Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Apakah Orang Kaya Semuanya Begini ?


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Pak Wijaya pulang dari perjalanan bisnisnya dan memberikan oleh-oleh untuk hadiah ulang tahun Sandra . Waktu ulang tahun kemarin, Sandra menolak untuk di rayakan. Waktu itu dia bilang jika pernikahannya adalah hadiah terbesar untuk ulang tahunnya, jadi dia tidak menginginkan adanya perayaan lagi. Sandra hanya meminta di doakan sehat selalu agar bisa mempunyai raga yang kuat untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingnya.


" Papa tidak perlu begini. Sandra jadi merasa tidak enak telah merepotkan papa. Kepulangan papa adalah oleh-oleh paling berharga untuk kami." Kata Sandra.


Pak Wijaya terharu mendengarnya. Dia selalu bersyukur mempunyai menantu seperti Sandra yang tidak gila harta dan tahu sopan santun.


" Ini untuk putri papa.... Tentu saja tidak merepotkan." Kata beliau. Saat ini mereka berdua ada di ruang kerja Pak Wijaya.


" Baiklah pa... terimakasih banyak." Ucap Sandra yang tidak ingin melihat mertuanya kecewa.


" Oya... waktu papa berangkat kemarin kamu belum pulang, kamu di mana ? Papa sangat khawatir waktu itu. Untung Al mengabari jika kamu pulang dengan selamat."


" Maaf pa.... Waktu itu Sandra ketiduran di tempat Nurul." Ucap Sandra jujur.


" Oo... jadi begitu. Oya San .... kenapa kamu tidak memakai mobil saja? Papa khawatir saat kamu mengendarai sepeda motor malam-malam. Papa takut terjadi sesuatu. Lagi pula kamu mempunyai mobil dan sopir pribadi, untuk apa masih memakai sepeda motor ? Kamu tidak ingin belajar menyetir mobil ?" Tanya Pak Wijaya.


" Terimakasih atas perhatiannya pa. Tapi Sandra belum memerlukan mobil saat ini. Sandra masih nyaman memakai sepeda motor." Tolak Sandra.


" Hms.... baiklah.. Papa menyerah membujukmu."


" Maaf pa...." Kata Sandra tidak enak.


" Kenapa minta maaf ? Jangan merasa tidak enakan dengan papa sendiri..."


Sandra tersenyum mendengarnya. Sungguh beruntung dia mempunyai mertua seperti beliau yang menyayanginya dan tidak pernah membedakan antara anak dan menantu.


"Kembalilah ke kamar, hanya itu yang ingin papa sampaikan. Papa juga mau istirahat."


" Baik pa, Sandra permisi dulu..." Setelah berpamitan Sandra keluar dari kamar mertuanya dan bergabung dengan Neta di ruang santai. Gadis itu sedang asik melihat televisi sambil ngemil buah.


" Sini kak .... " Kata Neta senang melihat kedatangan Sandra.


Sandra ikut bergabung.


" Bagaimana sekolah mu hari ini ?" Tanya Sandra kemudian. Dia memang sering bertanya tentang kegiatan Neta di sekolah sebagai wujud perhatiannya kepada sang adik iparnya itu.


" Gak gimana-gimana kak. Seperti biasanya saja. "


" Ooh..... tumben lihat tv di sini ? "


" Iya ... lagi suntuk di dalam kamar. Cari suasana baru... Papa sudah mau tidur ?"


" Sepertinya begitu. Mungkin masih lelah habis menempuh perjalanan jauh."


" Iya.., aku pikir sudah waktunya papa mengurangi pekerjaannya. Kan sudah ada kak Al. Kak Arkha sebentar lagi juga lulus. Dia bisa membantu kak Al mengurus perusahaan." Kata Neta.


" Kakak juga berpikir yang sama. Aku lihat sejak menikah papa hanya beberapa kali terlihat di rumah. "

__ADS_1


" Begitulah papa. Dia sangat sibuk ..."


" Kakak takut kesehatan papa akan terganggu jika seperti ini terus." Lanjut Sandra.


" Aku juga mengkhawatirkan hal itu, pernah aku ngomong supaya papa berhenti bekerja, atau setidaknya mengawasi pekerjaan dari rumah saja. Kata papa masih belum saatnya..., ada banyak hal harus papa selesaikan jika ingin berhenti. Tapi papa janji akan mengusahakannya."


Sandra manggut-manggut mendengarnya, lalu ikut makan buah bersama Neta.


" Itu oleh-oleh dari papa ?" Tanya Neta yang melihat tas yang Sandra letakkan di sampingnya.


" Iya... sebetulnya papa tidak perlu repot-repot." Ujar Sandra.


" Papa memang begitu. Diterima saja kak, aku juga dapat... bahkan banyak yang belum aku buka saking seringnya papa pergi dan pulang bawa hadiah untuk oleh-oleh."


" Jadi begitu..... mmm... mungkin seperti itulah cara papa memperhatikan kita." Balas Sandra.


" Tapi jika boleh memilih, aku ingin papa sering di rumah dari pada semua hadiah itu "


" Sabarlah sedikit lagi. Papa bilang kan akan mengusahakannya."


" Yaa... karena hanya itu pilihan yang tersisa."


" Ck .. kamu ini ... " Sandra mencubit lengan Neta dengan gemas.


" Au... sakit kak ! " Omel Neta.


" Hehehe...maaf...sengaja ! " Sandra cekikikan melihat wajah Neta yang cemberut sambil memegang lengan yang baru saja dia cubit.


