Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Hati yang Terusik


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Seperti biasa, Sandra sedang menunggu Alfian menjemputnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya yang di tunggu muncul juga.


" Maaf, jalanan sedikit macet." Kata Alfian.


" Iya mas, gak apa-apa." Jawab Sandra lalu masuk ke dalam mobil mewah suaminya.


Sejak bermalam di rumah mertuanya kemarin, sikap Sandra dan Alfian sedikit berubah. Dia selalu takut Alfian akan membahas tentang masalah anak lagi. Untungnya, jadwal pekerjaan Alfian yang super sibuk sedikit mengalihkan masalah mereka yang sempat bersitegang karena masalah anak.


" Mau makan malam di luar ?" Tanya Alfian menawari.


" Gak usah mas... Aku capek, mau langsung pulang aja." Balas Sandra. Alfian mengangguk paham kemudian semakin mempercepat laju mobilnya.


Sampai di apartemen, Sandra langsung membersihkan diri terlebih dahulu. Alfian menunggunya di sofa kamar sambil sibuk dengan ponselnya.


Setelah Sandra selesai, Alfian segera beranjak dan bergantian membersihkan diri ke kamar mandi.


" Mau aku masakin apa mas ? " Tanya Sandra setelah melihat suaminya keluar dari kamar mandi.


" Gak usah masak.. Tadi barusan Gilang mengirim pesan, dia mengundang kita untuk makan malam di rumahnya. Katanya sudah lama sekali kita gak berkumpul. Dias juga ikut." Kata Alfian memberi tahu.


" Tumben mas Gilang ngundang kita makan malam.... Biasanya juga sibuk. Bahkan waktu opening butik aku aja gak bisa datang dengan alasan sibuk." Cerocos Sandra yang mengingat jika waktu itu Gilang tidak bisa hadir di acara launching butik miliknya.


" Dunia kerja ya begitu sayang. Kalau pas lagi sibuk ya tidak bisa di tinggalkan. Apalagi Gilang adalah pewaris satu-satunya di keluarganya dan bahkan memimpin beberapa perusahaan sekaligus. Jadi aku maklum.." Tutur Alfian santai.


" Tetap aja ... Dulu aja gak gitu kok... Dulu Mas Gilang selalu ada waktu kalau buat aku. Masa kemarin pas di hari penting aku malah gak datang... Awas aja nanti pas ketemu." Lanjut Sandra tetap tidak terima.


" Kenapa segitunya sih ? Kaya berharap banget mantannya datang.."


" Kok mantan sih mas , Mas Gilang bukan mantan aku ya ?!" Balas Sandra sewot.


" Iya bukan mantan... Tapi cinta pertama kamu.. ya kan ! Jangan-jangan kamu belum bisa lupain dia ya ? Sampai kecewa begitu dia gak datang di acara kamu !" Sungut Alfian yang kini menilik reaksi istrinya. Ada getaran aneh yang menyelimuti hatinya mengingat jika dulu Sandra sempat menyimpan rasa untuk sahabatnya itu.


" Mas ngaco... Gak nyambung banget,, ngapain sih bahas yang sudah berlalu." Sandra menjawab dengan raut wajah cemberut. Terlihat wanita itu tidak suka jika membahas masa lalu.

__ADS_1


" Ya kali aja...! Dulu kan kalian ampe menderita gara-gara kamu harus nikah sama aku." Tutur Alfian yang membuat hatinya tercubit dengan kata-katanya sendiri.


Sandra menatap Alfian dengan geram. Tak habis pikir kenapa akhir-akhir ini suaminya sering sekali memulai perdebatan dengannya. Apa karena masalah anak waktu itu ? Bukankah sudah selesai di bahas ?


" Mas kenapa sih ? Cari penyakit aja. Mas seneng ya mengulak masa lalu yang sudah aku kubur dalam-dalam. Bagiku mas Gilang sudah seperti kakak aku sekarang. Gak lebih dari itu !" Ucap Sandra tegas.


Alfian mencari kebenaran dari kata-kata istrinya itu. Dia menatap manik mata yang legam itu dengan seksama. Ya, Sandra tak lagi berbohong tentang perasaannya. Mata itu tengah menyiratkan kejujuran dan cinta yang sesungguhnya.


" Aku kecewa sama kamu mas... Setelah apa yang kita lewati bersama. Ternyata sampai sekarang kamu belum percaya jika aku mencintaimu..." Tutur Sandra dengan suara bergetar.


" Bukan begitu Sandra... "


" Kalau begitu apa mas ? Mas masih meragukan ku ?" Tanya Sandra.


Alfian tak bergeming. Dia masih kecewa dengan ucapan Sandra tempo hari. Dia tahu jika sebenarnya Sandra belum siap punya anak. Dia berkata begitu hanya untuk mengakhiri perdebatan di antara mereka. Dan itu membuat pikiran dan hatinya terusik. Hal apa sebenarnya yang membuat Sandra enggan punya anak sekarang ?? Benarkah karena usaha serta kuliahnya ? Tapi hal itu masih bisa di atasi ... Bukan hal sulit jika memang Sandra punya niat. Banyak di luar sana wanita-wanita hebat yang berkarir sambil tetap mengurus anak. Atau karena masih ingin menikmati masa mudanya ?? Bisa jadi, tapi yang begitu mengusiknya... Alfian takut jika Sandra belum benar-benar mencintainya dan hanya terpaksa menerimanya setelah musibah yang terjadi malam itu karena Dokter Tian. Ya, malam pertama mereka bukanlah malam yang mereka rencanakan. Mungkin Sandra mau melakukannya karena terpaksa dan tidak ada jalan keluarnya waktu itu. Pikiran-pikiran buruk seperti itu sering menghantui Alfian beberapa hari ini semenjak mengetahui jika Sandra belum siap punya anak.


