Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Gilang Berkunjung Ke Butik


__ADS_3

Nurul tiba di apartemen Sandra setengah jam kemudian. Saat tiba di sana, dia masih mendapati Sandra yang menangis di lantai.


" Ajaklah dia beristirahat di kamar." Pinta Dias yang membukakan pintu untuknya.


" Tapi apa yang terjadi ? Kenapa rumah bisa sampai seperti ini ?" Tanya Nurul sedikit berbisik.


" Nanti dia yang akan menceritakannya sendiri. Aku akan kembali ke kantor. Maaf sudah mengganggu waktunya, aku bingung harus bagaimana tadi." Balas Dias.


" Iya , tidak apa-apa, justru aku berterimakasih karena kamu mau memberi kabar padaku."


" Baiklah,aku harus pergi sekarang,masih banyak pekerjaan di kantor. Maaf nanti tidak bisa mengantarmu pulang. Oya, aku sudah menyuruh orang datang untuk membereskan semua ini. Tolong nanti bukakan pintunya. Alfian ada di ruang kerjanya, tapi aku sarankan untuk saat ini jangan ada yang mendekatinya terlebih dahulu." Dias menjelaskan semuanya sebelum pergi.


Nurul mengangguk-angguk paham, sedangkan Dias menepuk bahu Nurul sekali kemudian berlalu pergi.


" Sandra, ayo kita ke kamar. Duduk di lantai sangat dingin... Nanti asma kamu bisa kambuh." Kata Nurul mulai membujuk Sandra.


" Maaf, aku minta maaf...." Ucap Sandra meracau.


Nurul tidak mengerti, Sandra meminta maaf untuk apa ?


" Iya, ayo aku bantu bangun." Nurul kemudian membantu Sandra berdiri dan memapahnya masuk ke dalam kamar. Ternyata di dalam kamar pun tak ada bedanya. Entah apa yang tadi terjadi karena kamar itu begitu berantakan.


" Kamu duduk di sini sebentar, aku ambilkan minum."


Nurul kemudian keluar mengambil air minum untuk Sandra.


Beberapa menit kemudian dia kembali lagi lalu memberikan air putih itu kepada Sandra.


" Oke, sekarang tarik nafas dalam-dalam.. Hembuskan perlahan." Pinta Nurul setelah menaruh gelas Sandra ke atas nakas.


" Sudah lebih tenang ?" Tanya Nurul kemudian.


Sandra mengangguk kecil. Sisa-sisa air mata masih mengalir di kedua sudut matanya.


" Apa yang terjadi San ? Kenapa kalian bertengkar sampai seperti ini ?" Tanya Nurul perlahan.


Sandra menggelengkan kepalanya dan mulai menangis lagi.


Nurul dengan sabar menungguinya hingga tenang sambil menggenggam tangan Sandra dengan erat agar Sandra tidak merasa jika dirinya hanya sendirian.


" Aku salah Rul, aku yang salah... Aku pantas menerima semua ini. " Kata Sandra.


" Ya sudah lah Sandra... Jadikan semua ini sebagai pelajaran jika memang kamu yang bersalah. Jangan ragu juga untuk meminta maaf kepada suamimu. Tapi kalau boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi ?" Tanya Nurul lagi.


Sandra kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan jujur.


Selesai bercerita Sandra menutup wajahnya dengan kedua telapaknya.


Nurul ikut sedih mendengarnya. Jika saja dia tahu hal itu, sudah pasti dia akan melarang Sandra melakukannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia paham betul bagaimana situasi Sandra saat menikah dulu, tapi dia juga tidak menyangka jika Sandra bisa sampai berpikir sejauh itu dengan meminum pil kontrasepsi setiap harinya.


" Sebenarnya apa yang kamu pikirkan San... Yang namanya obat, pasti ada efek sampingnya. Apa kamu tidak perduli dengan kesehatan rahimmu ?" Tanya Nurul.


Sandra menggeleng lagi. Dia tidak pernah berpikir sampai ke sana. Yang dulu dia pikirkan hanyalah menyingkirkan rasa takut jika seandainya Alfian menyentuhnya dan dia hamil. Karena saat itu dia masih sangat belia dan tidak mencintai Alfian sama sekali. Siapa sangka, sekarang kebodohannya justru menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


" Besok kau harus ikut aku. Kita periksa ke dokter kandungan,, sudah setahun lebih kamu mengkonsumsi pil itu. OMG Sandra...... Kenapa kamu bisa sebodoh ini ? Tapi ya sudah, semua sudah terlanjur... Percuma kita menyesalinya." Kata Nurul tak habis pikir.