" Nona.... Tuan Al mencari anda." Sela Bik Ida.


" Baik bik. " Balas Sandra.


" Ck.... Kak Al semakin manja saja setelah menikah. Dikit-dikit menyuruh kakak beginilah, begitulah.... Dulu dia tidak seribet itu." Kata Neta berkomentar.


" Kamu betul. Dia seperti bayi besar sekarang. Kau tahu, bahkan mengambil air putih di sampingnya saja harus minta tolong ke kakak." Keluh Sandra.


" Wah wah wah..... keterlaluan manjanya." Omel Neta lagi sambil menggeleng.


" Ya sudah kakak samperin dia dulu. Keburu nangis bayi gedhenya.. hehehe..."


Neta mengangguk mengiyakan. Dirinya ikut tertawa mendengar kakak di sebut bayi gedhe.


Sandra melangkah ke lantai dua menuju kamarnya dengan senyum sumringah.


" Ada apa mas ? " Tanya Sandra yang baru datang.


" Kamu dari mana ?" Tanya Alfian.

__ADS_1


Sandra menunjukkan tas oleh-oleh dari mertuanya.


" Papa memanggil ku tadi. Beliau memberikan ini."


" Ya sudah simpan dulu. Aku mau bicara." Kata Alfian.


Sandra lalu menyimpan hadiah itu dulu. Barulah menghampiri Alfian yang kini duduk di kursi santai di kamar itu.


" Ini uang saku kamu minggu ini." Kata Alfian.


Sandra berbinar menerimanya. Di otaknya sudah muncul ide. Sandra ingin memakai uang itu untuk membantu temannya yang kemarin sedang mendapatkan musibah.


" Uang segitu cukup ?" Tanya Alfian.


" Sangat cukup." Balas Sandra.


" Emang dengan uang segitu apa saja yang biasanya kamu beli ? Aku lihat kamu tidak pernah berbelanja." Tanya Alfian. Dia pura-pura tidak tahu apa yang Sandra lakukan dengan uang itu. Dia penasaran apakah Sandra akan jujur kepadanya.


" Mmm... Bensin dan makan. "


" Hanya itu ? "


" Ihhh.. mas kenapa tanya-tanya ? Kan uang ini sudah jadi milikku. Aku bebas menggunakannya kan ? " Tanya Sandra kesal. Dia tidak suka di dikte seperti itu.


Alfian mengangkat bahunya.


" Aku hanya bertanya. Ya sudah jika tidak mau memberi tahu. Tidak perlu kesal begitu." Alfian tersenyum senang dalam hati. Ternyata Sandra bukan tipe orang yang suka memamerkan apa yang telah dia lakukan. Sisi lain seperti itulah yang membuat Alfian semakin menyukainya.


" Kalau kartu kredit yang aku berikan untukmu kemarin bagaimana ? Aku sudah menerima laporan tagihannya. Aku sudah bilang jika kamu harus mempertanggungjawabkannya." Lanjut Alfian.


Deg....


" Ehh...itu, itu... waktu itu...aku menggunakannya untuk perawatan kecantikan bersama Neta. Aku.... tidak enak setiap kali Neta mengajak, dia yang selalu membayar tagihannya...aaku...aku tidak tahu jika tagihannya begitu mahal.. Jadi..., akuu ... memakainya.... maafkan aku." Kata Sandra lirih. Dia takut Alfian akan marah karena dia sudah memakai uangnya tanpa izin terlebih dahulu.


" Bukan itu maksudku. Aku sudah bilang... Itu milikmu dan gunakan kartu itu. Tagihan yang aku terima sangat kecil nominalnya. Jadi kamu harus bertanggung jawab. Lain kali gunakan lebih banyak lagi. Misalnya..... kamu bisa memakainya untuk liburan ke luar negeri ? "


" Eh ..... ???" Sandra melongo mendengarnya. Dia pikir Alfian akan marah besar karena dia sudah menghabiskan lebih dari empat puluh juta untuk membayar tagihan di klinik kecantikan. Dia tidak percaya jika Alfian justru memintanya menghabiskan lebih banyak uang lagi.


" Tidak perlu mas... aku sibuk kuliah, jadi tidak ada waktu untuk liburan. Lain kali saja." Ucap Sandra menolak. Dia masih terheran-heran dengan Alfian.


" Ya sudah.. yang penting aku tidak mau tahu, lain kali gunakan lebih banyak lagi." Perintah Alfian.


" aahh yaa... ba... baik." Balas Sandra yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.


" Dasar orang aneh. Atau ....apakah memang semua orang kaya begini ? Suka menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak di perlukan ?? Aduh.... bagaimana caranya menghabiskan uang yang banyak ?? Dasar Alfian !!! Aaahhh.... Aku harus gimana ? Tidak di pakai harus bertanggung jawab, di pakai pun harus mempertanggungjawabkannya. Aku harus memikirkan cara agar uang itu bisa berguna dengan baik. Tapi untuk apa ??? " Tanya Sandra dalam hati. Dia terlihat sangat bingung dan gelisah.


" Jangan melamun ! Sudah malam ayo tidur ! " Ajak Alfian yang kemudian berjalan ke tempat tidur.

__ADS_1


" Eh ..iy..iya." Ucap Sandra tersadar lalu membuntuti Alfian di belakangnya.


Sejak malam waktu itu, Sandra dan Alfian tidur satu ranjang. Alfian selalu meminta Sandra tidur di sampingnya.


__ADS_2