Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Nasehat Dias


__ADS_3

Sandra menangis tersedu setelah kepergian Alfian. Dirinya meringkuk memeluk lututnya. Barulah setelah benar-benar lelah menangis, Sandra berdiri dan berjalan ke sofa . Merebahkan tubuhnya yang letih dan terlelap tak lama kemudian.


Sore harinya Alfian datang ke kamar bersama Dias. Sekilas dia melihat Sandra yang tidur lalu tetap acuh dan melewatinya.


Sebenarnya ada sedikit rasa kasihan terhadap gadis itu namun dia tepis jauh-jauh. Niatnya menikahi gadis itu adalah untuk membalas sakit hatinya kepada Gilang yang memusuhinya dan untuk mendapatkan posisi CEO di seluruh perusahaan Wijaya Group milik papanya. Hal itu juga membuat hubungannya dengan Arkha sang adik sedikit demi sedikit semakin merenggang. Meski tidak terang-terangan,Arkha mulai membenci Alfian yang menurutnya sangat serakah. Meski sebenarnya, yang Alfian inginkan bukanlah kedudukan dan semua harta kekayaan itu. Alfian hanya ingin membuktikan kepada papanya jika dia layak dan mampu menanggung tanggung jawab itu.


Kembali ke kamar hotel.


Alfian mengajak Dias ke balkon kamar. Mereka sedang berdiskusi tentang pekerjaan yang Alfian tinggalkan selama acara pernikahan kemarin.


" Tuan Wijaya sudah meng-handle semuanya dengan baik tuan. Saya hanya memerlukan beberapa tanda tangan tuan saja." Ucap Dias sambil menyerahkan beberapa berkas.


Alfian mengambilnya. Membacanya sebentar lalu membubuhkan tanda tangan di sana.


" Ck ! Pernikahan ini membuatku stres. Menghabiskan waktu dengan gadis udik ini membuat tensiku bertambah tinggi setiap saat. Gadis ini selalu menimbulkan masalah !" Keluh Alfian setelah selesai menandatangani berkas-berkasnya.


" Menurut saya , hal ini ada baiknya untuk anda tuan." Balas Dias.


" Kita sudah tidak membahas pekerjaan. Jangan bicara formal lagi !" Kata Alfian.


Dias cengengesan.


" Sial , berani menertawai ku ?! " Ancam Alfian.


" Santai bro. Nikmati saja beberapa hari yang akan datang ini . Kamu bisa berjalan-jalan atau beristirahat. Ini kesempatan bagus untukmu untuk bersenang-senang. " Ujar Dias.


" Bersenang-senang ? Aku tidak tau hari mengerikan seperti apa yang akan terjadi esok ! " Ucap Alfian kesal.


" Ehm ... sepertinya kata-kata itu lebih tepat jika Nona Sandra yang mengatakannya . " Sindir Dias.


Alfian melotot semakin kesal.


" Jaga bicaramu.. Meskipun kita teman,aku tidak akan mengampuni mu !" Ancam Alfian.

__ADS_1


" Ya ...oke.. kamu memang Alfian yang ku kenal. Tapi coba kamu lihat. Bukankah kamu terlalu kejam pada gadis kecil itu ?" Tanya Dias sambil menengok ke dalam, tempat Sandra tertidur.


" Apa peduliku. Biar tahu rasa mereka ! " Ucap Alfian penuh penekanan.


" Ayolah... sedikit turunkan ego dan emosimu itu. Gadis itu tidak bersalah, dia hanya mencoba berbakti kepada orang tuanya. Sedangkan Gilang... Dia sahabat kita. Dia juga menderita sekarang ini. Jika aku di posisi dia , aku juga tidak akan menyerah begitu saja melihat kekasihnya di nikahi oleh orang lain. Dobel menyakitkan untuknya, karena kenyataannya sahabatnya sendiri yang menikah dengan orang yang dicintainya." Dias semakin berani menasehati Alfian. Di kantor dia memang hanya seorang bawahan. Tapi saat mereka di luar dan tidak dalam urusan pekerjaan, mereka adalah sahabat. Jadi sudah seharusnya saling menasehati.


" Sebenarnya kamu ada di pihak ku atau dia ha ! " Bentak Alfian yang mulai tersulut emosi.


" Bukan begitu Al. Kita pandang masalah ini dari berbagai sudut. Kamu bayangkan saja jika misalnya kamu berada di posisi gadis itu. Gadis itu baru saja merasakan cinta pertamanya, namun langsung terhalang oleh perjodohan ini. Tidak mudah untuk gadis itu memilih, sedangkan dia akhirnya lebih mengorbankan perasaannya dari pada melihat kekecewaan orang tuanya dan orang-orang di sekitarnya. Sedangkan Gilang. Sebelumnya dia memang play boy namun kehadiran gadis itu bisa mengubah seratus delapan puluh derajat kepribadiannya itu. Setiap kali aku bertemu dengannya, dia hanya menceritakan gadis itu saja. Aku yakin dia sangat mencintainya. Aku sendiri tidak tahu dan tidak menyangka jika gadis yang dia ceritakan itu malah di jodohkan denganmu. Mungkin kepolosan dan ketulusan gadis itu menjadi daya tarik tersendiri bagi laki-laki. " Ujar Dias .


Alfian tertegun. Dia termenung sesaat.


" Lalu menurutmu aku yang bersalah ?" Tanya Alfian kemudian.


