Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Duka Yang Mendalam.


__ADS_3

Malam itu juga jenazah ibu Sandra di bawa pulang ke rumah duka.


Sandra duduk disebelah jenasah ibunya saat di ambulans dan hanya di temani oleh Bibi Nani.


Sedangkan Alfian dan yang lainnya mengikuti menggunakan mobil masing-masing.


" Bibi...., ini hanya mimpi kan bi..." Tanya Sandra lemah.


Air mata kembali mengalir dari keduanya.


" Sabar ya nak. Yang kuat..."


" Bagaimana Sandra bisa kuat bi, baru enam bulan Sandra kehilangan bapak, sekarang ibu juga ikut pergi ninggalin Sandra sendiri. Sandra gak kuat bi...., Sandra gak bisa...."


" Istighfar sayang...., Bibi yakin semua ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa." Ucap Bibi Nani sambil membelai pucuk rambut Sandra.


" Kenapa takdir Sandra seperti ini bi... Apa salah Sandra ? Sandra bukan anak bandel, Sandra bukan anak nakal, Sandra juga tidak pernah ngrepotin orang tua. Kenapa bi, kenapa Allah mengambil kedua orang tua Sandra."


" Astaghfirullah Sandra.... Nyebut nak.... Gak boleh bicara begitu, itu artinya kamu tidak menerima takdir yang sudah Allah tentukan.... Kamu harus kuat , yang sabar ..."


Kini Sandra menangis tanpa suara. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi wajah gadis itu. Bahkan kedua mata Sandra sudah sangat bengkak.


Sampai di rumah , rumah Sandra sudah banyak di penuhi oleh tetangga. Begitulah hidup di kampung. Jika terjadi sesuatu tetangga dengan sigap langsung membantu meski tanpa di minta.


Banyak dari para tetangga yang menangis menunggu kedatangan mereka. Bu Lastri memang terkenal baik di kampung itu, sehingga kabar kepergiannya membuat banyak orang tidak percaya dan bersedih.


Jenazah ibu Sandra di bawa masuk ke rumah untuk segera di sucikan dan di pakaikan kain kafan. Sandra tidak sanggup lagi menyaksikannya. Pandangannya seketika gelap lalu dia terjatuh pingsan.


Alfian yang selalu sigap di sampingnya langsung membopong Sandra dan membawanya ke dalam kamar. Alfian lalu menelpon dokter untuk segera ke sana. Dia takut terjadi sesuatu kepada Sandra.


Sandra terpaksa harus diinfus dan diberikan obat penenang supaya bisa beristirahat. Sandra terbangun pagi harinya. Kepalanya terasa sangat sakit.


" Sshhh... Sakit sekali kepalaku." Ucap Sandra sambil berusaha mengingat kembali apa yang terjadi.


" Ibu......!" Teriak Sandra setelah teringat peristiwa memilukan yang dia alami.


Sandra melihat sekeliling kemudian mencoba melepaskan infus di tangannya. Dia berjalan tertatih keluar dari kamar.


" Sandra ! " Alfian terkejut melihat Sandra berjalan sempoyongan ke arah mereka.


" Sandra, kamu harus istirahat." Kata Alfian lembut.


" Bagaimana bisa aku istirahat mas. Ibuku,, ibuku....." Sandra kembali menangis.


" Sabarlah sayang..., yang kuat. Ibu juga tidak ingin melihatmu seperti ini."


" Tidak mas, aku harus nemenin ibu..."

__ADS_1


Akhirnya Sandra tetap nekat mengikuti upacara pemakaman ibunya hari itu. Entah karena lelah atau karena sudah kehabisan tenaga. Sandra sudah tidak menangis histeris seperti semalam. Namun tetap tidak bisa di pungkiri. Air mata terus mengalir dari kedua sudut matanya.


Selesai pemakaman Sandra mengunci diri di kamar ibunya. Beberapa orang mencoba membujuknya agar mau keluar dan makan. Tapi Sandra tidak mendengarkan hal itu. Dia terus mengurung dirinya di kamar ibunya.


" Sandra.... Sayang.... ayo makan, kamu harus makan, kalau tidak kamu bisa jatuh sakit." Pinta Alfian.


