Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Alfian Menginginkan Seorang Anak


__ADS_3

Dua bulan kemudian, Sandra mulai terbiasa dengan rutinitas barunya sebagai pemilik sebuah butik. Awalnya memang tidak semudah yang Sandra bayangkan. Pagi-pagi sekali dia sudah harus bergelut dengan pekerjaan rumah dan melayani kebutuhan suaminya terlebih dahulu, kemudian di lanjutkan kuliah sampai tengah hari dan barulah fokus kepada pekerjaannya di butik hingga sore hari. Hal itu membuat tubuhnya bereaksi keras. Pegal dan lelah kerap sekali dia rasakan. Untungnya lama kelamaan Sandra bisa menyesuaikan diri karena memang dia tipe orang yang suka bekerja.


Sibuk dengan pekerjaan masing-masing tidak membuat perhatian dan kasih sayang dari suaminya berkurang. Sebisa mungkin, Alfian selalu menyempatkan diri untuk menjemputnya setelah pulang kerja. Sandra pun juga begitu. Sering memberikan kejutan kecil untuk suaminya. Seperti, memberikan setelan kerja yang dia buatkan khusus untuk suaminya. Atau membuatkan makanan kesukaan Alfian. Sejauh ini, tidak ada masalah dalam hubungan mereka.


Sandra tak berharap banyak pada awal merintis usaha, tapi berkat perjuangan dan kerja kerasnya bersama seluruh pegawainya. Di bulan kedua ini, usaha Sandra sudah mulai menunjukkan kemajuan. Dan dengan keuntungan yang di peroleh, Sandra sudah bisa mulai mencicil uang Alfian meski suaminya itu sangat keberatan pada awalnya.


Setelah isya', Sandra dan Alfian sedang menuju ke rumah Pak Wijaya. Sudah lama mereka tidak mengunjungi papa mertuanya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Tak lupa, Sandra mampir terlebih dahulu membeli cake dan beberapa makanan lainnya untuk buah tangan. Sandra tersenyum senang dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan keluarga suaminya.


" Kak Sandraa !!!" Jerit Neta yang langsung histeris begitu melihat kakak iparnya itu muncul dari balik pintu.


Bagaimana tidak, sejak kejadian Sandra di culik,, Alfian melarangnya mengajak kakak iparnya itu ke tempat-tempat keramaian. Jadilah mereka jarang bertemu.


" Aaaa... Kangen... Kakak jahat ya sekarang. Mentang-mentang sudah punya usaha sekarang gak pernah ke sini !" Omel adik iparnya setelah melepas pelukan.


Sandra yang gemas mendengar protes dari adik iparnya itu segera mencubit pipinya yang sedikit chubby.


" Isshh... Adek kakak sudah berani marah ya sekarang ? Hehehe. Maaf ya , kakak baru sempet main..Maafff banget..." Ujar Sandra bahagia.


Selalu inilah yang dia rindukan dari keluarga suaminya. Dia sangat di terima baik dan selalu di perhatikan oleh keluarga itu. Suasana kehangatan keluarga itulah yang membuat Sandra sering merindukan mereka.


" Eh, tumben pada ke sini. Papa pikir kalian sudah lupa jalan ke sini. " Sindir papa mertuanya.


" Hehehe... Maaf pa, kita sedang sibuk. Jarang sekali ada waktu luang. Kalaupun ada biasanya kita gunakan untuk benar-benar istirahat." Ucap Sandra yang tidak enak sebenarnya terhadap mertuanya. Berbeda dengan Alfian yang cuek saja.


" Hm.. Papa sudah tahu kok. Papa dengar juga , katanya usaha kamu sudah mulai ada kemajuan. Papa ikut senang mendengarnya." Sahut Pak Wijaya.


" Alhamdulillah, doakan selalu ya pa..."


