
Di rumah sakit,, Gilang duduk bersandar di atas ranjang pasien. Banyaknya luka memar dan patah tulang di hidung, membuatnya harus di rawat untuk sementara waktu.
Dengan setia,, Moza selalu menunggu dan menemaninya sejak mendengar kabar jika Gilang masuk dan di rawat di rumah sakit.
" Apa kau tidak bosan ?" Tanya Gilang pada Moza.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak akan pernah bosan jika bersamamu honey..." Sahut Moza tersenyum.
" Bukankah pekerjaan mu sangat banyak ?" Tanya Gilang.
" Pekerjaanku tidak lebih penting dari dirimu."Balas Moza sungguh-sungguh.
Ya, sepenting itu Gilang untuknya. Sejak kedua belah pihak keluarga memutuskan untuk menjodohkan mereka, Moza sangat bahagia dan dengan terang-terangan menunjukkan rasa tertariknya kepada Gilang. Moza jatuh cinta pada pandangan pertama ketika menemui Gilang.
" Kamu sudah tahu penyebabnya kenapa aku sampai terbaring di sini seperti pesakitan. Mengapa kamu tidak marah atau bahkan tidak bertanya sesuatu ?" Tanya Gilang penasaran.
Moza sudah tahu tentang masa lalu Gilang yang menyukai Sandra. Dia juga sudah tahu jika keduanya dulu sempat saling memiliki rasa namun Sandra sudah lebih dulu di jodohkan dengan Alfian, dan pertengkarannya dengan Alfian kali ini bukanlah untuk yang pertama kalinya. Gilang juga sudah pernah bercerita jika saat ini dia masih sangat menyayangi Sandra, tapi sebisa mungkin rasa sayangnya itu dia artikan sebagai bentuk kasih sayang kepada seorang adik. Biar bagaimanapun Sandra adalah orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Maka dia tidak akan pernah bisa begitu saja mengabaikan gadis itu. Dan Moza bisa memahami hal itu.
Moza menatap kedua mata Gilang dengan serius.
" Karena aku percaya kepada mu." Ucap perempuan berhidung mancung itu.
" Semudah itu kah kamu percaya dengan orang yang belum lama kamu kenal ?"
" Tidak juga. Tapi aku bisa melihat kejujuran dan kebohongan dari seseorang hanya dengan melihat matanya." Timpal Moza.
" Hehehe... Kamu perempuan pintar tapi sangat aneh." Balas Gilang yang justru menertawakan Moza.
" Kau tidak percaya padaku ?" Tanya Moza .
" Entahlah, bahkan sampai sekarang aku masih heran kenapa kamu mau di jodohkan dengan ku. Dan dengan mudahnya bilang jika kamu mencintaiku. Padahal kita baru mengenal dan bertemu beberapa kali saja." Kata Gilang.
" Karena cinta tidak memandang soal waktu seberapa lama kita saling mengenal. Cintaku padamu hadir begitu saja ketika pertama kali aku melihat mu."Tutur Moza.
" Kau yakin tidak akan menyesal mencintai pria seperti ku ?" Tanya Gilang lagi.
Mendadak terbesit rasa penasaran kepada perempuan cantik di hadapannya itu. Sebenarnya sangat mudah baginya maupun bagi Moza untuk menolak perjodohan itu karena memang orang tua mereka juga tidak terlalu memaksa mereka. Tapi anehnya Moza justru melabuhkan pilihannya kepada Gilang sejak pertemuan pertama mereka. Padahal menurut Gilang,, tidak akan sulit bagi Moza untuk mendapatkan laki-laki yang lebih tampan dan kaya darinya. Apalagi Moza sangat cantik dan pintar, tentu banyak lelaki hebat yang tertarik dan mau berebut menikahinya. Karena hingga sampai detik ini Gilang belum mencintai dan menerima kehadirannya sepenuhnya. Tapi melihat kegigihan Moza, membuat Gilang akhirnya menyetujui perjodohan itu.
__ADS_1
" Entah kedepannya akan berjalan dengan baik atau buruk , aku akan menerimanya. Aku tidak akan pernah menyesal telah mencintai seseorang apalagi itu pilihan hatiku,, karena hal itu adalah sebagian dari kisah perjalanan hidup yang sudah di takdirkan olehNYA." Jawab Moza dengan sangat yakin.