Pria itu sendiri keadaannya tidak jauh berbeda dengan Sandra. Dia juga tidak mau makan sebelum istrinya makan. Ada lingkaran hitam di sekeliling matanya karena kurang tidur dan istirahat.


Alfian, Bibi Nani , Neta , Pak Wijaya dan bahkan Nurul sudah berusaha membujuk Sandra. Namun Sandra tidak menghiraukan semuanya.


" Sandra ... Cukup ! Keluar Sandra ! " Teriak Nurul selesai mengikuti tahlilan.


" Kamu tidak kasian dengan ibumu ? Meratapi kepergiannya seperti ini sama saja menyiksa beliau Sandra. Ikhlaskan ibumu.., jangan buat ibumu menderita karena melihatmu seperti ini. Keluar sekarang !" Teriak Nurul sambil menggedor-gedor pintu.


Hanya gadis berambut ikal tersebut yang berani memarahi Sandra di situasi seperti itu.


" Aku tahu kamu sedih, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya. Tapi aku bersedia menerimanya jika kamu mau berbagi sedikit saja kepedihanmu padaku. Bukankah aku saudaramu ? Kamu tidak sendirian Sandra. Masih banyak orang yang menyayangimu. Jangan buat mereka semua semakin bersedih atas sikapmu ini !" Nurul tidak hentinya berteriak kepada Sandra. Apapun yang terjadi dia harus berhasil membuat Sandra keluar dari kamar dan makan.


" Ingat Sandra, suamimu juga tidak makan dari semalam. Bahkan papa mertuamu juga tidak makan hari ini. Semua orang bersedih San, semua orang berduka atas kepergian bibi. Tapi hidup akan terus berjalan... Kamu tidak bisa seperti ini, setidaknya keluar dan makanlah walau sedikit. Ku mohon ..." Ucap Nurul. Kini suara gadis itu hanyut oleh Isak tangisnya.


Beberapa saat kemudian, Sandra membuka pintu kamar. Gadis itu terlihat sangat memprihatikan. Kedua matanya kehitaman dan sangat bengkak. Sandra terlihat sangat lesu dan lemas. Alfian seger menghampirinya, dia lalu menopang satu lengan Sandra untuk membantunya berjalan.


Nurul tak kuasa membendung air matanya. Hatinya sangat terpukul melihat keadaan Sandra seperti itu. Semua orang yang ada di sana menangis melihat pemandangan menyedihkan itu.


Hancur sudah impian Sandra. Kandas sudah harapannya untuk membahagiakan orang tuanya. Mereka bahkan sudah pergi meninggalkannya di saat dia belum bisa mewujudkannya.Kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya dalam waktu yang berdekatan membuatnya begitu hancur dan terpukul. Tak terkira kesedihan yang dia rasakan saat ini.


" Ayo makan ,, satu suap saja ..." Bujuk Alfian menyodorkan sesendok nasi ke mulutnya.


" Kamu jahat ! Kamu jahat mas ! Kamu jahat !" Teriak Sandra dengan sisa-sisa tenaganya. Kini dia ingat kembali bagaimana ibunya bisa sampai jatuh sakit.


" Iya... Mas yang jahat. Maafkan mas. Kamu boleh menghukum mas. Tapi sekarang makanlah terlebih dahulu." Ucap Alfian.


Nurul mendekati Sandra dan memeluknya dengan erat.


" Tenang Sandra. Istighfar.....Ayo makan, biar aku suapi " Kini Nurul mengambil piring dan sendok yang Alfian bawa.


Awalnya Sandra tetap menolak makan tapi karena bujukan Nurul yang membuatnya tidak tega akhirnya Sandra mau makan. Setelah makan beberapa suap Nurul membantunya minum obat . Tak lama kemudian Sandra terlihat mengantuk. Alfian dengan sigap membopong Sandra dan membaringkannya di kamar Sandra.


Barulah setelah itu mereka bisa makan dengan sedikit tenang. Hari ini adalah hari yang berat untuk mereka semua. Baru kali ini Nurul melihat Sandra tidak mempunyai semangat hidup seperti itu. Nurul yang semalam di kabari oleh ibunya langsung pulang untuk menemui Sandra. Entah nasib malang apa yang menimpa sahabatnya itu. Begitu berat hidup yang dia alami sejak kecil. Mengingat Sandra membuat Nurul kembali meneteskan air matanya.