" Iya, papa selalu doakan yang terbaik untuk anak-anak papa. Tapi pesan papa, kalian berdua jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sesekali sempatkan waktu untuk jalan-jalan atau berbulan madu. Jujur papa sudah tidak sabar ingin menggendong cucu." Ucap Pak Wijaya menasehati.


Sandra di buat salah tingkah dengan perkataan mertuanya. Masalahnya, bagaimana dia bisa memberikan keturunan jika diam-diam Sandra selalu minum obat kontrasepsi setiap malam ? Bukan karena tidak ingin punya anak. Hanya saja Sandra merasa belum siap untuk hamil dan punya anak. Apalagi dia baru saja merintis usahanya dan juga masih fokus kuliah. Jika hamil sekarang, dia takut semuanya akan terbengkalai karena dia harus fokus mengurus bayi.


" Papa apaan sih ?? Ya sedikasihnya kapan lah pa... Kalau belum waktunya punya anak, sekeras apapun usaha kita ya bakalan belum di kasih.." Tegur Alfian.


" Iya, papa juga ngerti kok. Maaf jika membuat kalian tersinggung. Tapi papa hanya mengingatkan kalian agar jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jika kalian terlalu sibuk kapan papa punya cucunya.." Ucap Pak Wijaya tak mau kalah dari anak pertamanya.


" Sabar ya pa... Kita gak tersinggung sama sekali kok..." Kata Sandra menenangkan mertuanya.


" Mungkin karena emang belum di kasih kepercayaan aja pa.. " Lanjut Sandra berbohong. Rasa bersalah kini mendera di dalam hatinya.


Pak Wijaya mengangguk-angguk mengerti. Paham dengan maksud menantunya. Lagi pula, sebenarnya bukan masalah cucu yang dia takutkan, akan tetapi keharmonisan rumah tangga anaknya. Banyak sekali pasangan yang bercerai karena kurangnya komunikasi. Dan pemicunya adalah kesibukan dari masing-masing pasangan. Pak Wijaya tentu tidak ingin hal itu terjadi kepada pernikahan anak-anaknya. Apalagi Sandra dan Alfian sama-sama pekerja keras. Jika sudah bertekad keduanya akan bekerja semaksimal mungkin untuk menggapai apa yang mereka mau.


" Kok berdiri aja ... Kita masuk yu kak... Bibi sudah masak banyak. Tadi aku langsung bilang jika kakak mau makan malam di sini." Ucap Neta menengahi. Dia tahu jika kakaknya tidak nyaman atau mungkin risih di tanyai soal keturunan.


" Waahh ,bibi ... Aku kangen banget sama masakan bibi..." Ucap Sandra setelah duduk di meja makan.


" Ah non, bikin bibi malu non... Masakan bibi mah biasa saja." Balas Bu Ida malu.


" Siapa bilang bi ? Masakan bibi tuh juara tahu gak ... ! Apa lagi sayur asemnya. Seger dan enak banget..." Kata Sandra sambil mengacungkan kedua jempolnya.


" Makasih ya non.. Kalau begitu non wajib makan yang banyak. Nanti kalau perlu bibi siapin buat di bawa pulang." Ujar Bibi Ida.


" Gak usah bi, aku makan di sini aja. Kerjaan bibi kan sudah banyak. " Tolak Sandra.


" Serius non. Kalau mau, gak apa-apa bibi bikinin lagi yang baru."


" Gak usah bi, ini juga udah cukup buat melepas rindu sama masakan bibi." Ucap Sandra sekali lagi. Dia tidak ingin merepotkan Bi Ida.


" Baik non. Saya ke belakang dulu kalau begitu."


Sandra mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Tak selang lama. Suaminya, Pak Wijaya dan Arkha datang lalu duduk di meja masing-masing.


" Wah , ada sayur asem ..." Ucap Alfian antusias.


" Iya mas, sudah lama ya kita gak makan sayur asem, apalagi buatan Bi Ida." Imbuh Sandra.


Alfian juga ikut mengiyakan perkataan istrinya.


