Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Masih Merajuk


__ADS_3

Keesokan harinya Sandra bangun pagi-pagi sekali. Dia kemudian membuatkan sarapan pagi kesukaan Alfian, Sandra berharap setelah bangun nanti, Alfian sudah memaafkan dirinya.


Selesai membuat sarapan, Sandra kembali ke kamar dan menyiapkan pakaian kerja untuk Alfian. Sandra juga sudah menyiapkan air hangat untuk mandi pagi Alfian.


Setelah semuanya beres Sandra bergegas membangunkan Alfian.


Alfian terbangun karena merasakan guncangan di lengannya. Perlahan dia membuka dan mengerjapkan kedua matanya.


" Pagi..." Sapa Sandra dengan senyum semanis mungkin yang dia bisa.


Alfian membalas senyuman Sandra dan menyunggingkan sedikit senyumnya.Untuk sesaat Alfian lupa jika dirinya sedang marah kepada Sandra.


" Mas mandi ya ? Aku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi." Ucap Sandra bersemangat.


Alfian yang teringat jika dia sedang marah dengan Sandra kemudian hanya mengangguk dan berlalu ke kamar mandi. Sebenarnya Alfian sudah tidak marah kepada Sandra, hanya saja melihat Sandra berusaha keras membujuknya agar tidak marah lagi membuatnya ingin melihat sampai mana Sandra akan melakukannya. Alfian tersenyum kecil saat tengah berendam di bathtub.


Selesai mandi Alfian memakai pakaian kerja yang telah Sandra siapkan.


" Mas, pagi ini aku bikin sarapan kesukaan mu." Ujar Sandra. Dia belum menyerah membujuk suaminya yang sedang merajuk.


" Hm..." Jawab Alfian singkat. Padahal dalam hati Alfian tersenyum senang.


" Hm lagi ??? Huh susah sekali membujuknya. " Batin Sandra mulai kesal.


" Sabar Sandra... Hwuuuuh..." Imbuh Sandra dalam hati sambil menghembuskan nafas panjang.


Setelah merasa tenang, Sandra kemudian mengikuti Alfian yang sudah terlebih dulu pergi ke dapur. Alfian terlihat sangat menikmati sarapannya..., terbukti dengan tandasnya sepiring nasi goreng telur ceplok dengan cepat.


" Aku berangkat." Ucap Alfian datar.


" Iya .. Hati-hati di jalan, semangat ya mas kerjanya ?" Kata Sandra dengan ceria.


" Hm." Balas Alfian lagi.


" Apa ?! Shhh.... Benar-benar nih suami sableng..." Batin Sandra lagi sambil tetap menjaga senyumnya yang kini terlihat kaku.


Meski begitu Sandra tetap berusaha melunakkan hati Alfian yang sedang merajuk.


Sandra kemudian mendekat dan meraih tangan Alfian kemudian menciumnya. Sandra menengadah menatap Alfian dengan senyum Pepsodent nya. Namun dirinya terheran-heran karena Alfian kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa memberinya sebuah kecupan manis seperti yang biasanya dia lakukan.


Sandra tercengang melihat tingkah suaminya yang mendadak kekanak-kanakan seperti itu.


" Huh, ternyata kalau lagi merajuk dia lebih parah dari anak gadis !" Umpat Sandra lirih. Untung Alfian sudah keluar dari apartemen.

__ADS_1


Alfian meninggalkan apartemen pukul setengah tujuh pagi. Sedangkan Sandra hari ini ada kuliah pukul sebelas siang. Masih ada banyak waktu senggang untuk Sandra.


Untuk menghilangkan rasa kesalnya dengan Alfian yang begitu cuek dan dingin kepadanya,


Sandra kemudian kembali ke dapur dan membereskan sisa sarapan mereka. Seperti kebanyakan tugas istri di rumah lainnya. Sandra juga membersihkan seluruh apartemen itu seorang diri. Hal itu membuat Sandra sedikit melupakan sejenak tentang Alfian.


Selesai bebenah Sandra kemudian mandi dan bersiap sekalian agar nanti tinggal berangkat saat tiba waktunya kuliah.


Selesai mandi tidak lupa Sandra merawat dirinya dengan rangkaian sckincare yang dia beli bersama Neta. Ya, sejak tinggal satu atap dengan Neta kemarin, Sandra menjadi lebih sering melakukan perawatan diri. Pertama-tama Sandra melakukannya karena terpaksa, dia hanya mengiyakan saja ajakan adik iparnya itu yang sering mengajaknya melakukan perawatan wajah dan tubuh ke klinik kecantikan. Tapi lama-kelamaan Sandra menjadi terbiasa dan justru membuatnya semakin bersemangat merawat diri. Selain sering mengajaknya ke salon kecantikan atau klinik kecantikan, Neta juga mengajari Sandra caranya memakai makeup. Jadi sedikit demi sedikit kini Sandra juga sudah pandai merias diri dengan makeup simpel kesukaannya. Sayang juga jika semua peralatan makeup yang Alfian dulu belikan tidak terpakai sama sekali.


Drt Drt Drt


Ponsel Sandra bergetar. Ada pesan masuk dari Neta."Panjang umur sekali gadis itu." Pikir Sandra kemudian membuka pesannya.


