Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Kembali ke Kota


__ADS_3

Pagi harinya terjadi sebuah keajaiban menurut Alfian. Setelah bangun dia sudah tidak melihat keberadaan Sandra di sampingnya. Alfian kemudian mencarinya. Ternyata Sandra berada di dapur dan tengah menyiapkan sarapan pagi.


Alfian mengucap syukur dalam hati. Dia terus berharap semoga Sandra bisa kembali seperti dulu, bahkan dia sangat merindukan saat mereka terlibat perdebatan dan adu mulut. Melihat Sandra mendiamkannya sungguh membuatnya tersiksa. Dia lebih suka berhadapan dengan Sandra yang keras kepala dan banyak bicara.


" Selamat pagi sayang ?" Sapa Alfian lalu mendekati Sandra.


Sandra mengerutkan keningnya , melirik Alfian sekilas lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.


" Lagi masak apa ?" Tanya Alfian lagi.


" Apaan sih ? Emang gak bisa lihat kalau aku lagi bikin nasi goreng ?" Batin Sandra kesal.


" Hmmm , wangi banget... Pasti enak." Puji Alfian. Dia tidak patah semangat meski Sandra masih cuek. Alfian menganggap ini mungkin adalah balasan untuknya yang dulu juga sering acuh dan mengabaikan Sandra.


" Mandi dulu , baru boleh sarapan." Jawab Sandra singkat.


Alfian girang bukan kepalang mendengar Sandra berbicara kepadanya.


Cupp


"Baik sayang...." Alfian mencium kilat pipi Sandra lalu berlari ke kamar mandi takut kena pukul istrinya itu.


" Alfian ! " Teriak Sandra jengkel.


" Masih saja tidak berubah. Tetap semaunya sendiri !" Gerutu Sandra yang kemudian melanjutkan masaknya.


Sekitar dua puluh menit kemudian Alfian dan Dias sudah rapi dengan setelan masing-masing. Keduanya melangkah ke dapur bersamaan.


" Ini semua nona yang bikin ?" Tanya Dias melihat menu lengkap sarapan pagi itu. Ada nasi putih biasa, nasi goreng, ayam goreng, telur dadar,cha kangkung dan mie telur serta air putih dan susu hangat.


" Iya... Mari sarapan.." Balas Sandra singkat.


Mereka bertiga lalu duduk mengelilingi meja makan.


" Tuan.... Silakan duluan." Ucap Dias mempersilahkan Alfian mengambil makanan terlebih dahulu.


Alfian melirik Sandra. Dia berharap Sandra mau mengambilkan makanan untuknya. Meski bersikap sangat dingin Sandra akhirnya mengambilkan makanan untuk Alfian.


" Mau pakai lauk apa ?" Tanya Sandra datar.


Alfian menatapnya gembira.


" Nasi goreng....., ayam goreng....., telur dadar......, cha kangkung...., dan mie telur." Sahut Alfian yang tetap fokus menatap Sandra.


Sandra mengambilkan semua makanan yang disebut oleh Alfian.


" Tuan yakin ?" Timpal Dias. Sandra mengambilkan sepiring nasi goreng penuh dengan lauk yang Alfian sebutkan.


" Yakinlah.... Masakan istriku sangat lezat." Jawab Alfian yang belum menyadari isi piringnya karena sibuk menatap wajah Sandra.


" Kenapa cemberut pun sekarang dia terlihat cantik ?" Batin Alfian.


Dias menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Gawat sudah bucin nih orang !" Kata Dias dalam hati.


" Ini makan." Kata Sandra membuyarkan lamunan Alfian.


" Terimakasih.... Hah..... Kenapa sebanyak ini ?" Tanya Alfian terkejut melihat isi piringnya yang sangat penuh.


Sandra mendelik keheranan.


" Bukankah kamu yang minta ?" Tanya Sandra kesal.


" Ahh, itu..., "


" Iya tuan. Nona Sandra hanya mengambil sesuai yang tuan minta." Ucap Dias membela Sandra.


" Sini kalau tidak mau !" Sandra mencoba mengambil kembali piring di hadapan Alfian.


" Siapa yang tidak mau ? Tentu aku mau...., aaku...akan menghabiskannya, aku sangat lapar ...." Ucap Alfian memegang sepiring penuh makanannya.


" Hahaha.... Rasain Al, salah siapa pagi-pagi sudah gak konsen ! Dasar bucin !!" Batin Dias senang.


Akhirnya mau tidak mau Alfian mencoba menghabiskan makanannya. Makanan yang awalnya sangat enak lama-kelamaan terasa hambar karena perutnya sudah kekenyangan.


