
Sudah dua Minggu lebih Rena berkurang diri di rumah baru milik mamanya. Bukan karena tidak ingin keluar, tapi karena kondisi luka di wajahnya membuatnya tidak percaya diri. Dan selama itu pula, Rena hanya bermalas-malasan dan marah-marah...,, membuat Bu Reisa semakin pusing memikirkan putrinya itu.
" Ren, bantu ibu bikin kue dong sayang... Mau sampai kapan kerjamu cuma tiduran sama ngaca terus ? Sehari ngaca seribu kali pun wajah kamu tetap gak akan berubah seperti dulu.. !" Sindir Bu Reisa yang kelewat kesal melihat tingkah Rena yang tidak mau membantunya sedikit pun. Bahkan pekerjaan rumah semua Bu Reisa lakukan sendiri.
" Mama tega ya bilang begitu ke Rena !" Bentak Rena.
" Ya habis, mama banyak kerjaan begini, bukannya bantuin tapi malah malas-malasan terus kerjamu. Mama dagang kue begini kan juga demi kamu Ren... Lumayan untungnya, bisa di tabung buat biaya operasi plastik wajah kamu..!" Kata Bu Reisa.
" Aah, Rena kan gak paham cara bikin kue ma... Mama aja lah .." Tolak Rena.
" Makanya belajar biar tahu bagaimana caranya.. Kalau cuma tiduran terus gimana mau bisa ! " Omel Bu Reisa.
" Aduuuh , mama berisik banget sih ?! Kalau mama capek istirahat, jangan lampiasin dengan marah-marah ke Rena !" Teriak Rena tidak terima di nasehati.
" Astaga Ren, mama kan cuma minta tolong ? Salahnya di mana coba.. Lagian kamu gak takut gendut setiap hari makan tidur mulu kerjanya ! Mau nggak operasi plastik ? Atau kamu mau wajah kamu seperti itu selamanya ?!" Ancam Bu Reisa.
" Ck... Oke-oke... Mana ? Rena harus ngapain ?!" Tanya Rena kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengikuti ibunya ke dapur. Dia tidak ingin mendengar ibunya semakin cerewet.
" Kamu kocok gula pasir sama telur ini." Kata Bu Reisa sambil menyerahkan baskom berisi kuning telur dan gula pasir.
" Mama kenapa gak suruh orang saja sih buat bantu mama !" Rengek Rena yang hendak mengocok telur dan gula pasir itu.
" Nyuruh orang perlu duit untuk bayar tenaganya Ren, sedangkan kita kan harus berhemat. Sudah untung masih ada sisa duit untuk bikin modal."Ujar Bu Reisa.
" Ck... Andai saja wajah Rena gak begini, hidup kita gak mungkin sengsara kaya begini ma. Rena bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan." Sahut Rena dengan wajah cemberutnya.
" Sudahlah jangan berandai-andai, yang lalu biarlah berlalu... Anggap saja kemarin adalah teguran agar kita bisa merubah diri menjadi orang yang lebih baik ." Kata Bu Reisa menasehati lagi.
" Mulai lagi ceramahnya ! Gak ya ma ! teguran..teguran,, kemarin tu Rena hanya sedang sial aja ! Lagi apes !!" Elaknya.
" Ren....Ren... Susah banget nasehatin kamu. Dah buruan kocok !"
" Iya-iya bawel !"
" Minta duit ma ! Rena nanti sore mau keluar. " Imbuh Rena.
" Keluar ke mana ??!" Tanya Bu Reisa.
" Tadi tidur aja di omelin , giliran mau keluar banyak nanya ! Pokoknya mama kasih aja duit. Mama gak perlu tahu Rena mau ke mana ! Lagi pula Rena bukan anak kecil ma ! Sejak kapan pula mama peduli Rena mau pergi kemana ! Bagi mama kan yang penting Rena senang.." Protes Rena.
"Itu dulu Ren, justru mama sangat bersalah karena dulu mama membiarkan kamu bebas seperti itu !"
__ADS_1
" Sttt... Jangan berisik deh ma. Bikin Rena pusing tahu nggak ! Lama-lama Rena jadi nggak kenal sama mama yang sekarang begini !"
" Tapi bagaimana dengan wajah kamu ? " Tanya Bu Reisa.
" Kan ada masker sama kerudung ma !"
