Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Reisa Yang Terkejut


__ADS_3

Be Reisa terlihat cemas menunggu kelanjutan drama rumah tangga Alfian dengan Sandra. Dia sangat yakin mereka sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dan mungkin pertengkaran besar di antara mereka tengah terjadi. Atau bisa jadi Alfian sudah menceraikan istri kampungannya itu secara langsung. Karena selama beberapa hari ini, Bu Reisa tidak mendapati Sandra masuk kuliah maupun berangkat ke butiknya. Hal itu yang membuat dirinya sangat yakin jika setelah dia mengirimkan foto-foto kedekatan Sandra dengan Gilang, Alfian sangat murka. Sayangnya, Bu Reisa kehilangan jejak untuk mengikuti mereka karena Sandra tak terlihat beberapa hari ini. Sedangkan jika ingin mendekat ke kantor ataupun ke apartemen Alfian, pengamanan di sana pasti sangat ketat dan dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan sedikitpun.


" Huh... ! Penasaran sekali dengan apa yang terjadi dengan gadis kampung itu ! Mungkinkah Alfian sudah menceraikan dan mengusirnya ? Kalau memeng begitu bagus sekali....! Rencana ku berhasil dengan sangat mudah ....Hahahaha !" Tawa Bu Reisa.


" Alfian.... Alfian,, mudah sekali menebak kelemahan mu. Aku tidak percaya, perempuan kampungan seperti itu bisa membuat mu jatuh cinta sampai dirimu murka membabi buta seperti itu saat cemburu. Sudah ku bilang, kau tidak pantas untuk gadis kampung sepertinya. Rena ku lebih pantas bersanding dengan mu !" Kata Bu Reisa besar kepala.


" Tunggu sayang... Sebentar lagi mama akan buat Alfian kembali kepadamu dan membantu mu mengeluarkan mu dari tempat terkutuk itu !" Imbuh Bu Reisa.


****


Siang hari selanjutnya, Sandra dan Alfian sudah sampai di apartemen mereka. Kemarin setelah sampai di rumahnya di kampung, hari sudah larut malam. Sehingga Sandra , Alfian dan Nurul mengurungkan niat mereka untuk langsung kembali. Paginya Sandra dan Alfian mengunjungi makam bapak dan ibunya terlebih dahulu untuk mendoakan mereka sekaligus pamit kembali ke kota bersama Nurul sekalian. Mereka terlebih dahulu mengantar Nurul ke tempat kost nya. Barulah setelah itu mereka pulang ke apartemen.


"Lelah ?" Tanya Alfian.


" Iya mas, tapi aku seneng. Bisa mengunjungi makam bapak dan ibu. Selain itu kemarin kita bisa berkumpul dengan keluarga bibi." Jawab Sandra setelah mereka masuk ke dalam apartemen.


" Mas mau aku bikinin kopi ?" Tawar Sandra.


" Gak usah....Kamu istirahat saja, aku mau langsung ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan aku hadir." Ucap Alfian.


" Emang mas gak capek ?" Sandra balik bertanya.


" Gak sayang.... Tenang saja,suamimu ini sudah terbiasa bekerja keras." Kata Alfian menyombongkan diri.


" Iya deh percaya.... Kalau gitu aku ikut ya mas ? Aku mau ke butik. Kasian Pak Bagus pasti repot sekali mengurus banyak pekerjaan sekaligus." Tanya Sandra meminta izin.


" Kau yakin gak mau di rumah saja ?" Balas Alfian memastikan terlebih dahulu. Dia tidak ingin Sandra sampai kelelahan.


" Enggak mas, di sini sepi. Lagi pula sudah banyak tanggung jawab yang terbengkalai gara-gara masalah kita kemarin." Aku Sandra.


" Ya sudah kalau kamu maksa. Tapi jangan memaksakan diri ya ? Aku gak mau kamu kelelahan." Lanjut Alfian.

__ADS_1


" Iya sayangku ..." Balas Sandra patuh.


Akhirnya mereka berdua kembali ke luar. Alfian mengantarkan Sandra ke butiknya terlebih dahulu. Setelah sampai, Alfian mengantarkan Sandra hingga masuk ke dalam. Bahkan Alfian menggandeng tangan Sandra dengan mesra. Hal itu membuat seseorang di seberang jalan, membelalakkan mata saking shock nya. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Bu Reisa.


Bu Reisa terkejut bukan main saat melihat Alfian dan Sandra masuk ke dalam butik sambil bergandengan layaknya pasangan yang takut kehilangan satu sama lainnya.


" Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ? Kenapa mereka terlihat baik-baik saja ? Bukankah waktu itu Alfian terlihat sangat marah dan bahkan sampai mengamuk ? Kurang ajar ! Pasti gadis kampung itu pintar merayu Alfian !!" Teriak Bu Reisa.


Bu Reisa kemudian pergi dari sana dengan suasana hati yang berbeda. Datang dengan semangat tapi pulang dengan amarah.


" Sial !!!! Aku jadi harus berpikir lagi bagaimana caranya agar bisa membuat Alfian dan gadis kampung itu bercerai..!! Mereka harus berpisah, karena putri ku, putriku yang malang yang seharusnya menjadi nyonya Wijaya !" Sampai di rumah Bu Reisa uring-uringan karena tidak berhasil membuat hubungan Alfian dan Sandra hancur berantakan.


" Bagaimana ini ? Bagaimana aku harus menghadapi Rena saat dia bertanya padaku ? Dia pasti sangat kecewa dan bersedih lagi ! Astaga !!! Aku harus bagaimana !!!" Lanjut Bu Reisa, seperti biasa saat marah dan emosi melanda... Bu Reisa akan membanting semua barang yang ada di depannya. Lagi-lagi ART nya hanya bisa mengelus dada melihat tingkah majikannya yang semakin parah saat sedang marah.