Gilang membalas tatapan Moza yang begitu yakin.
" Baiklah.... Kalau memang kamu seyakin itu, maukah kamu langsung menikah dengan ku ?" Tanya Gilang menantang perempuan cantik itu.
Moza tersenyum simpul.
" Apa kau sekhawatir itu kepada Sandra ?" Tanya Moza menebak.
Gilang tercengang mendengar jawaban dari Moza. Bukanya menjawab mau atau tidak,Moza justru menjawab di luar dugaannya.
" Maksudmu ? Apa hubungannya pernikahan kita dengannya ? " Tanya Gilang menyembunyikan rasa terkejutnya.
" Kau sendiri yang tadi bilang jika aku adalah perempuan yang pintar. Tentu saja aneh,, tiba-tiba saja kamu ingin segera menikah denganku sedangkan untuk bertunangan saja kamu selalu mengulur waktu honey.." Ucap Moza yang membuat Gilang menjadi gugup karena salah tingkah.
" Ah, itu kan karena memang aku sedang sibuk mengurus pekerjaan yang ada di luar negeri." Balas Gilang mengelak.
" Sudah ku bilang honey, aku bisa tahu orang berbohong atau tidak hanya dengan melihat matanya. Jangan berbohong lagi jika di depanku. Aku tahu kamu ingin segera mengubah pertunangan kita menjadi langsung ke pernikahan karena kejadian ini kan ?" Tanya Moza sambil tersenyum tanpa marah sedikitpun.
"Huft... Baiklah, aku akan mengakuinya. Aku memang sangat mengkhawatirkan keadaan Sandra. Aku tidak ingin Alfian terus-terusan curiga tentang hubungan ku dengan Sandra. Aku tidak ingin Sandra dalam masalah karena terus di curigai suaminya sendiri. Dengan segera menikahi kamu, ku harap Sandra akan baik-baik saja. Dan Al si teman lucknat itu tidak akan berbuat semena-mena lagi kepada Sandra setelah tahu aku menikah dan mempunyai istri."
Gilang merasa tertampar oleh perkataan Moza. Ya , perempuan di depannya ini benar. Tapi dia bingung harus bagaimana lagi membuat Alfian agar percaya jika dirinya sudah tidak mempunyai rasa yang dia tuduhkan untuk istrinya. Sedangkan dirinya memang tidak bisa menjauh atau mengabaikan Sandra karena sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Sandra sangat berati untuknya. Dia lah gadis yang menyelamatkan hidupnya sehingga dia masih mempunyai kesempatan lagi untuk menjalani kehidupan ini.
" Maaf, aku tidak bermaksud untuk memanfaatkan mu untuk hal ini. Jika memang kamu tidak mau tidak masalah. Kau benar, aku sangat mengkhawatirkan keadaan Sandra dan takut Al akan menyakitinya. Aku tidak ingin Sandra di curigai terus menerus sedangkan aku tidak mungkin bisa melepaskannya begitu saja. Aku memang sudah mengikhlaskan dan merelakannya bersama Al, tapi aku masih ingin berhubungan dengannya meski hanya sebagai seorang teman. Aku tidak mungkin bisa melupakan atau mengabaikannya apalagi saat dia mempunyai masalah." Ujar Gilang merasa bersalah kepada Moza.
" Aku mengerti perasaanmu. Aku bisa memahaminya. Hanya saja , kamu juga harus sadar dengan posisi kamu. Sandra adalah milik Alfian sepenuhnya. Jika mereka ada masalah,, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Mereka juga bukan anak kecil lagi. Sangat normal jika dalam berumah tangga terkadang ada pertengkaran. Dan kita tidak bisa ikut masuk ke dalam ranah yang bukan hak kita honey. Jika Sandra bersedih kamu boleh saja menghiburnya,, tapi jangan sampai di luar batas. Jika aku jadi suaminya,, aku juga pasti marah melihat pasanganku hanya berduaan dan berpelukan dengan sahabatnya. Apapun hubungan kalian, entah sekedar teman, sahabat ataupun kakak beradik. Hal itu tidak bisa di benarkan." Ucap Moza.