" Mas ?? Kok malah melamun sih ?" Sandra menggoyang-goyangkan lengan Alfian untuk menyadarkan suaminya itu.


" Mas kok aneh ... Ada yang mengganggu pikiran mas ? Apa mas memang benar-benar masih meragukan cintaku?" Tanya Sandra sekaligus.


Sandra menatap punggung suaminya yang berlalu. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Dia yakin pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Alfian darinya.


Tak ingin Alfian menunggu lama, Sandra segera mengganti baju dan menyusul suaminya.


" Sudah siap, ayo berangkat." Ajak Alfian setelah melihat Sandra.


Di dalam mobil, Sandra menatap ke arah luar... Sedangkan Alfian fokus mengemudikan mobilnya. Tak ada yang mereka bicarakan. Suasana menjadi canggung. Tidak biasanya mereka begini.


" Oya mas, tadi siang aku bertemu Bu Reisa di butik... Awalnya dia tidak tahu jika aku pemilik butik itu. Sepertinya dia kaget setelah tahu . Lalu dia menanyakan lagi tentang mas... "


" Sudah ku bilang San, jangan dekat-dekat dengan keluarga Rena. "Potong Alfian tanpa melihat ke arahnya.


" Kami gak sengaja bertemu mas... Lagi pula, Rena kan mantan kamu. Apa tidak sebaiknya mas membantunya. Aku yakin kok mas .. Setiap orang bisa berubah... "

__ADS_1


" Kan sudah ku bilang. Kamu sudah tahu apa jawaban ku. Tidak perlu bertanya atau membujukku lagi soal itu."


" Aku hanya menyarankan mas... Lagi pula tidak ada salahnya berbuat baik kepada orang lain tanpa perlu melihat orang itu siapa." Lanjut Sandra yang sebenarnya juga di posisi yang tidak enak antara Bu Reisa yang terus memaksa dan Alfian yang tetap bersikeras menolak memberikan bantuan.


" Ck... Jangan terlalu baik dan percaya kepada orang lain. "


" Dia bukan orang lain mas, dia ibu dari orang yang dulu sangat spesial di hatimu."


" Ya, tapi mereka hanya memperalat ku !! Rena tidak pernah benar-benar mencintaiku.. Aku yang begitu bodoh sangat mencintainya dulu." Jawab Alfian getir.


" Mm... Apa sebaiknya kita tidak berdamai saja dengan masa lalu ? Seperti kita dan Mas Gilang.. Buktinya kita masih bisa baik-baik saja.." Ucap Sandra lagi.


Entah bodoh atau keras kepala , Alfian tidak mengerti dengan jalan pikiran Sandra yang begitu mudahnya memaafkan orang lain. Padahal karena orang itu, kondisi ibunya menjadi drop dan akhirnya meninggal dunia.


" Kamu tidak dendam kepada Rena ?" Tanya Alfian melirik sekilas.


" Tidak,, setelah mengurung diri berhari-hari waktu itu, aku mencoba berdamai dengan keadaan. Aku kembalikan semuanya kepada Tuhan. Dan belajar menerima takdir yang sudah menjadi kehendakNya. Awalnya memang sangat berat... Tapi seiring berjalannya waktu, aku sudah bisa lepas dari masa-masa suram itu. Tentu semua berkat mas dan juga orang-orang di sekitarku yang sangat menyayangi ku." Sandra tersenyum mengingat hari berat setelah kepergian ibunya.


Alfian akui, Sandra memang gadis yang kuat. Jatuh terpuruk tidak membuatnya hilang kendali dan menyimpan dendam kepada orang yang telah membuatnya hancur. Alfian ikut tersenyum. Dia bangga pada istrinya itu. Terkadang, cara berpikirnya jauh lebih dewasa dari dirinya yang terpaut usia beberapa tahun lebih tua darinya.


" Mas kok senyum ? "


Alfian menggelengkan kepalanya.


" Mm... Kapan-kapan aku boleh nengokin Kak Rena di penjara gak mas ?" Tanya Sandra tiba-tiba.


Alfian berpikir sejenak.Mana mungkin dia membiarkan Sandra bertemu dengan Rena. Dia hanya khawatir mengingat sikap Rena yang berbanding terbalik dengan Sandra. Tapi jika menolaknya dia takut Sandra berpikir yang tidak-tidak.


" Boleh, tapi aku ikut dengan mu." Ucap Alfian akhirnya.


" Wah .. serius mas ? Terimakasih ya mas... " Peluk Sandra.


" Lepas, aku sedang menyetir." Omel Alfian.

__ADS_1


" Iya... Maaf ... Aku hanya merasa senang sekali." Tutur Sandra serius.


Alfian hanya bisa menggelengkan kepalanya lagi melihat tingkah istrinya yang begitu bahagia dengan hal-hal sederhana.


__ADS_2