" Jangan di paksakan tuan, jika tidak habis biarkan saja." Kata Dias yang kasihan melihat Alfian.


Sandra diam saja tidak menanggapi.


" Kata siapa tidak habis, makanan ini sangat enak. Aku akan menghabiskannya." Ucap Alfian, padahal sebenarnya dia sudah sangat kekenyangan.


Setelah dipaksakan akhirnya Alfian berhasil menghabiskan makanannya.


" Terimakasih untuk sarapannya sayang." Ucap Alfian.


" Iya nona. Makanannya sangat enak. Terimakasih." Timpal Dias ikut memuji.


Sandra tersenyum kecil.


" Kalau begitu kita berangkat kerja terlebih dahulu. Oya, tuan sudah memberi tahu tentang kuliah nona ?" Tanya Dias yang teringat dengan obrolan semalam.


" Sudah." Balas Sandra.


" Lalu apa keputusan nona ?" Tanya Dias.


Alfian berharap-harap cemas.

__ADS_1


"Mm... Aku setuju pulang ke kota. Tapi jika bisa aku ingin kembali tinggal di kos." Ucap Sandra.


" Maaf nona, bukannya saya lancang atau mau ikut campur dengan urusan pribadi nona. Tapi sebaiknya nona pertimbangkan lagi. Apa jadinya jika nona tinggal di kos. Kasihan Tuan Wijaya dan keluarga, mereka pasti sedih dengan keputusan nona." Ucap Dias.


" Iya sayang....Jika kamu tidak mau tinggal di rumah papa kita bisa tinggal di apartemen. Atau kamu mau ku belikan rumah ?" Bujuk Alfian.


" Bukan karena tidak mau tinggal di rumah papa. Tapi aku tidak mau satu rumah dengan kamu lagi." Ucap Sandra dingin.


" Nona.... kasihan tuan. Sudah berkali-kali tuan minta maaf atas kesalahan yang tidak di perbuatnya. Tolong iklhaskan yang sudah terjadi. Lagi pula beberapa hari ini Pak Wijaya tidak ke sini karena sakit memikirkan kalian." Ucap Dias keceplosan.


" Papa sakit ? Sakit apa ? Apa papa baik-baik saja ? Kenapa tidak memberitahuku ?" Sahut Sandra khawatir.


" Maaf nona, tapi paman... maksud saya Tuan Wijaya yang melarang kami memberi tahu nona." Kata Dias merasa bersalah.


" Aku ikut pulang sekarang !" Kata Sandra. Dia tidak enak dan juga khawatir dengan keadaan papa mertuanya.


" Tunggu sebentar, aku tidak akan lama." Lanjut Sandra cepat sambil berlari ke kamarnya.


Sandra berkemas dengan sangat cepat.


" Kamu yakin pulang sekarang ? Kita belum pamit kepada Bibi Nani dan keluarga." Kata Alfian.


" Ini mendesak, nanti aku kabari mereka lewat seluler saja. Lagi pula jam segini pasti bibi sudah pergi mengajar."


" Baiklah, sini aku bantu bawa." Ucap Alfian meminta koper kecil Sandra.


" Biar aku saja tuan." Dias segera merebut koper itu dari tangan Alfian.


Di perjalanan mereka bertiga saling diam. Sandra sibuk mengkhawatirkan mertuanya. Dia takut jika Pak Wijaya beneran sakit karena memikirkan hubungannya dengan Alfian. Beliau pasti juga sudah dengar jika dia meminta bercerai dari Alfian.


" Kita pulang atau saya antarkan anda ke kantor terlebih dahulu tuan ?" Tanya Dias.


" Langsung pulang saja." Jawab Alfian.


" Baik tuan."


Setelah itu tidak terdengar suara lagi.


" Tuan baik-baik saja ?" Tanya Dias lagi yang mengamati Alfian dari kaca spion mobil. Alfian terlihat mengernyit kesakitan.


" Pelan-pelan saja, perutku sakit." Kata Alfian memberi tahu.


" Baik tuan. Atau sebaiknya kita mampir ke apotik dulu ?"


" Tidak usah, nanti keburu macet."


" Ya sudah tuan. Tahan sebentar ya ?"


" Kamu sakit perut ?" Tanya Sandra menatap Alfian yang meringis kesakitan.


" Sedikit...." Balas Alfian yang menahan sakit di perutnya. Dia tidak terbiasa sarapan banyak dengan makanan berat. Apalagi dengan porsi besar seperti tadi. Biasanya dia hanya minum susu dan sepotong roti atau sandwich.


