
Alfian tidak pulang ke rumah selama tiga hari. Dia pulang ke apartemennya. Kata Neta, kakaknya itu sibuk dengan proyek baru di kantor dan harus bekerja lembur setiap hari sehingga untuk sementara dia memilih pulang ke apartemennya yang jaraknya lebih dekat dari kantor.
Sedangkan Sandra tahu jika Alfian tidak pulang karena marah kepadanya, dia yakin itu hanya alasan saja agar Neta tidak khawatir. Namun Sandra yang masih labil dan keras kepala masa bodoh dengan hal itu. Tidak ada Alfian di rumah menurutnya justru membuatnya lebih tenang karena tidak ada yang memarahinya dan membuatnya kesal setiap hari.
Siang itu Sandra selesai kuliah. Seperti biasa, dia tidak langsung pulang. Sandra mengendarai sepeda motornya berkeliling. Tanpa sengaja , Sandra menyenggol sebuah mobil yang terparkir di depan salah satu swalayan.
Braakk !!
Sandra terkejut. Kemudian turun dari sepeda motor dan menghampiri mobil yang dia tabrak.
" Aduuh ... Kaca lampu depannya pecah ... gimana nih ?" Gumam Sandra panik.
" Yang punya mobil mana lagi ! " Lanjut Sandra. Siap tidak siap dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Untuk itu Sandra celingukan mencari pemilik mobil.
" Lhoh dek... ini kaca lampunya pecah ! " Tegur tukang parkir yang sedang bertugas.
" Iya pak. Saya tidak sengaja... " Kata Sandra.
" Waduh gimana dong dek. Saya yang bertanggung jawab di sini." Kata bapak petugas parkir. Bapak itu juga terlihat khawatir.
" Ehh .. saya yang akan bertanggung jawab pak. Saya yang bersalah. " Ucap Sandra menenangkan.
" Ada apa pak ?" Tanya seorang pemuda yang kemudian muncul menghampiri mereka. Usianya mungkin sepantaran dengan Alfian.
" Ehh...ini mas, saya tidak sengaja menyenggol mobil ini dan kaca lampunya pecah. Saya sedang menunggu pemilik mobil ini untuk bertanggung jawab." Ucap Sandra menjelaskan duduk permasalahannya.
Pemuda itu mendekati mobil dan melihat kerusakan yang baru saja Sandra sebutkan.
" Saya pemilik mobil ini. " Kata pemuda itu kemudian.
" Iyakah ? Maaf mas... saya tidak sengaja. Saya janji akan bertanggung jawab sepenuhnya." Kata Sandra gugup.
Pemuda itu menatap tajam ke arah Sandra. Lalu melihat sepeda motor yang terparkir tidak jauh dari gadis itu. Sepeda motor itu terlihat penuh dengan barang. Sandra memang habis berbelanja banyak kebutuhan pokok yang di pisah menjadi beberapa kantong plastik.
" Masalahnya, saya terburu-buru. Saya tidak bisa mengurusnya sekarang." Kata pemuda itu.
" Maaf mas, karena adeknya ini mau bertanggung jawab saya permisi melanjutkan kerja lagi. Saya tidak mengenal adek ini, tapi saya tahu adek ini orang baik. Saya sering melihatnya di sekitar sini. Kalau bisa mas maafkan saja dan di bicarakan baik-baik. " Sela bapak tukang parkir.
Meski tidak paham dengan apa yang di maksud, pemuda itu tetap menyilahkan bapak tukang parkir itu pergi.
" Ada nomor telepon yang bisa di hubungi ?" Tanya pemuda itu kemudian.
" Ada mas . " Kata Sandra, kemudian dia memberikan nomo teleponnya.
" Nanti aku bawa mobil ini ke bengkel. Setelah selesai nanti aku kabari. " Ucap pemuda itu setelah selesai menyimpan nomor Sandra di ponselnya.
" Iya mas. Saya terserah masnya saja. " Balas Sandra pasrah.
" Oke. Saya pergi duluan." Pamit pemuda itu. Lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Tapi baru saja melaju sebentar mobil itu berhenti lagi. Pemuda itu keluar dari mobil dan mengamati mobilnya dengan seksama. Sandra berlari menghampirinya, takut terjadi sesuatu pada mobil itu.
__ADS_1
" Kenapa mas ? " Tanya Sandra.
" Ban belakang mobil saya bocor. Padahal saya sudah tidak ada waktu lagi. Saya harus segera sampai ke rumah sakit." Kata pemuda itu panik.
" Terus gimana mas ? Aku pesankan taxi online ya ?" Tawar Sandra.
" Kelamaan. Saya tidak bisa menunggu. saya ada jadwal operasi setengah jam lagi." Kata pemuda itu yang ternyata berprofesi sebagai seorang dokter.
