Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Kanapa Harus Marah ?


__ADS_3

Malam sudah berlalu. Hari ini Sandra dan Alfian baru saja selesai sarapan di dalam kamar.


" Hari ini kita mau ngapain mas ? Bosan sekali di dalam kamar terus." Sandra mulai mengeluh lagi sambil melihat acara televisi yang menurutnya membosankan.


Alfian berfikir sejenak,lalu menghela nafas panjang.


" Bersiaplah, kita akan jalan-jalan !" Perintah Alfian.


" Jalan-jalan ke mana ?" Tanya Sandra antusias.


" Ke mall. " Balas Alfian singkat.


" Yah ke mall. " Ucap Sandra kecewa.


Alfian menaikkan kedua alisnya. Baru kali ini dia melihat perempuan tidak suka di ajak ke mall. Dulu, Rena malah sebaliknya... dia suka memaksa untuk menemaninya ke mall, tentu juga untuk membelikan apapun yang dia inginkan.


" Mau gak ? Ya udah kita di kamar saja !"


" Ya udah deh, dari pada di kamar. " Balas Sandra kemudian bangkit dan bersiap.


Seperti biasa, Sandra mengenakan celana jeans panjang dan sweater oversize. Sandra memang menyukai baju-baju longgar untuk menutupi bagian depan tubuhnya yang berukuran lebih besar dari remaja pada umumnya. Tak lupa dia mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Kemudian dia bercermin, memakai pelembab wajah dan sun screen lalu menambahkan bedak tipis-tipis. Tak lupa dia juga mengolesi bibirnya dengan pelembab bibir. Selesai... tidak butuh waktu lama baginya berganti pakaian dan berdandan. Dia memang tipe perempuan yang cuek dengan penampilan. Asalkan nyaman dan sopan baginya sudah cukup.


Alfian sudah menunggunya. Untuk pertama kalinya Sandra melihat Alfian mengenakan pakaian santai, dia memakai celana jeans di padukan kaos polos berwarna putih. Tidak lupa dia memakai topi berwarna hitam untuk menutupi kepalanya. Alfian terlihat berbeda sekali, mungkin karena selama ini Sandra melihatnya selalu mengenakan kemeja lengan panjang dan jas terus.


" Memakai pakaian sesederhana itu saja terlihat sangat tampan. Aah... Aku tidak percaya dia suamiku. Seperti langit dan bumi bersanding dengannya. Tapi sayang seribu sayang, ketampanannya tidak sebanding dengan kepribadiannya yang mengerikan." Batin Sandra.


" Apa kau melamun ?!" Seru Alfian mengagetkan Sandra.


" Ah, tidak.. Ayo berangkat !!" Ucap Sandra salah tingkah.


Alfian melajukan mobilnya ke mall terdekat agar tidak memakan waktu yang lama dan menghindari kemacetan.


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di mall sebelum tengah hari.


" Apakah hari ini weekend ?! Banyak sekali pengunjungnya." Ucap Sandra malas.


" Tidak suka ?" Tanya Alfian.


Sandra menggeleng." Aku tidak terlalu suka keramaian." Ucapnya jujur.


" Oya ? Lalu kenapa waktu itu kamu mau ke sini dengan Gilang !" Sindir Alfian.


" Tidak terlalu menyukai bukan berarti tidak suka ! Tunggu dulu, kok mas tau ? " Tanya Sandra penasaran.


" Jangan-jangan mas ngikutin kita ya ! " Lanjut Sandra tidak percaya.


" Ngikutin kalian ? Kamu pikir aku orang yang mempunyai banyak waktu hingga membuang-buang waktu untuk hal konyol seperti itu !?" Bantah Alfian berbohong. Kenyataannya, dia memang mengikuti mereka berdua hari itu.


Sandra memandang penuh selidik. Namun Alfian terlihat santai seperti biasanya. " Lalu bagaimana dia bisa tahu ? Bahkan dia juga tahu kejadian memalukan waktu itu !" Batin Sandra curiga.


" Ayo. Kamu pikir aku mengajakmu ke sini hanya untuk berdiri bengong di sini ?!" Lanjut Alfian lalu menarik lengan Sandra yang masih menatapnya tidak percaya.


" Kita mau ke mana mas ?" Tanya Sandra kemudian.


" Terserah kamu, kamu juga bisa membeli apapun yang kamu mau."


" Tidak ada yang ingin aku beli. Kita berkeliling saja dan melihat-lihat." Ucap Sandra.


