
" Sandra maaf... Aku tidak tahu jika makanan yang aku beli ada racunnya." Ucap Nurul setelah dokter dan para perawat meninggalkan mereka.
" Tidak apa-apa Rul, bukan salah kamu juga.. Tapi kok bisa ya ? Bagaimana mungkin semua jenis makanan yang kita makan mengandung racun yang sama ? Sedangkan yang jual kan beda-beda orang... Aneh nggak sih ?" Tutur Sandra kemudian.
" Iya , aneh juga sih kalau di pikir-pikir. Atau jangan-jangan ada yang sengaja masukin racun ke makanan kita saat kita tinggal tadi ?" Ucap Nurul ber praduga.
" Bisa jadi, tapi entahlah... Sekarang yang penting kita semua selamat." Ucap Sandra selanjutnya.
" Iya, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf... Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu dan kandungan kamu, bisa-bisa suamimu murka kepadaku.." Ucap Nurul menunduk sedih.
" Hftt.. Aku bahkan tidak menyadarinya jika aku hamil..." Sahut Sandra tak kalah sedihnya.
" Kamu kenapa San... Kok nggak seneng gitu.. Bukanya kamu emang sudah berencana untuk punya anak ?" Tanya Nurul.
" Iya, tapi entahlah.. Setelah melihat foto-foto tadi rasanya aku kecewa. Emang sih, itu hanya masa lalu, tapi entah kenapa aku tidak suka melihatnya."
" Hehe mungkin itu bawaan hormon kamu yang sedang hamil.. Aku dengar orang hamil itu moodnya naik turun... Gampang sekali berubah-ubah. BTW ,,selamat ya San.. Aku seneng dengernya, sebentar lagi aku bakalan jadi aunty deh... Pasti ibuku seneng banget kalau tahu kabar sebaik ini."
" Makasih.... Mm, tapi tolong di rahasiakan dulu ya Rul ?" Kata Sandra tiba-tiba.
" Lho emangnya kenapa ? Bukankah ini kabar yang baik ?" Tanya Nurul.
" Iya... Tapi,,, baiklah... Kamu boleh ngabarin bibi..,, tapi nggak usah kasih tahu yang lain dulu. Termasuk suamiku." Ucap Sandra yakin.
" Kenapa San ? Karena foto-foto tadi ?" Nurul sedikit terperanjat dengan keputusan Sandra.
" Iya, aku jadi kesal sama dia ! Nanti saja kalau waktunya sudah tepat,biar aku sendiri yang memberi tahu Alfian."
" Oke baiklah... Tapi mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati. Aku rasa, memang sedang ada orang jahat yang berniat buruk kepada mu. Apalagi setelah kejadian hari ini. Aku yakin pasti semua ini ulah orang itu juga. Coba deh kamu pikir. Pedagang-pedagang itu sudah lama berjualan di sana. Dan baru sekarang kita mengalami keracunan seperti ini. Sedangkan tadi aku lihat mereka yang makan di sana tetap baik-baik saja.. Bahkan ketika kita lewat saat tadi di bawa ke sini, aku lihat mereka tetap masih duduk menikmati makanan mereka di sana. Dan lagi, siapa orang yang tadi mengirim foto-foto itu ? Apa tujuannya ? Kenapa mereka tahu kamu ada di sana ? Untuk apa orang itu memberimu foto-foto tersebut kalau bukan untuk memprovokasi hubungan mu dengan suamimu ?" Tanya Nurul menyimpulkan.
Sandra manggut-manggut mendengarnya. Apa yang di katakan oleh Nurul ada benarnya juga. Dia semakin yakin jika memang ada orang yang berniat jahat kepadanya. Entah apa tujuannya yang pasti orang itu pasti sangat membencinya. Sedangkan Sandra sama sekali tidak merasa jika dia punya musuh atau sudah jahat dengan orang lain.
Saat tengah memikirkan sesuatu, tiba-tiba ponsel Sandra berbunyi. Segera Sandra mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya. Untung tasnya berada tidak jauh dari jangkauannya karena satu tangannya masih memakai selang infus.
