Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Permintaan Maaf Dokter Tian


__ADS_3

Pukul delapan malam, Alfian dan Sandra baru saja mengantarkan Neta pulang setelah makan malam. Keduanya kemudian menuju tempat di mana Dokter Tian di kurung dan siksa oleh para anak buah Alfian.


Setelah sampai, Alfian berbincang sebentar dengan anak buahnya. Barulah dia meminta Sandra turun dari mobil dan mengikutinya.


Kemudian Sandra di ajak ke salah satu ruangan yang gelap . Hanya ada pencahayaan dari lilin-lilin kecil di kanan kiri ruangan itu.


" Dokter Tian ?" Sapa Sandra setelah melihat ada orang yang meringkuk di lantai. Kedua tangan dan kakinya di ikat. Keadaannya sungguh memprihatinkan. Banyak darah kering maupun darah segar di wajah dan tubuhnya.


" San...Sandra ?" Jawab Dokter Tian lirih. Dokter Tian berusaha mendongak dan menatap wajah Sandra.


" Mas, lepasin Dokter Tian." Ucap Sandra kasihan.


" Lepas ? Jangan harap Sandra."Balas Alfian emosi.


Sandra maklum dengan sikap Alfian. Siapa yang terima dan tidak marah jika melihat istrinya di culik dan hampir di nodai oleh laki-laki lain ? Dan orang itu kini ada di hadapannya.


" Setidaknya, bantu Dokter Tian agar bisa duduk dengan benar." Pinta Sandra.


Dengan berat hati, Alfian menuruti permintaan Sandra. Dia menggerakkan tangannya untuk memberi kode kepada anak buahnya agar membantu Dokter Tian duduk.


" Uhukkk.... Ukhuk....Uhukkk !"


Dokter Tian terbatuk-batuk saat dua anak buah dari Alfian membantunya duduk di sebuah kursi tua di ruangan tertutup itu.


Kini Sandra bisa melihat jelas bagaimana keadaan Dokter Tian. Sandra mengernyit seperti kesakitan saat melihat wajah Dokter Tian yang penuh luka lebam dan darah.


Sandra memberanikan diri mendekati Dokter Tian.


" Dokter baik-baik saja ?" Tanya Sandra khawatir.


Alfian tidak habis pikir Kepada Sandra. Bagaimana bisa Sandra bersikap sebaik itu kepada orang yang hampir saja melecehkan dirinya ? Sungguh Sandra gadis yang sangat polos. Itu yang membuat Alfian takut jika ada orang yang memanfaatkan kepolosan istrinya.


" Jangan dekati dia Sandra !" Perintah Alfian tegas. Dia tidak suka istrinya perhatian kepada orang lain, apalagi orang itu sudah berbuat jahat kepadanya.


" Tapi mas... Dia terluka parah..." Jawab Sandra.


" Biarkan saja, dia pantas menerima semua itu !" Ucap Alfian geram.


Sandra kemudian beringsut dan berdiri di samping Alfian, meski sebenarnya dirinya tidak tega melihat kondisi Dokter Tian yang memprihatinkan.


" Cepat katakan, apa yang ingin kamu katakan kepada kami ? Jangan membuang-buang waktu kami !" Bentak Alfian kepada Dokter Tian.

__ADS_1


Dokter Tian berusaha menegakkan kepalanya dengan sisa-sisa tenaganya.


" Aku... Minta maaf." Ucap Dokter Tian lirih.


" Apa kata mu ! Maaf ?? Kamu pikir dengan kata maaf mu itu aku bisa melupakan apa yang kamu lakukan pada istriku ?!!!" Bentak Alfian penuh amarah.


" Aku tidak bermaksud menyakitinya. Awalnya, hanya kamu yang menjadi target balas dendam ku. Sampai akhirnya aku tahu, jika Sandra adalah istrimu." Kata Dokter Tian terengah-engah.


" Aku ... Tolong aku.. Aku tidak perduli jika kamu mau menyiksaku sampai mati sekalipun. Tapi ku mohon... Tolong selamatkan papaku. Dia masih di rawat di rumah sakit. Dan aku mohon, jangan sampai beliau tahu dengan apa yang ku perbuat. Aku takut penyakitnya semakin parah." Dokter Tian berhenti sejenak kemudian menarik nafas dalam-dalam.