" Dia menolak ? Dasar gadis aneh, jika dia perempuan normal seperti pada umumnya, harusnya saat ini dia gembira dan memanfaatkan kesempatan ini." Batin Alfian.


Mereka berdua akhirnya hanya berjalan santai melihat keramaian di sekitar mereka. Beberapa kali segerombolan perempuan ABG melirik ke arah Alfian sambil berbisik-bisik mengaguminya.


" Waah , lihatlah, dia ganteng sekali..." Bisik salah satu dari gadis itu.


" Iya benar. Dia sangat sempurna...., tinggi , putih, hidung mancung, bentuk tubuhnya juga sangat menggoda. Hehehe." Temannya menanggapi.


" Sepertinya dia juga kaya. Apa dia artis ?" Yang lain ikut nimbrung.


" Entahlah... aku belum pernah melihatnya di televisi."


Sandra memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


" Kau marah ? " Tanya Alfian melihatnya.


" Marah ? Untuk apa aku marah." Sangkal Sandra.


" Kau terlihat tidak suka. Atau jangan-jangan kamu cemburu ?" Goda Alfian.


" Mana mungkin aku cemburu, jangan suka mengada-ada mas ! Aku hanya merasa heran kepada mereka yang terlalu berlebihan memujimu. Sempurna ? OMG !!" Ucap Sandra sambil menepuk jidatnya sendiri.


" Kau .... ! Memang mereka benar ! Kamu saja yang buta ! " Ucap Alfian tidak terima.


" Bukan aku yang buta mas , tapi mereka yang tidak punya mata ! Week ....... ! " Sandra menjulurkan lidahnya mengejek Alfian, kemudian lari sebelum Alfian marah kepadanya.


" Kau !! Beraninya !!" Balas Alfian kemudian mengejar Sandra yang melarikan diri.


Jadilah mereka berdua berkejaran di dalam mall. Sandra berlari sambil tertawa mengejek Alfian. Badannya yang mungil membuatnya mudah berlari ke sana kemari dan menghindar dari kejaran Alfian. Hal itu membuat Alfian semakin kesal. Namun senyum kebahagiaan juga menghiasi bibirnya yang jarang tersenyum.


Hap ! Alfian berhasil menangkap tubuh Sandra yang hampir terjatuh.


" Aaa.... sudah.. lepasin ... Aku lelah !" Ucap Sandra terengah-engah.


" Enak saja ! Kau akan mendapatkan hukumanmu ! " Ucap Alfian yang juga terengah-engah.


" Malu mas, dilihat banyak orang. Lepaskan pelukanmu !" Sandra mencoba melepaskan tangan Alfian dari dirinya.


" Oya ! Kenapa malu ? Kitakan pasangan suami istri. " Ujar Alfian santai.


" Ini di tempat umum mas ! Jaga sikapmu !" Kata Sandra yang mulai merasa malu dan risih di lihat orang.


" Berarti kalau bukan di tempat umum boleh ? " Goda Alfian.


" Aau ! Kenapa memukulku !" Teriak Alfian kesakitan.


" Enak saja, mas ingat ya ! Tidak boleh ada kontak fisik di antara kita ! "


Alfian menyunggingkan senyum menyebalkan lagi.


" Dengar gadis bodoh ! Kamu tidak ada hak berkata seperti itu. Di surat itu jelas tertulis jika kamu akan menuruti semua keinginanku. Bahkan jika aku meminta yang lebih pun seharusnya kamu sudah cukup besar untuk memahami jika itu suatu kewajiban ! " Kata Alfian menyeringai.


Sandra melengos. Apa yang di katakan Alfian memang benar. Sebagai sepasang suami istri sudah kewajiban mereka melakukannya. Alfian berhak meminta haknya dan dia tidak boleh menolaknya karena itu dosa. Namun tetap saja. Pernikahan ini tidak di dasari oleh cinta. Sandra takut jika Alfian hanya akan memanfaatkannya dan kelak akan kembali kepada mantan kekasihnya yang kini sudah datang kembali di hidupnya. Lagi pula tidak ada cinta di antara mereka, bagaimana mereka bisa melakukannya ?


Mendengar hal itu Alfian terlihat tidak suka. Senyum yang tadi menghiasi bibirnya telah lenyap . Wajahnya berubah menjadi dingin kembali.


" Apa kau tahu ! Kamu terlalu percaya diri mengatakan semua itu ! Aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu yang kecil ! " Ucapnya kemudian.


