
Kabar tentang tragedi yang di alami Rena , sampai juga di telinga Alfian. Itu semua berkat mata-mata yang di tugaskan untuk mengawasi Bu Reisa.
" Aku dengar, Rena berteriak histeris menangisi kondisi wajahnya yang berbalut perban. Kata dokter yang menanganinya, ada kemungkinan luka di wajahnya akan berbekas." Ucap Dias menambahkan.
" Baguslah, belum juga aku membalasnya, tapi Tuhan sudah menghukumnya terlebih dahulu. Ku harap dia dan ibunya tidak lagi bermain-main dengan ku." Sahut Alfian menanggapi dengan acuh.
Sore itu sudah pukul tujuh. Sudah waktunya makan malam. Dias baru saja keluar untuk membeli makan malam untuk mereka berdua.
" Sial ... Kenapa tidak selesai-selesai juga pekerjaan ini ?!" Umpat Alfian yang sudah merasa sangat merindukan Sandra sejak tadi.
" Kenapa dia tidak telpon atau mengirim pesan kabar sama sekali ?" Imbuh Alfian kemudian mengambil ponselnya kemudian menghubungi Sandra.
Dalam deringan ke dua , wanita yang sangat di cintainya itu baru mengangkat panggilan video darinya.
" Dari mana ? Kenapa lama sekali mengangkat telponnya ?!" Protes Alfian begitu melihat wajah Sandra pada layar ponselnya.
" Habis makan mas, baru aja selesai..." Jawab Sandra dengan santai.
" Oh,, kirain lagi sibuk ngedrakor..." Sindir Alfian.
" Hehehe, enggak mas.. Tadi sibuk bikin desain baju setelah pulang dari butik. Kebetulan ada pesanan khusus dari pelanggan." Ucap Sandra memberi tahu.
" Oh.. Jangan terlalu bekerja keras. Aku tidak suka melihat atau mendengarnya. Aku masih mampu menafkahi mu berapapun Ki minta." Kata Alfian cemberut.
" Iya mas .. Siap... Tadi sudah selesai kok. Mas sudah makan ?" Tanya Sandra yang tahu jika suaminya itu tengah merajuk.
" Belum, tapi Dias sudah pergi beli makanan." Kata Alfian lemas.
" Kok lesu begitu,, kalau capek istirahat mas... Jangan di paksain kerjanya." Sindir Sandra balik.
" Ck... Aku lemes bukan karena capek... Tapi kangen sama kamu, sayangnya gak bisa peluk.." Kata Alfian merengek seperti bayi besar.
" Hehehe.. Mas-mas... Baru juga beberapa jam gak ketemu, sudah kangen aja.." Olok Sandra.
" Emang kamu gak kangen sama aku ?" Alfian balik bertanya kepada Sandra,membuat Sandra salah tingkah takut menjawabnya.
" E... ya kangen sih ..." Ucap Sandra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Ck.. bohong... Gak tulus banget ngomongnya."
__ADS_1
" Astaga !" Sandra menepuk jidatnya melihat tingkah Alfian yang semakin parah menurutnya.
" Aku juga kangen sayang .. Suer !" Kata Sandra sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v.
" Beneran ?" Tanya Alfian.
" Bener sayang.." Ucap Sandra lagi.
Mendengar Sandra memanggilnya dengan kata sayang membuat Alfian berbinar dan bersemangat kembali.
" Masa ? Kalau emang kangen buktikan dong ?!" Rajuk Alfian.
" Buktiin ? Oh... Muach..." Kecup Sandra yang terlihat dari layar ponsel.
Sandra terlihat malu setengah mati setelah itu. Kedua pipinya terasa panas seperti kepiting rebus. Baru kali ini dia melakukan hal konyol seperti itu meskipun itu hanya kepada suaminya sendiri. Walau begitu, Sandra senang melakukannya agar Alfian tidak merajuk lagi kepadanya.
" Makasih sayang... Muach.. Muach...Muachh... Miss you sangat..." Balas Alfian berlebihan.
Sandra tersenyum melihat tingkah suaminya yang lebay seperti itu. Terlihat sangat menggemaskan meskipun sedikit norak.
" Oya... Mas pulang jam berapa ? " Tanya Sandra mengalihkan pembicaraan.
" Entahlah, tidak usah menungguku. Jika sudah mengantuk tidur saja terlebih dahulu." Sahut Alfian.
" Kok gitu.. Kamu pasti seneng ya, aku lembur ?" Tuduh Alfian yang mendengar Sandra menjawabnya biasa saja.
" Lhah .. Emang aku harus gimana mas ? Masa harus nangis. Lagi pula mas kan kerja lembur demi perusahaan,demi para karyawan... Demi aku juga." Ucap Sandra.
" Huh, aku rasa hanya aku yang tersiksa karena harus kerja lembur dan tidak bisa bertemu dengan mu !"Gerutu Alfian.
" Enggak mas, aku juga beneran kangen kok... Gak ada yang usil di rumah. Jadinya sedikit sepi." Kata Sandra jujur.
" Huft... Maaf ya sayang..." Ucap Alfian.
" Kenapa minta maaf mas. Aku gak apa-apa kok di sini sendiri. Sudah terbiasa juga." Balas Sandra.
" Baiklah, Oya ini Dias sudah datang.. Nanti aku hubungi lagi. Muach ..." Kata Alfian kemudian mengakhiri panggilan videonya.
" Ck...Ck...Ck.... Bener-bener bucin tingkat akut !" Ledek Dias sambil meletakkan makanan di meja tamu.
__ADS_1
Alfian lalu menghampiri Dias yang mengeluarkan beberapa makanan dari kantong plastik.
