
Alfian dan Sandra pulang ke rumah Pak Wijaya pada malam harinya. Mereka berdua di sambut bahagia oleh keluarga Wijaya. Sandra menyalami dan mencium tangan papa mertuanya. Sedangkan Alfian tidak bergeming, dia hanya melihatnya saja.
" Kakak... ! " Teriak Neta ketika melihat mereka.
Gadis itu langsung berlari mendekati mereka dan memeluk Sandra kegirangan.
" Aku senang sekali, akhirnya kita bisa tinggal bersama. Nanti aku tunjukin kamarku ya ? Mulai sekarang kita bisa melakukan banyak hal bersama." Kata Neta antusias.
" Oke ... Aku akan menemanimu mulai sekarang." Balas Sandra yang ikut senang. Dia tidak menyangka, ternyata dia di terima dan di perlakukan begitu baik di keluarga itu.
"Ehem !" Sindir Alfian sambil melirik adiknya yang tidak memperhatikan keberadaannya.
" Kak Al.... aku senang akhirnya kakak membawa kak Sandra pulang." Kata Neta yang tidak berhenti tersenyum.
" Huuh , sepertinya kamu hanya senang karena dia. " Ucap Alfian ketus.
" Tentu saja tidak, aku juga senang kok kakak pulang. " Neta beralih kepada Alfian dan memeluknya juga. Dia menyadari jika kakaknya merasa di cueki.
Alfian membalas pelukan adiknya. Ingin dia merajuk namun dia tidak tega melakukannya. Dia sangat menyayangi adiknya itu.
" Ya sudah, kakak mau istirahat dulu. " Ucap Alfian kemudian.
" Baiklah, bawa Sandra ke kamarmu .Lebih baik kalian mandi dan istirahat sebentar. Bik Ida tadi sudah menyiapkan kamar kalian." Ucap Pak Wijaya yang dari tadi menyaksikan.
Alfian mengangguk lalu melangkah pergi.
" Ehm ...maaf pa ,Neta... Sandra ke kamar dulu. " Pamit Sandra sungkan.
" Iya, sana ikuti suami mu. " Balas Pak Wijaya.
" Jangan lama-lama ya kak, Neta tunggu waktu makan malam." Ucap gadis itu yang sepertinya enggan di tinggal oleh Sandra.
" Jangan hiraukan Neta. Beristirahatlah, nanti akan ada yang memanggilmu jika makan malam sudah siap." Perintah Pak Wijaya.
" Ehm baik pa. " Jawab Sandra kemudian melangkah mengikuti Alfian.
" Neta, jangan ganggu kakakmu dulu. Masih banyak waktu untuk bermain dengan Sandra." Pak Wijaya menasehati putrinya sambil mengelus pucuk kepalanya.
" Sana , kembalilah ke kamar dulu." Lanjut beliau.
Neta menuruti perintah papanya meski sedikit kecewa. Kehadiran Sandra memang sangat dia tunggu. Selama ini tidak ada yang menemaninya bermain atau mengobrol di rumah itu. Dia selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar, mengerjakan tugas atau melihat Drakor kesukaannya. Neta yang kesepian hanya bisa berbagi keluh kesah kepada para ART yang ada. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sedangkan Arkha , kakaknya yang satu itu selalu sibuk kuliah dan nongkrong. Jika berada di rumah hanya membuatnya kesal lalu bertengkar.
" Maafin papa nak . Papa tahu kamu pasti kesepian. " Ucap Pak Wijaya menatap kepergian putrinya.
Alfian berdiri mematung di dalam kamarnya. Sandra yang mengikutinya di belakang,hampir saja menubruk tubuh pria itu jika dia tidak segera sadar dan berhenti. Mereka sama-sama melihat ke sekeliling kamar. Alfian mengerutkan keningnya. Suasana remang-remang. Cahaya kamar itu hanya berasal dari lilin-lilin yang menyala , yang menghiasi sekitar kamar itu.
" Ini pasti ide papa. " Katanya kemudian.
Sandra tidak mendengarkan ucapan Alfian. Dia terlalu sibuk mengamati kamar itu yang berubah sangat drastis. Dari cat dinding hingga dekorasi kamar semua telah berubah. Foto pernikahan mereka terpajang besar sekali di sana. Kamar itu juga di hias sedemikian rupa seperti kamar pengantin yang begitu mewah. Ranjang tempat tidur yang tadinya berukuran king size kini berubah menjadi lebih kecil dan penuh dengan tebaran bunga mawar. Di samping ranjang kini terdapat meja belajar lengkap dengan komputer, buku dan perlengkapan yang lainnya.