" Aku takut Rul... Al sangat marah.."


" Hadapilah kemarahannya San. Sebagai suami, wajar jika dia marah... Coba saja, akui kesalahan mu , dan bicarakan apa yang menjadi ganjalan di hatimu sehingga kamu melakukan hal itu.Tapi untuk saat ini, biarkan suamimu meredam emosinya terlebih dahulu." Kata Nurul menasehati.


Nurul menemani Sandra hingga sore. Saat Sandra kelelahan menangis dan tertidur orang-orang suruhan Dias datang untuk membereskan apartemen itu. Kemudian Arkha juga datang sambil membawa makanan. Untung saja lelaki itu peka sehingga mereka tidak kelaparan. Menjelang malam Nurul dan Arkha pamit. Namun mereka sama sekali belum bertemu dengan Alfian karena Alfian masih betah di ruang kerjanya. Mereka tidak berani masuk karena Dias juga sudah mewanti-wanti agar tidak menggangunya. Hanya saat mau makan saja mereka menawari Alfian. Namun Alfian tetap tidak ingin bergabung dengan mereka.


" Jangan terlalu di pikirkan, lakukan saja apa yang sudah aku bilang tadi, minta maaf lah dan jujur dengan apa yang kamu rasakan. Aku percaya Tuan Alfian pasti bisa mengerti jika kamu menjelaskannya dengan baik." Ucap Nurul sebelum pergi.


" Iya. Berhentilah menangis karena itu hanya akan membuat mu lelah." Imbuh Arkha.


Sandra tersenyum simpul mendengar sahabat dan adik iparnya itu.

__ADS_1


" Jangan khawatir... Aku sudah lebih baik sekarang. Terimakasih sudah menemani dan menghiburku.." Ucap Sandra tulus.


Arkha dan Nurul kemudian pergi dari apartemen dengan perasaan sedih. Sedih melihat sahabat dan kakaknya sedang mengalami masalah dalam rumah tangga mereka.


" Aku rasa , Sandra perempuan yang sangat berani. Sejak awal dia tahu bagaimana karakter kakak ku yang arogan , tapi dia bisa nekat melakukan hal yang mungkin aku sendiri tidak berani melakukannya." Kata Arkha sambil berjalan menyusuri koridor.


" Aku tahu, Sandra memang pemberani sejak kecil." Nurul menanggapinya dengan senyum.


" Kamu masih mengkhawatirkannya ?" Tanya Arkha melihat raut muka Nurul yang terlihat cemas .


" Tentu saja. Sekarang dia pasti sangat takut, sangat sedih tapi pura-pura baik-baik saja di depan kita." Lanjut Nurul.


" Tenanglah, kakak ku tidak akan berbuat hal bodoh yang bisa mencelakainya. Sandra adalah istri yang sangat dia cintai kakak." Ujar Arkha menenangkan Nurul yang mengkhawatirkan Sandra.


***


Di apartemen.


Sandra selesai membersihkan diri ketika akhirnya melihat Alfian masuk ke dalam kamar.


Alfian melewatinya begitu saja lalu mengambil bantal dari ranjang kemudian tidur di sofa.


Hati Sandra sangat sakit melihatnya. Belum pernah dia melihat Alfian sampai menghindarinya seperti itu, bahkan tidak mau tidur satu ranjang bersamanya.


Pagi harinya, Sandra sudah tidak mendapati Alfian di kamar. Baru pukul enam pagi namun Alfian sudah berangkat ke kantor. Hati Sandra semakin sesak mengingat kemarin dia masih menikmati sarapan buatan Alfian, tapi sekarang suaminya terang-terangan menghindarinya.


Sandra berangkat kuliah dan bekerja tanpa semangat. Bahkan kedua matanya terlihat jelas sangat bengkak. Setiap kali di tanya oleh teman-teman dan para pegawainya Sandra selalu bilang jika dirinya baik-baik saja.


Malam kedua setelah keributan itu, Alfian tetap memilih tidur di sofa dan mengacuhkan keberadaan Sandra. Sandra berinisiatif untuk memintanya tidur di ranjang bersamanya, namun Alfian menolaknya dengan alasan takut Sandra hamil jika dekat-dekat dengannya.