" Al ! " Tiba-tiba sebuah panggilan menyebut namanya. Alfian berbalik. Rena ?!


" Kebetulan sekali kita bertemu lagi di mall . Beberapa hari yang lalu aku terus mencarimu di kantor. Kata mereka kamu sedang cuti me..... nikah ? Apa itu benar ?? " Tanya Rena yang penasaran dengan rumor yang tersebar.


Alfian mengangguk singkat. Rena tersenyum kecewa. Wajahnya berubah sedih namun dia berusaha tetap tersenyum lalu melihat ke arah Sandra. Dia mengamati Sandra dengan seksama. " Gadis ini lagi ? Bukankah gadis ini yang ada di toilet dan di hotel Alfian waktu itu ? " Tanyanya dalam hati.


" Apa.... dia .....??" Tanya Rena tidak melanjutkan.


" Iya , dia istriku !" Balas Alfian.


" Oh .. Perkenalkan, saya Rena mantan kekasih Al ." Kata Rena dengan bangganya memperkenalkan diri. Sepertinya dia sengaja melakukannya agar Sandra mengetahuinya.


Alfian mengerutkan keningnya. Untuk apa Rena memperkenalkan dirinya sebagai mantan kekasihnya ?


"Astaga ! Ku pikir perempuan ini sangat berkelas. Tak kusangka ....? " Batin Sandra. Lalu dia maju dan menyalami uluran tangan Rena.


" Sandra . " Ucap Sandra singkat.


Rena tersenyum. Lalu beralih kepada Alfian.


" Kalian sedang mencari apa di sini ? Boleh aku ikut bergabung ?" Kata Rena tidak tahu diri.


" Kita sedang... mmm..." Sandra tak bisa melanjutkan perkataannya. Dia sendiri tidak tahu apa tujuan datang ke mall ini.


" Kalau tidak ada rencana. Gimana kalau kita makan siang bersama ? Biar aku yang traktir sebagai ucapan selamat atas pernikahan kalian." Bujuk Rena sambil mencuri pandang ke arah Alfian.


" Tidak usah, kamu pergilah. Kita ada urusan sekarang." Tolak Alfian dingin.

__ADS_1


" Urusan ? Kita tidak ada urusan apapun mas ." Sanggah Sandra.


Rena tersenyum mendengarnya. Dia tahu Alfian masih bersikap dingin dan belum memaafkannya. Namun dia akan terus berusaha agar Alfian memaafkannya. Dia yakin Alfian masih sangat mencintainya. Menurutnya, gadis kecil ini hanya pelarian dari Alfian untuk membalasnya. Terlebih pernikahan mereka begitu mendadak.


" Ah Sandra. Kamu sangat pengertian. Ayo , aku tahu restoran terbaik di mall ini." Tanpa tahu malu Rena menggandeng Sandra dan berjalan lebih dulu meninggalkan Alfian di belakang mereka.


" Mana mungkin gadis seperti ini menjadi saingan ku ? OMG Al, kenal dari mana kamu gadis kampungan seperti ini ! Bisa-bisanya kamu menikah dengan gadis yang..... astaga, aku tahu dia bukan seleramu ! Bagaimana bisa gadis ini menggantikan posisiku !" Batin Rena di samping Sandra.


Sedangkan Sandra, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Seperti mendapatkan ide berlian. Dia ingin membuat hubungan Rena dan Alfian kembali membaik. Setelah mereka bersatu lagi, Alfian pasti akan menceraikan dirinya. Ya , dengan begitu dia bisa lepas dari perjodohan ini. Yang penting dia sudah menjalankan wasiat bapaknya. Jika perpisahan terjadi, itu bukan kesalahannya. Dengan begitu dia bisa kembali hidup bebas dan mulai melanjutkan hidup baru lagi bersama ibunya saja. " Bagus Sandra. Kamu pintar sekali." Pikirnya senang.


Sandra berjalan sambil senyum-senyum sendiri.


Alfian mengawasinya dengan curiga. " Bukankah seharusnya dia kesal ? Atau jangan-jangan dia merencanakan sesuatu ? " Batin Alfian.


Akhirnya mereka masuk ke salah satu restoran di mall tersebut. Kini mereka sedang menunggu pesanan di antar. Mereka bertiga duduk dengan canggung.


" Kak Rena cantik sekali." Puji Sandra membuka percakapan.


" Terimakasih... kamu juga lumayan. " Balas Rena tersenyum palsu.