" Tuan yakin baik-baik saja ?" Tanya Dias khawatir.


" Mas Dias berhenti sebentar." Perintah Sandra.


Dias lalu memarkirkan mobilnya ke tepi jalan.


" Sebelah mana yang sakit ?" Tanya Sandra.


" Di sini.... " Alfian menunjukkan di sebelah mana perutnya yang sakit.


Sandra kemudian mengambil minyak kayu putih yang selalu dia bawa di dalam tasnya.


" Bukalah jas kamu..." Perintah Sandra.


Alfian menurutinya lalu melepaskan jas nya. Sandra kemudian membuka kancing kemeja Alfian.


" Kamu mau ngapain ?" Tanya Alfian panik sambil meringis menahan sakit.


" Jangan banyak tanya...." Protes Sandra yang kemudian mengusapkan minyak kayu putih ke perut Alfian yang kini terekspos.


Sandra memalingkan wajahnya saat mengelus-elus perut Alfian yang berbentuk kotak-kotak. Ada rasa malu dan gugup yang menghampirinya. Sedangkan Alfian justru di buat merinding dengan sentuhan lembut dari Sandra.


" Dias... Gantikan Sandra...!" Teriak Alfian tidak tahan.


" Ya tuan. Maaf nona.... Silakan keluar terlebih dahulu." Ucap Dias yang dari tadi mengamati dari kursi depan.


Sandra yang bingung akhirnya memilih keluar dari mobil.


Dias lalu masuk menggantikan Sandra yang duduk di kursi belakang. Sandra yang sudah keluar dari mobil memilih menunggu di luar sambil mengamati lingkungan sekitar.


" Kenapa ? Bukankah tadi itu kesempatan ?" Tanya Dias lirih sambil mengusap-usap perut Alfian.


" Kesempatan apanya ? Kamu gak tau sekarang perutku sangat sakit ! Sial .... Tubuhku merespon sentuhannya.. Mana mungkin aku membiarkannya ?" Omel Alfian.


" Buahahaha ... Itu tandanya kamu normal Al. Apa dia menyentuhmu begini ? " Ejek Dias sambil memainkan jari-jarinya di perut Alfian.


" Dias !! Awas kamu ! Singkirkan tanganmu !" Ancam Alfian geli.


" Hahaha...." Dias terkekeh tanpa henti, dia puas bisa mengerjai Alfian.


" Aku mual... awas !" Alfian menyingkirkan tangan Dias lalu membuka pintu mobil.


Alfian yang sudah menahan isi perutnya keluar segera mengeluarkannya di selokan pinggir jalan.


Sandra yang melihatnya segera mendekatinya lalu memijat tengkuk Alfian.

__ADS_1


" Huweek...., huuweek......"


Alfian memuntahkan semua isi perutnya.


" Minum ini tuan. " Dias menyodorkan sebotol air mineral kepada Alfian. Alfian menerimanya kemudian berkumur-kumur sisanya dia minum sampai habis.


" Kita perlu ke rumah sakit ?" Tanya Dias cemas.


" Jangan berlebihan... Dia hanya sakit perut karena kekenyangan bukan karena keracunan !" Olok Sandra.


" Iya..., gak perlu. Udah mendingan sekarang." Kata Alfian lega. Perutnya kini tidak sesakit tadi.


" Ya sudah tuan. Mari kita pulang.."


Dua jam kemudian mereka sampai di kediaman Wijaya.


Sandra buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


" Malang nian nasib ku .. Lagi sakit istri malah lebih perduli dengan orang lain !" Keluh Alfian.


" Sabar Al.... Dulu kamu sering menyiksanya, anggap saja ini balasan darinya dan juga dari Tuhan." Ucap Dias asal.


" Sial .... "


Sandra langsung berlari ke kamar Pak Wijaya.


" Nona...." Sapa Bi Ida yang kaget melihat kedatangan Sandra.


" Iya bi.... Papa gimana keadaannya ?" Tanya Sandra yang melihat papa mertuanya sedang tertidur. Hanya Bi lda yang menunggui mertuanya.


" Sudah mendingan non, tapi masih sedikit demam... "


Sandra mendekat lalu duduk di sisi ranjang papa mertuanya.


"Sejak kapan papa sakit bi..?"


" Sudah tiga hari non...."


" Papa sudah berobat ? Sudah minum obat ?" Sandra terus bertanya khawatir.


" Sudah non, baru saja minum obat lalu tidur.... Tuan Arkha sudah memanggil dokter keluarga. Dokter bilang Tuan Wijaya tidak boleh stres atau banyak pikiran." Bibi Nani menjelaskan.