Hati Sandra seperti tertusuk duri mendengar kata-kata Alfian yang menyindirnya.


Pagi berikutnya, Sandra ikut bangun lebih awal dan memasak sarapan untuk Alfian. Tapi Alfian berlalu pergi ke kantor begitu saja tanpa melihat masakan Sandra terlebih dahulu. Malamnya, Alfian memilih tidak pulang ke apartemen dan tidur di kantor. Dias mengabari jika Alfian ada tugas yang tidak bisa di tinggalkan sehingga harus lembur dan menginap di kantor.


Setiap malam Sandra menangis sendirian di apartemen. Alfian begitu membencinya sekarang. Bahkan setelah keributan itu, Alfian tidak pernah mau berbicara maupun menatap wajahnya. Jika di ajak berbicara, Alfian memilih pergi ke ruang kerjanya.


Setiap hari setiap saat, Sandra terus bersedih memikirkan rumahtangganya sekarang. Bahkan saat di butik seperti sekarang. Tanpa dia sadari, Bu Reisa selalu mengintainya dari jauh saat berada di butik.


Kabar kemarahan Alfian sampai juga di telinga Gilang karena Dias keceplosan waktu minum kopi bersama. Gilang kepikiran Sandra yang pasti sangat sedih saat ini. Jadi saat jam makan siang nanti, Gilang berinisiatif untuk mengunjungi Sandra ke butiknya.


Jam makan siang telah tiba, sesuai rencana Gilang menemui Sandra ke butik hari itu.


" Selamat datang di butik kami ..." Sapa seorang pegawai dengan ramah.


Gilang membalasnya dengan senyum.


" Sandra ada ?" Tanya Gilang langsung.


" Oh, Ibu Sandra ada di ruangannya pak." Jawab pegawai itu.


" Tolong sampaikan jika kakaknya datang." Imbuh Gilang .


Sang pegawai terkejut karena ternyata yang datang adalah kakak dari bos mereka.


" Baik Pak... Silahkan tunggu sebentar, saya panggilkan Ibu Sandra terlebih dahulu." Ucap pegawai itu.


Setelah beberapa menit, Sandra muncul dari ruangannya dengan wajah tersenyum yang di paksakan.


" Mas Gilang tumben kesini ?" Sapa Sandra.


" Iya, Mas kangen sama kamu." Ucap Gilang sambil menatap Sandra dengan prihatin.


" Bisa kita bicara di luar ?" Tanya Gilang.


" Ayo, sekalian makan siomay di depan ya mas." Ucap Sandra.


" Kamu belum makan siang ?" Tebak Gilang terkejut.

__ADS_1


Sandra menggeleng sambil nyengir.


" Ayo, kita beli makan siang terlebih dahulu !" Ajak Gilang.


Gilang dan Sandra akhirnya membeli nasi padang untuk makan siang mereka. Sebenarnya Gilang sudah kenyang tapi agar Sandra juga mau makan, akhirnya dia makan juga nasi padang itu.


Selesai makan Gilang dan Sandra duduk di taman yang tidak jauh dari butik Sandra.


" Bagaimana keadaan mu ?" Tanya Gilang.


" Tentu saja baik " Balas Sandra.


" Jangan berbohong padaku San, aku sudah mendengarnya dari Dias." Ucap Gilang menatap Sandra.


Sandra menjadi salah tingkah dan tak bisa berkutik lagi. Percuma menyembunyikannya lagi.


" Bagaimana dengan Al ? Dia masih marah kepada mu ??" Tanya Gilang lagi.


" Al masih marah besar kepadaku mas.. Dia tidak mau berbicara atau menatap ku. Setiap hari dia berangkat pagi-pagi sekali ke kantor. Jika aku bangun lebih pagi dan menyapa atau melayaninya seperti biasa, dia malah tidak pulang dengan alasan banyak pekerjaan di kantor." Kata Sandra bercerita.


" Huh.. Sudah kuduga, tidak mudah meredakan emosinya. Dia sangat keras kepala. Lalu kamu sendiri bagaimana ? Sudah ke dokter kandungan ?" Lanjut Gilang.


Sebenarnya Sandra malu membahas hal itu dengan Gilang. Tapi tidak enak juga jika tidak dijawab.