" Ini..." Tiba-tiba Arkha datang dan menawarkan sebuah sapu tangan kepada Nurul.


Nurul menerimanya dengan canggung.


" Kamu hebat. Kamu sungguh berani." Ucap Arkha memuji Nurul.


Sedangkan Nurul bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


" Aku pernah di posisi seperti Sandra saat ini. Ini pasti berat sekali untuknya." Lanjut Arkha.


" Kamu benar." Balas Nurul singkat.


Keduanya lalu menatap langit yang mendung malam itu. Rintik hujan kemudian menyusul, mengiringi kesedihan di hati mereka.


" Ibu ..jangan pergi..." Sandra mengigau dalam tidurnya.


Alfian segera mendekatinya. Dia menatap sedih istrinya itu. Gadis yang biasanya selalu ceria dan bahagia itu kini terlihat sangat rapuh.


" Maafkan aku. " Ucap Alfian lalu mengecup kening Sandra dengan lembut.


Di lain tempat..... Rena terlihat melempar-lempar barang yang ada di kamarnya. Seharian ini dia tidak berani keluar dari rumah. Sejak pagi tadi beredar video panasnya dengan salah satu produser ternama di negara ini. Berbagai berita tidak sedap tentang dirinya muncul di televisi dan sosial media lainnya. Bahkan sampai malam itu , di depan rumahnya masih penuh dengan wartawan yang ingin meliputnya secara langsung.


" Siaalll ! Siapa yang berani melakukan ini padaku ?! " Teriak Rena tidak terima.


Gara-gara video itu dia terancam hukuman pidana. Dia juga kehilangan beberapa tawaran iklan dan sinetron yang kemarin mengejar-ngejarnya. Karirnya sebagai artis pendatang baru paling ngetop hancur sudah karena video itu.


Drt....Drt....Drt... Ponsel Rena bergetar. Ada telepon dari Bram produser yang kini juga sedang jadi tranding topik bersamanya.


" Halo ...." Sapa Rena .


" Dasar gadis bangsat !! Pelacur ! Gadis murahan ! Apa yang kamu lakukan dengan suamiku ?!" Teriak seorang perempuan yang bisa Rena pastikan adalah istri sah dari Bram.


" Beraninya ngatain aku pelacur ! Cuih.. Kamunya aja yang norak makanya suamimu berpaling dan selingkuh denganku !" Bentak Rena yang tidak merasa bersalah sedikitpun, kemudian dia mematikan telepon secara sepihak.


" Siall, sial ,sial ! Aku harus gimana sekarang ? Mana semua pada menjauh lagi. Katanya teman, teman apaan ? Di saat aku butuh seperti sekarang mereka malah menghilang. Kemarin saja , ngemis-ngemis buat jadi teman." Omel Rena yang merasa pusing. Dia melanjutkan melempar barang-barang di rumahnya.


Dias yang sudah melihat berita itu langsung memberi tahu Alfian. Alfian lalu membuka ponselnya dan mencari berita tentang Rena.


* Viral !! Vidio Panas Artis Pendatang Baru Rena Cintya Dengan Seorang Produser yang Sudah Beristri !*


* Artis Pendatang Baru Rena Cintya yang Sedang Naik Daun Kini Tersandung Kasus Asusila !*


* Hubungan Terlarang Rena Cintya Artis Pendatang Baru ! *


* Artis Rena Cintya Kepergok *** *** Dengan Produsernya *


* Memanas !! Istri Bram Produser yang Kini Viral Siap Penjarakan Suami dan Selingkuhannya !*


Dan masih banyak lagi judul berita yang tertulis di berbagai sosial media tentang Rena. Bahkan dengan sekejap pengikut Rena di sosial media merosot drastis.


" Sial ! Kenapa dulu aku begitu bodoh ..." Umpat Alfian setelah melihat berita itu.


" Rasakan Rena ! Itu balasan untuk perbuatan mu kepada ku dan juga istri ku !"


Alfian kembali menatap sendu wajah Sandra. Semenderita apapun Rena saat ini baginya belum cukup untuk mengobati kesedihan yang Sandra rasakan saat ini.

__ADS_1


" Ibu... Sandra ikut.... Jangan pergi !"


Terdengar suara Sandra mengigau lagi.


__ADS_2