Tepat saat itu seorang dokter kembali masuk ke ruangan mereka dan menyerahkan hasil pemeriksaan mereka.
" Halo..." Jawab Sandra.
" Halo sayang, kamu dimana ? Kenapa dari tadi tidak di angkat ?" Ucap Alfian dari telepon.
" Aku di rumah sakit mas sama Nurul ..."
__ADS_1
" Apa !! Rumah sakit ? Kamu kenapa? Tanya Alfian semakin khawatir karena sejak tadi dia menelepon ponsel Sandra tapi tidak diangkat.
" Eeh, kata dokter keracunan makanan.."
" Cepat katakan kalian ada di rumah sakit mana...!" Potong Alfian semakin panik mendengar istrinya yang dirawat di rumah sakit.
Setelah Sandra memberi tahu di rumah sakit mana mereka di rawat, Alfian segera mematikan sambungan teleponnya.
" Huft dasar nggak sopan !" Ucap Sandra setelah ponselnya mati.
" Kenapa San ... Suami kamu ? "
" Iya, emang siapa lagi kalau bukan dia.." Tutur Sandra. Entah mengapa dirinya menjadi emosi dengan suaminya sendiri semenjak melihat foto-foto masa lalu suaminya bersama sang mantan.
" Ini hasil pemeriksaan kalian... Setelah infusnya habis nanti kalian sudah di perbolehkan pulang. Untuk biaya,bisa di selesaikan di bagian administrasi..." Ucap dokter itu.
" Baik dok, terimakasih banyak..." Jawab Sandra dan Nurul sambil menerima kertas hasil pemeriksaan mereka.
Setelah dokter pergi, Sandra langsung menyimpan kertas hasil pemeriksaannya ke dalam tas sebelum suaminya mengetahuinya.
Tak lama berselang, Alfian datang bersama Arkha .. Laki-laki itu terlihat tak kalah paniknya setelah sang kakak mengabari jika Sandra dan Nurul tengah berada di rumah sakit karena keracunan.
" Sayang ?" Panggil Alfian sambil ngos-ngosan. Bisa di pastikan jika kedua laki-laki itu habis berlari.
" Mas, satu-satu dong kalau tanya.. Aku jadi bingung mau jawab yang mana !" Jawab Sandra cemberut.
" Mm, kami sudah baik-baik saja tuan." Nurul membantu Sandra menjawab pertanyaan Alfian. Hal itu dia lakukan untuk menghindari tatapan dari Arkha yang membuatnya merasa canggung dan gugup.
" Kau yakin ?" Timpal Alfian menoleh kepada Nurul.
" Ka...Kata dokter sih begitu tuan." Cicit Nurul lirih,dia sedikit takut melihat tatapan tajam dari suami sahabatnya itu. " Suamimu menakutkan sekali sih San...?" Batinnya.
" Cepat ceritakan, bagaimana kronologinya... ? Aku tidak akan pernah melepaskan penjual makanan itu ! Berani sekali menjual makanan yang berbahaya demi meraup keuntungan !"
" Tenang dulu mas, ini di rumah sakit... Jangan teriak-teriak begitu !" Kata Sandra yang semakin kesal dengan tingkah suaminya.
Nurul kemudian menceritakan apa yang terjadi sedetail mungkin, kecuali saat ada anak kecil yang memberikan foto kepada Sandra karena sejak tadi Sandra sudah memberinya kode agar tidak menceritakan hal itu.
" Ck... Jadi, ada yang dengan sengaja meracuni kalian ?" Ucap Alfian setelah mendengar penjelasan dari Nurul.
" Sa...saya rasa begitu tuan. Saya juga tidak tahu pasti." Sahut Nurul sambil menunduk. Sungguh, tatapan dari Arkha yang sejak tadi diam saja membuatnya menjadi tidak nyaman. Apalagi ternyata yang di katakan oleh Sandra tidaklah bohong. Pria itu kini terlihat sedikit berewok dengan bulu-bulu halus di bawah janggut dan kumisnya. Apalagi sejak tadi Arkha sama sekali tidak bersuara sedikit pun dan hanya menatapnya tanpa ekspresi sedikit pun.
