Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Tingkah Aneh Sandra


__ADS_3

Sandra makan malam di dalam kamar di temani oleh Alfian. Alfian senang sekali melihat Sandra yang begitu lahap menikmati makan malamnya. Setidaknya dia lega karena artinya, kondisi Sandra sudah lebih baik.


" Pelan-pelan... Jangan sampai belepotan seperti anak kecil begitu.." Ucap Alfian mengingatkan.


" Maksud mas apa ? Mas bilang aku seperti anak kecil ? Bukan aku yang seperti anak kecil,tapi karena mas aja yang sudah tua.." Semprot Sandra tidak terima.


Alfian mengangkat kedua alisnya mendengar penuturan istrinya. Apa hubungannya ?? Batin Alfian.


" Jangan bercanda sayang... Lihat baik-baik suami mu ini, sangat tampan,gagah dan berwibawa..Tua dari mana nya ? Yang ada suamimu ini begitu menggoda... Banyak sekali gadis di luar sana yang tergila-gila kepada suamimu ini..." Sahut Alfian terkekeh narsis menanggapinya. Sekali-kali memuji dirinya sendiri tidak apa kan ?


Tapi sayangnya, Sandra menganggap perkataan Alfian dengan serius.


" Oh, jadi mas bangga gitu karena banyak gadis yang suka sampai tergila-gila sama kamu ?!" Sandra mendengus kesal kemudian menghentikan makannya.


" Hehehe, kamu cemburu yank ?" Kekeh Alfian lagi yang justru gemas melihat wajah cemberut istrinya yang semakin membuatnya merasa gemas.


" Nggak ! Ngapain cemburu.. !"


" Tuh buktinya marah !"


" Siapa yang marah ?!"


" Bilang aja cemburu... Mas justru seneng kok .."


" Ieh... PD banget sih mas ... Mau banyak yang suka kek banyak yang tergila-gila kek... Bodo amat, aku nggak perduli... Lagi pula bukan hanya mas saja yang banyak di sukai orang, aku juga bisa buat banyak orang menyukai dan bahkan tergila-gila juga kepada ku !" Ucap Sandra setengah berteriak.


Hal itu tentu saja membuat Alfian terperanjat. Bagaimana bisa Sandra begitu emosi dengan sebuah candaan remeh seperti itu ? Selama ini mereka sudah sering bercanda maupun berolok,, tapi tanggapan dan reaksi dari Sandra tidak pernah sampai semarah ini.


" Kamu kenapa sih yank...? Dari siang tadi aneh banget.. Gampang sekali marah-marah.. Kaya bukan kamu saja.. Kamu kenapa ? Kamu tahu kan kalau yang aku katakan tadi tidak serius dan hanyalah candaan ? Kenapa kamu menanggapinya dengan serius ?"Tanya Alfian.


" Kaya gitu kok buat candaan sih mas ?Lagi pula mas sendiri tadi yang bilang ke aku kalau jangan bercanda ! Mas seneng kan di sukai banyak gadis, di kejar-kejar banyak wanita ... Sampai hati ya mengatakannya di depan mukaku sendiri !" Sandra yang bawaannya masih bad mood dan juga masih kesal dengan suaminya semakin menjadi.

__ADS_1


" Sayang... Kamu salah paham ! Bukan begitu maksudku.. Aku pikir kita hanya bercanda seperti biasanya... Jangan dianggap serius.." Ulang Alfian.


" Mas keterlaluan ! Aku benci sama kamu mas !" Sandra kemudian bangkit dari kursinya kemudian beranjak meninggalkan Alfian yang masih menatapnya tidak percaya.


" Kamu kenapa sih ? Sudah berapa kali aku bertanya ?? Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku ! Katakan Sandra, ada apa ? Kenapa kamu sensitif dan emosian sekali hari ini ? Atau kamu lagi dapet ya ?" Tanya Alfian masih berusaha sabar menghadapi tingkah Sandra yang tiba-tiba menjadi pemarah seperti itu.


" Aku sudah menjawabnya mas ! Aku nggak kenapa-kenapa.. Aku hanya kesal saja sama kamu mas !"


" Iya kesal... Tapi tolong jelasin,kamu kesal sama aku karena apa ? Ayolah, ini sudah malam .. Aku tidak ingin kita bertengkar lagi. Sekarang kemarilah... Minum obatmu terlebih dahulu, setelah itu beristirahatlah agar lebih tenang. Kita bicara besok lagi." Ucap Alfian yang mencoba mengakhiri pertengkaran itu sebelum dirinya ikut terpancing dan ikut emosi. Sandra baru saja keluar dari rumah sakit, maka dari itu sebaiknya dia mengalah dan mengakhiri percakapan mereka malam ini.


" Mas jahat..!" Teriak Sandra sebelum akhirnya bersembunyi di balik selimut yang tebal.


Alfian menghela nafas dengan berat. Niat hati ingin membuat istrinya luluh, justru keadaan malah semakin runyam. Padahal Alfian juga ingin menjelaskan hal penting tentang Rena.


" Kamu kenapa yank ?" Batin Alfian dalam hati sambil menatap tubuh Sandra yang terbungkus rapat oleh selimut.


