Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Malam Yang Berbeda


__ADS_3

Sandra tersenyum menatap wajah Alfian yang tengah terlelap setelah pergulatan panas mereka.


Sandra kagum, mengapa suaminya itu tetap terlihat tampan meski saat tidur sekalipun. Menatap wajah suaminya yang begitu tenang, hati Sandra merasa sangat damai. Sandra masih tidak menyangka jika dirinya bisa jatuh cinta kepada Alfian. Untuk sesaat Sandra kembali mengingat masa-masa ketika baru bertemu dengannya. Masa-masa di mana mereka saling membenci satu-sama lain. Senyum Sandra semakin lebar ketika mengingat sekarang betapa posesifnya Alfian terhadapnya. Tanpa sadar, Sandra menyentuh wajah suaminya dengan lembut.


" Bagaimana bisa hidung ini begitu mancung sedangkan hidungku saja tidak sebagus ini ??" Batin Sandra sambil menyentuh ujung hidung suaminya.


Sandra kemudian beralih menyentuh bibir Alfian. Bibir kenyal yang selalu membuatnya terlena saat menciumnya.


Cup !


Sandra mengecup sekilas bibir itu. Kemudian memeluk suaminya dengan erat. Rasa hangat dan nyaman membuatnya betah memeluk suaminya itu.


" Sudah begitu saja ?" Tanya Alfian tiba-tiba.


Sandra kaget melihat Alfian ternyata tidak benar-benar tidur.


" Mas gak tidur ? " Tanya Sandra malu karena suaminya telah memergoki tingkahnya.


" Bagaimana bisa tidur jika istriku yang manis ini terus menatap dan menyentuh wajah ku." Dengus Alfian.


" Kenapa ?? Masih kurang ??" Ucap Alfian jahil sambil menaik turunkan alisnya untuk menggoda Sandra.


" Apaan si mas ... Gak gitu ya ?!" Sahut Sandra malu.


" Terus kenapa diam-diam menyentuhku begitu ?" Tanya Alfian, membuat Sandra menjadi gugup di tanya seperti itu.


" Eh,, aku... ,, aku cuma..." Sandra tergagap saat hendak menjawab pertanyaan dari Alfian.


Cup !


" Untuk membalas kecupan yang tadi kamu curi dari ku." Ucap Alfian menggoda istrinya yang terlihat salah tingkah.


" Aku gak nyuri ya ?" Balas Sandra memberanikan diri. Terlanjur ketahuan untuk apa malu lagi, batinnya.


" Gak nyuri karena kamu adalah milikku.. " Lanjut Sandra memberanikan diri.


Alfian senang bukan main mendengar Sandra mengatakan hal itu. Ini pertama kalinya Sandra mengatakan jika dirinya adalah milik Sandra.


" Iya,, aku sepenuhnya dan selamanya hanya milik kamu seorang." Balas Alfian sambil mengerlingkan matanya dengan genit.


Alfian kemudian mengecup dan mencium wajah Sandra bertubi-tubi.


" Apa si ,lebay ... Lepas mas... Hentikan." Omel Sandra yang merasa geli.


" Kamu yang sudah memulainya sayang... Kamu sih mancing-mancing... Lihatlah, adik kecilku jadi ikut bangun sekarang." Bisik Alfian penuh arti.


" Siapa yang mancing-mancing mas... Aku kan tadi hanya menyentuh wajah kamu." Protes Sandra yang kini menyesal telah membangunkan adik kecil milik suaminya. Bukan tanpa alasan. Sandra masih capek setelah pertempuran sebelumnya karena Alfian sudah melakukannya berulang kali.

__ADS_1


" Iya, tapi sentuhan dari mu membuatku menginginkan mu lagi dan lagi..." Ucap Alfian kemudian mulai melancarkan aksinya lagi. Kini tangannya sudah mencari sesuatu yang sangat dia sukai.


" Mass...." Rengek Sandra.


" Sekali lagi saja,...aku janji..." Kata Alfian memohon.