__ADS_1
" Sial ! Ini pasti ulah orang yang sama ! Kenapa juga orang-orang bodoh itu sampai sekarang belum mengabari ku ? Menyelidiki hal kecil begitu saja tidak becus !" Umpat Alfian marah.
Sandra hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Alfian yang emosional seperti itu.
" Terus kemana para dokter ? Kau yakin sudah baik-baik saja yank ?" Tanya Alfian berubah khawatir. Sejak tadi kata-kata seperti itu lelah yang dia tunggu dari suaminya,bukan malah amarah yang tidak jelas.
" Aku baik, lagi pula setelah infusnya habis kita berdua sudah boleh pulang kok." Imbuh Sandra.
" Syukurlah... Kalau begitu, kita nanti langsung pulang ke rumah baru kita saja.. Semakin cepat semakin baik. Apartemen sudah tidak aman lagi untuk kita." Tutur Alfian.
" Baiklah.." Jawab Sandra acuh.
" Kamu kenapa sayang ? Kamu marah ?" Tanya Alfian yang baru menyadari jika sikap Sandra sejak tadi berbeda dari biasanya.
" Enggak... Aku hanya lelah saja." Jawab Sandra berbohong.
" Kalau lelah, sebaiknya istirahat lagi yank.. Tidurlah, ayo aku bantu berbaring." Ucap Alfian kemudian membantu Sandra berbaring dengan nyaman di ranjang rumah sakit.
" Rul... Kamu nanti ikut pulang ke rumah ku saja sekalian." Pinta Sandra, dia khawatir dengan kondisi sahabatnya. Setelah pulang dari sini nanti siapa yang akan merawatnya ?
" Nggak usah San.. Lain kali saja ya.. Aku langsung ke kost aja !" Tolak Nurul yang tidak ingin lama-lama bertemu dengan Arkha. Jika dia ikut Sandra otomatis dia masih akan bertemu dengan Arkha, sedangkan selama ini, Nurul sudah mati-matian berusaha menghindari laki-laki itu.
" Kau yakin ? Terus yang ngerawat kamu nanti siapa ?" Lanjut Sandra.
" Jangan cemaskan aku, aku sudah sembuh, kamu tahu sendiri kan, tadi aku hanya sakit perut.. Tidak separah yang kamu alami." Jawab Nurul tetap menolak ajakan sahabatnya.
" Tapi kan....."
" Kalau dia tidak mau jangan di paksa sayang. Lagian kan ada Arkha.. Nanti biar dia yang mengantarnya pulang." Ucap Alfian yang belum tahu jika Arkha dan Nurul sudah putus.
Nurul mendelik mendengar hal itu. Niat hati ingin menghindar tapi justru dia harus berduaan dengan Arkha.
" Oh ya ampun..." Batin Nurul lagi.
Arkha pun hanya diam saja. Tidak terkejut, tidak mengiyakan maupun menolak ucapan kakaknya.
" Ah, tidak perlu tuan. Aku yakin Arkha pasti sibuk .. Aku bisa naik taksi nanti." Tolak Nurul lagi.
" Ck .. Sejak tadi kau sudah menolak niat baik istri ku dan diriku !" Ucap Alfian geram.
Tentu saja hal itu langsung membuat nyali Nurul menciut dan diam tidak membantah lagi.
__ADS_1
Sedangkan Arkha, meski terlihat acuh dan dingin, dalam hati dia sangat bersyukur bisa melihat Nurul lagi meskipun dengan keadaan Nurul yang kurang baik. Dia juga senang akhirnya ada kesempatan untuk berdua lagi. Tentu saja hal itu tidak akan dia sia-siakan begitu saja. Meski masih tersisa sedikit rasa kesal karena Nurul telah memutuskannya, tapi hal itu dia tepis jauh-jauh.. Mulai sekarang dia bertekad akan menggapai hati itu lagi.