Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Rahasia yang Terkuak


__ADS_3

" Ibu kemana saja ?" Tanya Sandra senang. Akhirnya dia bisa bertemu dengan ibunya. Bu Lastri memakai pakaian serba putih dan beliau terlihat sangat sehat dan sumringah.


Bu Lastri hanya membalasnya dengan tersenyum.


" Ibu.....Sandra takut, jangan pergi lagi bu......" Pinta Sandra sambil merengek.


" Ibu tidak pergi sayang, ibu selalu ada di hati Sandra .." Bu Lastri tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Sandra.


" Kalau ibu pergi, ajak Sandra ikut denganmu ya bu ?" Sandra bertanya dengan sedih.


" Sandra .. Jangan bersedih, terus lanjutkan hidupmu.... Ibu berharap kamu segera menemukan kebahagiaan. Sabar sayang, kelak kita akan berjumpa lagi. Ibu harus pergi......." Ucap Bu Lastri....


" Tidak bu, jangan,, jangan tinggalkan Sandra !!" Teriak Sandra yang kemudian terjaga dari tidurnya.


Mendengar Sandra yang berteriak Alfian segera mendekatinya.


" Sandra ..., kamu kenapa ?" Tanya Alfian cemas.


" Ibu mas,, Sandra ketemu ibu.., ibu ninggalin Sandra lagi....Huhuhu...." Isak Sandra.


Alfian memeluk dan mengelus istrinya agar tenang.


" Kamu hanya bermimpi Sandra... Ibu sudah tenang di tempat yang baru.." Ucap Alfian.


" Mimpi ? Jadi .... Ibu....Ibu .....huhuhuhu....." Sandra kembali menangis tersedu. Apakah dia baru saja bermimpi ? Tapi kenapa begitu terasa sangat nyata ? Pikir Sandra kebingungan.


Alfian mengambilkan Sandra air putih. Sandra meminumnya supaya menjadi lebih tenang.


Nurul dan Bibi Nani ikut masuk ke kamar melihat kondisi Sandra.


" Sandra.....?" Sapa Nurul.

__ADS_1


" Rul,, aku baru saja bertemu ibu Rul.... Tapi mas Al bilang aku hanya bermimpi...." Kata Sandra meracau.


" Sandra, jangan lemah seperti ini, kamu harus kuat San. Kami semua menyayangimu.... Apa yang dikatakan oleh suamimu benar... Kamu hanya bermimpi.... Banyak istighfar nak.... Ingatlah kepada Yang Maha Kuasa, semoga ibumu di beri tempat yang indah di sisiNya." Ucap Bibi Nani lembut.


" Iya San... Jangan begini terus. Kamu bukan seperti Sandra yang aku kenal. Kamu gak lemah San...., kamu adalah gadis yang kuat dan tidak mudah putus asa, aku yakin kamu bisa bangkit dan punya semangat hidup lagi. Kedua orang tua mu pasti juga menginginkan hal yang sama. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, semua orang yang di ciptakan Allah pada akhirnya akan meninggal. Semua yang terjadi adalah takdir." Imbuh Nurul yang prihatin dengan kondisi Sandra.


" Takdir ? Enggak... Ini semua karena kekasihnya !" Tunjuk Sandra marah kepada Alfian.


" Rena bukan kekasihku Sandra !" Balas Alfian yang tidak menerima tuduhan itu.


" Tapi itu yang dia katakan pada ibuku ! Kalian jahat kalian berdua keterlaluan ! Kalian yang menyebabkan kematian ibuku !" Teriak Sandra.


Nurul segera memeluk Sandra untuk menenangkannya.


" Itu hanya salah paham... Rena yang telah berbohong tentang hubungan kami." Ucap Alfian sedih.


" Aku tidak mau tahu tentang hubungan kalian. Yang pasti kalian yang menyebabkan ibuku seperti itu !" Sandra berteriak kehilangan kendali. Kehilangan ibunya membuat separuh jiwanya mati.


" Tuan Al, tolong pergi dulu dari sini. " Perintah Nurul sambil mencegah Sandra memberontak dari pelukannya.


" Ayo Tuan , ayo keluar dulu. Biarkan Sandra menenangkan diri terlebih dahulu." Ajak Bibi Nani.


Alfian mengalah, dia bisa memahami betul kenapa Sandra sangat marah kepadanya sampai seperti itu. Di jelaskan saat ini pun juga percuma karena keadaan Sandra baru tidak stabil.


