Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Rumah Ibu


__ADS_3

Sisa perjalanan mereka saling membisu. Sandra bertanya-tanya dalam hati ,sebenarnya ada hubungan lagi tidak antara suaminya dengan Rena ? Kenapa Alfian membantah hal itu, tapi jika tidak kembali...., kenapa waktu itu mereka terlihat mesra waktu di dalam lift ? Ah, dasar cowok ! Terserah deh. Sandra tak ambil pusing dengan hal itu . Hari ini dia akan bertemu ibunya jadi dia harus terlihat bahagia.


" Assalamualaikum ?" Alfian mengucapkan salam ketika mereka sudah sampai didepan pintu rumah Bu Lastri.


" Ibu... ibu...." Teriak Sandra yang tidak sabar.


" Wa'alaikumsalam...." Jawab Bu Lastri yang muncul dari balik pagar . Ternyata Bu Lastri habis dari warung .


" Sandra .... " Ucap Bu Lastri gembira. Sandra menghampiri ibunya lalu memeluknya dengan erat. Bu Lastri menciumi seluruh wajah Sandra dengan sayang. Alfian tersenyum melihat pemandangan itu. Kini dia tahu..., sebesar apapun kita, berapapun usia kita. Kita tetaplah di anggap seperti anak kecil yang paling disayangi bagi orang tua.


" Nak Al juga ikut ? Wah ada apa ini ? Tumben kalian datang... Tidak memberi kabar dulu pula. Kan ibu jadi belum menyiapkan apapun." Kata Bu Lastri.


Alfian menjabat tangan ibu mertuanya lalu tersenyum sungkan.


" Ini semua rencana Mas Al Bu, Sandra di kasih tahu juga baru semalam." Ucap Sandra jujur.


" Oya ... ya udah ayo masuk dulu.. " Kata Bu Lastri mengajak anak dan menantunya masuk ke dalam rumah.


Alfian tak langsung ikut masuk , dia kembali ke mobil dan mengambil beberapa oleh-oleh yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Aduuuh, kok repot-repot segala. Lain kali tidak perlu bawa beginian. Kalian sudah datang saja ibu sangat senang." Ucap Bu Lastri saat melihat Alfian menaruh beberapa kantong plastik dan kardus ke dalam rumah.


" Tidak repot Bu." Jawab Alfian. Sandra sendiri tidak mengetahui jika Alfian telah menyiapkan semuanya.


Kini mereka bertiga duduk di ruang tamu. Sandra berbaring manja di pangkuan ibunya. Sang ibu lalu mengelus rambut putri kesayangannya itu dengan lembut.


" Kalian tidak sibuk ? Ini kan belum akhir pekan. Nak Al tidak ke kantor ? " Tanya Bu Lastri membuka percakapan.


" Saya cuti dua hari bu. Kalau Sandra sengaja izin kuliahnya. " Kata Alfian menjelaskan.


" Oo... ya udah gak papa, tapi lain kali prioritaskan yang lebih penting dulu ya .. Bukan berarti gak boleh ke sini. Ibu hanya takut saja mengganggu pekerjaan dan kuliah kalian." Ucap Bu Lastri tidak enak.


" Tentu bu, tapi ibu lebih penting dari pekerjaan saya." Kata Alfian mencoba mengambil hati mertuanya. Inilah yang dia pikirkan kemarin. Selain mengambil hati Sandra, dia perlu mengambil hati mertuanya dulu. Jika sudah maka dengan sendirinya akan lebih mudah mengambil hati Sandra.


" Idihhh.... caper banget sih ?" Batin Sandra.


" Ibu masak apa ? " Tanya Sandra mengalihkan pembicaraan.


" Aduuuh ibu belum masak, kalian sih tidak mengabari ibu dulu." Kata Bu Lastri.


" Ya udah Bu, Sandra bantu masak ya, sambil ngobrol bareng. " Balas Sandra bersemangat.


" Boleh... kalau gitu ibu siapkan bahan-bahannya dulu. Kamu anterin suamimu ke kamar gih. Nak Al istirahat saja, pasti lelah mengemudi selama dua jam lebih. Jangan sungkan-sungkan, anggap rumah sendiri." Perintah Bu Lastri.


Alfian mengangguk menurut. Memang dirinya juga masih sangat lelah.


" Ayo mas. Bawa kopernya." Perintah Sandra.


Mereka akhirnya bebenah dan menaruh pakaian mereka di lemari Sandra.


