Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Alfian Yang Plin Plan


__ADS_3

Sandra dan Alfian pulang bersama sore itu. Sebelum sampai di apartemen, mereka mampir terlebih dahulu ke warung nasi padang karena tiba-tiba saja Sandra menginginkan makanan itu. Selesai membelikan apa yang istrinya mau, Alfian segera melajukan kembali mobilnya.


" Sayang, kamu serius ingin buka butik ?" Tanya Alfian mengulang kembali keinginan istrinya.


" Heem." Angguk Sandra penuh antusias.


" Kenapa mas ? Kok tanya lagi ?" Imbuh Sandra yang melihat wajah suaminya kini sedikit mengerutkan keningnya.


" Sebenarnya, aku gak begitu setuju ... Aku takut kuliah kamu terbengkalai.. Lagi pula aku tidak suka kamu di luar begitu lama." Alfian memberikan alasan.


" Ih mas.. Kok mikirnya gitu... Harusnya mas kasih dukungan ke aku. Ini belum apa-apa udah bilang begitu." Rajuk Sandra yang tidak terima dengan cara berpikir suaminya kali ini.


" Lagian mas takut apaan sih ? Aku dah gedhe ya mas, aku bisa jaga diri sendiri. Soal kuliah aku udah pertimbangkan masak-masak. In Syaa Allah gak bakal keganggu sama sekali kok mas. Lagi pula jika mas selalu mengurung aku di apartemen, kapan aku bisa mandirinya mas ? Aku juga ingin punya banyak pengalaman seperti teman-teman ku juga. Tentu pengalaman yang bermanfaat di usia mudaku. Aku juga butuh sedikit kebebasan mas." Ucap Sandra mengeluarkan pendapatnya.


Alfian tak langsung menanggapi keluh kesah istrinya itu. Karena menurutnya, untuk apa istrinya itu perlu pengalaman di luar ? Dia sudah memiliki segalanya, suaminya seorang pebisnis yang lumayan sukses, uang dan harta tak perlu dia cemaskan lagi. Alfian hanya ingin Sandra menjadi istri yang penurut dan melayaninya dengan baik. Segalanya dia sudah punya tanpa perlu bersusah payah juga. Cukup dia yang bekerja keras untuk membahagiakannya.


" Mas ?? " Desak Sandra yang tidak kunjung mendapatkan respon dari suaminya.


" Hmm.." Jawab Alfian akhirnya.


" Mas marah ? Mas gak setuju ?" Cecar Sandra.


" Nanti aku pikirkan lagi ya ?" Jawab Alfian kemudian.

__ADS_1


Sandra tak habis pikir mengapa suaminya bisa secepat itu berubah. Padahal tadi di kantornya dia sudah menyetujui keinginannya itu.


" Bilang langsung saja kalau mas gak setuju !" Serang Sandra.


" Sudahlah sayang... Kita bahas ini lagi nanti di rumah ya ?"


" Gak perlu mas, karena aku sudah tahu jawabannya." Sandra menjawabnya dengan ketus.


" Sandra... Jangan seperti anak kecil. Ini bukan masalah sepele bagiku." Kata Alfian.


" Bukan masalah biaya atau apanya, sekecil pun tidak terbesit ke arah sana. Membuka sepuluh butik sekaligus untukmu pun aku sanggup. Hanya saja... Aku takut kamu terlalu sibuk di luar sampai lupa mengurusku. Aku takut kamu kecapean dan kelelahan sehingga mengabaikan ku suamimu. Aku takut kamu semakin sibuk dengan dunia barumu sehingga.... Ah, sulit aku mengatakan semuanya sayang.. Aku juga takut jika nanti kamu sudah bisa mandiri, kamu pergi jauh dari ku karena sudah tidak membutuhkan ku lagi. Mengingat kamu pernah meminta berpisah dariku,, aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Belum jika nanti kamu bekerja sama dengan para klien yang tentu tidak hanya perempuan saja. Jujur aku sudah cemburu hanya dengan memikirkannya. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi Sandra.. Cukup sekali, dulu Rena pernah berubah dan akhirnya mencampakkan ku setelah karirnya naik. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Aku sudah mapan, apapun yang kamu inginkan aku bisa memenuhinya. Kamu tidak perlu susah payah bekerja." Lanjut Alfian akhirnya jujur dengan apa yang dia khawatirkan.