Alfian kemudian memilih untuk mandi supaya pikirannya kembali jernih dan segar. Mungkin dengan mandi,dia dapat menghilangkan sedikit rasa emosi yang tadi sempat hendak memuncak karena tingkah Sandra yang menurutnya semakin kekanak-kanakan.


Pagi harinya, Sandra bangun sedikit kesiangan. Sandra melihat sekeliling... Sudah dia pastikan jika suaminya pasti sudah berangkat bekerja.


Pagi tadi, Alfian memang sengaja membiarkan Sandra yang masih tidur dengan lelap. Bukan maksud untuk menghindari istrinya sendiri, tapi Alfian pikir jika Sandra pasti sangat lelah serta membutuhkan istirahat yang lebih banyak setelah keluar dari rumah sakit. Lagi pula jika Sandra bangun, Alfian tidak ingin terjadi keributan lagi diantara mereka.


" Kenapa tuan ? Apa ada masalah ?" Tanya Dias yang menjemputnya. Kini mereka tengah perjalanan menuju ke kantor menggunakan mobil mewah milik Alfian. Alfian yang sedang malas menyetir meminta Dias untuk menjemputnya. Hal yang sudah jarang dia lakukan setelah menikah dengan Sandra.


" Hmm... Entahlah, aku hanya bingung saja. Sikap Sandra sejak di rumah sakit sampai tadi malam di rumah sangat aneh sekali. Dia jadi pemarah dan sensitif dengan apa saja yang aku lakukan dan katakan. Semuanya serba salah...,, Bahkan menurutku,, tiba-tiba dia menjadi kekanak-kanakan. Hal-hal remeh pun dia jadikan sebab.., dia permasalahkan hingga menjadi sebuah pertengkaran di antara kami." Cerita Alfian sambil memijat pelipisnya.


" Mungkin Nona sedang mencari perhatian dari anda tuan. Atau bisa jadi, nona sedikit kesal karena kemarin kita terlambat datang ke rumah sakit." Tutur Dias.


" Enggak... Aku rasa bukan itu. Sandra bukanlah tipe wanita manja yang suka mencari perhatian, Sandra yang aku kenal adalah Sandra yang mandiri dan tidak suka membebani atau merepotkan orang lain termasuk suami sendiri. Aku justru khawatir jika saat ini Sandra tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Pasti ada sebab kenapa dia bersikap seperti itu kepada ku."


" Kalau begitu,anda tanyakan langsung saja tuan.. Dari pada tuan jadi bingung begini.."

__ADS_1


" Itu dia masalahnya... Aku sudah bertanya berkali-kali, bahkan aku sampai minta maaf jika ada salah.. Tapi dia bilang dia tidak kenapa-kenapa, tapi sikapnya sungguh membuat ku tidak nyaman."


" Mm.. Aneh juga ya tuan..."


" Maka dari itu... Ah, wanita sulit sekali di mengerti !" Gerutu Alfian.


Dias yang meliriknya dari kaca spion tersenyum simpul.


" Jangan terlalu di pikiran tuan.. Mungkin saja mood nona sedang tidak baik akibat kejadian kemarin..."


" Kuharap juga begitu, aku sudah bingung harus bagaimana meladeninya. Aku takut emosiku terpancing, dan tidak terkontrol. Tapi aku sangat yakin jika istriku pasti menyembunyikan sesuatu dariku !" Ucap Alfian yakin.


" Baiklah tuan... Kita bisa menyelidikinya setelah kita menemukan Rena. Saat ini hal utama yang terpenting adalah menemukan Rena supaya tuan dan nona bisa hidup dengan tenang kembali." Sahut Dias.


" Ya kau benar... Kita jangan sampai lengah lagi. Wanita itu harus segera kita temukan. Semoga nanti mood Sandra sudah lebih baik supaya aku bisa segera menceritakan tentang Rena." Balas Alfian.


" Siap tuan.. Tapi saat ini belum ada kabar apapun dari anak buah kita... Mungkin karena masih terlalu pagi."


" Ck,, mereka lamban sekali.... Jika mereka tidak segera menemukan Rena ,kamu pecat saja mereka dan ganti dengan orang baru. Masa mencari seorang wanita saja selama ini !"


" Baik Tuan.. Tapi saya tidak ikut-ikutan tuan ! Saya sudah bekerja semaksimal mungkin. " Cengir Dias yang ketakutan saat melihat ekspresi Alfian yang menatap tajam.


" Tidak ikut bagaimana ? Justru kamu yang paling bertanggung jawab atas mereka karena mereka semua kamu yang merekrutnya !" Omel Alfian.


" Hehehe... Iya-iya... Sabar... Kita pasti segera menemukan Rena. Kamu tenang saja.."Tawa Dias.


" Oke ,, aku pegang kata-kata mu. Jika sampai sore mereka masih belum memberikan kabar... Untuk setahun ke depan gaji kamu aku potong !" Ancam Alfian.


" Astaga!!! Tega nian kamu sama sahabat sendiri.." Ceplos Dias sontak dengan bahasa non formal.


" Terserah , aku nggak mau tau !"

__ADS_1


" Iya-iya..." Balas Dias bersungut-sungut. Selalu saja dirinya yang menjadi kambing hitam.


__ADS_2