Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Kerokan


__ADS_3

Selesai mengobrol dengan mertuanya Sandra pamit ingin istirahat di kamar. Pikirannya terusik tentang hubungannya dengan Alfian.


" Apakah aku harus tetap bertahan ? Bapak.... Ibu, Sandra harus gimana ?" Tanya Sandra dalam hati.


Sandra kemudian masuk ke dalam kamar dengan perasaan tak menentu. Banyak sekali orang-orang disekitarnya yang tidak menginginkannya berpisah dari suaminya.


"Mengapa mereka semua menginginkannya begitu ?" Lanjut Sandra.


" Lhoh ... Kok dia gak berangkat kerja ?" Ucap Sandra bermonolog dalam hati setelah melihat Alfian tertidur di kamar.


" Ah masa bodo... Namanya juga bos besar ! Pasti suka-suka dia lah.." Lanjut Sandra tidak perduli.


Sandra lalu mengambil kopernya yang berada di dekat ranjang kemudian memindahkan pakaian di dalam koper itu ke lemari di ruang ganti.


Sandra kembali ke tempat tidur setelah selesai membereskan pakaiannya. Dia duduk di samping Alfian yang tertidur nyenyak.


" Apakah aku harus memberinya kesempatan ? Mungkinkah hubungan tanpa cinta ini masih bisa di perbaiki ? Sebenarnya laki-laki seperti apa dirimu ? Terkadang kamu sangat jahat dan menjengkelkan, tapi terkadang......Ah, sulit mengartikan sikapmu selama ini kepadaku." Batin Sandra sambil menatap wajah teduh suaminya.


" Sudah puas menatap ku ?" Tanya Alfian tiba-tiba.


Sandra terkejut mendengarnya." Bagaimana dia bisa tahu ?"


" Kamu pura-pura tidur ?" Tanya Sandra kesal.


" Bukankah setiap malam kamu juga begitu ?" Balas Alfian tersenyum.


" Ck.... Jadi kamu tahu ?" Tanya Sandra terkejut.


" Tentu saja, Sudah berapa lama kita tidur satu ranjang ? Tentu aku tahu seperti apa dirimu saat benar-benar tertidur." Jawab Alfian yang membuat Sandra jadi salah tingkah karena ketahuan berbohong.


" Kenapa gak masuk kerja ?" Tanya Sandra mengalihkan pembicaraan.


" Aku tidak enak badan." Ucap Alfian.


" Hanya karena kebanyakan makan ?" Tanya Sandra mencemooh.


" Tidak , aku beneran tidak enak badan. Setiap hari aku bangun lebih pagi dan menempuh jarak yang lumayan jauh dari kantor. Kepalaku jadi sering pusing." Tutur Alfian memberi tahu.


" Lagian siapa suruh melaju dari kampung ke kota... Aku kan gak nyuruh mas pulang !" Protes Sandra.


" Bagaimana bisa aku tidak pulang.... Istriku ada di sana... Lagi pula di manapun kamu berada aku akan selalu mengikutimu..." Goda Alfian.


" Ckckck ! Sejak kapan mas bisa ngegombal ?" Tanya Sandra keheranan. Setahunya Alfian hanya bisa mengomel dan marah-marah terus.


" Siapa yang ngegombal !" Bantah Alfian.


" Mas lah , siapa lagi ? "


" Hmz... Haruskah aku bersumpah ?"


" Tidak perlu ! Coba sini aku lihat....... ,katanya gak enak badan, siapa tahu cuma akal-akalan mas aja !" Sandra menempelkan telapak tangannya ke kening Alfian.


" Mas demam ?" Tanya Sandra setelah memeriksa kening Alfian.

__ADS_1


Alfian menggeleng dan mengangkat kedua bahunya.


" Huuuekk...." Alfian kembali merasakan mual di perutnya kemudian berlari ke kamar mandi.


Sandra mengikutinya di belakang dan kembali memijat tengkuk Alfian.


Keringat dingin keluar dari tubuh suaminya. Wajahnya juga penuh dengan peluh.


" Mas baik-baik saja ? Aku minta bibi panggilkan dokter keluarga ya mas ?" Ucap Sandra cemas.


" Tidak perlu, nanti papa semakin kepikiran jika tahu aku sedang sakit. Temani aku di sini saja.... Nanti juga sembuh." Ucap Alfian sambil membersihkan mulutnya.


" Ya udah bentar aku ambilkan minum." Sandra bergegas ke dapur dan mengambilkan air putih untuk Alfian.


" Ini minum. " Perintah Sandra setelah sampai ke dalam kamar lagi.


Alfian lalu mengambil gelas itu dan meminumnya sedikit.


" Sudah mendingan belum ? Aku ambilin paracetamol ya, biar demamnya turun."


Sandra melayani Alfian yang sedang sakit. Alfian pun menuruti apa yang Sandra katakan.


" Mas mau cepet sembuh ?" Tanya Sandra kemudian.


"Iyalah...." Jawab Alfian.


" Aku kerokin ya mas ? Kalau di kampung biasanya aku di kerokin ibu kalau sedang masuk angin atau tidak enak badan seperti mas sekarang ini." Tawar Sandra.


" Kalau begitu sekarang di coba ya ? Aku jamin nanti langsung enteng badannya."


" Kamu yakin ?" Tanya Alfian kembali. Seumur-umur belum pernah dia kerokan. Biasanya jika sakit tinggal menelpon dokter keluarga dan istirahat beberapa hari di rumah.