" Kak, nanti ketemuan ya di salon biasanya yang di mall ? " Pesan dari Neta.


" Pukul berapa ?" Sandra mengirimkan balasannya.


" Pukul tiga sore." Pesan dari Neta lagi.


" Baiklah, selesai kuliah aku ke sana."


" Baik. Nanti aku tunggu di sana." Neta membalas pesannya lagi.


Selesai berdandan Sandra segera bersiap untuk berangkat ke kampus. Sandra sangat bersemangat sekali jika menyangkut masalah pendidikan. Dia ingin membuat kedua almarhum orang tuanya bangga dengan prestasi yang diraihnya, meski mereka tidak bisa melihatnya secara langsung. Cita-citanya juga tidak boleh kandas begitu saja, karena hal itu juga yang di inginkan kedua orang tuanya dulu saat masih hidup. Mereka ingin melihat Sandra berhasil meraih mimpinya.


" Hmm , ada yang makin cantik aja sekarang..." Sapa Intan setelah Sandra duduk di dekatnya.


" Apaan sih.." Balas Sandra sambil tersenyum.


" Gila... Apartemen lo mewah banget ya San ? Lo gak ada niat rekrut ART paruh waktu gitu..., gue bersedia kalau Lo butuh." Ucap Salsa ikut nimbrung.


" Kalau saat ini, aku belum butuh... Kami masih bisa mengurusnya sendiri." Balas Sandra.


" Yahh... Gagal deh dapat pekerjaan." Ucap Salsa.


" Emang kamu juga mau kerja ? " Tanya Sandra.


" Iya, itung-itung... bantuin ayah sama ibuku. Tau sendiri, sekarang susah banget cari duit. Dan jualan ayah lagi sepi sekarang." Kata Salsa menjelaskan. Ayah Salsa adalah seorang pedagang bakso keliling. Sedangkan ibunya bekerja di loundry milik tetangganya.


" Gue sudah berusaha meminta tolong kepada manager cafe tempat gue kerja, tapi katanya belum butuh karyawan baru." Sambung Intan sedih.


" Hmm... Aku tidak yakin bisa bantu. Tapi coba nanti aku tanyakan kepada suamiku, apakah ada lowongan pekerjaan di restorannya." Ucap Sandra.

__ADS_1


" Benarkah ? Terimakasih ya San. Lagi-lagi Lo bantuin gue." Kata Salsa berterima kasih.


" Iya sama-sama. Nanti aku kabari jika memang ada " Balas Sandra.


" Iya gak apa-apa." Ucap Salsa bersemangat.


" Kalau Intan ... Kamu mau gak kerja di restoran ? " Tanya Sandra. Dia tidak ingin salah satu temannya itu berfikir jika dirinya hanya pilih kasih membantu teman.


" Kalau sekarang tidak dulu deh, gue sudah terlanjur nyaman di tempat kerja gue sekarang."


" Oke ... Makan yuk... Aku yang traktir." Ucap Sandra.


" Yes...!!" Teriak kedua temannya.


Sandra senang melihatnya. Dia sendiri tahu rasanya saat sedang di posisi mereka sekarang.


" Gue gak nyangka San , ternyata lo ini orang kaya." Ucap Intan sambil melahap bakso.


" Yang kaya bukan aku, tapi suamiku."


" Ya sama aja ... " Balas Intan.


" Tapi ... Lo beda dari orang-orang kaya yang sering gue lihat. Buktinya sekarang lo mau duduk bersama kami di sini. Kebanyakan anak orang-orang kaya yang berkuliah di sini pada ngebuat grub sosialita sendiri. Mana mau mereka berteman dengan anak miskin seperti kami ini. Itu sebabnya kami hanya berdua saja, tak ada teman lain." Sela Salsa.


" Kalian.... Lagi muji aku ni ceritanya ?" Tanya Sandra sambil bergantian melihat kedua temannya.


" Gak muji kok. Tapi emang begitu kenyataannya." Kali ini Intan yang menjawabnya.


" Kalian jangan berlebihan deh... Atau jangan-jangan karena aku traktir ya ?" Gurau Sandra.


Kedua temannya itu langsung mendelik mendengarnya.


" Hahaha... Aku bercanda kok....Aku tahu betul kalian berdua bukan orang seperti itu, makanya aku nyaman dan mau berteman dengan kalian." Tawa Sandra.


" Huh.. Hampir aja gue keselek bakso ." Omel Salsa sambil cemberut.


" Iya ni....Bikin orang syok tau gak !" Sambung Intan.


Sandra masih terkekeh mendengarnya.


" Iya..., iya, maaf... Lagian apaan kaya atau miskin begitu ? Kita ini sama-sama manusia, sama-sama makan nasi, sama-sama numpang di bumi. Gak ada perbedaan sama sekali. Lagi pula nasib orang siapa yang tahu ? Dengan kerja keras dan usaha yang kalian lakukan sekarang, siapa tahu kalian besok bisa jadi lebih sukses dan kaya dari aku." Ucap Sandra menasehati kedua temannya.


" Aamiin...." Balas kedua temannya serentak.

__ADS_1


" Tapi lo emang beda. Fix no debat." Ucap Intan lagi.


" Mulai lagi... Makan-makan..." Kata Sandra yang tidak suka di puji.


__ADS_2