" Kalian itu aneh, masak liat sayur asem aja bahagia sekali." Ujar Arkha mengolok.


" Hm .. Itu karena kamu belum ngerti aja. Bosen tiap hari makan makanan enak. Yang begini justru ngangenin ... Bikin makan jadi semangat. Apalagi ada ikan asin sama sambelnya begini. Komplit.... Ayamnya buat kamu aja !" Balas Alfian.


Suasana di meja makan kemudian menjadi hangat dan seru. Pak Wijaya tentu saja sangat bahagia dengan kehadiran anak dan menantunya.


Selesai makan malam, mereka duduk bersantai di ruang tengah sambil menikmati cake yang tadi Sandra bawa.


Jika sudah berkumpul begitu, biasanya para lelaki sibuk membahas masalah pekerjaan. Hal itu membuat Sandra dan Neta memilih mengobrol sendiri di kamar Neta.


" Sambil nonton drakor yuk kak. " Ajak Neta.


" Ayuk... Udah lihat yang lagi trending belum ?" Tanya Sandra.


" Sudah kak.. Tapi baru sampai episode tiga. "


" Wah... Kakak malah belum sempat lihat."


" Kalau gitu kita lihat dari awal aja kak. Ceritanya seru kok. Jadi gak ngebosenin kalau di tonton lagi." Kata Neta .


" Oke..."


Malam semakin larut, akhirnya Sandra pamit ke kamarnya.


Setelah menutup pintu kamar, ternyata Alfian sudah ada di dalam kamar. Terlihat pria itu sedang menunggunya karena masih duduk bersandar pada kepala ranjang .


" Iya , tadi lihat drakor sama Neta. Terus tanggung ceritanya lagi seru.. " Balas Sandra.


" Pantas aja... " Desah Alfian.


" Mas ngapain nungguin ? Kan bisa tidur duluan." Sahut Sandra yang melihat wajah Alfian kesal.


" Ada yang ingin aku omongin..." Kata Alfian berubah serius.


Sandra kini ikut duduk di sebelah suaminya.


" Ngomongin apa mas ? Kok serius banget sepertinya." Tanya Sandra.


" Ini tentang perkataan papa tadi..." Ujar Alfian.


" Yang mana ?" Tanya Sandra.


" Yang masalah anak."


Deg !


Sandra terkejut saat Alfian tiba-tiba bertanya masalah itu. Rasa bersalah yang tadi sempat hilang kini kembali lagi menderanya.


" E...emang kenapa mas ?" Tanya Sandra berusaha bersikap sewajarnya saja.


" Aku pikir-pikir, apa yang di katakan papa ada benarnya juga ."


" Maksudnya ??" Tanya Sandra tidak mengerti.

__ADS_1


" Gini, mungkin yang di khawatirkan papa bukan masalah ingin segera punya cucu. Tapi hubungan kita."


Sandra semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Alfian.


" Maksudnya hubungan kita ? Kita kan baik-baik saja mas."


" Benar. Tapi mengingat hubungan kita baru saja baik. Mungkin papa khawatir, karena sekarang kita malah sibuk dengan urusan kita masing-masing , jadi takutnya hal itu membuat jarak di antara kita." Jelas Alfian.


" Ya gak akan lah mas.. Kan kita udah sepakat... Kita juga udah bagi waktu dengan baik. Selama ini buktinya fine aja."Sandra terlihat semakin gusar karena pernyataan Alfian. Sebenarnya bukan masalah hubungan mereka yang Sandra takutkan. Tapi Sandra takut jika ujung-ujungnya Alfian membahas masalah anak.


" Tapi San... Aku ingin punya anak." Ucap Alfian.


Hati Sandra semakin tidak karuan. Ada beban berat yang tiba-tiba menghantam dadanya. Bagaimana caranya bilang jika dia belum ingin punya anak ? Akankah Alfian marah kepadanya ? Belum lagi jika Alfian tahu tentang dirinya yang diam-diam minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuannya. Bisa semakin runyam.