" Tunggu-tunggu.... Mas kok berlebihan gitu sih ? Mas ... Aku tahu kewajiban ku sebagai seorang istri ya. Meski sesibuk apapun aku nanti, aku yakin aku bisa kok. Rumah tangga kita tetap jadi prioritas yang utama bagiku. Mas gak perlu khawatirkan itu. Terus apa tadi ? Cemburu ?? Mas gak percaya kepadaku ? Atau mas berpikir aku seperti perempuan yang gampang di bujuk rayu oleh laki-laki lain ? Dan ini yang paling penting aku tekankan mas, aku bukan Kak Rena mantanmu itu. Jadi jangan samakan aku dengannya. Yang dia lakukan belum tentu aku lakukan. Aku masih waras dan sadar sepenuhnya jika aku sudah bersuami. Aku ... Ah sudahlah... Aku gak nyangka seorang pebisnis hebat dan pintar seperti mu bisa punya pemikiran buruk seperti itu. Bilang saja aku gak boleh berkarir mas ! Yang mas mau hanyalah aku yang selalu menurut dan melayanimu dengan baik. Begitu kan ?!! Yang harus aku lakukan hanyalah menunggu dan menyambut mas pulang kerja dengan baik. Mas egois tau gak ! Aku juga punya mimpi mas, aku juga ingin sukses dengan caraku sendiri meski itu hanyalah hal remeh bagi orang lain. Tapi kini aku sadar.. Aku gak akan pernah bisa mewujudkan mimpiku itu !! Dan kalau hanya untuk melayani mu sebagai seorang istri yang baik seperti maumu, untuk apa aku capek-capek kuliah mas !!" Sandra berkata menumpahkan kekesalannya. Nafasnya naik turun akibat emosi yang tidak bisa dia kendalikan.


" Turunkan aku di sini !" Pinta Sandra kemudian. Saat ini dia ingin sendiri dulu untuk menenangkan diri.


" Gak, kita harus pulang." Tolak Alfian.


Kedua manusia itu sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


" Kamu sedang emosi San, jangan gegabah mengambil keputusan. Kita bicarakan lagi secara baik-baik nanti. Kita cari solusinya bersama. Okey ??" Tukas Alfian.


" Mas, aku butuh waktu untuk sendiri...! Turunkan aku atau aku lompat keluar ya mas ... ?" Ancam Sandra.

__ADS_1


Alfian yang lupa mengunci pintu mobil secara otomatis terlihat panik saat Sandra sudah membuka sedikit daun pintu mobil.


" Baiklah.... Aku menepi sebentar." Ucap Alfian yang takut jika Sandra benar-benar berbuat nekat. Dia takut terjadi sesuatu kepada istrinya.


Sandra membanting pintu mobil dengan kasar sampai menimbulkan suara yang lumayan keras lalu bergegas berjalan tak tentu arah. Pikirnya, asalkan dia bisa segera sendiri terlebih dahulu dan menjauh dari suaminya yang menurutnya sudah sangat egois.


Alfian yang khawatir, menatap punggung istrinya yang membelakanginya hingga istrinya itu tak terlihat lagi dari pandangan matanya.


Alfian meraup wajahnya dengan kasar.


" Padahal tadi kita baik-baik saja sayang..." Ucap Alfian lirih.


Kini Alfian merasa sedikit menyesal karena tidak berpikir dulu sebelum berbicara. Harusnya dia membicarakannya di saat yang tepat. Baru tadi dia membuat senyum bahagia di wajah istrinya karena mengabulkan permintaannya, tapi dengan mulutnya juga, dia membuat istrinya marah dan kecewa karena sikapnya yang plin-plan. Dengan lesu Alfian kembali melajukan mobilnya. Tentu setelah menyuruh orang kepercayaannya membuntuti kemana perginya Sandra. Hatinya tidak tenang dan dia takut hal buruk terjadi kepada istrinya yang sedang marah.


Alfian sampai di apartemen dengan langkah gontai. Dia menjinjing dua kantong plastik berisi nasi Padang dan ayam bakar yang tadi dia beli sesuai permintaan istrinya.


Sampai di dalam, Alfian terduduk lesu di sofa setelah meletakkan dia kantong plastik itu di atas meja.


Terlihat sepi. Tak ada senyum manis yang menyambutnya. Tak ada tawa jahil yang menggodanya. Baru saja sesaat di tinggal Sandra, Alfian sudah sangat merindukan istrinya itu.


" Cobalah mengerti sayang... Aku hanya takut kehilanganmu..." Ucap Alfian sedih.


Di tempat lain, Sandra duduk sendirian di bangku taman sambil menatap jauh ke depan. Pikirannya sedang kacau saat ini. Dia tahu apa yang di maksud oleh suaminya. Dia tahu suaminya itu takut kehilangannya. Tapi bukan berarti Sandra tidak boleh melakukan apapun untuk masa depannya. Dia juga ingin seperti yang lainnya. Dia masih muda dan merasa memiliki potensi, dia hanya ingin berusaha mewujudkan sisa-sisa mimpinya setelah kepergian kedua orang tuanya. Dia tidak ingin selamanya menjadi beban untuk suaminya meskipun suaminya tidak merasa seperti itu. Dia tahu suaminya sudah lebih dari kata mapan, tapi Sandra juga ingin sekali menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Dia juga tidak ingin terlalu di kekang. Dia sangat kesepian. Semua orang punya kesibukannya masing-masing sedangkan dirinya hanya bergelut dengan pikirannya sendiri di dalam apartemen.

__ADS_1


" Aku pikir, kamu memahami ku mas..." Ucap Sandra lirih. Setitik buliran bening mengalir di sudut matanya. Kecewa, itulah yang tengah Sandra rasakan saat ini.


__ADS_2