" Aah kamarkuuu......" Ucap Sandra merebahkan diri pada kasur di kamarnya. Nyaman sekali rasanya.


Alfian memandangnya. Dia tidak mengerti apa yang membuat Sandra begitu senang hanya karena tidur di kasur.


" Kamu senang ?" Tanya Alfian.


" He'eh... Aku rindu ibu, rindu kamar ,rindu Bi Nani, Rindu semuanya." Kata Sandra menjelaskan.


Alfian ikut duduk di kasur itu. Dia ingat pernah tidur di tempat tidur kecil itu.

__ADS_1


" Tidak empuk. Apa yang membuatmu begitu gembira dengan kasur ini ?" Tanya Alfian keheranan.


" Tuan Alfian yang terhormat ! Kasur ini memang tak se'empuk, tidak sebesar dan tidak senyaman kasur di rumahmu. Tapi banyak sekali kenangan yang ku lalui di tempat tidur ini. Disini ibu sering memeluk dan mengelus rambutku sebelum tidur. Aku sering berbaring mengobrol bersama teman-temanku. Di sini juga saksi hidup ku dulu. Tempat ku menangis dan mengadu saat ku sedih. Dan masih banyak kenangan lainnya. Pokoknya aku merindukannya." Ucap Sandra yang masih berbaring. Dia mengelus-elus kasur itu sambil tersenyum senang.


" Hmmm... Terserah kamulah, aneh. " Balas Alfian yang tidak begitu paham dengan jalan pemikiran Sandra.


" Mau nambah lagi kenangan sama ni tempat tidur gak ?" Lanjutnya punya ide. Alfian tersenyum misterius lagi. Senyum yang dia pamerkan saat punya ide-ide jahil.


" Kenangan apa ?" Tanya Sandra menanggapi.


Alfian mencondongkan tubuhnya mendekati Sandra.


" Kenangan malam pertama kita...." Bisik Alfian sambil mengerlingkan satu matanya dengan genit.


" Apaan sih mas ?" Ucap Sandra malu setelah mendengarkan.


" Gimana .... ,mau nggak ?" Bujuk Alfian.


" Iiih... kok mas sekarang mesum sih ?" Tanya Sandra salah tingkah.


" Kok mesum sih, itukan kewajiban sayang....." Alfian terus merayu.


" Mmm, aku mau mau ke dapur bantuin ibu dulu.... ! " Kata Sandra menghindar.


Alfian terkekeh melihat Sandra yang berlari salah tingkah. Alfian gantian merebahkan tubuhnya di kasur itu. Sisa-sisa senyum masih menghiasi bibirnya.


" Kita mau masak apa bu ?" Tanya Sandra setelah sampai di dapur.


" Ini ... ibu masak sayur asem, goreng tempe, goreng ikan asin sama bikin sambal terasi. Maaf seadanya saja ya nak ?" Kata Bu Lastri


" Kok minta maaf sih buk... Apapun yang ibu masak Sandra suka. Sandra kangen makan masakan ibu. " Sandra menanggapi.


Bu Lastri senang mendengarnya. Dalam hati dia juga sangat merindukan putrinya itu. Namun beliau selalu menahannya. Dia tidak ingin mengganggu rumah tangga anaknya.


" Sepertinya bu...., semalam Mas Al pulang larut, dan pagi tadi buru-buru kesini jadi mungkin masih ngantuk."


" Ibu jadi tidak enak mendengarnya. Kamu gak maksa suamimu ke sini kan ?" Tanya Bu Lastri.


" Lhah...., justru dia buk yang ngajak Sandra ke sini."


Bu Lastri tersenyum haru.


" Itu tandanya suamimu perhatian sama kamu. Tanpa kamu minta dia mengajakmu mengunjungi ibu." Bu Lastri memberi tahu putrinya.


" Taulah buk..." Sandra mengangkat kedua bahunya.


" Kok gitu sama suami. Sandra masih ingat sama nasehat yang ibu berikan kan ?"


" Iya masih bu, Sandra ingat semuanya kok."


" Ya jangan hanya di ingat nak, tapi di praktekan juga."


" Aah ibu bawel ah. " Ucap Sandra pura-pura kesal.


Bu Lastri menjewer telinga Sandra saking gemasnya.


" Di bilangin kok malah ngatain ibu bawel !" Ucap Bu Lastri pura-pura marah.


" Iya...iya Bu.. Sandra minta maaf. Lepas bu." Kata Sandra memohon ampun.