" Sialan. Bucin sama istri sendiri apa salahnya ?" Tanya Alfian tak terima di ledek oleh jomblo sejati seperti Dias.
" Ya , kau benar... Tidak ada salahnya. Tapi jika orang lain yang melihat, mereka pasti akan menyangka jika dirimu sangat tergila-gila kepada Sandra." Lanjut Dias.
" Memang... Sandra benar-benar membuatku candu. Membuatku gila, membuatku mabuk kepayang..." Ujar Alfian melantur.
" Nih makan dulu. Sepertinya dah oleng makannya ngelantur !" Kata Dias geleng-geleng kepala.
" Sial ! "
" Oya, Gilang sudah keluar dari rumah sakit." Kata Dias sambil melirik Alfian sekilas.
" Baguslah.. Aku rasa sekarang dia sudah sadar dan sudah tahu betul sedalam apa perasaan ku kepada Sandra." Tanggap Alfian.
" Mm, dia ingin bertemu sama kamu. Kalau tidak sibuk, esok dia ingin kemari." Kata Dias lagi.
" Tidak perlu. Besok aku yang akan cari waktu menemuinya. Aku rasa,, aku harus minta maaf telah membuat hidungnya kini menjadi hidung ciptaan dokter." Kata Alfian sambil melahap dimsum di depannya dengan lahap.
Dias terkekeh mendengar ucapan Alfian. Tapi dia lega, ternyata Alfian tidak marah saat dia membicarakan tentang Gilang. Dan justru Alfian ada tekat untuk meminta maaf kepada Gilang secara langsung.
****
Di apartemen Sandra terlihat bosan sekali setelah panggilan video dari suaminya di matikan. Sejujurnya, Sandra sangat kesepian tanpa Alfian. Tapi Sandra berusaha mengerti kesibukan suaminya, karena hal itu adalah kewajiban dan tugas dari seorang pemimpin perusahaan.
Untuk mengusir kejenuhan, Sandra berkirim pesan kepada teman-temannya,dan memberi tahu jika besok dia sudah akan masuk kuliah. Tentu saja kabar itu di sambut gembira oleh Intan dan Salsa. Kedua temannya itu tidak sabar ingin bertemu dengan Sandra. Mereka jelas penasaran kenapa tiba-tiba Sandra pulang ke kampung dan jatuh sakit di sana. Membuat mereka tidak bisa menjenguknya karena terhalang jarak dan kesibukan. Namun tiba-tiba, ada pesan masuk yang berhasil menarik perhatiannya.
Dengan tangan gemetar, Sandra membuka pesan itu.
" Bagaimana kabar mu ? Aku yakin baik. Al pasti tidak akan menyakiti mu. Maaf soal waktu itu. Aku seharusnya bisa mengontrol diri untuk tidak memelukmu. Oya,aku hanya ingin memberikan kabar bahagia. Minggu depan, aku akan meresmikan acara pertunangan ku dengan Moza. Ku harap kamu dan Al bisa hadir." Begitu bunyi pesan yang di kirim oleh Gilang.
Gilang ... Ada rasa sedih bercampur bahagia sekaligus saat membaca pesan dari pria itu. Sandra merasa sedih karena seharusnya dialah yang meminta maaf untuk kejadian waktu itu. Bahkan , Sandra tidak tahu bagaimana keadaan pria itu sekarang setelah kejadian itu. Tapi Gilang tiba-tiba justru meminta maaf terlebih dahulu meskipun semua hanya kesalahpahaman.
"Maaf mas, aku nggak bisa bales pesan dari kamu. Tapi aku ikut senang, selamat ya mas... Semoga mas Gilang bahagia dengan Moza. " Ucap Sandra tulus.
Sandra kemudian meletakkan ponselnya. Dia takut ingin membalas pesan dari Gilang. Dia sudah berjanji kepada Alfian akan lebih menjaga perasaan suaminya. Dia juga harus bertanya kepada Alfian terlebih dahulu apakah mereka bisa datang atau tidak ke acara pertunangan Gilang.
Lama Sandra termenung hingga akhirnya kantuk datang menghampirinya. Tidak butuh waktu lama, Sandra yang merasa sangat lelah langsung tertidur setelah bertemu dengan bantal dan guling.
__ADS_1
Di tempat lain, Gilang berharap Sandra membalas pesannya. Namun nyatanya, pesan yang dia kirim sejak setengah jam yang lalu itu, hanya centang biru. Artinya Sandra sudah membacanya meskipun tidak membalasnya. Gilang mencoba mengerti, mungkin Sandra takut kepada Alfian atau menghormati suaminya itu agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.
Meski begitu, Gilang sedikit lega. Karena kata Dias, Alfian tidak marah saat dia menyuruhnya bilang kepada Alfian tentang keinginannya untuk bertemu. Bahkan Dias memberi tahu jika dia tidak perlu datang ke kantor karena Alfian sendiri yang akan mencari waktu yang tepat untuk datang menemuinya. Gilang sangat berharap saat bertemu nanti selesai sudah kesalahpahaman yang terjadi lagi di antara mereka. Setelah itu, Gilang akan fokus memulai kehidupannya yang baru bersama Moza. Ya, setelah berpikir dengan matang, Gilang akhirnya memutuskan untuk segera meresmikan hubungannya dengan Moza. Bukan demi membuat Alfian percaya kepadanya, tapi karena memang dia tertarik kepada Moza. Apalagi setelah beberapa hari mereka tinggal bersama di rumah sakit. Hal itu membuatnya sedikit banyak mengetahui karakter Moza dan semakin penasaran dengan perempuan yang pantang menyerah itu.