Sandra menjadi tidak tega melihat wajah suaminya memohon seperti itu.


" Baiklah... Tapi hanya sekali ya ?" Tawar Sandra akhirnya.


Senyum kemenangan terpancar dari wajah Alfian setelah mendengarkan jawaban dari Sandra. Tanpa menunggu lama, Alfian segera memulai keinginannya yang kini kembali membuncah.


***


Di tempat lain, Gilang terbangun karena merasa haus. Gilang mencoba meraih gelas yang ada di atas nakas. Tapi sayang,, tangannya tidak sampai karena satu tangannya lagi masih menggunakan selang infus sehingga Gilang justru membuat gelas itu terguling dan menimbulkan suara berisik. Untung saja gelasnya tidak jatuh ke bawah sehingga tidak menimbulkan suara yang lebih keras lagi.


" Mau minum ?" Tanya Moza yang tiba-tiba menghampirinya dengan wajah yang masih terlihat mengantuk meskipun tetap terlihat cantik. Tadi perempuan itu tertidur di sofa.


"Ck, kau terbangun ?" Tanya Gilang marah kesal pada dirinya sendiri karena mengganggu tidur orang lain.


" Heem.." Jawab Moza sambil mengangguk dan menuangkan air minum untuk Gilang.


" Sudah ku bilang, panggil aku jika kamu butuh sesuatu." Lanjut Moza.


" Ck, aku tidak ingin mengganggu tidur mu." Balas Gilang jujur.


" Aku yang menawarkan diri. Ini minumlah..."Balas Moza tak mau kalah lalu menyerahkan gelas kepada Gilang.


" Kau sangat haus ?" Tanya Moza yang keheranan melihat Gilang menghabiskan minumannya dengan sangat cepat.


" Iya.. Gerah rasanya." Timpal Gilang


" Mau aku tambahin suhu AC nya?" Tawar Moza.


" Gak usah, nanti kamu kedinginan. Ini mungkin efek setelah minum obat yang tadi saja, sekarang jadi gerah." Tolak Gilang.


" Oke baiklah, mau makan sesuatu ? Biar aku carikan ke luar." Ucap Moza yang sangat perhatian.


" Gak usah, ini sudah larut. Tidak baik perempuan pergi ke luar sendirian di jam segini. Lagi pula aku tidak lapar. Aku hanya haus saja tadi." Balas Gilang kemudian menegakkan duduknya agar nyaman.


Moza tersenyum senang karena merasa Gilang mulai memperhatikan dan mengkhawatirkan dirinya.


" Kenapa tersenyum ? " Tanya Gilang.


" Enggak... "


" Kalau begitu tidurlah lagi." Pinta Gilang sambil mengamati Moza yang masih terlihat letih.

__ADS_1


" Hoaam.... Tadinya aku masih ngantuk,tapi sekarang udah enggak lagi." Ucapnya sambil menguap.


" Sorry .. " Ucap Gilang tidak enak.


" Tidak masalah.." Jawab Moza.


"Oya , sampai kapan kamu mau menungguiku di sini ?" Tanya Gilang yang sebenarnya bermaksud agar Moza segera pulang. Jujur saja Gilang merasa sangat tidak enak kepada perempuan cantik itu. Hubungan mereka belum resmi,, belum ada ikatan apapun di antara mereka, baik tunangan apalagi pernikahan. Tapi Moza dengan telaten merawat dan menungguinya di sana tanpa menunjukkan wajah lelah ataupun kesal.


" Sampai kamu sembuh dan keluar dari sini tentunya." Balas Moza enteng yang kemudian ikut duduk di pinggir ranjang Gilang.


Gilang menatap wajah Moza tidak percaya. Gadis itu benar-benar keras kepala. Setiap saat setiap detik dia selalu menyuruhnya pergi dan pulang ke rumahnya, bahkan dia juga bersikap acuh agar Moza tidak betah. Tapi tetap saja perempuan itu mengabaikannya, bersikeras tetap akan menunggunya hingga sembuh.