__ADS_1


" Jangan di ulang lagi ya ?!" Perintah Bu Lastri.


" Iya Bu ...!"


Bu Lastri lalu melepaskan tangannya. Mereka berdua kemudian fokus memasak kembali.


Selesai memasak Sandra kembali ke kamar. Dia berniat mandi baru setelahnya makan siang bersama.


Sandra mengambil handuk dari lemari kemudian pergi ke belakang untuk mandi. Kamar mandi di rumah Sandra hanya satu dan digunakan bersama-sama, itupun terletak di rumah bagian belakang.


Selesai mandi Sandra merasa tubuhnya kembali segar. Dia kembali ke kamar lalu menyisir rambutnya. Tadi dia sudah ganti baju sekalian di kamar mandi.


Sandra mendekati Alfian yang tertidur nyenyak. Dia duduk di sebelah suaminya.


" Mas..., bangun ayo makan." Sandra menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Perlahan Alfian mengerjapkan kedua matanya.


" Bangun ,kita makan bersama mas." Ulang Sandra.


Alfian memegangi kepalanya agar kesadarannya cepat kembali.


" Mas pusing ?" Tanya Sandra.


Alfian menggelengkan kepalanya.


" Tidak, ayo makan." Bantah Alfian. Sebenarnya kepalanya sedikit pusing. Kurang tidur dan langsung menempuh perjalanan lumayan jauh membuatnya sedikit pusing, namun dia tidak ingin membuat Sandra dan ibunya khawatir.


" Sudah bangun ?" Sapa mertuanya.


" Sudah Bu... Hmm baunya enak sekali." Puji Alfian yang kemudian ikut duduk di meja makan di dapur.


" Oya ? Kita makan sekarang kalau begitu." Balas Bu Lastri.


Sandra melayani suaminya terlebih dahulu. Setelah itu dia mengambilkan ibunya barulah dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Bu Lastri tersenyum, ternyata putrinya masih sama seperti yang dia ajarkan dulunya.


" Ini enak sekali Bu ? Boleh nambah ?" Tanya Alfian yang sangat lahap makannya.


" Tentu saja boleh.... " Jawab Bu Lastri.


" Pantas dulu papa jarang makan di rumah. Ternyata masakan ibu sangat enak. Papa selalu bilang jika sudah makan dirumah temannya. Selain bapak siapa lagi teman papa, semuanya hanya rekan bisnis atau kolega saja." Ucap Alfian bercerita.


" Kamu mirip sekali dengan beliau. Terlalu memuji ibu. Ibu ini bisanya hanya masak masakan kampung." Bu Lastri merendah.


" Tapi ini sangat enak."


" Tentu saja enak, masakan ibunya siapa dulu." Potong Sandra.


Alfian tersenyum kecut. Dia jadi teringat dengan mamanya. Dulu masakan mamanya juga tak kalah enak. Makanya mamanya membuka sebuah restoran yang kini Alfian kelola. Waktu kecil dia juga sangat senang bawa bekal ke sekolah, karena menurutnya hanya masakan mamanya yang paling lezat.


" Dulu mama ku juga pintar memasak." Ucap Alfian sedih.


Sandra jadi tidak enak hati mendengarnya. Dia tidak bermaksud menyinggung atau mengingatkan Alfian tentang ibunya. Dia dengar dari Pak Wijaya jika Alfian kehilangan ibunya saat masih kecil.


" Ehm.... Mas lanjut makannya, aku tuangin air putih ya ?" Tawar Sandra yang tidak peka.


" Maafkan Sandra, nanti biar ibu ajari lagi... Kamu jangan sedih, sekarang ibu juga mama kamu, meski tidak bisa menggantikan mamamu setidaknya anggaplah ibu sebagai ibumu sendiri. Mamamu pasti orang yang baik dan pintar sehingga mempunyai anak-anak hebat seperti kalian bertiga." Bu Lastri mencoba menghibur Alfian sambil mengelus pundaknya seperti anak sendiri. Sedangkan Sandra menunduk merasa bersalah.


" Maaf mas..." Kata Sandra.


" Bukan salah kamu. Terimakasih bu.... Oya, setelah ini kita mau ngapain ? " Tanya Alfian mencoba tersenyum lagi.

__ADS_1


" Mmm...., kita main ke rumah temen-temenku aja ya mas ? Rumahnya tidak jauh kok dari sini." Ajak Sandra.


" Oke, aku habiskan ini dulu."


__ADS_2