Sandra menoleh ke kiri. Kini meja rias menjadi lebih besar. Di atas meja terdapat berbagai macam kosmetik dan parfum mahal untuknya. Seingatnya, kemarin di meja itu hanya ada parfum dan sedikit kosmetik pria. Sandra beralih ke ruang ganti. Benar saja . Kini lemari pakaian menjadi lebih besar dan panjang, lengkap dengan baju Alfian dan dirinya. Semua jas milik Alfian di gantung di lemari yang terpisah. Di sebelahnya terdapat rak berisi berbagai jenis sepatu dan tas. Sandra menyentuh salah satu sepatu yang ada di rak itu. Ukuran tiga puluh delapan. Sama persis dengan ukuran kakinya. Ada juga meja dan rak lemari yang berisi berbagai aksesoris. Sandra tercengang melihat apa yang ada di depannya. Barang-barang yang ada di sana semuanya bermerek.
Alfian menyalakan lampu kamar itu. Kini semua terlihat lebih jelas.
__ADS_1
" Jangan bengong saja di situ ! Cepat mandi !" Perintah Alfian.
Sandra menurut. Dia keluar dari ruang ganti dan masuk ke kamar mandi bergantian dengan Alfian. Setelah semua selesai Sandra duduk dengan canggung di tepi ranjang.
" Nanti aku tidur di mana mas ? " Tanya Sandra ragu-ragu.
Alfian yang tengah menyisir rambutnya berhenti dan menoleh ke sekeliling kamar.
" Sial... !" Ucap Alfian geram. Sofa panjang yang bisanya ada di kamar itu kini berganti dengan meja bundar dan dua kursi santai.
"Tidak mungkin aku tidur di lantai kan ?" Tanya Sandra takut.
Alfian mencoba berfikir.
" lni pasti akal-akalan papa agar kita bisa tidur bersama. Mungkin dia masih ragu dengan hubungan kita." Jelas Alfian.
" Lalu, sekarang gimana ? "
" Apa boleh buat, jika kamu tidak mau tidur di lantai kita bisa berbagi ranjang." Ucap Alfian kemudian.
" Tapi mas...." Ucap Sandra bingung.
" Tidur dengan AC menyala saja aku susah tidur, apa lagi di tambah dengan tidur di lantai ? Aku akan jatuh sakit karena kedinginan. Tapi jika harus tidur seranjang dengan Alfian...... Ah aku harus gimana ?? " Batin Sandra.
" Ya sudah kalau tidak mau, terserah kamu saja mau tidur di mana !" Ucap Alfian sambil melirik Sandra yang terlihat resah dari pantulan cermin.
" Pikir nanti sajalah. Aku keluar dulu sekarang." Kata Sandra yang pusing memikirkannya.
Alfian mengangkat bahunya. " Keluar saja, nanti aku menyusul."
" Mana Alfian San ? " Tanya pak Wijaya.
" Masih di atas pa, katanya nanti menyusul. " Jawab Sandra lalu duduk.
" Oh ya sudah. Mari makan duluan kalau begitu."
Mereka lalu memulai mengambil makanan. Sandra melayani papa mertuanya dahulu seperti biasa. Baru setelahnya dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Alfian datang ketika Sandra selesai mengambil makanan.
" Sini kak, makan sama-sama. Jarang sekali kita bisa berkumpul lengkap begini." Cetus Neta. Sejak kedatangan Alfian dan Sandra gadis itu berubah lebih ceria dari biasanya.
Alfian duduk di sebelah Sandra.
" Mas mau makan apa ? Biar aku yang ambilin." Tawar Sandra.
Pak Wijaya terlihat bahagia menatap keduanya. Sandra begitu memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini di abaikan oleh keluarganya.
" Nasi sama Iga asam manis. " Ucap Alfian.
Sandra lalu mengambil makanan yang di maksud Alfian dan menyerahkannya. Tak lupa dia menyediakan air putih di sampingnya.
" Kamu begitu perhatian sama suamimu. Papa senang sekali melihatnya." Tutur Pak Wijaya.
__ADS_1
Sandra tersenyum. " Papa terlalu memuji. Hanya kebiasaan saja pa. " Balas Sandra.