" Tidak seratus persen. Awalnya kamu sama-sama korban di sini. Jika kamu menolak pernikahan ini, itu malah akan berdampak tidak baik pada gadis itu. Dia akan terus merasa bersalah kepada almarhum ayahnya dan akan bersedih melihat kekecewaan ibunya. Dengan kamu menikahinya itu sudah tepat. Hanya saja, kamu terlalu mudah emosi sehingga ketika Gilang mencoba mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya kamu merasa marah tanpa mencoba untuk menjelaskan situasinya terlebih dahulu." Perlahan namun pasti Dias mencoba menjelaskan kepada Alfian yang keras kepala.


" Dia milikku ! Gadis itu milikku ! Gilang yang tidak tahu diri !" Alfian berkata marah.


Dias menggeleng-gelengkan kepalanya. Susah sekali memberi pengertian kepada sahabatnya itu.


Alfian mendengus kesal. Setiap kali membicarakan Gilang, suasana hatinya berubah menjadi buruk.


" Oya.... Rena beberapa kali datang ke kantor ingin menemui mu." Kata Dias mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Rena ? " Tanya Alfian heran.


Dias mengangguk.


" Biarkan saja. Bilang saja aku sedang sibuk. Nanti aku yang akan menemuinya sendiri." Ucap Alfian datar.


" Kamu gak akan kembali pada gadis yang sudah pernah meninggalkanmu kan ? " Tanya Dias ragu.


" Entahlah, kamu tahu sendiri, aku berpisah bukan karena aku sudah tidak mencintainya !" Kata Alfian dingin.

__ADS_1


" Tapi Al, yang lalu sudah berlalu. Tolong kamu pertimbangkan lagi. Sekarang sudah ada Sandra .. Gadis itu ....juga sama sepertimu dulunya. Dia melepaskan cintanya untuk Gilang agar bisa menikah dengan mu sebagai bukti baktinya kepada orang tuanya. Sama halnya sepertimu dulu yang terpaksa berpisah karena papamu menyuruhmu kuliah ke luar negeri.Kamu tahu dan merasakan sakitnya seperti apa saat berpisah dengan orang yang kamu cintai. Jika kamu tak ingin dia kembali pada Gilang,maka cobalah membuka hati dan mempertahankannya. Namun jika niatmu hanya untuk membuat Gilang sakit hati, itu sudah terwujud. Lepaskanlah dia... tidak perlu sampai kamu menyakiti Sandra lagi. Dia sudah melaksanakan wasiat itu. Mau bertahan atau tidak, kelak dia berhak menentukan sendiri. Ku harap kamu tidak salah melangkah.... Mungkin aku akan mendukung Gilang merebutnya darimu jika kamu hanya mempermainkannya. Lagi pula , Rena yang dulu tidak mau bertahan di sisimu dengan berbagai alasan." Ucap Dias tidak terima. Entah kenapa dia tidak menyukai Rena sejak dahulu.


" Pergilah temui Gilang jika kamu mendukungnya !" Bentak Alfian tidak terima.


" Sabar Al, kamu salah paham !" Ucap Dias mencoba menjelaskan lagi.


" Sudahlah ! Aku tidak mau membahas ini. Biar ku urus sendiri masalah ini ! Sekarang panggil orang untuk memindahkan semua kado di kamar ini ke rumah !" Perintah Alfian tegas.


Dias tampak kecewa namun dia menurut juga. Dia tahu Alfian sangat tempramen, jika di teruskan bisa jadi hubungannya akan berakhir seperti yang terjadi dengan Gilang.


" Baik. " Balas Dias lalu melangkah hendak pergi.


" Tapi .... bisakah gadis itu di pindah dulu ? Takutnya mereka akan curiga dan berfikir yang tidak-tidak saat melihatnya tidur di sofa. Mengingat pernikahan kalian ini adalah perjodohan, hal ini bisa menimbulkan rumor yang tidak enak. " Kata Dias melanjutkan.


" Ya sudah, pindah saja ke ranjang ! " Perintah Alfian.


Dias mengangguk, melangkah ke dalam dan mendekat ke tempat Sandra. Sandra masih tidur dengan nyenyak. Saat hendak menyentuh tubuh gadis itu, tiba-tiba Alfian berteriak.


" Tunggu ! " Biar aku saja ! " Teriaknya.


Dias pun mundur. Lalu Alfian melangkah dan membopong tubuh Sandra dengan hati-hati.


Alfian merebahkan tubuh Sandra di ranjang. Menyelimutinya lalu kembali mendekati Dias.


" Rahasiakan masalah Rena dari Gilang. Aku akan mempertimbangkannya kembali. " Ucap Alfian datar sambil mengantongi kedua tangannya ke samping.


Dias tersenyum mendengarnya.


" Oke. Aku pergi dulu." Kemudian Dias pergi meninggalkan mereka berdua.


Tak lama kemudian, beberapa orang bertubuh besar dan berotot memasuki kamar mereka dan mengambil kado-kado itu dengan hati-hati. Selesai membereskan masalah kado. Mereka berpamitan bersama Dias yang masih mempunyai beberapa urusan pekerjaan.


Tinggal Alfian dan Sandra di kamar itu. Alfian mendekati Sandra. Mengamati gadis itu yang tertidur dengan mata membengkak. " Pasti dia menangis sangat lama." Batinnya.

__ADS_1


Alfian terus menatap wajah Sandra di sampingnya hingga lama kelamaan kantuk juga menghampirinya. Alfian pun ikut tertidur. Mereka akhirnya tidur bersama hingga malam menjelang.


__ADS_2