" Sudah, aku ke dokter kandungan bersama Nurul kemarin. Kata dokter kandunganku baik-baik saja. Dokter sudah memberikan obat penyubur kandungan dan juga vitamin."


" Baguslah, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan jika begitu. Soal Alfian,, kamu banyak bersabar saja dulu. Nanti jika emosinya sudah reda, dia akan kembali seperti semula." Tutur Gilang.


" Iya mas, aku sudah mengakui kesalahan ku dan meminta maaf. Mungkin masih butuh waktu lagi bagi Mas Al untuk bisa memaafkan ku."


" Jangan terlalu bersedih, lihat kantung matamu itu. Jadi tidak manis lagi." Gurau Gilang.


" Ck... gak lucu mas ...!" Balas Sandra pura-pura kesal.


" Aku juga gak ngelucu... Kenyataan kok ,, tuh udah kaya panda asli mata kamu."


" Hahaha... Biar saja , panda kan lucu mas." Balas Sandra tak mau kalah.


" Lama ya mas, kita gak ngobrol di taman seperti ini, dulu waktu kita bekerja di restoran Mas Al. Kita sering sekali duduk di taman dan menghabiskan waktu istirahat." Ucap Sandra mengenang kebersamaan mereka dahulu.


" Kau masih ingat ?" Tanya Gilang senang. Dia pikir Sandra sudah melupakan semua kenangan saat mereka dekat dulu.


" Tentu saja. Karena mas sangat baik kepada ku."


" Ya, aku tahu... Aku pria paling baik dan romantis di dunia ini !" Gilang menanggapinya dengan sombong sambil terkekeh pelan.


" Ish .. Paling romantis sedunia ? Apaan ? nembak cewek berujung di gerebek warga karena di kira tengah berbuat mesum di dalam mobil dekat sawah masih ingat ??" Sandra balik bertanya mencemooh.


" Ah, kalau yang itu aku tidak ingat." Sahut Gilang langsung pura-pura lupa karena malu.


" Hahaha... Gak ingat tapi kenapa malu begitu mas ? Pipinya jadi merah begitu.." Ledek Sandra.


" Ya tertawa lah sepuasnya.. Aku lebih bahagia melihat mu tertawa selepas ini meski aku yang menjadi bahan tertawamu itu " Gerutu Gilang.


" Hehehe, maaf mas .. Kalau di ingat lagi jadi lucu ya mas .. Padahal dulu keselnya setengah mati.." Kata Sandra lagi.


" Kau benar... hehe"Gilang ikut tertawa mengingatnya.


" Lain kali, ceritakan semua masalahmu kepadaku. Jangan sampai berlarut seperti ini. Sudah ku bilang, kakakmu ini akan selalu ada untuk mu." Imbuh Gilang dengan wajah serius.


" Maaf mas, aku hanya tidak ingin orang lain mengkhawatirkan ku." Ujar Sandra.


" Bagi seorang kakak, membantu adik sebuah kewajiban. Ingat itu baik-baik. Mulai hari ini, jangan bersedih lagi." Kata Gilang yang kini mengelus pucuk kepala Sandra dengan kasih sayang.


Sandra tak kuasa menahan tangisnya kembali mengingat hari-hari berat yang dilalui nya beberapa hari ini. Tanpa sungkan, Sandra menumpahkan sisi rapuhnya lagi di hadapan Gilang.


Dengan kasih sayang sebagai orang yang sudah menganggap Sandra sebagai adiknya sendiri, Gilang membawa Sandra ke dalam pelukannya. Berharap perempuan itu bisa mendapatkan ketenangan setelah menumpahkan semua rasa sedihnya beberapa hari ini.

__ADS_1


Dari kejauhan, Bu Reisa yang mengikuti mereka sejak keluar dari butik, tersenyum girang karena mendapatkan kesempatan lagi untuk menghancurkan rumah tangga Alfian dengan Sandra.


Dengan semangat Bu Reisa mengambil beberapa foto kedekatan Sandra dengan Gilang. Tentu saja ini hal menarik baginya, karena dia tahu Gilang adalah sahabat dari Alfian. Apa jadinya jika Alfian tahu istri dan sahabatnya bermain api di belakang nya ? " Pasti sangat menarik." Pikir Bu Reisa.


__ADS_2