" Apa gak terlalu terburu-buru jika kita punya anak sekarang mas ?" Sandra berucap ragu-ragu.


" Aku rasa enggak. Usiaku sudah dua puluh enam tahun, sebentar lagi dua puluh tujuh. Aku rasa dari usia sudah cukup matang untuk punya anak. Dan untuk masalah finansial, aku rasa aku juga sudah mampu untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan anak." Balas Alfian mantap.


" Tapi.... Aku ...., baru mau dua puluh tahun mas. Bukankah terlalu muda bagiku untuk jadi seorang ibu ?" Tanya Sandra khawatir.


" Kamu belum siap ?" Tanya Alfian.


" Bu...Bukan belum siap mas.. Hanya saja, masih banyak yang ingin aku lakukan sebelum memiliki anak .. Aku ingin kuliahku selesai dulu." Kata Sandra pelan-pelan.


Alfian membuang nafas dengan kasar.


" Sama saja San. Aku pikir kamu juga sepemikiran denganku. Aku tidak ingin menunda-nunda untuk punya anak. Bukankah jika punya anak akan semakin mempererat hubungan kita ??"


" Tapi ... Tapi... Aku ...."


" Aku tahu, kamu ingin menyelesaikan kuliah mu, kamu ingin bekerja mengembangkan butikmu , masih ingin menikmati masa muda mu dengan teman-teman mu.. Begitu kan ? "


" Lhoh kok mas ngomongnya begitu sih mas ! Aku memang masih kuliah, aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu. Dan aku baru saja memulai merintis usaha. Kalau sekarang aku punya anaknya bagaimana dengan masa depan ku ?" Sandra mulai terpancing emosinya dan tidak mau kalah dengan egonya.


" Kamu tetap bisa kuliah dan bekerja meski punya anak Sandra ! Jangan pakai alasan tidak masuk akal seperti itu ! "


" Mas gampang ngomongnya karena bukan mas yang bakal ngejalaninnya ! Setelah aku punya anak, bagaimana aku bisa fokus dengan yang lain mas ? Tentu aku harus fokus pada bayi ku yang lebih membutuhkan perhatian khusus dari ku !"


" Kuliah bisa cuti .. Kerja bisa di urus dari rumah !" Alfian tak mau kalah dengan istrinya.


" Tapi aku masih muda mas !" Kekeh Sandra sama kerasnya.


" Tapi kamu sudah punya suami Sandra ! Jangan samakan dirimu dengan teman-teman mu yang belum menikah. Setelah menikah, punya anak itu wajar..! " Ucap Alfian yang mulai meninggi nada bicaranya.


" Mas egois.. !" Teriak Sandra.


" Aku gak egois Sandra, tapi memang kenyataanya seperti itu. Kamu sudah bersuami.. "


" Ya sudah sedikasihnya saja kalau begitu." Ucap Sandra mengalah. Percuma berdebat dengan Alfian yang sudah pasti tidak mau mengalah. Lagi pula, Alfian juga tidak tahu jika dia meminum pil kontrasepsi agar tidak hamil.


" Nah , itu yang aku inginkan dari tadi. Kenapa kamu berputar-putar terlebih dahulu ?" Cecar Alfian yang masih kesal dengan alasan Sandra tadi.


" Maaf." Ucap Sandra ketus.


" Begitu kah cara meminta maaf ??" Tanya Alfian masih kesal.


" Maaf mas.." Ulang Sandra sambil tersenyum semanis mungkin.


" Gak, gak ikhlas begitu kok ."


" Ah ,Taulah mas ... Terserah... Aku mau tidur !" Sandra begitu jengkel dengan Alfian. Dengan cepat Sandra segera berbaring dan menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut yang tebal.

__ADS_1


Alfian yang masih merasa tidak puas dengan apa yang mereka bahas . Mendengus keras sebelum akhirnya ikut tidur di samping istrinya yang kini membelakanginya.


__ADS_2