" Maafkan istri mu ya tuan... Tolong maklumi keadaannya. Sandra pasti masih sangat syok kehilangan ibunya. Ibunya adalah segalanya bagi dia, karena sejak kecil Sandra paling dekat dengan ibunya. Belum lagi kepergian bapaknya juga masih menyisakan kesedihan di hatinya, di tambah sekarang ibunya ikut menyusul pergi...., pasti dia sangat terpukul dan terguncang." Ucap Bibi Nani berkaca-kaca.


Alfian dan Bibi Nani kini duduk di ruang tamu. Rumah itu kini sepi. Pak Wijaya harus pergi ke kantor sedangkan Arkha dan Neta juga harus kuliah dan sekolah. Sedangkan Dias, dia menggantikan tugas Alfian di kantor dan juga mengurus ijin kuliah Sandra.


" Jangankan Sandra yang anaknya, saya yang hanya sebagai tetangganya saja sangat terpukul oleh kepergian Mbak Lastri." Ucap Bibi Nani melanjutkan ceritanya.


Alfian menunduk sedih. Keadaan semakin rumit sekarang. Niat ingin membuat kejutan agar Sandra bahagia justru musibah datang menghampiri mereka. Ditambah masalah Rena yang sekarang membuat Sandra marah dan semakin membencinya.

__ADS_1


" Aku tidak menyangka semua ini akan terjadi bi. Aku juga tidak tahu jika Rena akan datang menemui ibu." Jelas Alfian.


" Ibu mengerti..., jangan terlalu di pikirkan dan menyalahkan diri sendiri, nanti ada waktu sendiri untuk menjelaskan kesalahpahaman itu. Sekarang bersabarlah dahulu. Bibi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."


Alfian mengangguk kecil.


" Ada rahasia yang ingin ibu ceritakan padamu sekarang. Mungkin hal ini bisa mengurangi rasa bersalahmu. Bibi sendiri juga merasa bersalah karena telah ikut merahasiakan hal ini dari Sandra." Lanjut Bibi Nani.


" Rahasia apa bi ?" Tanya Alfian.


" Rahasia tentang kebenaran penyakit ibu Sandra.... Ya, Mbak Lastri....., sebenarnya dia sudah dua tahun ini berjuang melawan penyakitnya. Namun dia tidak memberi tahu Sandra tentang penyakitnya. Bibi juga tahunya belum lama, awalnya Mbak Lastri sering mengeluh sakit kepala dan sering jatuh pingsan. Suatu hari dia pingsan setelah pulang dari berkeliling jualan sayur. Saat itu bibi menyuruh Sandra pergi mencari bapaknya yang sedang menarik becak.Tidak tahunya Mas Imam sampai di rumah sesaat setelah Sandra pergi mencarinya. Kemudian bibi ikut mengantarkan Mbak Lastri berobat, bertiga saja dengan Mas Imam. Dari situlah bibi tahu jika Mbak Lastri menderita meningitis yang sudah parah dan diam-diam menjalani pengobatan rawat jalan di rumah sakit daerah. Tapi saat itu Mbak Lastri menyuruh bibi berjanji agar tidak memberi tahu Sandra tentang penyakitnya yang sebenarnya, dan jika Sandra bertanya....., bibi di suruh menjawab jika Mbak Lastri sakit vertigo. Mbak Lastri dan Pak Imam sepakat merahasiakan hal itu agar Sandra tidak sedih dan khawatir. Keadaan Mas Imam dan Mbak Lastri yang memburuk membuat mereka sedih.... Lalu datanglah Pak Wijaya, beliau yang kemudian membantu membiayai pengobatan Mas Imam. Tapi untuk pengobatan Mbak Lastri mereka memakai tabungan yang mereka kumpulkan untuk biaya kuliah Sandra yang tidak di ketahui olehnya. Mereka bersikeras tetap tidak ingin Sandra tahu tentang penyakit ibunya, dan mereka juga tidak mau terlalu merepotkan Pak Wijaya lagi." Bibi Nani menceritakan kebenaran yang selama ini dia ketahui.


Alfian masih mendengarkan dan mencernanya dengan baik.