****


Pukul sembilan pagi, dokter tengah memeriksa keadaan Gilang kembali. Bersyukur keadaan Gilang semakin membaik. Karena Gilang ngotot dan memaksa ingin segera pulang, akhirnya dokter juga mengizinkannya pulang dengan catatan tetap harus kontrol sesuai jadwal.


Gilang pun mengiyakan hal itu dengan senang hati. Dirinya benar-benar sudah bosan hanya duduk dan berbaring di ranjang rumah sakit saja. Moza yang menungguinya tanpa lelah, selalu melarangnya saat ingin jalan-jalan ke luar kamar ataupun sekedar pindah ke sofa. Moza selalu beralasan jika dirinya harus memastikan Gilang patuh dan tidak berbuat yang aneh-aneh mewakili orang tua Gilang yang sedang di luar negeri. Ya,, memang Moza juga sudah mendapatkan mandat dari kedua orang tua Gilang untuk membantu menjaga Gilang. Dan hal itu dia lakukan dengan senang hati. Karena tanpa di minta pun Moza ingin selalu berada di samping Gilang meskipun laki-laki itu terkadang masih suka acuh dan dingin kepadanya.


" Honey, ayo cepat masuk mobil. Hari ini panas sekali." Kata Moza yang masih menunggu Gilang untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


" Ck... Mengganggu kesenangan orang lain saja !" Omel Gilang tapi menurut.


" Maaf honey, tapi kamu baru keluar dari rumah sakit. Lagi pula aku takut hidungmu terkena debu dan bisa menyebabkan infeksi."


" Bagaimana bisa terkena debu jika masih di perban begini ?? Alasan, bilang saja takut hitam karena kepanasan !" Tuduh Gilang.


" Terserah kamulah... Katanya pingin segera pulang ?" Balas Moza menyindir.


" Dasar perempuan !" Keluh Gilang setelah duduk di kursi penumpang depan. Kali ini dia menumpang Moza.

__ADS_1


" Setelah ini apa rencana mu ?" Tanya Moza setelah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Tentu saja bekerja." Sahut Gilang dengan cepat. Emang mau apalagi selain bekerja ? Batinnya sedikit kesal dengan pertanyaan Moza.


" Oke, aku pikir kau ingin melaporkan Alfian atas kejadian ini ??" Ucap Moza menatap Gilang sekilas kemudian kembali fokus menyetir.


" Aku sudah biasa di pukul olehnya. Tidak perlu di besar-besarkan. " Jawab Gilang santai. Seperti tidak ada rasa marah atau dendam sedikitpun atas perbuatan temannya itu.


" Kau membuatku kagum lagi honey,,kau sangat berjiwa besar. Padahal hidungmu sampai patah dan harus di rawat di rumah sakit. Bahkan kamu sampai harus cuti dari kantor dan tentu saja hal itu bisa saja membuatmu rugi." Tutur Moza yang memang sudah tergila-gila dengan Gilang.


" Kamu berlebihan. Aku hanya bersikap seperti seharusnya saja.. Apa yang kamu katakan tempo hari benar. Apapun alasannya, Alfian berhak marah.Suami mana yang rela istrinya di peluk laki-laki lain. Anggap saja ini hukumanku. Lagi pula aku sudah hafal betul dengan watak Al. Dia hanya akan memukul dan melukai orang jika merasa harga dirinya di injak-injak. Apa yang terjadi kemarin, cukup menjadi sebuah pembelajaran. Aku yakin pria itu juga menyesal telah membuatku sampai masuk ke rumah sakit. " Ucap Gilang.


" Terus Sandra ??" Pancing Moza.


Gilang tersenyum sambil menatap jalanan yang ada di depannya lewat kaca mobil.


" Sandra ? Aku rasa dia baik-baik saja. Aku yakin Alfian sangat mencintainya sehingga dia sampai murka seperti itu kemarin. Jika masih mungkin, aku ingin tetap bisa berhubungan baik dengan mereka." Lanjut Gilang.


" Bukan , maksudku ... Apakah kamu masih ...."


" Sudah ku bilang, Sandra seperti pahlawan dalam hidupku. Tidak lebih.. Aku hanya ingin memastikan hidupnya selalu bahagia. Apa kau juga masih berpikir jika aku masih mencintainya ?" Gilang bertanya balik kepada Moza.


" Oh... Tidak begitu,, aku percaya sepenuhnya kepada mu tentang hal itu. Maksudku tadi, tentang kamu dan Sandra selanjutnya apakah kamu masih ingin menemuinya ?" Ulang Moza karena tadi di potong oleh Gilang.


" Sudah ku bilang, jika bisa ... Aku masih ingin berhubungan baik dengan Sandra dan juga Alfian. Mungkin aku hanya perlu menjaga interaksi dengannya dan lebih banyak memantaunya dari kejauhan saja agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lagi di kemudian hari."


" Bukan ide yang buruk. Tapi ku rasa Alfian akan lebih ketat lagi menjaga Sandra."


" Entahlah, nanti ku pikirkan lagi. Kurasa aku harus menemui Alfian secara langsung untuk meluruskan kesalahpahaman ini."


" Bolehkah aku menemani mu ?" Tanya Moza yang khawatir.

__ADS_1


" Tidak perlu,, ini masalah ku." Tukas Gilang kemudian.


Moza kemudian diam dengan pikirannya sendiri. Dia masih was-was takut terjadi sesuatu kepada Gilang jika menemui Alfian.


__ADS_2