Gilang menatap Moza dengan lekat. Perempuan itu membalasnya tanpa ragu. Ada sesuatu yang membuat Gilang kini menjadi salut kepada Moza. Perempuan ini sangat unik. Selain pintar dan cerdas , Moza juga terlihat sangat dewasa saat berbicara dan bisa mengolah emosinya dengan baik.
" Kamu juga marah ?" Tanya Gilang pelan.
" Ya tapi tidak bisa. " Jawab Moza.
Gilang tidak mengerti maksud perkataan Moza.
" Maksudku, ya aku marah mendengar kamu memeluk orang lain. Apapun alasannya aku tidak membenarkannya meski aku bisa memaklumi kondisi Sandra waktu itu. Lagi pula apa hakku untuk marah ? Aku belum menjadi siapa-siapa mu honey." Sahut Moza sambil tersenyum menunjukkan lesung pipinya.
Tepat saat itu terdengar suara pintu di ketuk.
__ADS_1
" Aku lihat dulu siapa yang datang." Ucap Moza lalu berdiri.
" Oh, aku pikir siapa. Masuk...." Ajak Moza setelah melihat jika Dias yang datang.
Dias segera masuk ke dalam dan meletakkan parsel buah-buahan yang dia bawa di atas meja.
" Gimana kondisi mu ?" Tanya Dias mendekati Gilang kemudian duduk di sampingnya.
" Aku baik. Bagaimana dengan Sandra ? Ada kabar ?" Tanya Gilang berubah cemas.
Dias melirik Moza sebentar. Kemudian perempuan itu tersenyum melihat kekhawatiran dan keraguan di wajah Dias.
" Tenang saja,aku tidak akan marah... Katakan saja." Jelas Moza.
Dias tersenyum lega. Ternyata Moza bukanlah perempuan seperti Rena yang mudah marah dan pencemburu. Jika dari cara bicaranya, Dias bisa melihat jika Moza tulus menyukai Gilang dan bisa menerima kekurangan sahabatnya itu.
" Sandra ada di kampung. Al menemukannya di makam orang tuanya." Kata Dias memberi tahu.
Terlihat kelegaan dari wajah Gilang.
" Sudahlah Lang, sebaiknya kamu jangan terlalu kepo dan ikut campur lagi tentang Sandra." Ucap Dias sambil melirik Moza.
" Sebaiknya aku tinggal makan siang dulu, mumpung ada Dias di sini yang bisa jagain honey ku." Moza berdiri kemudian keluar dari ruangan VVIP tersebut. Dia tidak ingin ikut campur terlalu dalam soal Sandra dan Gilang karena dia memang belum menjadi istrinya Gilang. Dia hanya berharap suatu saat nanti Gilang bisa berpaling dari Sandra dan membalas cintanya dengan tulus.
" Gila ya kamu Lang ! Dapet cewek yang cantik dan pengertian begitu kurang apa lagi coba ! Udah deh, jangan cari penyakit terus. Lihat kan akibatnya. Muka kamu sampai mirip kaya monyet begitu !" Ledek Dias setelah Moza tidak terlihat lagi.
" Sialan Lo..!"Umpat Gilang tidak terima.
" Emang kaya monyet, mau gue ambilin cermin biar kamu bisa ngaca ?!"
" Gak perlu... Pergi sana kalau cuma mau ngeledek." Sahut Gilang ketus.
" Ya ealah, niat ku baik kali. Nengokin kamu, nasehatin kamu. Dah deh, kamu jangan mikirin Sandra lagi. Alfian tu cinta banget sama dia, apapun masalah mereka, aku yakin mereka bisa menyelesaikannya,, kamu gak usah ikut campur. Cukup do'ain dan support sewajarnya saja. Kamu kan sudah ada Moza, coba kamu perhatian sama dia, buka hati kamu sedikit demi sedikit. Jangan sampai Moza lelah ngejar kamu baru deh kamu nyesel !" Ucap Dias sok pintar.
" Hish , diem deh... Berisik banget !" Kata Gilang lalu berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Dias menggelengkan kepalanya.
" Di bilangin malah begitu. Ntar si Moza di samber cowok lain baru tahu rasa ! Dah lah, berhubung aku lihat kamu udah mendingan, aku balik ke kantor." Ucap Dias kemudian melangkah pergi meninggalkan Gilang yang sebenarnya sedang berpikir di balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1