kemudian masuk ke dalam mobil.


" Sandra, aku sudah bilang kabari aku jika sudah selesai kuliah." Ucap Alfian di sampingnya lalu melajukan mobilnya.


" Maaf lupa." Balas Sandra singkat. Baru juga duduk sudah mulai kena omel.


" Jangan ulangi lagi. Oya kamu... di sana sama siapa tadi ?" Tanya Alfian yang pura-pura tidak tahu jika Sandra habis mengobrol dengan Dokter Tian.


" Sama abang cendol." Jawab Sandra.


" Selain itu ?"


" Mas aneh banget sih... Orang beli es cendol aja di tanya-tanya abis ngobrol sama siapa. Mana aku kenal mas siapa aja yang ngobrol sama aku. Mereka kan juga cuma beli es cendol." Omel Sandra berbohong.


Alfian menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri agar tidak tersulut emosi. Dia sangat kecewa karena Sandra lebih memilih berbohong lagi kepadanya.


" Maaf.." Ucapnya kemudian.


Sandra menatapnya dengan intens. Akhir-akhir ini dia sering sekali mendengar Alfian meminta maaf kepadanya. Hal yang tidak pernah Alfian lakukan sebelumnya. Meski salah biasanya dia akan tetap menyalahkan orang lain.


" Apa yang terjadi padanya ? Selain minta maaf dia juga jarang marah-marah sekarang. Bahkan aku cuek atau marah sekalipun dia tetap tenang dan sabar." Batin Sandra heran. Dia belum menyadari jika semua perubahan suaminya adalah demi dirinya.


" Sudah puas menatapnya ?" Tanya Alfian melirik Sandra agar tetap fokus mengendarai mobilnya.


Sandra memalingkan wajahnya. Malu sekali kepergok tengah mengamati suaminya untuk yang kedua kalinya.


" Siapa juga yang menatap mu." Ucap Sandra membela diri.


" Hehehe... Mengelak ? Atau kamu baru menyadari jika suami mu ini sangat tampan ?" Goda Alfian sambil mengerling genit.


" Kepedean !" Balas Sandra sewot.


" Hehehe... Kamu sudah makan siang ?" Tanya Alfian kemudian.


" Sudah tadi." Balas Sandra.


" Oke. Kalau begitu kita langsung mampir belanja ke supermarket saja. Di apartemen belum ada bahan makanan sama sekali." Ajak Alfian.


" Emang mas gak balik kerja ?" Tanya Sandra.


" Mm... Sudah ada Dias, dia sangat bisa di andalkan." Kata Alfian memberi tahu.


" Hm... Tetap saja. Mas tidak bisa seenaknya saja meninggalkan pekerjaan. Itu artinya mas tidak bertanggung jawab." Ucap Sandra menasehati.


" Lagi pula... Mas gak kasian sama Mas Dias ? Dia kerja dari matahari belum terbit sampai larut malam untuk mu. Aku penasaran apakah Mas Dias punya waktu untuk dirinya sendiri ?" Lanjut Sandra kembali kepo.


" Tentu saja punya. Percayalah... Apa yang dia lakukan sebanding dengan apa yang dia dapatkan. Kok jadi bahas Dias sih ? Mau nemenin aku belanja enggak ? Atau mau ku antar ke apartemen terlebih dahulu ??" Tanya Alfian yang tidak suka dengan topik pembicaraan mereka.

__ADS_1


" Iya deh.. ikut belanja aja !" Balas Sandra pasrah. "Dari pada sendirian di apartemen." Lanjutnya dalam hati.


__ADS_2