Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Di Cuekin Alfian


__ADS_3

" Astaga...., cepet banget sudah sore ... Aku harus pulang." Kata Sandra setelah melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


" Yah... Belum puas ketemunya." Sahut Nurul cemberut.


" Iya .. Tapi mau gimana lagi. Aku takut Mas Al akan pulang terlebih dahulu. Aku harus masak dan bebenah." Timpal Sandra.


" Iya sih .. Kasian juga suami kamu..." Kata Nurul memaklumi.


" Aku pulang dulu ya... " Pamit Sandra.


" Oke, hati-hati di jalan. Jangan ngebut dan jangan ngelamun !" Ucap Nurul memberikan nasehat setelah saling berpelukan.


" Siap bos.." Balas Sandra sambil tersenyum.


Sandra melajukan sepeda motornya meninggalkan Nurul yang masih menatap kepergiannya hingga tidak terlihat lagi.


Di tengah perjalanan, Sandra mampir ke warung makan terlebih dahulu. Karena hari sudah sangat sore, dia takut tidak keburu masak, jadi dia memutuskan untuk membeli makanan saja dan tinggal menghidangkan.


Benar saja, sampai di rumah ternyata Alfian sudah sampai terlebih dahulu. Suaminya itu baru saja keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit basah.


" Mungkin habis mandi." Batin Sandra.


" Kenapa baru pulang ?" Tanya Alfian sambil melipatkan kedua tangannya di perut. Dirinya sudah tahu jika Sandra mengunjungi Nurul karena Sandra sudah mengabari lewat pesan.


" Maaf, aku terlalu asik menonton drakor dengan Nurul... Jadi lupa waktu.." Jawab Sandra lirih.


" Lain kali perhatikan waktu jika bermain. Kenapa tidak menjawab teleponku juga ?" Tanya Alfian sedikit ketus.


" Maaf... Aku tidak mengaktifkan dering telepon. Jadi tidak tahu dan tidak dengar kalau ada pesan dan telepon masuk, karena aku menyimpannya di dalam tas." Jawab Sandra lalu melangkah ke dapur.


" Tidak usah punya ponsel sekalian jika tidak bisa di hubungi... Untuk apa ! " Kata Alfian kesal. Dari nada bicaranya Sandra tahu jika suaminya itu sedang marah.


" Kan aku sudah minta maaf." Jawab Sandra sambil menaruh dan memindahkan makanan yang tadi dia beli ke dalam piring.


" Apa kau tahu jika aku sangat mengkhawatirkan mu ? Kau membuatku cemas." Balas Alfian sambil menatap tajam kepada Sandra.


" Jangan berlebihan,, mas kan sudah tahu jika aku hanya ke tempat Nurul. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan mas !" Sambung Sandra.


" Enak sekali ngomong mu. Aku memikirkan mu dengan cemas tapi kamu justru menyepelekan diriku !" Ucap Alfian marah.


" Ke... kenapa marah ?" Tanya Sandra sedikit terkejut karena Alfian berbicara pedas kepadanya.


" Aku.. Aku tidak bermaksud begitu... Lagi pula, kenapa akhir-akhir ini kamu begitu khawatir kepadaku mas ?" Imbuh Sandra bertanya.


" Karena aku suamimu Sandra... !" Bentak Alfian.


Sandra berkaca-kaca mendengar Alfian membentaknya lagi. Sudah lama sejak Alfian membentaknya terakhir kali.


" Jadi hanya karena mas suami ku ? Biar ku tegaskan... Mas tidak perlu khawatir padaku karena aku bukan anak kecil lagi !" Balas Sandra kecewa.


Sandra pikir Alfian mengkhawatirkan dirinya karena perduli..., ternyata hanya karena dia suaminya. Lagi pula, menurut Sandra Alfian sudah sangat berlebihan. Dia sudah tahu jika dirinya hanya ke tempat Nurul sahabatnya, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.


" Kamu gak akan ngerti San !" Bentak Alfian lagi.

__ADS_1


" Oya... Kalau begitu beritahu padaku biar aku mengerti mengapa mas bersikap seperti ini !" Balas Sandra.


" Aku... Aku..., belum bisa mengatakannya sekarang."


" Tuh kan, selalu begini. Mas selalu membuatku bingung dengan sikap mu mas !"


" Aku hanya khawatir San... Tidak bisakah kamu memahami itu ?"


" Iya mas .. Aku tahu... Makanya aku sudah minta maaf... Tapi mas malah marah-marah." Jawab Sandra lagi


" Sial ! Susah bicara dengan anak kecil !" Umpat Alfian.


" Aku bukan anak kecil mas !" Tegur Sandra tidak terima.


" Terserah...!" Balas Alfian cuek kemudian pergi ke ruang kerjanya meninggalkan Sandra yang terlihat masam.


" Selalu saja berakhir begini. Tidak bisakah sehari saja tidak bertengkar ?" Gumam Sandra sambil menyiapkan makan malam.


Selesai menata dan menyiapkan semuanya, Sandra berlalu ke kamar untuk mandi.


Di ruang kerja Alfian tengah menyulut rokok untuk menghilangkan kekesalannya.


" Keras kepala sekali dirinya. Padahal aku hanya mengkhawatirkannya saja... Apa aku salah ? Tidak bisakah dia mengerti jika aku sangat perduli dengannya ?" Omel Alfian sendirian. Dirinya merasa di sepelekan oleh Sandra.


Setengah jam kemudian... Sandra sudah menunggu Alfian di meja makan, tapi Alfian tak kunjung keluar juga dari ruang kerja.


" Apakah dia masih marah ?" Tanya Sandra.