" Ya sudah nanti mama kasih, mama ikut seneng kalau akhirnya kamu mau keluar rumah. Tapi mama harap kamu nggak melakukan kesalahan lagi ya Ren . Mama udah gak punya apa-apa lagi jika terjadi sesuatu." Bu Reisa mewanti-wanti Rena.
" Mama perhitungan banget sih sama anak sendiri ?!"
" Bukan perhitungan Ren, mama hanya khawatir sama kamu. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa lagi. Sudah enak hidup kita begini. Hidup tenang meski seadanya."
" Mama bilang begini hidup enak ?? Hello mama ! Mama gak lagi ngelantur gara-gara kecapean bikin kue kan ?!" Teriak Rena tidak percaya.
" Mama gak ngelantur Ren. Itu kenyataan,, dan mama menikmatinya sekarang. Memang sekarang mama harus susah payah begini untuk mencari uang, tapi mama senang dan damai. Berbeda dengan dulu,, mama tidak pernah berpikir atau pusing bagaimana caranya untuk menghasilkan uang dari jerih payah sendiri. Yang ada tinggal minta dan semua sudah tersedia, tapi mama masih merasa selalu kurang...Mama merasa kesepian dan tertekan. Papamu sibuk terus di kantor dan bahkan selingkuh di luaran sana ! Sedangkan kamu sibuk shooting dan ngurusin suami orang ! Akhirnya apa yang terjadi ? Papamu kabur setelah perusahaan bangkrut, dan kamu di penjara gara-gara ulah mu sendiri. Bahkan sekarang, wajah kamu sampai.... Sudahlah sayang... Mari kita mulai hidup baru. Kita buka lembaran baru. Bantu mama bikin usaha kue ini sukses, mama janji setelah uangnya cukup,kita pakai untuk operasi wajah kamu." Ucap Bu Reisa panjang lebar.
" Rena tetep gak mau ma hidup seperti ini. Rena gak betah hidup di rumah kecil dengan fasilitas seadanya seperti ini. Rena ingin hidup enak yang sebenarnya. Rena ingin hidup Rena seperti dulu lagi. Rena ingin kaya, punya segalanya, duit banyak,wajah cantik, rumah mewah, mobil bagus... Dan itu semua bakalan terwujud hanya ketika Rena bisa ngedapetin Alfian lagi !" Tegas Rena.
" Rena ! Kenapa kamu keras kepala sekali sih di bilangin ? Alfian sudah tidak mencintai mu. Mama yakin itu ! Jangan mengusik dia lagi Ren. Lagi pula rumah ini lebih nyaman dari pada tinggal di dalam penjara ! Kamu gak mau kan kembali tinggal di balik jeruji besi !"
" Rena gak perduli ma... Rena akan berusaha mendapatkan Alfian apapun yang terjadi. Jika akhirnya Rena gak bisa dapetin Al, maka orang lain pun juga gak boleh !"
" Nggak perduli ! Rena bakal lakuin segala cara agar mereka bisa berpisah. Mama lihat saja nanti. Rena yang akan menang ma ! Bukan gadis kampungan itu ! Sudah cukup gadis kampung itu berbahagia ! Karena mulai sekarang, Rena gak akan biarkan dia hidup bahagia lagi !"
" Tapi Ren ...!"
" Sudahlah ma ! Rena nggak mau bertengkar terus dengan mama. Mama terusin sendiri,, aku dah gak mood !" Ucap Rena lalu meletakkan baskom yang dia pangku dengan kasar.
Seperti itulah Rena sekarang. Jika di nasehati tingkahnya justru semakin menjadi. Bahkan kesan lembut dan sopan yang dia peroleh saat masih menjadi artis dulu ,hilang tak berbekas. Semua hanya sandiwara.. Dan seperti inilah sifat aslinya.
Bu Reisa merasa sesak di dada. Bagaimana lagi dia harus menghadapi putrinya ? Padahal dia hanya memikirkan kebahagiaan Rena. Dia berusaha meluruskan jalan putrinya agar kembali ke jalan yang benar. Tapi sayangnya, hati Rena sangat keras dan tidak mudah di sentuh. Lagi-lagi,Bu Reisa hanya bisa menahan tangisnya.
Sore harinya, Bu Reisa memberi Rena uang seperti yang Rena minta.
" Kamu dah mau pergi ?" Tanya Bu Reisa.
" Iya.. Mana uangnya, cepat !"