Huweek ... Lumayan dari mana ? Bahkan seujung kuku pun kamu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan diriku ! Bahkan....., sebenarnya aku malu duduk satu meja dengan mu ! " Batin Rena mengejek Sandra.


" Oya , berapa lama kalian dulu berpacaran ? " Tanya Sandra lagi.


" Sekitar tiga tahun lebih. Kita sudah bersama sejak awal duduk di bangku SMA. Kau tahu, dulu Al sangat manis dan romantis." Pamer Rena. Dia melirik Alfian sambil tersenyum semanis madu. Berharap laki-laki itu bisa mengingat masa-masa indah mereka saat bersama.


Alfian tak bergeming, dia sama sekali tidak tertarik membahas masa lalunya bersama Rena. Mengingat hal itu hanya akan mengingatkan lukanya juga.


" Wahhh , sudah lama juga ternyata. Pasti banyak sekali kenangan indah yang telah kalian lewati bersama." Pancing Sandra lagi.


" Tentu... Bahkan kami sudah terlalu intim !" Bisik Rena .


Alfian terperanjat mendengarnya. Dia ingin menyanggahnya namun dia urungkan. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Sandra.


Sedangkan Sandra.... Alih-alih marah mendengarkan kisah kedekatan suaminya dengan mantan kekasihnya dulu, dia hanya melotot menanggapinya. Bagaimana mungkin gadis yang sedang terkenal di dunia hiburan dan di puja-puja masyarakat ini begitu lugas dan berani menceritakan tentang kehidupannya yang vulgar dengan orang yang baru di kenal sepertinya ?


" Jangan terkejut. Kau sendiri pasti mengalami gejolak-gejolak yang membara seperti itu di usiamu sekarang. Kulihat kamu masih begitu muda. Berapa usiamu sekarang ? " Tanya Rena tanpa basa-basi.


" Eh ... iii iya... Sebentar lagi usiaku sembilan belas tahun." Jawab Sandra masih terkejut.


" Wah ..muda sekali. Entah apa yang membuatmu berani mengambil keputusan besar dengan menikah muda ! Alfian sudah dua puluh lima tahun ini. Jarak kalian lumayan jauh. Pasti ada hal yang membuatmu begitu ingin cepat menikah..." Rena tersenyum mencoba mengakrabkan diri pada Sandra. Dia harus tahu alasan kenapa Alfian menikahinya.


" Eh ...itu ... karena....." Sandra melirik melihat Alfian. Laki-laki itu melotot ke arahnya.


" Itu bukan urusanmu. Untuk apa kamu menanyakannya ?! " Seru Alfian.


" Maaf kan aku. Aku tidak bermaksud.... aku hanya...."


" Sudahlah, tidak perlu basa-basi lagi. Sandra ayo pulang." Alfian berdiri, sejak tadi dia hanya mendengarkan sambil menahan emosi.


" Mau kemana ?? Makanannya belum datang. Aku memesankan semua makanan favoritmu. " Bujuk Rena.


" Tidak perlu. Aku masih kenyang. Dan lagi. Jaga batasanmu karena sekarang aku sudah mempunyai seorang istri !" Bentak Alfian.


" Tapi Al, aku hanya mengajak kalian makan bersama. Apa salahku ? Aku tidak punya maksud apapun. Aku hanya ingin...."


Belum selesai Rena berbicara Alfian sudah terlebih dahulu menyeret Sandra keluar dari restoran itu.


" Mas , kasihan kak Rena." Ucap Sandra.


Namun Alfian tak menghiraukannya. Gadis ini benar-benar bodoh. Jelas-jelas Rena mencoba memanas-manasi Sandra dengan menceritakan masa lalunya dahulu , namun dia tidak perduli sama sekali. Alfian membawa Sandra kembali ke mobil lalu melajukannya.


" Aku tidak tahu lagi. Kebodohanmu sungguh tak tertolong ! " Ucap Alfian emosi.


" Mas kenapa marah-marah ? Kak Rena kan hanya bercerita tentang masa lalu kalian ?" Tanya Sandra dengan polosnya.


" Kau tidak marah ? "


" Kenapa harus marah ? " Tanya Sandra yang justru kebingungan.


" Sial ! " Umpat Alfian.

__ADS_1


" Mas jangan ngebut... "


" Masa bodoh ! " Jawab Alfian lalu menambah lagi kecepatan mobil yang mereka naiki.


__ADS_2