Tanpa sadar Gilang menarik kedua sudut bibirnya meski tidak terlihat sekali. Moza adalah gadis keras kepala kedua yang dia kenal selain Sandra. Sebenarnya banyak juga gadis keras kepala lainnya yang mengejar-ngejar dirinya. Tapi yang mereka lakukan justru membuat Gilang muak karena dengan mudahnya mereka terus merendahkan harga diri mereka sendiri dengan menawarkan diri kepadanya. Berbeda dengan Moza... Perempuan itu keras kepala hanya jika sudah memutuskan sesuatu. Tapi dia perempuan yang sangat pintar, bisa membawa diri dan juga punya sopan santun. Meski lahir dari keluarga yang kaya tidak membuat Moza menjadi perempuan yang manja dan sombong. Terlebih Moza tipe perempuan yang gigih seperti dirinya.


" Kenapa bengong menatapku ? Ada iler ya di wajahku ..?! "Kata Moza langsung mengusap bibir dan kedua pipinya. Malu sekali jika memang Gilang melihatnya.


Gilang terkekeh geli melihat tingkah Moza seperti itu.


" Tuh kan, beneran ada iler ya ?" Moza terus mengusap-usap wajahnya.


" Enggak ada apapun kok di wajahmu .." Kata Gilang akhirnya.


" Ish... kenapa gak bilang dari tadi ? Terus tadi sampai bengong lihat apaan kalau begitu ?" Tanya Moza yang merasa lega karena ternyata tidak ada iler di wajah atau bibirnya.


" Mm, lupakan saja. Ngomong-ngomong aku sudah bosan sekali di sini. Aku ingin pulang dan bekerja. Hidungku ini tidak apa-apa. Masih bisa di rawat di rumah." Keluh Gilang yang sudah bosan dan tidak betah berlama-lama di rawat di rumah sakit.


" Sabar honey... Kalau dokter bilang belum boleh pulang ya tandanya masih perlu di rawat. Percaya saja sama dokter. Jika kamu memang sudah baik-baik saja, dokter juga bakalan ngizinin pulang kok." Kata Moza menenangkan sambil tersenyum.


" Huft.. Terserah deh, besok pagi aku tetep minta pulang. Pekerjaanku sudah menumpuk, aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan kewajiban ku. " Tukas Gilang.


" Kalau kamu emang khawatir dengan pekerjaan mu....Kamu harus nurut apa kata dokter agar cepat pulih. Semakin kamu menurut semakin cepat sembuhnya. Itu berarti semakin cepat pula kamu kembali bekerja." Kata Moza menasehati.


" Iya-iya.... Dasar bawel ! " Gerutu Gilang .


" Kalau begitu kembalilah tidur. Sekarang masih pukul dua dini hari.. Semoga besok dokter yang bertugas memberikan kabar baik." Ucap Moza yang tidak marah di bilang bawel oleh laki-laki di hadapannya itu.


Alfian mengangguk.


" Baiklah,aku kembali tidur. Kamu juga kembalilah istirahat." Ucap Gilang menurut kemudian hendak menggaruk hidungnya yang terasa gatal.


" Auch...! Sakit ..." Teriak Gilang ketika tangannya sudah menyentuh hidung. Dia lupa jika hidungnya habis di operasi dan masih menggunakan perban.


" Hehe .. Dasar laki-laki ceroboh.." Kata Moza terkekeh.


" Sakit beneran tau ! Malah ngatain pakai ketawa lagi !" Omel Gilang sambil membaringkan tubuhnya.


" Hehe, maaf..." Kata Moza yang tidak habis pikir dengan tingkah Gilang.

__ADS_1


Gilang diam saja tidak menyahut kemudian memejamkan matanya karena malu dan kesal.


Moza yang tahu jika Gilang sedang marah kepadanya hanya bisa menggelengkan kepala kemudian kembali ke sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.


__ADS_2