" Mmm... Sebaiknya aku samperin aja deh." Lanjut Sandra kemudian bangkit dan menuju ke ruang kerja Alfian.


Tok Tok Tok


Akhirnya Sandra memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu.


" Masuk." Balas Alfian dingin.


Setelah mendapatkan izin dari Alfian, Sandra kemudian masuk ke dalam. Hal pertama yang dilihat Sandra adalah Alfian yang terlihat sedang sibuk membaca berkas di meja kerjanya.


" Mas... Makan yuk..." Ajak Sandra.


" Aku tidak lapar... Kamu makan duluan saja." Jawab Alfian datar tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya.


" Mas masih marah ?" Tanya Sandra lirih.


Alfian tidak menjawabnya.


" Aku minta maaf..." Ucap Sandra tidak menyerah.


Alfian meliriknya sekilas, namun kembali lagi kepada pekerjaannya.


Melihat Alfian yang tidak bergeming, membuat Sandra menjadi sedih. Lagi-lagi diabaikan oleh Alfian membuatnya merasa tidak nyaman.


" Ya sudah, aku akan menyisihkan makan malam untuk mu. Nanti jika butuh sesuatu,mas bisa panggil aku." Kata Sandra kemudian melangkah pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


" **** !!! "Umpat Alfian sambil melemparkan berkas yang sejak tadi pura-pura dia baca. Dirinya tidak tega melihat wajah Sandra yang tampak muram saat keluar dari ruangannya.


" Dia membuatku begitu lemah." Lanjut Alfian kemudian bangkit dan menyusul Sandra ke dapur.


" Ambilkan aku makan. " Ucap Alfian setelah sampai.


Sandra yang baru saja duduk dan mengambil makanan menjadi bersemangat setelah melihat Alfian.


" Baik mas... " Sandra kemudian melayani suaminya dengan telaten. Barulah setelah itu dia ikut makan.


Sandra makan sambil mengamati suaminya, tapi sayangnya Alfian hanya fokus makan dan tidak memperhatikan yang lainnya. Sandra sendiri juga enggan ingin berbicara, takut dia salah ucap lagi dan membuat Alfian tambah marah kepadanya. Akhirnya hanya suara denting sendok dan garpu yang mengiringi makan malam mereka kali ini.


Selesai makan, Alfian langsung meninggalkan meja makan tanpa bersuara sama sekali. Sandra melihat jika Alfian kembali ke ruang kerjanya. Sandra melihatnya dengan sedih.. Hanya karena terlambat pulang Alfian begitu marah kepadanya. Bukankah dirinya juga pulang dengan keadaan selamat ? Apa lagi yang harus di khawatirkan... Dia juga sudah meminta maaf. Pikir Sandra.


Sandra lalu membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah selesai, Sandra membuatkan Alfian secangkir kopi dan berharap agar suaminya itu sudah tidak marah lagi kepadanya.


Tok Tok Tok


Sandra mengetuk pintu ruang kerja Alfian lagi.


" Hm ." Balas Alfian dari dalam.


Sandra kemudian masuk pelan-pelan.


" Aku buatkan kopi mas..." Ucap Sandra ceria.


" Hm..." Balas Alfian lagi.


Sandra kemudian menaruh kopi itu di dekat Alfian. Kemudian Sandra melirik sebentar. Alfian ternyata sedang mengetik pekerjaan di laptopnya.


Sandra berdiri agak lama, berharap Alfian akan berbicara kepadanya, tapi jangankan berbicara, menoleh kepadanya pun tidak.


" Aku ke kamar dulu mas. Kalau nanti butuh aku bilang aku saja." Ucap Sandra setelah kakinya terasa sedikit keram.


Alfian tetap diam dan tidak bergeming sama sekali. Akhirnya Sandra melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Sandra menghentak-hentakkan kakinya karena kesal dengan sikap Alfian yang cuek bebek kepadanya.


" Dasar cowok dingin, cowok arogan ...Bos sableng !!" Omel Sandra setelah berada di dalam kamar.


Sandra kemudian mengeluarkan buku-buku kuliahnya dari dalam tas, kemudian belajar untuk materi kuliah besok.


" Isshh .. Kenapa juga dia harus marah sampai begitu ? Kesal sekali rasanya di cuekin begini..." Ucap Sandra yang tidak bisa fokus belajar.


" Biarin lah, besok juga baik lagi... Kalau besok dia masih marah aku mau mogok berhenti memasak untuknya !" Imbuh Sandra kemudian berusaha berkonsentrasi pada materi di depannya.


Tanpa sadar sudah hampir tiga jam berlalu. Namun Alfian belum kembali juga ke dalam kamar. Sandra kemudian meregangkan otot-otot tubuhnya dan kembali menyalin tugas kuliahnya yang sudah selesai dia kerjakan.


" Hoamm.. Aku mengantuk sekali." Ucap Sandra kemudian menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Tidak lama kemudian gadis itu sudah tertidur dengan pulas.


Hampir pukul dua belas malam, Alfian masuk ke dalam kamar.


" Dasar gadis ceroboh. Kenapa sering sekali tertidur di sini ?" Tanya Alfian dalam hati.


Alfian kemudian mengangkat tubuh Sandra dengan hati-hati dan memindahkannya ke tempat tidur. Setelah itu Alfian menyelimuti Sandra dan mengamati wajah Sandra yang terlelap.

__ADS_1


" Maafkan aku.. Tapi aku sungguh-sungguh khawatir kepadamu. " Ucap Alfian lirih kemudian mengecup kening Sandra.


Alfian kemudian mematikan lampu kamar dan Ikut tidur di samping Sandra.


__ADS_2