
Setelah kepergian Gilang , Al duduk menjauh dari Sandra, dan bersikap seolah-olah jijik telah berdekatan dengannya walaupun di lakukan dengan sesamar mungkin agar tidak terlihat oleh Ibu Lastri.
Sandra yang menyadari dan memahaminya, memelototkan kedua matanya . Tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan bos sableng di sampingnya.
" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu ! " Kata Al kemudian.
" Ya udah katakan saja ... " Balas Sandra.
" Tidak di sini... " Ucap Al lagi.
" Sudah Sandra, kamu ajak nak Al ke luar sebentar, mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan hanya kepadamu. Ini baik juga untuk kalian, agar lebih mengenal satu sama lain." Timpal Bu Lastri.
Al tersenyum tipis kepada Bu Lastri.
" Kalau begitu kami pergi dulu Bu. " Pamit Sandra .
Dalam hati Sandra enggan pergi dengan Al . Karena selama ini ketika bertemu dengan bos sablengnya itu bukan hal baik yang terjadi.
Bu Sandra mengangguk sambil tersenyum.
" Jangan lama-lama, segera kembali , sebentar lagi kita makan siang bersama . " Kata Bu Lastri mengingatkan.
Alfian hanya mengangguk dan berjalan terlebih dahulu di susul oleh Sandra yang mengekor di belakangnya.
" Masuk mobil ... ! " Perintah Al .
" Kita mau kemana , kata ibu kan kita gak boleh lama-lama ? " Tanya Sandra .
__ADS_1
" Bisa tidak langsung saja turuti apa kataku ! " Geram Al.
Sandra yang melihat gelagat tidak menyenangkan dari muka bos sekalian calon tunangannya itu , memilih segera mengikuti kemauannya.
Mobil mulai keluar dari pekarangan rumah Sandra. Ini kali pertama Sandra naik mobil bersama Al. Terasa tidak nyaman, ada rasa benci dan takut berada di dekat Alfian. Namun Sandra tidak ingin Al melihat semua itu . Berpura-pura melihat ke luar kaca jendela mobil adalah cara terbaik menurut Sandra.
Hening ,, tidak ada yang membuka suara satu pun . Sandra semakin tidak nyaman dan ingin segera keluar dan menjauh dari Al.
"Sebenarnya apa yang ingin Al bicarakan ??" Batin Sandra.
Semoga saja Tuan bosnya ini ingin menggagalkan rencana pertunangan mereka, sehingga Sandra tidak perlu merasa bersalah kepada almarhum ayahnya karena orang pilihannya lah yang tidak mau di jodohkan dengan Sandra. Sepanjang perjalanan singkat itu Sandra berharap hal itu yang akan di bicarakan oleh Al.
Tak lama kemudian mobil Al berhenti, masih tidak jauh dari rumah Sandra. Hanya saja mereka ada di pinggir sebuah lapangan kecil. Tentu saja hal itu membuat Sandra mengingat kejadian saat bersama Gilang waktu lalu saat berhenti di pinggir lapangan. Kedua pipi Sandra merona malu karena mengingatnya. Tak di sangka Al memperhatikan wajah Sandra.
" Dasar perempuan licik , jangan berpikir kalau aku akan dengan mudah menerima perjodohan konyol ini !" Batin Al .
Sandra kaget karena tiba-tiba Al ber deham keras saat dia tengah asik mengamati bocah yang sedang berlarian sambil tertawa lepas.
" Hei udik ! Kamu senang kan di jodohkan dengan ku ?! " Bentak Al. Rasa marah yang sedari tadi dia coba tahan sejak papanya menyuruhnya ke rumah Sandra ia lampiaskan sekarang.
" Kamu pikir , aku tidak tau apa tujuan bapakmu itu menjodohkan kita ! Alasan persahabatan , ciih .. Hanya orang bodoh yang tidak tau maksud busuk dari keluarga miskin seperti kalian ! Yang kalian inginkan hanyalah harta dan kekayaan !!" Tuduh Alfian.
Plaaaakkk ! Terdengar tamparan keras di pipi Al. Ya , Sandra menampar Al.