Alfian tidak berkomentar. Dia pura-pura fokus memakan makanannya. Mau Sandra cari muka atau cari perhatian,dia tidak perduli lagi. Berdua dengan Sandra beberapa hari ini membuatnya sangat lelah karena sering bertengkar.
" Oya .. kamu sudah siap masuk kuliah ?" Tanya Pak Wijaya.
" In Sha Allah sudah pa. "
" Jadi kamu ambil jurusan Manajemen Bisnis ? Papa kira, kamu akan memilih Desain Grafis dan Seni Rupa. Ibumu sering bilang jika kamu pandai melukis. " Tanya Pak Wijaya lagi.
" Mm... iya pa... Sandra ingin berkarir. Sandra memang suka melukis tapi itu hanya hobi saja." Jawab Sandra.
Pak Wijaya mengangguk.
" Papa akan mendukung apapun pilihan yang kamu ambil."
" Terimakasih pa." Sandra tersenyum senang.
" Kamu satu kampus dengan Arkha. Baguslah, dia bisa menjaga dan membantumu menyesuaikan diri di sana." Lanjut Pak Wijaya.
" Arkha bukan bodyguard pa !" Sela Arkha .
" Tidak perlu repot-repot pa, tidak perlu. Sandra tidak ingin merepotkan siapapun." Tolak Sandra.
" Tidak bisa begitu. Alfian sendiri yang memilih kampus itu . Pasti alasannya untuk itu. Ya kan Al ?" Tanya Pak Wijaya.
" Papa terlalu berlebihan. Aku memilih disana karena kampus itu memang bagus. Banyak lulusan dari sana yang menjadi orang sukses." Bantah Alfian.
Pak Wijaya tersenyum melihat Alfian yang tidak mau mengakui.
" Hah.... Anak muda jaman sekarang terlalu mementingkan egonya. Papa tidak mau tahu. Apapun alasannya , Arkha wajib membantu Sandra jika dia kesulitan disana. Dia kakak iparmu sekarang,jadi perlakuan dia dengan baik. Jika ada sesuatu yang buruk terjadi, kamu akan ikut bertanggung jawab." Ucap Pak Wijaya menasehati.
" Tapi pa...." Bantah Arkha tidak terima. Bagaimana bisa dia harus menjaga istri dari kakaknya. Dia kuliah untuk mencari ilmu bukan untuk jadi bodyguard !
Alfian menyunggingkan sedikit senyumnya. Jika sudah memutuskan, papanya akan sulit di bantah. Maka mau tidak mau, Arkha harus menjaga Sandra di sana. Alfian sengaja melakukannya agar jika Gilang menemui Sandra di kampus, Arkha bisa membantunya untuk tidak mempertemukan mereka.
Arkha cemberut kesal. Dia menghabiskan makan malamnya lebih cepat dan meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Sandra yang melihatnya menjadi tidak enak hati. Memang sikap Arkha sulit di tebak. Kadang dia seperti bisa menerima Sandra dengan baik di rumah itu, tapi terkadang dia juga sama dinginnya dengan kakaknya.
" Jangan pikirkan Arkha. Dia hanya kaget saja. Papa yakin dia akan tetap menjagamu di sana. " Pak Wijaya mencoba menenangkan Sandra yang merasa tidak enak.
Sandra hanya mengangguk patuh. Begitu juga Alfian, manusia irit bicara itu terlihat acuh melihat adiknya kesal .
" Kak Arkha baik dan bertanggung jawab kok kak. Meski sedikit jahil tapi dia bisa kakak andalkan." Imbuh Neta.
Sandra pura-pura tersenyum. Dia bingung harus bagaimana menyikapi. Di satu sisi dia merasa tidak enak dengan Arkha, tapi di sisi lain dia juga takut membuat Pak Wijaya kecewa karena menolak maksud baiknya.
" Habis ini aku ajak ke kamar ku ya kak ? Aku ingin ngobrol sama kakak." Ajak Neta.
Sandra mengangguk setuju. "Dari pada berdua terus dengan Alfian. Lebih baik berlama-lama di kamar Neta ." Batinnya.
" Eits .. Tapi jangan sampai lupa waktu ya ? Nanti kakakmu marah." Goda Pak Wijaya.
Neta mengangguk paham.
__ADS_1
Makan malam pun selesai. Pak Wijaya dan Alfian kembali ke ruang kerjanya masing-masing. Sedangkan Sandra dan Neta mengobrol di kamar Neta.