Sandra ikut panik mendengarnya. Kasian pasien yang akan di operasi jika dokter itu terlambat datang.
" Kamu pakai sepeda motor ?" Tanya dokter itu.
" Ada mas... eh pak dokter !" Kata Sandra.
" Cepat antarkan saya." Kata dokter itu yang segera mengambil jas dokternya dari dalam mobil.
Sandra mengangguk setuju kemudian.
Sepuluh menit kemudian Sandra sudah di tengah perjalanan ke rumah sakit. Dia duduk di jok belakang membonceng dokter itu sambil memangku beberapa kantong plastik yang tidak bisa di taruh di depan.
Semilir angin membuat rambutnya yang panjang tergerai terhempas ke belakang. Sandra berpegang erat di pinggang dokter itu yang sedikit ngebut.
Dokter muda itu mendadak mengerem saat tiba-tiba lampu rambu-rambu berubah merah di sebuah perempatan. Sandra yang kaget terdorong ke depan dan tidak sengaja memeluk dokter itu dari belakang.
" Maaf Pak dokter..., saya tidak sengaja... " Teriak Sandra agar dokter itu mendengar. Dokter itu kemudian menolehkan kepalanya ke belakang agar mendengar perkataan Sandra.
" Santai aja !" Balas dokter itu.
Alfian menggeram kesal. Dias yang mendengarnya mengikuti arah pandangan mata Alfian.
" Bukankah itu Nona Sandra tuan ?" Tanya Dias yang telah melihat Sandra juga.
" Aku turun di sini !" Kata Alfian mengandung amarah.
" Tidak bisa tuan, rapat kali ini sangat penting. Kemarin kita sudah tidak hadir dan jika kali ini kita tidak hadir lagi. Kemungkinan besar mereka tidak mau bekerja sama dengan kita lagi. " Cegah Dias mengingatkan.
" Sial ! Kurang ajar gadis udik itu ! Dia harus di beri pelajaran ! " Teriak Alfian emosi sambil melonggarkan dasinya.
Tepat saat lampu berubah hijau. Alfian mengamati mereka berdua yang sudah kembali melaju. Dias pun juga kembali melajukan mobilnya.
" Jangan emosi dulu tuan." Bujuk Dias setelah berbelok ke arah yang berlawanan dengan Sandra.
" Tidak emosi bagaimana ? Kau lihat sendiri, dia berboncengan dengan pria lain ! Keterlaluan !! " Ucap Alfian tidak terima.
" Ini semua gara-gara kamu ! Gara-gara ide kamu itu aku tidak lagi menyuruh orang untuk mengawasinya ! " Lanjut Alfian. Kini Dias menjadi sasaran kemarahannya.
Dias menghela napasnya. Berhadapan dengan Alfian harus mempunyai kesabaran yang tinggi.
" Kalau tuan tetap mengawasinya dan ketahuan aku yakin nona Sandra akan marah. Jangankan menyukai tuan .Dia justru akan illfeel. Tidak ada yang suka jika hidupnya di awasi dua puluh empat jam penuh. Tuan juga harus memberinya privasi." Terang Dias.
__ADS_1
" Lalu membiarkan dia selingkuh , begitu ?!" Bentak Alfian.
" Jangan salah sangka dulu tuan. Siapa tahu mereka hanya berteman. "
" Berteman ?? Mana ada teman sampai peluk-peluk begitu !"
Dias tersenyum mendengar ocehan Alfian.
" Katanya tidak akan perduli lagi dengannya ? Kemarin ada yang bilang masa bodoh dengan gadis itu. Mau dia punya pacar atau kekasih kamu tidak akan peduli." Kata Dias.
" Kamu mengejekku ? Aku sedang kesal sekarang. Jangan cari masalah dengan ku !"
" Aku tidak mengejek mu. Aku hanya bingung dengan dirimu Al. Kamu bilang menyukai gadis itu, kemudian berusaha untuk membuatnya menyukaimu. Tapi tiba-tiba marah tidak jelas dan bilang akan melupakan gadis itu. Ayolah..., kamu bukan anak ABG lagi yang mudah plin-plan saat mengambil keputusan. Kamu bukan tipe orang yang bisa bermain-main dengan perasaan. Jika iya pertahankan, jika tidak maka lepaskan saja. Biarkan dia hidup bahagia dengan pilihannya. Aku juga tidak membenarkan sikapmu yang masih lembek kepada Rena. Kupikir kamu akan tegas menolaknya, tapi kamu masih saja memberinya kesempatan mendekatimu. Sebenarnya yang kamu inginkan Rena atau Sandra ? " Ucap Dias.
Melihat Alfian yang diam saja dengan wajah yang bingung. Dias melanjutkan ceramahnya.