" Jangan pernah menghina bapak ku !! Silahkan Tuan menghina saya sesuka hati,tapi jangan pernah menghina atau berkata buruk tentang orang tua saya ! Biarpun miskin, kami tidak tertarik sama sekali dengan harta yang keluarga anda miliki ! Kalau memang tuan beranggapan keluarga saya seperti itu, katakan pada semua kalau Tuan keberatan dengan perjodohan ini ! Lagi pula bukan bapak saya yang mengemis untuk menjodohkan anak nya !! Karena permintaan Pak Wijaya lah bapak menyetujui perjodohan ini tanpa sepengetahuan saya ! Dan lagi , biarpun miskin dan jelek saya juga tidak tertarik dengan anda ! " Teriak Sandra tidak terima.
Al tersenyum miring.
__ADS_1
" Baguslah kalau gadis udik sepertimu tahu diri , gadis seperti dirimu memang tidak pantas bersanding denganku ! Kau ingat tamparan ini akan kamu bayar mahal sampai kamu akan mati menyesal telah berani menamparku ! " Ucap Al.
" Disini aku hanya menegaskan ! Perjodohan ini tidak ada artinya buatku, meski aku bersedia bukan berarti aku menerimamu. Bersiaplah untuk masuk ke kehidupan yang tidak pernah kamu bayangkan ! Dan jangan pernah ikut campur semua urusanku terlebih hal yang bersifat pribadi. Terserah kau mau apa aku juga tidak akan peduli termasuk hubunganmu dengan Gilang !! " Ancam Al sambil menepuk kedua pipi Sandra dan meninggalkannya.
Sandra tertegun , tidak bisa menahan air mata . Sakit mendengar semua penghinaan yang Alfian ucapkan. Semua seperti mimpi buruk, baru saja dia merasakan sakit kehilangan ayahnya . Kini di tambah dengan harus bersiap hidup bersama orang yang sangat membencinya.
Tiiin tiiin tiiiiiinnnn !! Suara klakson mobil terdengar keras, tentu saja Al yang membunyikan klakson mobilnya . Memberi isyarat kepada Sandra untuk segera masuk ke dalam mobil.
Sandra menghapus air mata dari kedua matanya. Dia mengusap pipi dan wajahnya. Menarik nafas dalam-dalam dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Apapun yang akan terjadi padanya ,Bu Lastri tidak boleh mengetahuinya. Sandra tidak ingin melihat kesedihan yang sama di wajah ibunya jika tahu yang sebenarnya.
Sandra masuk kedalam mobil , kemudian mobil melaju kembali ke rumah Sandra. Seperti semula , tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Sandra semakin sesak berada dalam satu mobil bersama Al. Al pun juga begitu , tamparan dari Sandra tadi masih membekas dan terasa panas di pipinya . Membuatnya semakin membenci perempuan yang duduk disebelahnya.
Mobil telah sampai di depan rumah. Semua sudah menunggu kedatangan mereka. Ternyata Pak Wijaya juga sudah ada di sana. Selanjutnya mereka makan siang bersama.
" Gimana, apa sudah ada kemajuan ? Papa harap setelah ini kalian sering meluangkan waktu bersama,agar nanti setelah menikah kalian sudah saling mengenal satu sama lain. " Ujar Pak Wijaya.
" Iya saya setuju saja Pak " Timpal Bu Lastri.
Sandra hanya menunduk , tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Al makan dengan tak acuh . Seolah tidak mendengar apapun.
Nurul yang ikut makan bersama mereka menatap sedih kepada Sandra. Dia tahu pasti sesuatu yang buruk terjadi. Karena sejak kepulangan mereka, Sandra menjadi lebih pendiam. Terlebih dia melihat bekas merah di pipi Alfian yang tidak di sadari semua orang.
"Kasian sekali kamu San, pasti sangat berat, baru saja paman pergi, sekarang kamu terpaksa harus bertunangan dan menikah dengan orang yang sudah jahat padamu ." Batin Nurul.
" Mereka pasti malu Pak, sudah biarkan saja mereka dekat dengan cara mereka sendiri. Ya kan nak ? Apalagi ini pengalaman pertama Sandra dekat dengan laki-laki dan langsung mau tunangan, sedangkan pacaran saja Sandra ini tidak pernah. Sandra selalu sibuk membantu kami. " Ucap Bu Lastri.
Sandra semakin menunduk malu mendengar perkataan ibunya. Berbeda dengan Pak Wijaya dan Bu Lastri yang justru tersenyum melihat Sandra malu.
__ADS_1
Selesai makan siang semua kembali sibuk mempersiapkan acara nanti malam . Sedangkan Al pamit kembali bekerja karena banyak pekerjaan.