" Aku tahu, aku bersalah banyak kepadamu. Tapi dengarkanlah aku sebentar saja. Papaku tidak sepenuhnya salah. Kakak-kakak ku lah yang sebenarnya menipu Tuan Wijaya...Namun, demi melindungi mereka, papa juga terpaksa ikut dalam rencana buruk kedua kakakku. Mereka berdua lah yang sebenarnya ingin menjatuhkan perusahaan Wijaya Group. Papaku hanya menjadi kambing hitam untuk menyelamatkan mereka. Tapi setelah perusahaan papa kamu hancurkan... Kedua kakak ku malah meninggalkan dirinya, sampai akhirnya papa mendengar kabar jika kamu juga berhasil menghancurkan kedua perusahaan kakakku juga. Papa jatuh sakit setelah itu. Sudah dua kali papa operasi jantung sejak peristiwa itu. Sebagai anak, siapa yang tidak marah melihat orang tua yang sebenarnya tidak bersalah menjalani kehidupan berat seperti itu ?? Sama seperti mu yang ingin melindungi papamu. Aku juga hanya ingin melindunginya dan membalas setiap orang yang berbuat buruk kepadanya. Aku frustasi karena kedua kakak ku kabur tanpa kabar sejak tahu papa sakit. Aku... Aku yang berjuang sendiri untuk pengobatan papa yang tidak murah. Saat itu, datanglah Rena yang baru pulang dari luar negeri. Kami bersekongkol untuk membuatmu kembali kepadanya dan merebut semua harta yang kamu punya. Tapi sayangnya, kami dengar kalau kamu sudah menikah. Tentu saja kami kecewa. Tapi Rena tetap bertekad untuk merebut mu dan menjadikanmu miliknya apapun yang terjadi. Dan aku, aku terus mencoba mendekati Sandra agar rencana kami semakin lancar. Sampai akhirnya, kejadian naas itu terjadi. Aku juga tidak menyangka jika Rena nekat mendatangi ibu Sandra dan kejadian buruk itu terjadi." Jeda beberapa menit.


Sandra mencoba mencerna kata-kata dari Dokter Tian.


" Jadi..., dokter sudah tahu sebelumnya jika ibuku meninggal ?" Tanya Sandra tidak percaya. Air mata mulai berjatuhan dari kedua sudut matanya.


" Maafkan aku, tapi itulah yang sebenarnya." Ucap Dokter Tian tanpa berani menatap mata Sandra secara langsung.


" Dokter jahat ! " Teriak Sandra.


Alfian kemudian menenangkan Sandra dan memeluknya dengan erat.


" Sudah ku bilang, tidak seharusnya kita datang menemui bajingan ini !" Umpat Alfian marah.


" Kenapa dokter tega kepadaku ? Apa salah ibu dan diriku ?" Tanya Sandra, suaranya sedikit gemetar karena menahan amarahnya.


"Maafkan aku... " Ucap Dokter Tian sambil menunduk. Buliran bening juga berjatuhan dari kedua matanya dan membasahi bajunya yang sudah sangat kotor.


Sandra terisak mengingat kembali mendiang ibunya. Meski semua yang terjadi sudah menjadi ketentuan Tuhan, tetap saja Sandra merasa kecewa dengan perbuatan Rena. Ditambah dengan kenyataan bahwa ternyata Dokter Tian selama ini baik karena mempunyai rencana buruk kepadanya dan sudah tahu sejak awal tentang berita kematian ibunya.


" Tenangkan dirimu Sandra .. " Ucap Alfian ikut sedih melihat Sandra yang menangis.


Sandra menghapus air matanya kemudian menatap Dokter Tian kembali.


" Aku tahu, aku banyak bersalah kepadamu. Untuk itu aku ingin bertemu padamu dan meminta maaf secara langsung kepadamu ..... Dan juga,, kepada suamimu.." Ucap Dokter Tian penuh penyesalan.


Alfian yang mendengarnya kemudian membanting sembarang benda yang ada di dekatnya.


" Kamu pikir dengan minta maaf semuanya bisa langsung selesai ?" Amuk Alfian.


Dokter Tian semakin menunduk. Keringat dingin mengucur dari keningnya dan membuat perih luka di wajahnya. Dokter Tian kemudian mengernyitkan wajahnya sambil meringis kecil menahan sakitnya.