" Begini, jika kamu ingin mempunyai hubungan yang baru maka selesaikan hubungan dengan yang lama. Jangan biarkan yang lama mempengaruhi dan mengganggu hubunganmu yang baru." Jelas Dias.
" Entahlah... aku bingung, aku juga belum sepenuhnya yakin dengan perasaanku sendiri. Aku tidak tega mencampakkan Rena begitu saja. Dan aku juga masih ragu dengan perasaanku kepada Sandra." Alfian mengakui perasaannya sambil menyandarkan tubuhnya lelah.
" Ada yang perlu di ralat .. Bukan kamu yang mencampakkan Rena, tapi dialah yang mencampakkan dirimu, jadi kamu tidak harus merasa bersalah jika menjauhinya. Jangan biarkan dia memanfaatkan rasa tidak tega mu untuk kembali bersama mu. Lalu tentang Sandra, wajar saja dia marah.... dia melihat suaminya pasrah di peluk perempuan lain, dan itu mantannya pula. Sama seperti yang kamu rasakan saat melihatnya tadi. Kesal kan ? " Dias terus mencoba memanas-manasi Alfian agar sadar dengan perasaanya.
" Untuk apa dia marah dan kesal melihatnya ? Dia memang punya rencana untuk membuat ku kembali pada Rena ! Dia menginginkan perpisahan setelah itu. Dia hanya memanfaatkan ku ! Dia menikah hanya untuk membuat orang tuanya tidak kecewa tapi setelah itu, dia menunggu waktu agar bisa berpisah dariku. Dia sangat licik ! " Ucap Alfian membela diri.
" Itu karena dia belum menyukaimu. Jika dia jatuh hati padamu, dia tidak akan melakukannya. Bukankah kamu akan berusaha membuatnya menyukaimu ?" Tanya Dias.
" Kamu tidak mengerti tentang dirinya. Dia sulit sekali di hadapi. Kadang dia penurut, tapi kadang dia juga suka membantah. Tidak mau mengalah dan susah di atur. Dia juga masih kekanak-kanakan." Keluh Alfian.
" Maklum kan Al... Dia masih sembilan belas tahun. Sedangkan kamu sudah jalan dua puluh enam. Ini masa-masa labil bagi remaja seusianya. Wajar jika dia ingin bebas. Ingin begini dan begitu sesuka hatinya. Sama sepertimu sebelum berangkat ke luar negeri dulu. Kamu tetap ngotot berpacaran dengan Rena, sering kabur dari rumah, pergi ke klub, dan mabuk-mabukkan sebagai pelarianmu yang ingin hidup bebas. Kamu ingin melakukan apa yang kamu mau tanpa diatur oleh papamu. Kita pernah melewati masa-masa seperti itu juga.., jadi kamu harus bisa memaklumi masa remaja Sandra sekarang. Menikah muda juga bukan pilihannya. " Balas Dias menanggapi.
" Aku laki-laki, dia perempuan. Harusnya dia bisa lebih menjaga sikap. Sudah mempunyai seorang suami, berati dia harus tau apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan tanpa izin suami terlebih dahulu !"
" Jadi intinya..., sekarang kamu cemburu ? " Tanya Dias mempersingkat obrolan. Berdebat dengan Alfian sudah tentu percuma.
Alfian diam saja dan tidak mau mengakuinya.
" Tidak usah pusing-pusing. Jika memang kamu menginginkannya maka buat saja dia menjadi milikmu seutuhnya ! Dengan begitu dia tidak akan mudah melepaskanmu." Ucap Dias memberi ide.
Alfian memikirkannya. Apakah dia harus melakukannya ?
" Tapi..... bagaimana jika dia marah ?" Tanya Alfian dengan bodohnya.
Dias tertawa keheranan.
" Emang kamu harus mendapatkan persetujuan darinya dulu ? Come on. Bukankah itu hak istimewa yang kamu miliki ? Coba saja kamu rayu, ini bukan kali pertama bagimu kan ?!" Ejek Dias.
" Sudahlah jangan bahas masa lalu. Lagi pula Sandra berbeda..., dia gadis yang berpendirian dan tidak mudah di rayu." Ucap Alfian memberitahu.
" Oke.. terserah kamu. Aku hanya menyarankan...., jika memang kamu takut kehilangan dia sedangkan dirinya begitu sulit kamu dapatkan maka buatlah dia menjadi milikmu seutuhnya baru buat dia jatuh cinta kepadamu. Toh sah-sah saja melakukannya." Ujar Dias.
__ADS_1
" Nanti aku pikirkan lagi. Kamu cari tahu saja siapa laki-laki yang tadi bersamanya. Aku sudah harus mendapatkan informasi lengkapnya setelah selesai rapat nanti."