" Percaya deh sama aku...! Aku sudah sering melakukannya saat tidak enak badan. Manjur banget lho .." Ucap Sandra meyakinkan.


Karena tidak ingin membuat Sandra kecewa akhirnya Alfian mau di kerokin. Sandra lalu mengambil minyak dan uang koin dari tas kecil yang dia kenakan.


" Sekarang buka pakaian mas..." Perintah Sandra.


" Buka pakaian ?" Tanya Alfian.


" Iyalah mas, kalau gak buka baju gimana bisa aku ngerokin ? Mas juga duduk aja deh .. Lebih gampang ngerokinnya."


" Iya deh...." Alfian lalu melepaskan kemeja kerjanya malu-malu.


" Mas balik badan.... Hadap ke sana dong ?" Pinta Sandra.


Alfian terus menurut. Kini Sandra sudah duduk di belakang Alfian dan siap mengoleskan minyak ke tubuh atletis milik suaminya.


" Aa.... Sandra sakit !!" Teriak Alfian setelah benda koin itu bersentuhan dengan kulit tubuhnya.


" Tahan bentar dong mas ?"


" Aa.... sudah, sakit Sandra...!"

__ADS_1


" Tahan !"


" Singkirkan itu !"


" Gak .... Sudah merah lho mas ....!"


" Aaaa....ahhh...Tapi ini sakit !"


" Mas mau sembuh enggak ? Kalau mau sembuh diem aja ! Lagian Cemen banget jadi laki-laki. Dikerokin aja teriak-teriak sampai segitunya !" Ucap Sandra kesal.


" Ya sudah pelan-pelan saja !"


" Ini juga sudah pelan maaas !!!" Balas Sandra saking jengkelnya.


" Aaahhh !!"


Bruk ! Alfian jatuh tengkurap di kasur, lalu Sandra dengan sigap langsung duduk di pantat Alfian agar tidak bisa kabur darinya.


" Sandra !! Sudah, sakit sekali !!! Turun Sandra.... Awas...!!" Teriak Alfian kesakitan... Dia memang belum pernah kerokan sebelumnya.


Sandra tidak menghiraukan teriakan Alfian dan terus melakukannya hingga selesai.


" Nah sudah.... Selesai......? Gimana mendingan kan." Kata Sandra lalu turun dari tubuh Alfian yang tengkurap. Kini badannya penuh dengan tato merah dari uang koin. Sandra tersenyum puas melihatnya.


Awalnya Alfian merasakan perih di punggungnya namun berangsur-angsur menghilang dan tubuhnya terasa lebih enak. Ternyata benar apa yang di katakan oleh Sandra....


Tapi ...... Hap ! Alfian gantian menyergap Sandra dan gantian menindihnya. Kini dia berhasil mengungkung tubuh kecil istrinya.


" Mas lepas....! Mas ngapain ?"


" Gantian dong, kan dari tadi kamu yang sudah nindihin aku !" Ucap Alfian dengan senyum misteriusnya.


" Gak lucu ya mas.... Bukanya terimakasih malah giniin aku ! Lain kali aku gak mau nolongin mas lagi ! Mau sakit kek mau masuk angin Sandra gak perduli !" Omel Sandra yang kini dag dig dug gara-gara ulah Alfian. Hatinya berdesir saat tubuh Alfian mengungkungnya dengan erat.


" Oke... Kalau begitu sebagai ucapan terimakasih aku bakal kasih hadiah untuk istriku ini." Kata Alfian masih dengan senyum liciknya.


" Gak perlu hadiah mas... Mas Lepaskan aku saja !" Pinta Sandra.


" Boleh .... Tapi setelah......." Tak memakai aba-aba Alfian lalu mencium seluruh wajah Sandra, dari kening, pipi lalu sekilas di bibir."


" Itu hadiah untukmu...." Kata Alfian kemudian beralih dari tubuh Sandra tapi tetap memeluknya dengan erat.


" Sekarang aku mau kamu menemaniku tidur !" Lanjut Alfian.


" Apa maksudnya ?" Sandra berusaha memberontak. Namun semakin dia berontak maka semakin erat pula Alfian memeluknya.


" Diam dan tenanglah...... Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu." Bisik Alfian. Bulu kuduk Sandra meremang mendengarnya. Alfian lalu membenamkan wajah Sandra dalam pelukannya. Seketika jantung Sandra berdetak dengan kencang. Bahkan kini dia juga bisa mendengar detak jantung Alfian yang tidak kalah berdetak kencang.


Alfian kemudian menutup kedua matanya sambil tersenyum penuh kemenangan. Saat-saat seperti inilah yang dia nantikan. Bisa sedekat dan seintim itu dengan Sandra. Apa lagi hembusan nafas hangat Sandra di dadanya yang polos tanpa baju membuat hatinya bergelora. Ada hasrat yang ingin dia saluran, tapi dia mencoba untuk menahannya. Sekarang bukanlah waktu yang tepat. Bisa tidur sambil memeluknya saja Alfian sudah sangat bersyukur mengingat selama seminggu yang lalu Sandra mendiamkannya. Bahkan tidak mau menatap wajahnya secara langsung.


" Jika tidak masuk bekerja bisa membuatku memeluk dan berduaan terus dengannya aku rela tidak bekerja selamanya !" Batin Alfian senang.


Keduanya lalu semakin hanyut dalam perasaannya masing-masing. Semakin lama akhirnya keduanya tertidur sambil saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2