__ADS_1


" Sudah mas, tahan emosi mu." Pinta Sandra yang masih bisa mengontrol dirinya.


" Jika kita membalas mereka dengan hal buruk juga, itu sama saja kita juga sama jahatnya seperti mereka. Aku ingin semua ini berakhir. Dokter Tian sudah mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya, dia juga hanya seorang anak yang tidak terima dengan orang yang sudah membuat orang tuanya menderita. Ku mohon, berikan kesempatan untuknya. Sedangkan Rena... Saat ini,, dia juga tengah menebus kesalahannya di penjara. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa ada dendam dan keributan." Sambung Sandra.


" Tapi sayang...."


" Mas mau kan memberinya kesempatan ?" Bujuk Sandra sambil memohon dengan wajah yang memelas.


Jika di lihat,Sandra memang sangat kelelahan. Apalagi dia tipe wanita yang tidak suka ribut. Almarhum bapaknya selalu mengajarkan tentang keikhlasan dan memaafkan kepada sesama.


Dokter Tian mencoba berdiri dan menjatuhkan dirinya di depan Sandra seperti sedang bersimpuh.


" Terimakasih Sandra, terimakasih...." Isak Dokter Tian. Terdengar suara tangisnya yang gemetar.


" Sial !" Umpat Alfian masih tidak terima jika Sandra memaafkan begitu saja orang yang sudah mengusik ketenangan hidupnya.


" Jangan begitu dok. Duduklah, mulai sekarang,, jalani kembali kehidupan dokter seperti biasanya. Rawatlah papa anda sampai sembuh. Tapi aku berharap, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Kalau pun kita tidak sengaja bertemu, anggap saja kita tidak saling mengenal !" Ucap Sandra. Memang mudah memberikan maaf, tapi untuk melupakannya, semuanya butuh waktu.


" Ampun Ya Allah,, Sandra belum bisa melupakan apa yang di perbuatnya kepada Sandra." Batin Sandra.


Meski sedikit kecewa karena Sandra tidak ingin bertemu dengannya lagi , namun Dokter Tian tetap berterimakasih. Setidaknya, dia sudah mendapatkan maaf dari Sandra.


" Kau dengar itu ? Seharusnya kamu malu karena Sandra memaafkan mu begitu saja ! Tapi ingat... ini peringatan pertama dan terakhir dari ku ! Jika sampai kamu sengaja menunjukkan wajahmu di depan Sandra dan diriku, apalagi sampai berbuat hal buruk lagi, tidak akan pernah ada maaf untuk mu lagi ! Dan untuk yang terjadi kepada papamu. Seharusnya kamu menyalahkan kedua kakak mu ! Bukan malah kepada ku dan balas dendam kepada ku ! Merekalah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada papa mu. Kau harus tahu, jika aku tidak sembarangan menghancurkan kehidupan orang lain jika orang itu tidak bersalah !!" Ucap Alfian tegas.


Tubuh Dokter Tian menggigil karena menangis. Dia tidak menyangka jika Alfian juga memberinya kesempatan kedua.


" Terimakasih,, Terimakasih..." Ucap Dokter Tian.


" Lepaskan ikatan di tubuhnya. Dan antarkan dia sampai di rumahnya !" Teriak Alfian kepada anak buahnya.


Tanpa menunggu mereka, Alfian dan Sandra pergi terlebih dahulu dari tempat itu.


" Terimakasih ya mas .. " Ucap Sandra di dalam perjalanan.


Alfian mengerutkan keningnya karena tidak tahu mengapa Sandra berterima kasih.


" Terimakasih karena sudah memberikan Dokter Tian kesempatan. Aku tahu, itu hal yang tidak mudah bagi kamu. Tapi demi aku, kamu mau melakukannya." Ucap Sandra menjelaskan.


" Kamu senang karena Dokter itu bebas ?" Tanya Alfian.


" Bukan, bukan karena itu. Tapi,, aku senang karena suamiku ternyata orang yang sangat baik ... Sangat-sangat baik dan bijaksana." Puji Sandra.

__ADS_1


Alfian yang GR karena di puji Sandra seperti itu, memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya.


__ADS_2