" Setelah lulus SMA Sandra tidak melanjutkan kuliah. Dia bisa mengerti dengan kondisi orang tuanya dan tidak pernah memaksakan kehendaknya. Tapi dia tidak menyerah begitu saja, Sandra tetap ingin melanjutkan sekolahnya ke universitas. Kemudian Sandra bekerja di restoran tuan menggantikan putri pertamaku. Rencananya dia akan mencari uang setahun atau dua tahun dulu, jika uangnya sudah terkumpul barulah dia akan melanjutkan kuliah sambil tetap bekerja. Cita-citanya tidak muluk-muluk, Sandra hanya ingin membahagiakan kedua orang tuanya dengan pencapaiannya. Tapi takdir siapa yang tahu, setelah sepakat menjodohkan putrinya dengan putra Pak Wijaya, Mas Imam meninggal bahkan saat kalian belum melaksanakan ijab qobul. Dan sekarang.... Mbak Lastri menyusulnya pergi." Imbuh bibi Nani sambil menghapus air mata yang keluar dari matanya.


Alfian tak bisa menahan kesedihannya mendengar cerita dari Bibi Nani. Dia tidak percaya orang tua Sandra merahasiakan hal sepenting itu. Alfian juga tidak menyangka begitu banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Sandra, tentang istrinya sendiri. Selama ini dia menuduh Sandra dan orang tuanya hanya memanfaatkan keluarganya demi harta. Kini dia sangat malu pernah mempunyai pemikiran buruk seperti itu, Alfian menutupkan kedua tangannya ke wajah untuk menutupi air mata yang keluar dari sudut matanya.


" Tapi kembali lagi, kita sebagai manusia hanya bisa berencana. Tapi Tuhan yang menentukan semuanya. Seolah seperti sudah mempunyai firasat, Mas Imam menyetujui perjodohan yang Pak Wijaya tawarkan. Hanya satu tujuan Mas Imam....., saat beliau pergi, dia ingin putri satu-satunya sudah ada pendamping hidup yang akan selalu menjaga dan menyayanginya melebihi dirinya. Terlebih dengan keadaan Mbak Lastri yang semakin sering pingsan membuat keduanya khawatir dengan Sandra. Mereka takut meninggalkan Sandra sendirian jika mereka tiada."


Jeda. Bibi Nani mengatur nafasnya agar tenang. Dia kembali menghapus air mata yang mengalir. Sedangkan Alfian merasa teriris hatinya, dia sangat merasa bersalah sekarang. Selama ini dia selalu memperlakukan Sandra dengan buruk. Sejak awal pertemuan mereka, dia selalu bersikap tidak baik. Padahal orang tua Sandra begitu yakin menyerahkan putrinya kepadanya. Bahkan tanpa mengenalnya terlebih dahulu. Alfian merasa sesak dan merutuki kebodohannya.


Tanpa mereka sadari, Sandra mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu. Nurul memegang bahu Sandra untuk menguatkan sahabatnya itu. Sebagai anak Sandra merasa sangat tidak berguna. Ibunya sakit dan dia tidak pernah menyadarinya. Selama ini dia mengira jika ibunya sering pingsan hanya karena kelelahan. Dia tidak menyangka jika ibunya menderita penyakit serius. Dan kini dia juga tahu alasan kenapa orang tuanya bersikeras memaksanya menikah secepatnya. Tubuh Sandra kembali lunglai. Untung saja Nurul sedia i belakangnya.


" Sandra, ayo ku bantu kembali ke kamar." Nurul memapah Sandra yang terkejut.


Setelah sampai di kamar Sandra kembali menangis. Nurul sampai kebingungan harus bagaimana lagi agar Sandra berhenti menangis.


" Ada satu hal lagi tuan ...." Imbuh Bibi Nani di ruang tamu.


" Sandra memiliki penyakit asma bawaan. Dia tidak kuat dengan udara dingin dan juga AC yang menyala terlalu dingin. Dia juga alergi pada debu. Jika kedinginan asmanya bisa kambuh. Dan jika tanpa sengaja dia menghirup debu yang berlebihan dia akan terbatuk-batuk lalu sesak nafas. Saat ini, hanya kamu suaminya yang bisa terus di sampingnya. Untuk itu bibi mengingatkan padamu. Tolong jaga Sandra kami dengan baik." Ucap Bibi Nani.

__ADS_1


Alfian mengangguk dengan patuh. Dalam hati dia berjanji mulai sekarang dia akan menjaga Sandra dengan baik.


Pantas saja selama ini Sandra selalu tidur memakai masker jika dirinya menyalakan AC kamar dengan suhu yang sangat dingin. Lagi-lagi Alfian bertambah merasa bersalah.


__ADS_2