" Iya, tunggu .." Bu Reisa kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang.
" Ini, nanti pulangnya jangan malam-malam ya Ren, mama khawatir.."
__ADS_1
" Ck, Rena bukan anak kecil ma...!" Bantah Rena sambil menerima uang pemberian ibunya.
" Tiga ratus ribu ? Yang benar aja ma ! Mana cukup. Ini sih untuk ongkos taksi doang ?!"
" Emang mau buat apa Ren ? Uang segitu sudah banyak.. Kita harus pinter-pinter ngatur keuangan sekarang.Butuh beberapa hari bagi mama untuk mendapatkan untung uang segitu."
" Mama gak perlu tahu. Yang pasti ni duit kurang ma ! Tambah !!" Pinta Rena memaksa.
Dengan terpaksa, Bu Reisa mengambil uang lagi ke dalam kamar.
" Cepetan ma !! Keburu malam !!"
" Iya , sebentar !"
Bu Reisa kemudian keluar dan menyerahkan lagi beberapa lembar uang ratusan ribu untuk Rena.
" Itu semua satu juta. Mama harap kamu pakai untuk hal-hal yang bermanfaat. Jika habis, mama gak ada duit lagi, kalau pun ada itu tabungan untuk biaya operasi kamu. " Kata Bu Reisa.
" Nah, segini baru lumayan ma... Aku tahu kok kue mama laris manis... Mana mungkin untungnya cuma segitu tadi. Rena pamit ma !" Sahut Rena kemudian menutup wajahnya dengan masker dan kerudung hitam di kepalanya.
Setelah berhasil naik taksi. Rena bergegas ke butik Sandra. Dia ingin tahu dimana butik itu berada, sekaligus mencari cara bagaimana caranya supaya bisa menghancurkan Sandra.
Setelah hampir satu jam, Rena baru sampai di tempat tujuan. Rena terlihat kesal,, karena menurutnya, hal itu gara-gara ibunya yang membeli rumah jauh dari pusat kota sehingga jarak ke pusat kota jadi lama.
Namun nasib baik menghampirinya.. Kebetulan sekali, saat dia turun dari taksi dan bersembunyi di balik pohon, dia melihat Sandra keluar bersama Alfian. Rena bisa melihat dengan jelas wajah bahagia mereka berdua.
Alfian menggenggam tangan Sandra sedangkan Sandra tersenyum manja kepada suaminya. Setelah itu Alfian membukakan pintu mobil untuk Sandra dan memastikan perempuan itu masuk mobil dengan aman. Barulah setelah itu Alfian berputar dan masuk ke dalam mobil.
Melihat pemandangan seperti itu, membuat dada Rena bergemuruh karena marah dan benci.
" Harusnya perempuan itu adalah aku Al !" Umpat Rena.
Rena kesal sekali karena melihat Sandra dan Alfian terlihat sangat harmonis. Ada rasa sesal dulu telah menyia-nyiakan Alfian dan memilih menjadi simpanan seorang produser tua demi karirnya. Baginya, Alfian dulu hanyalah boneka uang untuknya.
Tak ingin larut dalam penyesalan, Rena kemudian kembali mencegat taksi lalu mengikuti Sandra dan Alfian dari belakang.
Tak lama berjalan, mobil Alfian dan Sandra memasuki sebuah restoran Korea. Rena tidak bisa mengikuti sampai masuk ke dalam, karena dia yakin, di dalam dia akan menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang mencurigakan. Apalagi kondisi dompetnya yang tidak memungkinkan untuk membeli makanan di sana. Dengan terpaksa, Rena menunggu mereka sampai keluar. Beruntung, tidak lama kemudian Alfian dan Sandra keluar. Alfian terlihat membawa dua kantong makanan. Rena yakin mereka hanya memesan makanan kemudian di bawa pulang.
Setelah setengah jam perjalanan yang macet. Alfian dan Sandra akhirnya sampai di apartemen mereka. Mereka masih belum menyadari jika tidak jauh di belakang mereka, Rena sedang tersenyum licik menatap ke arah mereka karena akhirnya mendapatkan ide dan rencana untuk membuat hidup Sandra tidak tenang.
" Tidak sia-sia aku mengikuti kalian hingga ke sini. Tunggu saja kejutan dari ku Sandra. Mulai besok , hidup mu tidak akan tenang. " Gumam Rena sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1