" Baik bi.... Sekarang biar aku saja yang jagain papa ...." Pinta Sandra.


" Baik non... Kalau begitu bibi tinggal ke dapur ya non."


Sandra mengangguk setuju.


Alfian tidak langsung ke kamar papanya...


" Dias , kamu saja yang berangkat ke kantor. Aku mau istirahat... Tolong batalkan saja semua agenda hari ini. Kalau mendesak kamu gantikan saja aku." Perintah Alfian.


" Baik tuan."


Setelah kepergian Dias, Alfian ke atas menuju kamarnya.


Dia menaruh koper Sandra di dekat ranjang tempat tidur lalu merebahkan dirinya. Dia mengernyit sambil memegang kepalanya yang sedikit merasa pening.


Di dalam kamar Pak Wijaya.........


" Papa.... !" Ucap Sandra setelah melihat papa mertuanya terbangun.


" Sandra... Kapan kamu pulang ?" Tanya beliau.


" Belum lama pa... Papa sakit apa ? Kenapa tidak ada yang memberi tahu Sandra ?"


" Ah, papa hanya sedikit tidak enak badan. Jangan khawatirkan papa. Oya, mana Al ? Kamu pulang dengan siapa ?"


" Sandra di antar Mas Al pa, tapi mungkin sekarang Mas Al sudah berangkat bekerja." Kata Sandra.


Pak Wijaya mengangguk-angguk.


" Gimana keadaanmu ? Papa minta maaf untuk semua yang terjadi. Papa tidak tahu jika Bu Lastri sakit. Jika papa tahu papa akan mengupayakan pengobatan yang terbaik untuk beliau." Ucap Pak Wijaya menyesal.


" Papa tidak salah..., tidak seharusnya papa minta maaf. Sandra juga sudah baik-baik saja pa .. Papa jangan khawatir, sebaiknya papa banyak istirahat dan tidak banyak berfikir terlebih dahulu." Ucap Sandra lembut.


" Sandra.... Apa benar kamu ingin berpisah dengan Alfian ?" Tanya beliau tiba-tiba.


Deg !


Sandra bingung harus menjawab apa. Jika berkata jujur dia takut kondisi papa mertuanya akan memburuk.


" Hmm... Papa tahu, Alfian bukanlah suami yang baik. Dia acuh, keras kepala dan juga semaunya sendiri. Tapi papa tahu, sejujurnya dia adalah anak yang baik dan berbakti. Jika papa boleh memohon, tolong berilah kesempatan sekali lagi untuknya." Lanjut beliau.


" Papa juga sudah berjanji kepada kedua orang tuamu untuk selalu menjaga dan melindungimu. Jika kalian berpisah, papa tidak bisa dengan leluasa melakukannya. Ada jarak dan batasan yang harus papa jaga. Tapi.... Kalau memang sudah tidak ada kesempatan untuk anak papa .. Papa akan menerima keputusanmu jika hal itu bisa membuatmu bahagia." Pak Wijaya berkata dengan sedih.


Sandra tertegun mendengarkan mertuanya. Begitu banyak orang yang tidak ingin dia berpisah dengan Alfian.


" Akankah banyak yang terluka jika keputusanku terlaksana ?? Haruskah aku tetap bertahan ? " Batin Sandra gamang.


" Baik pa... Sandra akan memikirkannya lagi. Sandra juga tahu jika sebenarnya Mas Al tidak bersalah atas kepergian ibu. Hanya saja Sandra masih kesal dengan perbuatan Rena , Sandra tidak tahu harus melampiaskan kekesalan ini kepada siapa. Maafkan Sandra pa... Maaf juga jika papa sampai jatuh sakit gara-gara memikirkan kita." Ucap Sandra yang kini merasa bersalah.


Pak Wijaya tersenyum.


" Papa memakluminya... Tapi papa yakin Sandra, Suamimu sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan perempuan jahat itu. Dia hadir lagi hanya ingin kembali memanfaatkan Alfian. Papa dengar Alfian juga menolak berpisah darimu... Setahu papa, Alfian hanya akan mempertahankan orang-orang yang sangat berarti di hidupnya, itu berarti kamu adalah orang yang penting baginya Sandra... Itu sebabnya dia tidak mau berpisah, dia tidak ingin kehilanganmu." Tutur beliau meyakinkan Sandra.


" Mmm...., benarkah begitu pa ?" Tanya Sandra sangsi.

__ADS_1


Pak Wijaya kembali tersenyum melihat Sandra. Menantunya itu begitu polos sehingga tidak menyadari jika suaminya kini telah jatuh cinta kepadanya.


__ADS_2